Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 31. Dilema


__ADS_3

"Mas Bagas dimana? kenapa tidak bertandang ke rumah? tadi kedatangan calon suami kak Andara Albiya Finzani lho. Rencananya dua bulan lagi pernikahannya akan segera di gelar. Kak Andara minta Mas Bagas untuk menjadi ketua panitia. Aku, Maharani, Chika, Dela dan juga Queensha Putri Fayanna dan juga teman yang lainnya akan menjadi anggota panitia!" ucap Alina di seberang telfon.


"Mampus aku!" ucap Bagaskara keceplosan, pasalnya ia dilema sebab ia masih punya ikatan khusus dengan Maharani, ia pun baru jadian dengan Chika dan juga Dela. Parahnya ia pun baru saja mengambil paksa ciuman Queensha Putri.


"Mampus apa, Mas?" tanya Alina yang memang tidak mengerti arah pembicaraan Bagaskara Ardhana Putra.


"Oops, maaf. Maksudnya mampus apakah Mas bisa atau tidak menjadi ketua panitia!" kilah Bagaskara mencari alasan, agar Alina tidak menaruh curiga padanya.


"Alina tidak mau tahu, pokoknya Mas harus menjadi ketua panitia di pernikahan kak Andara! masak seorang yang sudah menyandang gelar ustadz tidak memiliki keberanian." Alina tetap ngotot menyuruh Bagaskara untuk menjadi ketua panitia.


"Iya, iya. Kekasih hatiku belahan jiwa ku!" Bagaskara pun mengiyakan permintaan Alina. Ia tidak ingin mengecewakan belahan jiwanya. Walaupun sebenarnya ia masih dilema lantaran takut ketahuan telah memacari dan menggoda semua teman-teman Alina.


"Semoga saja tidak ketahuan, aku akan mengatur siasat agar wanita yang telah menjadi pacar ku berkenan untuk menutupi rahasia jika mereka sudah menjadi pacar ku." Bagaskara menyeringai licik.


"Bukan Bagaskara jika tidak picik!" bathin Bagaskara yang selalu mengikuti nafsu syaitannya.


"Kenapa, diam Mas! buruan kemari, dari pada bicara ditelfon." Alina tampak protes. Ia merasa jengah jika harus ngobrol di telfon sebab yang ia pikirkan rumah mereka sangat berdekatan.


"Mas lagi di luar sayang, ada kesibukan mendadak! nanti kalau sudah sampai rumah Mas kabari."


"Oo ... awas kalau bohong, Mas masuk neraka lho!" ujar Alina yang nampak serius dengan ucapannya.


"Kamu kok gitu sih sayang! Mas janji, Mas akan datang!" ucap Bagaskara setengah memelas.


"Baiklah, Alina tutup dulu telfonnya. Sebab, dari sejak tadi Alina belum mandi." Alina berkata jujur.

__ADS_1


"Whatttt? belum mandi?" pekik Bagaskara dengan nada serius.


"Belum, dingin!" ucap Alina sekenanya.


Entah mengapa setelah sihir dan guna-guna semakin menyerap dan merasuki tubuh Alina. Ia tiba-tiba merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya, Alina terpaksa harus mandi dengan air hangat. Agar ia tidak mengigil ketika mandi.


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Bagaskara Alina pun segera memasak air hangat sebanyak satu panci.


"Ya Allah, Dek. Banyak betul airnya? untuk apa? kita kan sudah menggunakan air galon untuk minum. Kok, dirimu sampai memasak air?" timpal Andara Albiya Finzani yang merasakan keanehan dalam diri Alina.


"Buat mandi, Kak!" ucap Alina santai.


"Subhanallah, air sebanyak itu buat mandi apa tidak terlalu banyak dan kepanasan, Dek."


"Nggak kok, Kak. Malahan ini masih kurang, entah kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa mandi air dingin. Badan ku rasa kedinginan dan menggigil seperti es batu, jadi mandinya harus pakai air panas!" timpal Alina yang tidak menyadari jika semua yang terjadi padanya ada campur tangan makhluk tak kasat mata yang bersemayam di tubuhnya, mengacaukan setiap detik aktivitas yang dilakukan oleh Alina. Dan juga membuat sakit Alina semakin bertambah dan gerak langkahnya pun selalu di halang-halangi untuk melakukan segala hal yang positif.


"Alina juga tidak tahu, Kak. Tapi, inilah kenyataannya." Alina pun segera mengangkat air panasnya dan menuangkan air panas tersebut pada wadah khusus mandi.


"Oh, ya. Apakah Mas Bagas mau menjadi ketua panitia dipernikahan kakak nanti?"


"Insya Allah, katanya mau kak." Alina pun segera melakukan ritual mandinya, sambil bersandung di kamar mandinya, dengan sya'irnya.


"Ya Allah sedihnya senandung mu, Dek. Memangnya lagi dilema dengan siapa?" pekik Andara dari arah dapur yang berdekatan dengan kamar mandi yang saat ini digunakan oleh Alina untuk mandi.


Sementara Alina tetap bersenandung melo sambil melakukan ritual mandinya.

__ADS_1


"Mas Bagas, kenapa aku selalu merindukan mu akhir-akhir ini? apa sesungguhnya yang terjadi pada ku?" bathin Alina dengan terus mengocok-gosok tubuhnya dengan sabun mandi dengan aroma melati seperti orang mandi kembang tujuh rupa.


Alina pun merasa bingung mengapa dirinya menjadi semistis ini. Hari-hari yang ia lalui kini penuh dengan teka-teki, hati dan pikirannya pun kerap kali berubah-ubah. Ia merasakan dirinya seolah seperti robot yang dikendalikan oleh baterai, jika tidak ia seolah merasakan seperti mati dalam hidup.


"Alhamdulillah, selesai sudah ritual mandi ku!" ucap Alina dengan mengenakan jubah mandinya, juga tak lupa melilit handuk di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.


Alina pun berjalan menuju kamarnya dengan terus bersenandung ria. Ia menghadap ke cermin, dan menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak juga tak lupa memoles bibirnya dengan lipstik.


"Maa syaa Allah, rupa ku kok bisa bercahaya seperti ini? sangat anggun sekali!" batin Alina yang nampak terhipnotis dengan kecantikannya sendiri.


***


Di bebatuan pantai.


Bagaskara mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bangkit dari duduknya, "Aku harus bisa merangkak pulang! aku tidak mungkin terus di sini. Tapi, junior ku sakit sekali. Kalau begini satu bulan aku tidak bisa menggoda wanita!" gumam Bagaskara pelan.


Bagaskara menyeret langkah kakinya menuju di mana tempat motornya yang kini terpakir, ia pun duduk sejenak sambil memikirkan ucapan Alina.


"Aku benar-benar dilema untuk jadi ketua panitia dipernikahan Andara, semoga saja para wanita ku bisa menahan diri ketika melihat ku. Akan berabeh jika itu sampai terjadi, aku akan dikeroyok dan digebuki massa jika mereka sampai tahu kebejatan ku!" bathin Bagaskara dengan mengendarai motor sport-nya.


"Alina, Maharani, Chika, Dela dan Queensha Putri, kalian benar-benar membuat ku dilema. Sungguh, aku belum bisa melepas salah satu diantara kalian. Sebab, aku masih ingin bermain dengan kalian. Alina memang sudah menjadi separuh nafas ku! sedangkan yang lainnya hanyalah tempat pelampiasan ku!" ucap Bagaskara lirih.


Tiga puluh menit perjalanan Bagaskara tiba di rumahnya, ia segera menuju kamarnya untuk menganti pakaiannya.


"Hemmm, begini sudah tampan! Aku yakin Alina bisa menyesuaikan diri dan mengimbangi ku. Aku ingin menarik perhatian Alina agar dirinya terus melihat ku, tanpa berpaling pada yang lain."

__ADS_1


Bagaskara menyemprot tubuhnya dengan minyak wangi yang memang sudah dibacakan mantra pelindung diri dari segala kejahatan yang hendak menyerangnya.


"Alina i'm coming!" ucap Bagaskara dengan melangkahkan kakinya menuju kediaman Alina. Hatinya nampak di penuhi bunga-bunga cinta terhadap Alina Cahya Kirani.


__ADS_2