
''Ummi, ma-af!'' Fajar terlihat gugup sebab ketahuan menggenggam jemari tangan Alina di hadapan Umminya.
''Nak, jangan kau ulangi lagi perbuatan mu itu! Alina bukan mahram mu, kau tak layak menyentuhnya. Kecuali dia sudah halal untuk kau sentuh," terang Ummi Zainab.
Fajar terdiam, ia ingin berkata jujur mengenai perasaannya terhadap Alina. Akan tetapi, ia khawatir Umminya tidak mempercayainya dan menganggapnya seperti anak kecil mengingat usianya yang baru 20 tahun lebih muda dari Alina.
Abi Sofyan yang baru saja pulang dari mesjid menuju rumahnya seperti biasanya dengan jalan kaki. Ia pun menyapa seisi rumah. Sehingga, perrcakapan antara kedua ibu dan anak itu pun terhenti, dengan kehadiran Abi Sofyan di sisi mereka.
''Kenapa semuanya terlihat tegang?'' tanya Abi Sofyan ketika melihat istri dan anaknya saling diam tanpa berucap kata.
''Ti-tidak apa-apa Bi, Ummi hanya bingung kenapa Alina sampai begini tak sadarkan diri, padahal sebelumnya ia baik-baik saja.''
Ummi Zainab pun mengalihkan pembicaraannya dari menginterogasi Fajar. Sebab, ia tidak ingin suaminya sampai mengetahui apa yang dilakukan anaknya terhadap Alina.
''Alina mengalami gangguan non medis, sepertinya ia harus segera di tangani dengan proses terapi ruqyah. Abi merasakan ada kekuatan energi negatif yang menyerangnya dengan tiba-tiba.''
Abi Sofyan pun memusatkan konsentrasinya dan membacakan ayat-ayat ruqyah dalam segelas air putih khusus untuk menyadarkan Alina yang masih dalam keadaan terpejam, namun gadis itu tetap bisa mendengarkan dan merasakan kehadiran orang-orang di sekelilingnya.
Ummi Zainab dan juga Fajar setengah tak percaya mendengarkan penuturan Abi Sofyan mengenai kekuatan mistis yang menyerang Alina secara tiba-tiba. Namun, percaya tidak percaya itulah kenyataan yang ada.
Alina gadis yang terlihat polos dan memancarkan sejuta pesona tersebut nyatanya memang tidak baik-baik saja. Ia masih dalam pengaruh kekuatan mistis dan makhluk gaib yang sewaktu-waktu dapat menyerangnya dan menganggu rutinitas sehari-harinya. Hingga membuat Alina harus kembali memusatkan tenaga dan pikirannya agar dapat mengontrol diri dan tingkah buruknya yang tiba-tiba dapat menjatuhkan wibawanya sebagai seorang wanita muslimah.
__ADS_1
''Abi, Alina adalah wanita yang baik-baik. Ia juga adalah wanita shalihah dan guru mengaji, kenapa ia bisa terserang kekuatan magis?'' tanya Fajar dengan rasa tak percayanya.
''Kekuatan magic atau sihir dan sejenisnya bisa menyerang siapa saja, termasuk orang yang Sholeh sekalipun. Kekuatan sihir itu tidak akan mampu mengenai seseorang kecuali atas izin Allah. Setiap orang beriman itu memiliki ujiannya masing-masing, termasuk Alina. Kita berharap ia bisa terbangun dulu dari pingsannya, nanti barulah kita akan mendengarkan penjelasan beliau mengenai rasa sakit yang di alaminya dari sejak kapan?'' terang Abi Sofyan.
Abi Sofyan terlihat begitu serius memikirkan tentang penyakit Alina yang menurutnya memang sangat berat dan harus segera diatasi secepatnya untuk menghindari gangguan yang lebih parah lagi.
''Kasian Alina, Bi.'' Ummi Zainab terlihat prihatin sambil mengusap-usap air putih yang telah diruqyah ke bagian wajah dan kepala Alina untuk menyadarkannya.
Abi Sofyan melanjutkan membaca ayat-ayat ruqyah didekat Alina untuk membangunkan gadis cantik yang masih terpejam itu dengan didampingi istrinya juga Fajar yang ikut menyaksikan proses ruqyah tersebut.
''Mas Bagassss!'' teriak Alina sambil memegang dadanya yang terasa sakit dan panas oleh sebab jantung hatinya seolah-olah di tarik ulur oleh makhluk tak kasat mata yang ada di dalam tubuhnya.
Nama Bagas seolah-olah terpatri dalam hati pikiran dan jiwa Alina yang sebenarnya sudah sekian lama ia lupakan bersama rasa sakit hatinya pada pemuda tersebut yang telah tega mengguna-gunainya, menyakitinya dengan kekuatan sihir yang telah bertahun-tahun ini Alina rasakan.
Padahal, Alina sengaja menjauh dari kehidupan Abang sepupunya itu guna melepaskan ikatan dirinya yang tidak ingin lagi bertemu dengan orang yang telah menyakiti dzohir dan batinnya.
''Astagfirullah, Alina apa yang terjadi dengan mu?'' Nur Syifa yang baru saja keluar dari arah dapur merasa kaget mendengar teriakan Alina memanggil-manggil nama seseorang yang sangat asing di telinga Syifa.
Alina pun perlahan membuka matanya, dirinya merasa tidak nyaman dan malu dengan keluarga Abi Sofyan atas keanehan yang tiba-tiba menderanya.
''Ummi, Abi, Nur Syifa. Maaf, aku telah merepotkan kalian atas sakit ku yang mungkin membuat kalian semua merasa terkejut.''
__ADS_1
Alina mencoba untuk bangkit dari sofa, pandangannya pun tak sengaja tertuju pada Fajar.
Masih terdengar jelas di telinga Alina bisikan kata cinta yang di ucapkan oleh Fajar padanya ketika dirinya dalam keadaan mata terpejam dan belum bisa bangkit dari pembaringannya ketika dirinya dalam pengaruh mantra-mantra sakti yang di hembuskan oleh Bagaskara. Alina masih bisa merasakan dan mendengarkan apa yang terjadi di sekitarnya.
Fajar yang duduk tidak jauh dari Alina pun refleks membantu Alina untuk berangkat, ''Hati-hati kau masih dalam keadaan belum pulih betul, beristirahatlah!'' ucap Fajar yang tiba-tiba berubah menjadi seperti seorang pemuda dewasa yang ingin melindungi wanitanya dari ancaman sang badai.
''Aku sudah lebih baik, dan mungkin sampai kapan pun penyakit ditubuh ku ini akan terus menggerogoti ku sampai ku mati. Aku bukanlah wanita yang sempurna,'' ucap Alina hampir putus Asa dengan keadaannya yang tidak kunjung sembuh.
Fajar terdiam mendengar penuturan Alina, ia tidak sampai hati melihat gadis pujaannya yang ia kira adalah gadis yang tangguh. Ternyata gadis itu memiliki sisi lain yang membuatnya kini begitu terlihat sangat rapuh.
''Nak Alina, ceritakan pada Ummi dan juga Abi tentang penyakit yang kamu derita. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, setiap penyakit pasti ada obatnya. Jika suatu penyakit itu sudah bertemu dengan obatnya maka ia akan sembuh atas izin Allah,'' terang Ummi Zainab dengan mengusap lembut pucuk kepala Alina untuk memberikan sedikit ketenangan untuk gadis yang sedang rapuh tersebut.
''Iya Alina, ceritakan pada kami. Anggap kami sebagai keluarga mu sendiri, insyaAllah dengan menceritakan tentang masalah mu kita akan menemukan solusi terbaik untuk mu,'' ucap Nur Syifa sambil mengusap bahu sahabatnya.
Alina menghembuskan nafas beratnya, sebelum menceritakan kerumitan hidup yang selama ini menderanya.
''Aku terkena gangguan sihir dan guna-guna dari seorang dimasa lalu ku. Aku sudah mengidap penyakit aneh ini semenjak 5 tahun yang lalu, rasanya aku tidak sanggup lagi menahan rasa sakit lahir dan batin ku. Aku kerap kali mengalami gangguan-gangguan yang aneh dalam keseharian ku, mulanya aku sudah merasa sangat nyaman setelah beberapa kali melakukan terapi ruqyah meskipun makhluk tak kasat mata yang ada dalam diri ku masih kekeuh untuk tidak keluar dari dalam tubuh ku. Aku selalu melawan rasa sakit ku lewat sujud, dzikir dan tilawah. Akan tetapi entah kenapa tiba-tiba sekarang kekuatan energi negatif tersebut tiba-tiba saja menyerang ku,'' geram Alina yang sangat benci dengan penyakit yang kini kembali menggerogoti tubuhnya.
Kerapuhan Alina terlihat jelas di matanya, ia benar-benar putus asa dengan penyakit yang dialaminya. Hingga membuatnya hilang semangat hidupnya yang baru saja ingin ia rajut dan warnai dengan kegiatan-kegiatan positif.
Alina pun kembali melanjutkan kalimatnya, ''Dan yang sangat menyakitkan bagiku, aku harus gagal menjalin hubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup ku. Aku harus berkali-kali gagal menikah, semua pemuda yang mendekati ku perlahan mengilang dan pergi dari hidup ku karena melihat segala keanehan dalam diriku,'' terang Alina sambil menelungkupkan wajahnya menahan segala rasa sesak di dadanya. Ia pun tak kuasa menahan air matanya yang tak mampu lagi untuk ia bendung.
__ADS_1
Sang Fajar yang tak mampu melihat air mata kesedihan dari gadis pujaannya pun tampa berpikir panjang mengatakan apa yang harus ia katakan. Usianya yang masih sangat muda tidak menyurutkannya untuk menyelamatkan kehidupan Alina yang selama ini berada dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
''Menikahlah dengan ku!'' ucap Fajar meyakinkan.