
"Siapa kau? apa maksud dan tujuan mu bersarang di tubuh Alina?" tanya Ustadz Sabri pada sosok makhluk yang berteriak histeris dari dalam tubuh Alina.
"Jangan buka mata mu Alina! tetaplah berbaring dalam keadaan terpejam, karena itu pembeda antara dirimu dan makhluk terkutuk itu!" bisik ustadz Sabri di telinga Alina yang merasakan bahwa makhluk tak kasat mata tersebut benar-benar bersarang di tubuhnya.
Ustadz Sabri, kembali membacakan ayat-ayat ruqyah hingga makhluk yang ada di dalam tubuh Alina kembali berteriak histeris.
"Aaaaaaa ... sakittttt ... panassssss! tuhan Yesus tolong aku!" pekik makhluk yang bernama Jin yang kini bersarang di tubuh Alina. Lengkingan makhluk tersebut seperti terkena semburan gejolak api yang panas di dasar neraka.
Alina yang masih berbaring dengan kedua tangan terikat dan mata yang terpejam pun begitu bergidik ngeri mendengar lengkingan makhluk yang berteriak histeris dari dalam tubuhnya.
"Laa Haula Walla Quwwata Illah Billah!" bathin Alina dengan melawan sosok makluk laknat yang ada di dalam tubuhnya.
Sementara, Andara, Dimas dan juga ibu Chintya merasa sedih terhadap apa yang telah menimpa Alina. Mereka terus memohon untuk keselamatan Alina. Lantunan dzikir dan istighfar pun terus tersemat dari orang-orang terkasihnya.
"Ya Allah, semoga Allah memberikan mu kekuatan dan kesabaran Nak!" ucap ibu Chintya di selingi isak tangisnya. Dirinya benar-benar tak sampai hati melihat putrinya tersiksa lahir dan bathinnya.
Andara merangkul ibunya untuk menenangkannya, sementara Dimas keluar dari dalam klinik. Ia membawa si kecil Nadeera bermain di luar bersama anak-anak ustadz Sabri. Akan tetapi, lengkingan suara makhluk yang bersarang di tubuh Alina begitu sangat keras bergemuruh terasa terdengar sangat menyeramkan di gendang telinga meskipun mereka telah berada di luar klinik.
"Abi, kenyapa ante Alina teliak histelis? apa kalena kaki an angan na di icat?" tanya Nadeera dengan nada polosnya. Ia mengira Alina berteriak histeris karena tangannya di ikat.
"Sholihanya Ummi dan Abi, dengarkan Abi ya? tante Alina itu sedang di obati oleh ustadz agar penyakitnya segera sembuh, di bacakan ayat-ayat Allah. Biar segala penyakit yang ada di dalam tubuhnya terdeteksi oleh ayat-ayat Allah," terang Dimas dengan mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya.
"Ayat-ayat Allah itu sepelti Ummi dan Abi yang mengaji setiap hali itu, can Bi?" tanya Nadeera yang tak henti-hentinya berceloteh dengan bahasa cedalnya.
__ADS_1
"Iya sayang." Dimas mencubit kedua pipi putrinya yang begitu sangat menggemaskan menurutnya.
Nadeera pun kembali bermain dengan anak-anak ustadz Sabri setelah melontarkan serentetan pertanyaan pada Abinya.
Sementara Alina yang berada di dalam klinik terapi, masih terus di tangani oleh ustadz Sabri. Proses ruqyah tersebut masih terus berjalan hingga makhluk tak kasat mata tersebut pun mengakui keberadaannya dengan detail.
"Siapa yang telah menyuruh dan mengirimmu kemari hingga bersarang di dalam tubuh Alina dalam waktu yang sangat lama?" tanya Ustadz Sabri di penuhi rasa penekanan.
"Bagaskara Ardhana Putra Bin Arya Arnenda! dia mengirimi Alina sihir dan guna-guna lewat makanan, ia pun telah menyetubuhi Alina secara tak kasat mata lewat mantra-mantra saktinya ketika sedang bersenggama dengan istrinya, ia menyematkan nama Alina di dalamnya, aku pun ditugaskan untuk mengganggu kedekatan Alina dengan laki-laki lainnya sehingga tak ada satu pun laki-laki yang mampu mendekatinya. Sebab merasakan keanehan dalam diri Alina. Setiap hari aku selalu memperdaya Alina hingga dirinya mengalami berbagai hal-hal yang mistis dalam hidupnya!" terang makhluk yang tak kasat mata di dalam tubuh Alina sambil meringis dan kesakitan serta kepanasan mendengar lantunan ayat-ayat ruqyah yang dibacakan oleh ustadz Sabri.
"Jadi, itu kekejian yang kau lakukan terhadap Alina? wahai musuh Allah! keluar lah kau dari dalam tubuh Alina Cahya Kirani! semoga kau dan tuanmu yang telah berbuat kekejian itu mendapat laknat dan azab Allah! kalian telah meresahkan seluruh penghuni yang ada di bumi!" pekik Ustadz Sabri dengan suara sangat lantang.
Ustadz Sabri pun terus melantunkan ayat-ayat ruqyah guna melumpuhkan kekuatan makhluk yang bernama Jin yang dikirimkan oleh Bagaskara terhadap Alina.
Sememangnya Alina kerap kali mengalami kelelahan fisik, ia pun sering masuk angin terserang flu yang tak biasa sehingga sekarang kotoran yang mengendap tersebut keluar dari dalam tubuh Alina lewat terapi ruqyah.
"Keluar sekarang juga! atau akan aku pukulkan dirimu dengan rotan? agar kau pingsan menggenaskan!" ancam ustadz Sabri yang merasa geram dengan keberadaan makhluk laknat yang ada di dalam tubuh Alina.
"Aku akan keluar lewat hidung!" kata makhluk laknat tersebut, sambil memencet hidungnya seperti orang yang sedang bersin dan mengeluarkan ingusnya.
"Terserah kamu mau keluar lewat mana! tapi, jangan coba-coba mengelabui kami!" ancam Ustadz Sabri yang mulai jengah dengan prilaku makhluk terkutuk yang sedang menguasai seluruh kesadaran Alina.
"Aku keluar lewat telinga!" ujar makhluk tak kasat mata tersebut dengan terkesan main-main, ia pun telah mengeluarkan begitu banyak dahak dan kotoran dari mulut dan hidung Alina.
__ADS_1
"Ternyata kau benar-benar sangat bebal dan nakal, apakah tuan yang mengirim mu kemari kelakuannya sangat nakal dan sangat bejat seperti dirimu!" sangkal ustadz Sabri sambil menepuk-nepuk pundak dan kepala Alina agar makhluk tersebut segera keluar dari dalam tubuh Alina.
"Tuan ku memang sangat nakal, sehingga aku pun sama sepertinya!" sela makhluk laknat tersebut yang seolah enggan keluar dari tubuh Alina.
"Keluar kau wahai musuh Allah! makhluk laknat!" ucap ustadz Sabri dengan menggunakan satu alat bantu dan menusuknya di sela-sela jemari kaki Alina sambil terus melantunkan ayat-ayat ruqyah yang maha dahsyat.
"Ampunnn ... ampunnn ... sakittttttt! panasssss," teriak makhluk laknat tersebut seolah-olah terbakar dan kepanasaan.
"Siapa nama mu sebenarnya makhluk laknat yang tak berhati?" pekik ustadz Sabri yang terusan membuat syaitan tersebut kepanasan.
"Aku Sa'iman, umur ku sudah ratusan tahun, aku bersarang dan berdiam di pohon rimbun yang ada di belakang rumah Alina!" sela makhluk tak kasat mata tersebut hingga tanpa sadar Alina telah membuka kelopak matanya yang terlihat merah menyala di ikuti pula oleh hembusan angin mistis yang berhembus di dalam ruangan klinik terapi tersebut.
Jika saja tangan dan kaki Alina tidak segera di ikat mungkin saja Alina akan berlari atau menyerang ustadz Sabri dengan kekuatan super yang berasal dari makhluk tak kasat mata tersebut.
"Sepertinya Alina sedang kewalahan, makhluk tak kasat mata tersebut masih bersarang di tubuhnya. Akan tetapi, kekuatan energi negatif tersebut sudah terkuras sebagian dari dalam tubuh Alina. Terapi ruqyah itu butuh proses sesuai tingkatan penyakitnya. Ada yang belasan kali ruqyah baru sembuh, adalah pula sekali dua kali ruqyah secara perlahan penyakitnya pun langsung pulih!" terang ustadz Sabri sambil menyodorkan air mineral pada Alina setelah melewati proses ruqyah berjam-jam.
Kini segala kegetiran itu terjawab sudah, dengan tersingkapnya tabir misteri tersebut lewat terapi bersama Ustadz Sabri selama kurang lebih 4 jam. Alina semakin yakin dalang di balik kerumitan hidupnya selama berapa tahun terakhir ini adalah abang sepupunya Bagaskara Ardhana Putra.
Begitu pun ibu Chintya merasa sangat geram ketika mengetahui akan kebenaran itu, ia tidak menyangka keponakannya sendiri, yang berstatus anak dari kakak kandungnya Larasati tega berbuat keji pada putri bungsunya Alina Cahya Kirani.
Berapa menit kemudian, kesadaran Alina pun pulih, ia melihat sekelilingnya. Dilihat olehnya ibu yang telah mengandungnya nampak sedih dengan raut wajah kuyu setelah mengetahui kebenaran yang terjadi.
"Ibu, kak Andara. Maafkan Alina Bu," ucap Alina dengan isak tangisnya. Ia pun merangkul ibunya dengan kesedihan yang teramat dalam. Alina menyesali semua dosa-dosa yang pernah di perbuatnya selama ini hingga ia berujung mengalami hal yang mistis seperti ini.
__ADS_1
"Ibu telah memaafkan mu, Nak!" ucap ibu Chintya dengan mengusap lembut pucuk kepala putrinya.