
Alina terus memandangi sekelebat bayangan yang melintasi di depan rumahnya, perasaannya begitu membuncah ketika melihat Bagaskara kini perlahan menghampiri jendela kamarnya.
"Selamat pagi sayang, kenapa menatap ku seperti itu? apa kau merindukanku?" tanya Bagaskara yang kini telah berhadapan dengan Alina.
"Nggak kok, aku kaget aja Mas tiba-tiba telah berdiri didekat jendela kamar ku!" ucap Alina tersipu malu karena ketahuan memandangi wajah yang terkasih.
"Ayo keluar kamar! kita jalan santai, sekalian menghirup udara segar, Mas sangat merindukan mu!" ucap Bagaskara dengan tatapan yang penuh cinta pada sosok kekasih terlarangnya itu.
"Baiklah, aku beritahu ibu dan ayah dulu." Alina berlari menuju dapur menemui Ibu Chintya dan Farel ayahnya.
"Ibu, Ayah. Alina hendak jalan santai sama Mas Bagas, hari ini banyak teman-teman yang juga mengikuti jalan santai sekedar untuk menghirup udara segar." Alina terlihat penuh semangat.
"Boleh, Nak! jika memang ada Mas Bagas yang menemani mu. Setidaknya ada yang menjaga mu!" timpal Ibu Chintya yang tidak mengetahui jika Bagaskara dan Alina memiliki hubungan spesial lebih dari adik sepupu.
"Iya, Nak. Ayah juga mengizinkan mu pergi!" Ayah Farel pun mengelus pucuk kepala Alina yang sedang mencium punggung tangannya dengan hikmat.
"Terima kasih, ayah ibu!" ucap Alina dengan mengenakan pakaian khusus jalan santai dan sepatu sport-nya, juga kerudung cantik menutupi sampai bagian dadanya.
"Mas Bagas, ayo!" ucap Alina dengan menarik pergelangan tangan Abang sepupunya tersebut dengan suka cita.
Alina yang masih di bawah pengaruh ajian pemikat dari Bagaskara nampak bahagia bergelayut manja di lengan Abang sepupu sekaligus pacar tersembunyinya itu.
"Alina kau terlihat cantik dan menarik sekali!" Bagaskara menatap wajah Alina dengan penuh kasih.
"Dari dulu hingga sekarang Alina memang cantik dan menarik, Mas. Makanya Mas tergila-gila pada ku!" timpal Alina dengan melepaskan genggaman tangannya dan berlari kecil menikmati kesejukan dan hembusan angin dipagi hari dengan penuh rasa syukur terhadap hembusan nafas yang telah dikaruniai oleh sang maha pencipta untuknya di pagi hari ini.
"Alina, tunggu Mas!" teriak Bagaskara yang merasa di goda oleh gadis manis itu. Bagaskara merasakan seolah-olah dunia hanya miliknya saja ketika menikmati kebersamaan dengan kekasih hatinya Alina Cahya Kirani.
"Kejar Alina Mas, kita lari pagi keliling lapangan footsal sana!" tunjuk Alina dengan terus berlari meninggalkan Bagaskara yang masih ngos-ngosan mengejarnya.
"Awas kau gadis nakal, jika dapat akan aku berikan hukuman!" gumam Bagaskara yang merasa gemas dengan tingkah lucu Alina.
__ADS_1
Alina berlari-lari kecil dengan seutas senyum ceria menghiasi wajah ayunya. Aksi kejar-kejaran bersama Bagaskara Ardhana Putra pun tertangkap basah oleh indera penglihatan Maharani bersama sahabatnya Dela yang dua tahun lebih tua darinya.
Maharani menatap ke arah Bagas dan Alina dengan tatapan cemburu yang membakar jiwanya, hatinya bagaikan tersusuk duri menyaksikan kebersamaan kedua anak manusia yang sedang di landa asmara tersebut.
"Kak Bagas, kau tega terhadap ku! betapa mudahnya kau mencampakkan ku setelah kau mendapatkan manisnya diriku!" bathin Maharani dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kau memang laki-laki bejat, lihatlah aku akan mendekati kak Alina. Aku akan memberitahukan kak Alina jika telah terjadi sesuatu di antara kita!" bathin Maharani dengan terus memandangi kemesraan yang tercipta antara Bagaskara dan Alina.
Semenjak Bagaskara hadir dalam hidupnya dan mencuri ciuman pertamanya dan juga mengulangi kembali kemesraan di antara mereka meskipun lewat hembusan ajian penarik sukma, di saat itu lah Maharani jatuh hati pada Bagaskara Ardhana Putra, rasa cinta dan benci terhadap Bagaskara kini bersarang di benaknya.
"Maharani, ada apa dengan mu? kenapa diam?" tanya Dela dengan menepuk pundak Maharani. Jika saja cuaca sudah terlihat terang mungkin saja semua orang yang lari pagi akan mengetahui jika Maharani meneteskan air mata karena cemburu pada kedekatan Bagaskara dan Alina.
"Nggak apa-apa, kak Dela. Aku hanya kelilipan saja," timpal Maharani dengan mengusap air matanya.
"Memang pagi hari begini sudah ada debu berterbangan, masih gelap juga!" pungkas Dela.
"Tunggu dulu, itu kan kak Bagas. Ustadz tampan itu! OMG, bersyukur sekali jika bisa menjadi pacarnya!" sarkas Dela dengan gaya cutenya memperhatikan Bagaskara dengan rasa kagumnya.
"Nggak tahu juga, sich! habis kak Bagas terlihat tampan sekali!" ucap Dela yang tiba-tiba terpesona dengan Bagaskara Ardhana Putra.
"Aku sich biasa saja, nggak ada manisnya!" timpal Putri yang memang belum pernah pacaran dan tergoda dengan laki-laki manapun sepanjang usianya yang ke 17 tahun. Putri lebih memilih fokus dengan kuliahnya.
"Coba deh, kamu perhatikan benar-benar kak Bagas itu benar kata si Dela, kak Bagas itu tampan sekali!" timpal Chika yang ikut terpikat dengan pesona Bagaskara. Mereka semua tidak menyadari jika mereka terkena ajian pengasihan dari Bagaskara yang kini telah menguasai ilmunya dengan sempurna. Sehingga mantra yang diamalkannya kini telah merasuki keseluruh tubuhnya. Siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan kharismanya.
Mendengar persepsi teman-temannya tentang Bagaskara Ardhana Putra membuat Maharani semakin didera rasa cemburu buta.
"Stopppp, membahas kak Bagas! ia tidak sebaik yang kalian kira!" celutuk Maharani dengan wajah masamnya.
Ketiga orang sahabat Maharani pun di buat melongo atas tingkah Maharani yang tiba-tiba berang. Mereka semua saling melemparkan pandangan.
"Ada apa dengan Maharani? kenapa ia tiba-tiba bersikap aneh?" sarkas Dela.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Del." Chika mengendikkan bahunya.
"Jangan bilang jika Maharani juga terpikat oleh pesona Bagaskara Ardhana Putra!" timpal Putri yang berseloroh semaunya.
"Kita bersaing secara sehat dong, untuk mendapatkan kak Bagas!" celutuk Dela di selingi canda tawanya.
"Dasar loe, Del. Pantang lihat yang bening-bening!" seloroh Chika. Mereka bertiga pun tertawa renyah. Kecuali Maharani, berjalan duluan dengan perasaan cemburu yang menderanya.
***
"Alina Cahya Kirani, akhirnya dapat juga! menyerah dan jangan pernah menantang Mas! keujung dunia pun dirimu akan ku kejar!" Bagaskara merengkuh tubuh Alina dalam dekapannya.
"Malu Mas dilihat orang!" ucap Alina dengan berusaha melepaskan diri dari Bagaskara.
"Kau tenang saja Alina, tidak akan ada yang lihat kita. Sekarang kita berada di pohon yang rimbun jauh dari pandangan khalayak ramai."
"Tapi, Mas!" Alina hendak menjaga jarak dari Bagaskara, namun pesona Bagaskara seakan-akan menghipnotisnya.
Bagaskara semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alina, tinggal jarak sejengkal lagi Bagaskara ingin mencicipi bibir manis Alina yang membuatnya tergila-gila dan mabuk kepayang.
"Aku harus mendapatkan sentuhan manis bibir mu Alina, aku tidak boleh gagal lagi. Sudah saatnya kau mendapatkan kehangatan dari ku!" bathin Bagaskara dengan deru nafas yang memburu.
Alina yang masih dalam pengaruh ajian pengasihan dari Bagaskara Ardhana Putra pun memejamkan matanya, ia sudah pasrah jika ciuman pertamanya di ambil oleh Abang sepupunya yang kini menyandang predikat sebagai pacarnya.
"Awww, sakit tahu! kau menginjak kaki ku!" pekik Maharani ketika menyadari Dela dan Chika mengapitnya dan menginjak kakinya. Sedangkan Putri tertawa cekikikan.
"Makanya jangan asyik ngintip, Nona-nona!" sarkas Putri sembari ngemil keripik singkong yang sudah memenuhi mulutnya.
Mendengar suara grasak-grusuk dari semak-semak yang tak jauh dari keberadaannya dan Alina, Bagaskara pun mengurungkan niatnya mencium bibir ranum milik Alina.
"Gagal lagi! gagal lagi!" dumel Bagaskara di dalam hatinya, ketika nafsunya sudah sampai di ubun-ubun, ini untuk yang kesekian kalinya ia gagal menikmati indahnya bercinta dengan sosok Alina Cahya Kirani.
__ADS_1