
Alina tertidur dengan lelapnya, antara ada dan tiada setelah pertempuran panasnya yang seolah-olah merasa digerayangi oleh sesuatu yang tak kasat mata Alina tertidur tak sadarkan diri antara mimpi dan nyata ia seolah-olah menikmati percintaan yang ghaib yang tak bisa untuk dicegahnya.
Dua jam sudah Alina terlelap ponselnya berdering-dering pun tak di hiraukan olehnya. Ia seolah asyik terbuai dialam mimpinya.
"Lepaskan aku, Mas! kenapa kau selalu mengikatku dengan tingkah liarmu? kita ini adik sepupu Mas. Tak seharusnya Mas melakukan ini terhadapku!" ucap Alina di alam mimpinya.
Alina bermimpi dialam tidurnya, Bagaskara seolah mencumbuinya dengan penuh nafsu.
"Jangan Mas!" pekik Alina di dalam mimpinya ketika Bagaskara hendak menggerayangi tubuhnya.
Ibu Chintya membangunkan putrinya yang sedang menggigau, "Alina bangun, Nak!" ucap Ibu Chintya dengan mengoyang-goyang kan tubuh putrinya.
"Ibu!" pekik Alina kaget saat melihat ibunya tiba-tiba berada di sampingnya.
"Kau sudah terlelap selama 2 jam, Nak! sepertinya kau mimpi buruk, buruan ambil wudhu dan segera laksanakan ibadah sholat Dzuhur!" titah Ibu Chintya dengan mengusap pucuk kepala Alina pelan.
"Ibu maaf, Alina tidak tahu kenapa bisa terlelap begitu lamanya. Alina merasa ada dan tiada. Seperti ada kekuatan energi Negatif yang menyerang tubuh Alina!" ucap Alina dengan wajah cemasnya. Ia merasa bingung dengan kejadian aneh yang dialami olehnya.
"Sebelum tidur itu hendaknya berdoa dulu, Nak! Agar terlindung dari gangguan setan dan sejenisnya." Ibu Chintya menasehati putrinya.
"Ia ibu sepertinya Alina lupa berdoa," timpal Alina dengan beranjak pergi dari kamarnya menuju toilet yang ada di dapur mereka.
Alina terpaksa melakukan mandi wajib layaknya pasangan yang habis melakukan hubungan intim. Ia ragu untuk melaksanakan ibadah sholatnya jika belum melakukan mandi junub.
__ADS_1
"Ya Allah, benarkah aku melakukan hubungan seksual didalam mimpi ku?" bathin Alina ketika melihat cairan yang tak biasa yang menempel di kain segitiganya.
"Sungguh aneh, mengapa diriku bermimpi bercinta dengan Mas Bagas? aku khawatir dia melakukan hal-hal yang tak lazim padaku melalui ilmu sihir yang telah dipelajari olehnya." Alina melihat wajahnya pada pantulan cermin. Ia merasa ketakutan sendiri melihat wajahnya yang pucat pasi.
"Aaaaaaa, tidakkkkkk!" pekik Alina ketika melihat wajahnya seperti mayat hidup. Ia pun membasuh wajahnya dengan air, kemudian melanjutkan dengan ritual wudhu untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur nya.
Tok ... tok ... tok, "Nak, buka pintunya! apa yang terjadi denganmu?" pekik ibu Chintya dari luar pintu toilet. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Alina putrinya.
"Ibu!" Alina pun keluar dari dalam toilet dan menghampiri ibunya. Dan anehnya wajah Alina yang semula pucat pasi berubah menjadi cantik dan sangat bercahaya.
"Masya Allah, kau terlihat sangat cantik sekali, Nak?" ujar Ibu Chintya dengan tatapan rasa kagum terhadap Alina.
"Cantik? Bercahaya, benarkah itu?" bathin Alina antara ada dan tiada, sebab barusan ia melihat wajahnya sangat menakutkan di pantulan cermin ketika dirinya berada di dalam toilet.
"Aneh benar-benar aneh semuanya penuh dengan misteri!" bahtin Alina dengan menuju bilik kamarnya.
Dan benar sekali Alina pun melihat wajahnya di cermin begitu tampak cantik dan bercahaya bagaikan rembulan yang bersinar terang di malam hari.
"Kenapa auraku tiba-tiba berubah secantik ini?" Alina bertanya-tanya di dalam hatinya, pikirannya seolah berperang melihat realita yang ada.
Alina pun menggelar sajadahnya, dan anehnya tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan. Dia pun merasakan kekosongan di dalam shalatnya, pikirannya tiba-tiba menjadi dangkal, tubuhnya pun terasa melayang. Antara ada dan tiada, Alina tetap melaksanakan ibadah shalatnya.
"Ya Allah panas sekali, di punggung dan dadaku rasanya ingin terbakar." namun Alina tetap meneruskan shalatnya, meskipun diusik oleh gangguan demi gangguan yang benderanya mengacaukan aktivitas shalatnya dari sejak awal.
__ADS_1
Meskipun Alina merasakan kekosongan di dalam shalatnya, ia pun kesulitan meresapi ayat-ayat yang dibacanya namun tidak mengurangi semangat Alina untuk terus melaksanakan ibadah shalatnya sampai dengan selesai. Keringat pun mengucur deras dari seluruh tubuhnya, perlahan energi negatif yang menyerangnya semakin melemah sehingga kini Alina menjadi terlihat tangguh dan kuat, setelah berperang melawan batinnya sendiri.
Alina pun mengadukan kepada Rabb-nya atas segala kelemahan, kerendahan dan kehinaannya. Ia memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar bisa lepas dan sembuh dari pengaruh kekuatan energi negatif yang menyerangnya. Alina sampai terisak tangis dalam shalatnya. Ia meratapi penyakit non medis yang semakin hari menggerogoti jiwanya. Membuat Alina terlihat lemah dan patah semangat.
"Ya Allah dengan cara apa lagi, hamba harus lepas dari kekuatan energi negatif ini? sesungguhnya hamba tidak sanggup lagi melalui semua ujian ini!" do'a yang teruntai dari lisan Alina yang sedang patah arang.
Ia menangis sejadi-jadinya di hadapan Rabbnya. Alina merasa berdosa sebab dirinya hari ini telah melakukan dosa besar dan maksiat sebab seolah dirinya sedang bercinta dengan makhluk tak kasat mata.
"Ya Allah, sesungguhnya hamba benar-benar kotor!" bathin Alina ketika mengingat ada benda kental berwarna putih yang keluar dari bagian intinya ketika dirinya sedang berfantasi bercinta di atas angin. Ketika ia berada dalam sihir Bagaskara Ardhana Putra yang menyerangnya tanpa disadari olehnya.
Alina pun melanjutkan mendaras Qur'an seperti biasanya. Meskipun gangguan makhluk tak kasat mata didalam tubuhnya, selalu berusaha untuk mengganggu dan menyesatkannya, Alina tetap mendaras Qur'an dengan khusuknya untuk melawan kekuatan energi negatif yang ada di dalam tubuhnya.
"Panas sekali, dada ku seperti panas dan terbakar! sepertinya aku benar-benar dalam pengaruh energi negatif? aku harus sembuh, aku tidak boleh lemah! kata kak Muzzaki Ansori, aku harus berani dan kuat melawan kekuatan ilmu sihir yang sedang mendera ku!" batin Alina dengan terus meresapi lantunan bacaan ayat suci Alquran yang dibaca oleh-nya.
Tiba di penghujung bacaan qur'annya, Alina merasa lebih tenang dan nyaman. Pasalnya, seluruh tubuhnya kini mengeluarkan keringat dari celah-celah pori-porinya. Membuat Alina merasakan kesejukan yang menyergapi hati dan jiwanya.
"Alhamdulillah, khusus saat ini atas izin Mu ya Rabb. Hamba mampu melewati dan melawan kekuatan energi negatif yang hendak menyerang ku!" ucap Alina dengan kembali berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Alina hendak melatih dirinya agar tidak lengah terhadap kekuatan energi negatif yang hendak menyerangnya. Ia pun kembali terlihat segar bugar, walaupun tanpa di sadari olehnya dirinya memang harus segera mencari orang yang sholih yang memang benar-benar paham mengenai penyembuhan dengan metode terapi ruqyah syari'iyyah yang memang dibenarkan dalam tuntunan syari'at Islam guna menyembuhkan gangguan jin dan sihir yang tiba-tiba menyerang dalam dirinya.
"Ya Allah, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ku? Namun, saat ini aku merasa lebih nyaman. Setelah menyelesaikan ibadah shalat juga Dzikir dan do'a. Semoga dengan terus berusaha mendekatkan diri pada Mu, bisa mengurangi keluhan yang ku alami. Meskipun kesembuhan ku ini masih butuh proses!" bathin Alina sambil terus merenungi kalam illahi yang di bacakannya.
Antara ada dan tiada Alina pun, terus melawan kekuatan energi negatif yang hendak menyerangnya. Ia pun melanjutkan membaca buku Dzikir dan do'a guna mengurangi gangguan demi gangguan yang hendak menyerangnya.
__ADS_1