
"Maharaniii!" pekik teman-temannya, Dela dan Chika. Mereka begitu kaget ketika melihat Maharani tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.
Semua orang nampak sibuk mengurusi Maharani yang tiba-tiba tumbang tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat pasi. Sekujur tubuhnya pun kedinginan, teman-temannya pun merasa sangat khawatir melihat keadaan Maharani.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Maharani? ia seperti mengalami penyakit ayan saja!" celutuk Chika yang selalu bicara tanpa filter.
"Kau ini teman dalam keadaan sekarat pun masih digibahi!" Dela menoel kepala Chika yang selalu bicara semaunya.
"Kalau dia mati bagaimana, Kak?" Chika berbisik kecil di telinga Dela. Membuat Dela ingin rasanya menyumpal mulut Chika dengan perban agar bisa menjaga ucapannya.
Putri dan Bagas yang sedang bersanding di pelaminan pun segera beranjak menghampiri Maharani yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Queensha Putri mengenakan gaun pengantin dan sepatu high heels, membuat dirinya kerepotan menyeret tubuhnya. Namun, ia nekad ingin menghampiri dan melihat keadaan Maharani.
"Nak Putri, hati-hati Nak!" Mama Laras ibu mertua Putri pun segera membantu Putri untuk mengangkat gaun pengantin milik menantunya tersebut agar Putri lebih leluasa untuk berjalan. Mereka pun segera mendatangi kerumunan dimana orang-orang sibuk untuk melakukan pertolongan pada Maharani agar wanita tersebut segera bangun dari pingsannya.
Bagaskara yang mengetahui akan penyebab pingsannya Maharani pun menyeringai licik, "Ia hendak mempermalukan ku, justru dirinya sendiri yang terkapar dan terkena batunya. Hahaha, Bagaskara dilawan! ilmu sihir mu belum seberapa jika dibandingkan dengan ilmu yang ku miliki!" bathin Bagaskara menyombongkan diri.
Bagaskara terlihat santai. Dia tidak panik seperti semua orang yang ada di sana, sebab dirinya tahu ambruknya Maharani adalah akibat terjadinya perlawanan dengan kekuatan ilmu sihir yang dimiliki olehnya.
"Ternyata pagar ghaib yang membentengi sekelilingku mampu menjagaku dari orang-orang yang hendak melumpuhkan kekuatanku!" batin Bagaskara dengan segala kesombongannya.
"Ini pasti ulah Mas Bagas? iya benar-benar keterlaluan!" batin Queensha Putri dengan melirik sekilas ke arah suami bejatnya itu.
Bagaskara menyeringai licik dengan senyum setannya, "Istri pelampiasan hasrat ku, ia terlihat sangat manis dengan tatapan tajamnya itu!" Bagaskara menatap istrinya dengan hasrat yang membuncah.
__ADS_1
Orang-orang pun masih disibukkan untuk mengurusi Maharani yang belum sadarkan diri.
"Sepertinya ini bukan penyakit biasa?" seru seorang yang memang dikenal sepuh di desa itu.
"Maksudnya penyakit terkena gangguan kah?" tanya Pak farel, ayah Alina yang ikut menghadiri resepsi pernikahan Bagaskara keponakan istrinya kepada sepuh desa tersebut.
"Benar sekali!" tutur sesepuh Desa yang bernama kyai Sholeh itu. Kyai Sholeh pun membacakan ayat-ayat ruqyah di air putih untuk membangunkan Maharani dari pingsannya yang menampakan gejala aura mistis dari dalam dirinya.
Orang-orang yang menyaksikan tragedi tersebut dibuat ternganga dan takjub ketika kyai Sholeh memercikkan air ruqyah tersebut di di wajah Maharani dan sedikit memberikan minuman tersebut agar bisa terminum oleh Maharani. Maharani pun tersadar dari pingsannya dalam keadaan tubuh yang gemetar hebat dan bibir yang berwarna keunguan disebabkan dari sejak tadi tubuhnya kedinginan seperti orang yang sedang mengidap penyakit malaria. Namun sebenarnya, itu adalah gejala penyakit karena gangguan jin dan sihir yang tak kasat mata yang tidak bisa di lihat oleh pandangan mata manusia biasa.
"Aku di mana?" tanya Maharani ketika ia melihat orang-orang di sekelilingnya mengerumuninya dengan sangat ramai.
"Kamu tadi tiba-tiba ambruk dan tidak sadarkan diri, Nak!" ucap kyai sholeh dengan nada lembut.
"Berarti aku kalah bertarung dengan kak Bagas secara halus, ternyata dia juga telah memiliki benteng pelindung yang tak ku ketahui sebelumnya. Dasar laki-laki licik!" umpat Maharani dalam hatinya. Ia menatap penuh kebencian pada Bagaskara Ardhana Putra yang tersenyum kepadanya dengan nada mengejeknya secara halus.
Hanya kyai Sholeh dan pak Farel ayah Alina juga Queesha Putri yang memahami akan ketegangan antara Maharani dan Bagaskara.
"Aku merasakan gelagat aneh dari Bagaskara. Penyakit yang dialami Maharani sama persis dengan penyakit yang dialami oleh Alina anakku. Apa mungkin Bagaskara melakukan hal yang keji terhadap Alina juga Maharani. Aku khawatir Bagaskara mengamalkan ilmu hitam peninggalan ayahnya dahulu Arya Arnenda!" batin pak Farel ayahnya Alina. Tapi ia tidak punya bukti untuk memastikan apakah benar Bagaskara telah berbuat nista terhadap adik sepupunya sendiri.
"Anak ini, sepertinya mengamalkan ilmu yang tak wajar!" batin kyai Sholeh sambil melirik ke arah Maharani dan Bagaskara. Ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan ustadz Bagaskara yang selama ini memiliki nama yang harum di mata masyarakat. Kyai Sholeh tidak ingin memperkeruh keadaan, jika memang terbukti Bagaskara melakukan kemusyrikan tersebut maka ia akan turun tangan untuk memusnahkan kebejatan Bagaskara Ardhana Putra secara kekeluargaan.
"Berdebah! kenapa Kyai Sholeh menatapku seperti itu?" batin Bagaskara yang tidak tahan bertatap langsung dengan kyai Sholeh yang sangat bertentangan ilmunya dengan dirinya.
Kyai Sholeh yang murni dalam aqidahnya, bisa merasakan aura mistis antara Bagaskara dan Maharani. Ia terus beristighfar dalam hatinya untuk melawan kekuatan mistis tersebut agar tidak menyerangnya. Kyai sholeh berusaha untuk tenang, agar tidak ada kerumitan yang tercipta di antara mereka.
__ADS_1
"Semuanya bubar, silakan lanjutkan menikmati acara resepsinya! Maharani sudah lebih baik!" ucap Kyai Sholeh mencairkan suasana.
Semua orang pun bubar ngerumuni Maharani mereka pun kembali menikmati serangkaian acara dan jamuan di acara resepsi pernikahan Bagaskara dan Putri.
"Kau tidak apa-apa Maharani?" tanya Putri sambil menyingsingkan gaun pengantinnya.
"Aku sudah lebih baik!" Maharani menatap manik mata Putri dengan rasa kecewa di hatinya. Bagaimanapun ia belum ikhlas melepaskan Putri bersanding di pelaminan dengan Bagaskara, sebab mereka pernah berjanji untuk tidak lagi memperdulikan Bagaskara namun pada kenyataannya justru Putri malah menikah dengan Bagaskara pria yang telah mempermainkan mereka dan teman-teman lainnya.
Putri menyadari tatapan kebencian dari Maharani sahabatnya. Namun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa sebab ia pun telah terlanjur menikah dengan Bagaskara pria yang sebenarnya sangat dibencinya.
"Sudah, Nak! Maharani sudah baikan, ayo kita kembali ke pelaminan!" ajak Mama Laras mertuanya Putri. Papa Rama dan mama Shinta pun ikut menghampiri Queensha Putri yang masih betah berada di samping Maharani.
"Ayo Nak! benar kata Mama Laras, kita harus kembali ke pelaminan itu tamu undangan sudah kembali berdatangan. Jika melihat mempelai wanitanya di sini kesannya sangat lucu, Nak!" ucap mama Shinta dengan menggandeng tangan Putri anaknya. Mereka pun kembali ke pelaminan menyambut para undangan yang datang.
***
"Sepertinya Aku harus pulang!" ucap Maharani dengan bangkit dari pembaringannya. Ia pun mengajak temannya Chika dan Della untuk segera meninggalkan resepsi pernikahan Bagaskara dan Putri.
Tragedi di resepsi pernikahan sahabatnya itu cukuplah menjadi pelajaran untuk Maharani agar kedepannya dirinya lebih mawas diri. Sebab ternyata Bagaskara memiliki 1001 satu cara untuk melumpuhkan lawannya secara halus dan tak kasat mata.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Maharani?" tanya Chika sambil menyesap es krim yang ia ambil di meja khusus makanan ringan pada saat dirinya masih berada dalam acara resepsi Putri dan Bagaskara.
"Susah untuk menjelaskannya, kalian pasti tidak percaya jika aku ceritakan hal yang sebenarnya!" terang Maharani dengan mempercepat langkahnya.
"Kita ke rumah Alina dulu, ya? kan sudah janjian!" timpal Dela yang dari sejak tadi mendengar celotehan antara Maharani dan Chika. Ketiga sekawan itu pun mengendarai sepeda motornya masing-masing menuju kediaman Alina Cahya Kirani.
__ADS_1