
"Kau sudah sadar, Dek?" Andara setengah berlari menghampiri Alina adiknya.
"Memangnya apa yang terjadi padaku, Kak?" Alina balik bertanya.
"Kau tadi tiba-tiba mengamuk, Dek? kau lihat kamarmu berantakan!" timpal Andara.
"Astagfirullah!" Alina melihat sekeliling kamarnya, ia pun mengingat potongan-potongan kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
"Kak, tolong aku! aku tidak ingin lagi menderita seperti ini, aku ingin sembuh dari rasa sakitku. Kenapa semua ini terjadi padaku? takdir begitu sangat kejam sekali!" pungkas Alina dengan isak tangisnya.
"Subhanallah, ini semua adalah ujian dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk meningkatkan derajat ketaqwaan kita disisiNya, Dek! semoga rasa sakit yang mendera mu dapat menjadi penggugur atas segala dosa-dosa mu di masa yang lalu. Jadi, jangan bersedih! jika dirimu mampu bersabar terhadap ujian yang diberikan oleh Allah maka dirimu akan mendapatkan ganjaran disisi Allah. Berusahalah untuk bangkit dari keterpurukan, carilah tempat yang bisa mendekatkan diri kepada Rabb kita. Jangan sesali segala apa yang telah terjadi akan tetapi jadikanlah semua itu pelajaran agar kedepannya dirimu bisa memperbaiki diri lebih baik lagi." Andara terus memberikan motivasi pada Alina adiknya.
"Lupakanlah segala perasaan yang mengekang mu! ciptakanlah rasa aman dan bahagia, agar dirimu senantiasa bersyukur atas segala apa yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala padamu. Terlepas dari rasa sedih atau bahagianya, itu semua sudah menjadi ketetapan Allah dalam hidup kita. Sejatinya, di dunia ini kita tidak akan pernah luput dari kesalahan dan dosa. Selagi masih ada nafas hidup ujian itu akan selalu datang silih berganti. Tidak ada orang yang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti bergelut dengan ujiannya masing-masing. Itulah tabiat dunia, jika ada bahagia sehari maka akan ada kesedihan sepanjang tahun yang mewarnai kisah hidup anak manusia!" ucap Andara lagi.
"Kakak yakin Alina pasti akan sembuh, dengan melalui berbagai proses lewat ruqyah yang syar'i. Namun, kesembuhan itu murninya datang dari Allah. Sedangkan ruqyah itu hanyalah wasilah untuk kita menjalankan ketaatan kepada Allah tanpa berbuat syirik kepada Nya. Ruqyah juga bisa menyembuhkan penyakit hati stress dan depresi bukan hanya gangguan energi negatif yang di hembuskan oleh jin dan sihir semata."
"Jadi, insya Allah dalam waktu dekat ini kakak dan kak Dimas akan bawa Alina untuk berobat ke salah satu teman kak Dimas yang memang telah dijuluki ustadz yang benar-benar dapat dipercaya. Beliau memang sering mengobati orang-orang yang terkena gangguan penyakit sihir dan guna-guna, jadi jangan ragu lagi untuk ikhtiar berobat ruqyah pada beliau." Andara terus memberikan support untuk Alina agar kembali bersemangat menjalani hari-harinya.
__ADS_1
Alina Pun mendengarkan untaian mutiara hikmah dari kakaknya dengan penuh hikmat. Hatinya terasa lebih tenang, ia kembali bersemangat untuk lepas dari kekuatan energi negatif yang sering menyerangnya dengan tiba-tiba.
"Insya Allah kak, Alina mau diruqyah. Ini semua demi seseorang juga. Ia yang selalu menemani hari-hari Alina ketika Alina terpuruk. Dia pun pernah membacakan ayat-ayat ruqyah untuk Alina ketika kami berkomunikasi lewat ponsel. Ia sosok pemuda yang sholih!" ucap Alina yang tiba-tiba mengingat sosok Muzakki Ansori. Sosok pemuda yang telah menyentuh hatinya saat ini.
"Muzzaki Ansori? jadi dia yang selama ini ada di dalam hati dan pikiran adek?" tanya Andara dengan wajah berbinar. Setidaknya dengan kehadiran Ansori bisa memberikan sedikit ketenangan untuk adiknya yang selalu dalam gangguan bayang-bayang Bagaskara Ardhana Putra sepupunya.
Alina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu ketika keceplosan menyebut nama Ansori di hadapan kakaknya dan juga kakak iparnya.
"Hemmm, malu itu berarti tandanya suka loh, Dek?" Andara tampak menggoda Alina.
"Kakak!" ucap Alina dengan malu-malu. Ia pun merangkul tubuh kakaknya dengan rasa manja.
"Insya Allah, Kak. Aamiin ... " Alina terlihat cerah dan bahagia mendengar kakaknya mendoakan yang terbaik untuknya.
"Jadi dia sudah punya calon? semoga saja pemuda tersebut bisa membahagiakan Alina. Sebab aku tidak rela jika adik iparku terus disakiti oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" batin Dimas yang sedikit ada rasa simpati terhadap adik iparnya itu. Namun, sebisa mungkin dia menepis perasaannya.
"Oh ya, kakak dan kak Dimas akan menghadiri resepsi pernikahan Mas Bagas dan Putri. Nggak enak dengan tante Laras jika kakak tidak pergi, khawatirnya nanti beliau berpikir yang macam-macam. Kakak memang sangat benci dengan mas Bagas karena dia telah menzholimimu. Terlepas apapun masalahnya tante Laras tetaplah saudara perempuan dari ibu kita. Sudah semestinya kita menghargainya kendatipun kita tahu anaknya itu sangat bejat!"
__ADS_1
Andara mengeluarkan unek-uneknya dengan sedikit dibumbui rasa emosi ketika mengingat perbuatan jahat Bagaskara terhadap Alina adiknya. Rasanya Andara tidak ingin melihat batang hidung Bagaskara namun demi rasa kekeluargaannya terhadap tante Laras, ibunya Bagaskara mau tidak mau Andara pun dengan berat hati menginjakkan kakinya di acara resepsi pernikahan Bagaskara dan Putri.
"Iya Kak, silakan pergi! Alina tidak ikut menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut. Bukannya Alina tidak menghargai Putri, namun Alina sakit hati, terluka dan kecewa atas perlakuan mas Bagas yang sangat tidak berperikemanusiaan terhadap Alina!"
Alina pun kembali terlihat murung ketika menyebutkan nama Bagaskara dari lisannya. Bagaimanapun ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap sosok abang sepupu yang pernah menjadi masa lalunya tersebut. Karena dialah Alina bisa menderita seperti sekarang ini, melawan rasa sakitnya yang tiada taranya. Sehingga dirinya harus menerima penderitaan itu seumur hidupnya.
"Kakak mengerti perasaanmu, Dek! kamu yang kuat ya?" Andara kembali merengkuh tubuh mungil adiknya dan mengusap-ngusap lembut pucuk kepala adik semata wayangnya tersebut dengan penuh kasih, sebelum dirinya berangkat menghadiri acara resepsi Bagaskara dan Putri.
"Apa kakak saja yang pergi, Dek? kamu di rumah saja dengan Alina, kakak khawatir kamu kelelahan. Setelah perjalanan jauh dari kota P." Dimas beralasan, ia memang tidak ingin istrinya menampakkan diri di hadapan Bagaskara yang telah menyakiti dan melukai adik iparnya Alina dengan cara yang mistis. Ia khawatir akan tidak mungkin Bagaskara melakukan hal yang sama terhadap istrinya yang sedang hamil muda tersebut.
Mengingat dunia mistis seringkali melakukan hal-hal yang tak lazim yang di luar nalar pemikiran manusia normal.
"Jangan khawatir, Kak! Andara baik-baik saja kok, Andara yakin Allah maha melindungi dari segala bentuk kejahatan makhluk-Nya baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Karena sejatinya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tidak akan pernah menimpa diri kita kecuali atas izin Allah. Jadi tidak ada hal yang perlu ditakutkan selama kita meyakini bahwa Allah itu maha menjaga para hambanya yang sedang berusaha mendekatkan diri padanya!" ucap Andara penuh keyakinan.
Dimas pun mengamit jemari tangan istrinya dan menuntunnya menuju acara resepsi pernikahan Bagaskara laki-laki yang saat ini sangat dibenci olehnya, sebab telah tega menyakiti lahir dan batin Alina adik ipar yang sangat disayanginya.
Alina menatap punggung kakaknya dan kakak iparnya yang kini telah menjauh dari hadapannya, setidaknya untaian mutiara hikmah dari kakaknya Andara memberikan motivasi tersendiri untuknya yang saat ini sedang rapuh.
__ADS_1
"Ya Allah, terima kasih atas setetes embun kesejukan yang telah engkau titipkan di hatiku! setidaknya hamba merasa bahwa Engkau ada untuk menopang langkahku yang begitu lemah dan tak berdaya ini!" batin Alina dengan meneteskan air mata kesedihannya.