
Alina terus merintih di dalam kamarnya, ia bingung dengan keadaannya sendiri tubuhnya tiba-tiba terasa digerayangi oleh makhluk tak kasat mata. Dan anehnya biduk hawa nafsunya seketika membuncah. Wajah Bagaskara Ardhana Putra mantan kekasihnya seolah-olah hadir dalam benaknya, ia seolah menikmati manisnya mereguk madu cinta dalam kesendiriannya.
Alina benar-benar tidak kuat menahan hasratnya, ia memeluk tubuhnya sendiri seakan-akan ada yang menyentuhnya.
"Ya Allah apa yang terjadi padaku? kenapa nafsuku seolah-olah dituntun untuk melakukan perbuatan yang tidak halal untuk ku lakukan!" rintih Alina di dalam kamarnya.
Untung saja kedua orang tuanya, ayah Farel dan ibu Chintya sedang menghadiri akad nikah Bagaskara dan Queensha Putri. Jadi, rintihan Alina tidak ada yang mendengarnya, kecuali dia sendiri yang menikmati indahnya bercinta dengan makhluk tak kasat mata.
"Aku benar-benar tidak kuat!" rintih Alina dengan berperang melawan hawa nafsunya.
keringat sebesar biji jagung mengucur deras di kedua pelipis Alina, ia seolah-olah menikmati sensasi bercinta dalam khayalannya.
"Mas Bagas!" rintih Alina ketika berada di puncak kenikmatannya. Ia merasa aneh, sebab ada sesuatu yang keluar dari bagian intinya, yang baru ia alami sepanjang usia umur hidupnya.
"Apa yang telah mas Bagas lakukan kepadaku? Kenapa hasrat ku semakin memuncak dan terus menyebut namanya!" batin Alina yang tidak kuat lagi berperang melawan hawa nafsunya.
***
Di kediaman Queensha Putri.
Bagaskara yang tidak kuat lagi menahan hasratnya, ia berpura-pura mengajak istrinya Putri untuk berfoto di dalam kamar pengantin mereka menggunakan ponselnya. Untuk mengabadikan momen bahagia mereka.
Padahal Bagaskara dengan beringasnya mencumbui Putri dengan biduk hawa nafsu bejatnyanya.
__ADS_1
"Ja-jangan Mas! Di luar masih banyak orang dan ini pun masih pagi hari, acara pun belum selesai!" ucap Putri pelan.
"Jangan berisik, sayang! nanti di dengar orang," ucapkan Bagaskara dengan mengunci pintu kamarnya.
"Mas!" ucap Putri dengan raut wajah ketakutan. Pasalnya bola mata Bagaskara, tiba-tiba berubah merah menyala, seperti bola mata setan yang hendak menerkam mangsanya. Pada saat itu Bagaskara sedang melafalkan mantranya, ia mencumbui Putri dengan memanggil sukma Alina Cahya Kirani sebagai fantasi bercintanya dengan Putri. Sehingga hanya dengan seperkian detik Alina yang sedang berbaring di kamarnya pun merasakan makhluk tak kasat mata seolah-olah mencumbuinya oleh sebab hembusan buhul-buhul cinta Bagaskara Ardhana Putra yang kini sedang di hinggapi hasrat yang bergelora dengan menjadikan Putri sebagai boneka mainannya, yang seolah-olah ia bayangkan seperti sosok Alina Cahya Kirani wanita yang sangat dicintainya.
Bagaskara terus mencumbui Putri dengan beringasnya, ia pun me*rem*s dua bukit kembar milik Putri yang masih tertutup baju pengantin. Ia seolah-olah membayangkan apa yang ia lakukan pada Putri istrinya sebagai sosok Alina. Sehingga ia semakin bersemangat untuk menggerayangi Putri hingga sampailah ia di telaga yang curam milik Putri, disentuhnya mahkota yang masih tertutup kain segitiga itu dengan biduk hawa nafsu yang semakin menggila, hingga membuat Putri menggerang di puncak kenikmatan.
Di saat itu pula Alina merasakan hal yang sama dibilik kamarnya. "Mas Bagas aku merindukanmu!" Alina merintih dalam keadaan tidak sadarnya, ia yang masih dalam pengaruh sihir Bagaskara Ardhana Putra yang berasal dari kediaman Queensha Putri Fayanna pun terus mengerang penuh kenikmatan.
Bersamaan dengan itu pula Bagaskara mendorong tubuh Putri yang sudah lemah tak berdaya, oleh sebab telah dijadikan sebagai pelampiasan hasratnya.
"Untuk sekarang sampai di sini dulu, anggap saja ini pemanasan!" ucap Bagaskara dengan senyum setannya. Ia pun merasa lega, sebab telah berhasil menyiksa lahir batin Putri dengan seringai jahatnya.
Bulir air mata Putri pun mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia sangat menyesal menerima perjodohan dengan Bagaskara ketika ia mengetahui jika Bagaskara memperlakukan dirinya dengan cara yang tak wajar.
"Aku menyesal telah menikah denganmu!" ucap Putri pelan diselingi isak tangisnya.
"Jangan menangis!" ucap Bagaskara mendekati Putri dan mengusap air mata istri malangnya itu.
"Cepat keluar, jangan sampai orang-orang menaruh curiga pada kita. Bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kita!" titah Bagaskara yang tiba-tiba bersikap lembut kepada Putri.
Bagaskara pun menggandeng tangan istrinya dan merapikan pakaian istrinya yang acak-acakan oleh tingkah liarnya barusan. Ia pun menggandeng tangan Putri seperti seorang suami yang begitu tulus pada istrinya, tujuannya agar orang-orang memandangnya sebagai sosok suami yang sholeh.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari kamar pengantinnya, Putri terpaksa bersikap semanis mungkin agar orang tuanya tidak curiga kepadanya jika dirinya menyesal telah menikah dengan Bagaskara Ardhana Putra.
"Aku jijik sekali melihatnya ingin rasanya aku menyobek-nyobek wajahnya!" batin Putri geram kepada suami bejatnya itu.
Sementara Bagaskara bersikap lembut dihadapan semua orang, seolah-olah dirinya begitu meratukan Putri.
"Masya Allah anak menantuku, apakah kalian sudah selesai mengabadikan momen kebersamaan kalian di ponsel masing-masing?" tanya mama Shinta dengan senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Begitupun dengan papa Rama dan Mama Laras, ibunya Bagaskara ikut bahagia melihat kebersamaan antara Bagaskara dan Putri yang nampak terlihat serasi menurut pandangan mereka.
Padahal tanpa sepengetahuan orang tua mereka, Putri merasa tersiksa menjadi istri Bagaskara yang begitu bejat dan penuh dengan kemunafikan.
Serangkaian acara ijab qabul antara Bagaskara dan Putri pun usai sudah, orang-orang yang menyaksikan akad nikahnya pun sudah beranjak pulang. Masih tinggal keluarga inti yang berada di sana yang masih terus berbincang merayakan hari kebahagiaan mereka tersebut.
"Aku sudah tidak sabaran menanti acara resepsi pernikahan anak kita Minggu depan!" ucap Mama Shinta dengan senyum kebahagiaan.
"Iya, aku juga tidak sabaran ingin melihat anak kita menjadi raja dan ratu sehari!" ucap Mama Laras tak kalah semangatnya.
Papa Rama pun tak henti-hentinya mengembangkan senyumannya dengan wajah berbinar, ia merasa bahagia sebab puteri semata wayangnya kini telah dipersunting orang yang ia kira suami putrinya tersebut adalah sosok pemuda yang sholih yang bisa membimbing anaknya menuju ke ridhoan Rabb-Nya menjadi sosok wanita dan istri sholihah untuk Bagaskara Ardhana Putra.
Namun, jauh api daripada panggang. Putri sebenarnya tidak bahagia dengan pernikahannya, dia terpaksa melakukan itu semua demi kebahagiaan orang tuanya.
***
Alina menghempaskan tubuhnya di kasurnya, ia merasa sangat keletihan ketika tiba-tiba kekuatan energi negatif menyerangnya dengan biduk hawa nafsu yang bergejolak yang tak bisa terkendalikan olehnya. Rintihan sukmanya seolah-olah terpanggil untuk menikmati hembusan buhul-buhul cinta yang hembuskan oleh Bagaskara terhadapnya.
__ADS_1
"Ya Allah, sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku barusan semuanya di luar kesadaranku!" gumam Alina pelan. Ia pun tiba-tiba melemah dan seolah-olah hilang tenaga, mata Alina terpejam ia pun tak sadarkan diri. Ia terbaring lemah di kamarnya, Alina pingsan setelah berperang melawan biduk hawa nafsu yang menyerangnya berapa menit yang lalu.