
Deru mobil Andara dan Dimas suaminya, kini telah memasuki pekarangan rumah orang tuanya. Mereka pun segera turun dari mobil untuk mengunjungi kedua orang tuanya dan sekalian menjemput Alina untuk kembali terapi ruqyah, setelah berapa tahun lamanya ia tidak pernah menempuh pengobatan lagi kecuali hanya meminum obat-obat herbal khusus menangani penyakit yang bersarang di tubuhnya.
"Assalamu'alaikum, ayah, ibu, Alina?" seru Andara memberi salam penghuni seisi rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, Masya Allah anak ayah dan ibu silakan masuk! cucu Oma juga hadir, sini salim Oma!" pinta ibu Chintya dengan segera mencium pipi Nadeera yang begitu sangat menggemaskan.
Ibu Chintya pun menggendong cucunya yang baru berumur 3 tahun itu dengan penuh kasih dan kerinduan yang teramat sangat terhadap cucunya. Nadeera kecilpun tampak dengan takzim mencium punggung tangan ibu Chintya dengan tangan mungilnya.
Andara di ikuti pula oleh Dimas segera menyalami ibunya, setelah itu mereka pun segera mendaratkan dirinya disofa, setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam lebih dari kediamannya di kota P menuju desa kediaman orang tuanya.
"Alina, mana Bu?" tanya Andara celingukan mencari adik semata wayangnya, yang tak nampak batang hidungnya.
"Masih di dapur, Nak. Sarapan bersama ayah. Kalian sudah sarapan belum? ayo sekalian ke dapur langsung bergabung dengan Alina dan ayah!" ajak ibu Chintya sambil menggendong cucunya Nadeera.
"Au, au ... Nadila juga au akan Oma," ucap Nadeera dengan bahasanya yang masih cedal dan belepotan ala anak usia 3 tahun. Seketika semua tertawa dengan tingkah lucu Nadeera yang menyembut kata 'MAU' menjadi 'AU' dan kata 'MAKAN' menjadi 'AKAN'.
"Boleh, mari Oma suapi." Ibu Chintya pun segera membawa cucunya ke dapur, diikuti pula oleh Andara dan Dimas yang mengekori dari belakang.
"Maa syaa Allah, ada ponakan Tante." Alina refleks mengambil alih Nadeera dari ibunya dan memangku dalam pelukannya.
"Mau tante suapin ayam goreng?" tanya Alina sambil menyodorkan ayam goreng ke arah Nadeera.
__ADS_1
"Au, Tante. Nadila cuka ayam goleng," ucap Nadeera tetap dengan gaya bahasanya sendiri, sehingga membuat Alina dan semua orang kembali terkekeh mendengar celotehan si kecil Nadeera.
"Eh, cucu Oppa sudah datang. Maaf, Oppa hendak ke perkebunan. Nadeera sama Oma aja di rumah," ucap oppa Farel dengan mengecup pipi Nadeera yang terlihat sangat gembul dan berisi. Sehingga terlihat semakin terlihat menggemaskan.
"Aik, Oppa." Nadeera berucap sambil salim dengan pak Farel yang nampak buru-buru untuk memantau para pekerjanya.
"Oh, iya. Nanti jika kalian pergi terapi ruqyah tolong jaga baik-baik cucu ku. Jangan sampai cucuku melihat hal-hal yang aneh, atau Ibu tidak usah ikut. Jaga Nadeera di rumah." Oppa Farel nampak khawatir dengan kondisi psikis cucunya yang masih kecil, ia khawatir Nadeera melihat sesuatu yang mistis.
"InsyaAllah, Nadeera aman Yah. Ia tidak bisa di tinggalkan lama-lama, biarkan ia ikut agar ia bisa mengerti dan memahami tentang apa yang dilihatnya, hingga ia dewasa bisa memahami mana yang mistis atau tidak? mana yang baik atau buruk. Andara dan kak Dimas sudah mulai mendidik Nadeera kecil menjadi wanita yang tangguh dan pemberani," pungkas Andara yang tidak bisa meninggalkan Nadeera jauh darinya.
"Ya sudah, terserah kalian! ayah harap kalian menjaga cucu ayah dengan baik!"
Pak Farel pun segera melenggang pergi menuju ke perkebunannya. Meninggalkan anak istri, juga cucu menantunya yang masih menyantap hidangan di meja makan. Ia tidak bisa berlama-lama lantaran harus harus mengemban tugasnya mengawasi para pekerjanya di lahan perkebunannya.
Di klinik terapi ruqyah ustadz Sabri ada beberapa orang yang sedang diterapi ruqyah sekaligus, istri dan anak-anaknya pun ikut menemani ustadz Sabri dalam mengemban tugasnya dalam membantu kesulitan orang-orang yang terkena gangguan jin dan sihir.
Alina merasa merinding ketika mendengar pekikan dan teriakan yang bertubi-tubi dari orang-orang yang sedang diterapi dalam klinik itu, apalagi melihat orang-orang nampak memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Ia seolah merasa menggigil dan kedinginan rasanya. Alina ingin sekali kabur dari tempat terapi ustadz Sabri. Akan tetapi, Alina berusaha untuk melawan pergolakan batinnya. Ia ingin lepas dari belenggu Bagaskara yang telah merantai dan mengukung kehidupannya, Alina benar-benar ingin sembuh dari rasa sakit non medis yang telah dialaminya.
"Ya Allah ... kuatkan lah dan mampukanlah hamba untuk bisa melalui terapi ruqyah di klinik ustadz Sabri hari ini!" do'a Alina yang teruntai dari kedalaman hatinya.
Ustadz Sabri pun memberikan pengarahan pada Alina juga keluarga yang mendampinginya agar dapat membantu segala prosesnya, ketika terapi ruqyah tersebut berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Ustadz Sabri mengenakan sarung tangan agar jangan sampai bersentuhan kulitnya dengan Alina, mengingat Alina bukan mahramnya.
"OMG, tebal betul sarung tangannya. Ustadz Sabri memang sangat luar biasa menjaga batasannya." Alina masih sempatnya bermonolog di dalam hatinya sebelum terapi ruqyah di mulai.
"Baiklah, maaf kita mulai untuk terapi. Tolong kenakan mukena ini!" titah ustadz Sabri.
Alina pun mengenakan mukena yang di berikan oleh Ustadz Sabri, Ia pun segera berbaring dengan kedua tangan diikat. Sebab, untuk berjaga-jaga jika dalam tubuhnya masih bersarang makhluk halus tentunya ia akan melawan dan menyerang balik ustadz Sabri yang telah berani meruqyahnya.
Di saksikan oleh ibu Chintya, juga kakaknya Andara dan iparnya Dimas dan si kecil Nadeera proses ruqyah pun segera di mulai, "Ummi, Abi, kenapa ya ante Alina bobok dan dikat engan tali, kacian?" ucap Nadeera dengan wajah polosnya.
"Dengarkan Abi ya Nak, Tante Alina mau di obati. Biar lekas sembuh! kita semua harus menjaganya disini!" terang Dimas dengan memberikan pengertian pada Nadeera kecil. Sehingga, Nadeera pun mengangguk patuh.
"Anak Ummi memang pintar," sela Andara sembari mengecup lembut kening anaknya.
Sementara, Ibu Chintya begitu khusu'nya memperhatikan proses ruqyah yang di bawakan langsung oleh ustadz Sabri terhadap anaknya.
Awal mulanya, Alina terlihat seperti orang yang sedang bermain dan tertawa ketika ayat-ayat Allah dibacakan oleh Ustadz Sabri di telinga kiri dan kanan Alina secara berlebihan.
Alina mulai merasa keanehan dalam dirinya, ketika tubuhnya terasa mulai memanas.
"Alina, fokuskan kekhusukan mu untuk mendengarkan ayat-ayat ruqyahnya dan jangan pernah terkecoh dengan apa pun yang akan terjadi nantinya!" bisik ustadz Sabri dengan terus melantunkan ayat-ayat ruqyahnya, sampai makhluk yang bersarang di tubuh Alina mengakui keberadaan dan persembunyiannya selama ini yang tak kasat mata dan selalu mengganggu hari-hari dan aktivitas Alina yang selalu terlihat lemah dan tak berdaya.
__ADS_1
"Awww ...sakitttt!" pekik Alina histeris dengan sorot mata yang masih terpejam.