Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 98. Meratapi Nasib


__ADS_3

Meskipun Bagaskara sudah menikah dengan Queensha Putri ia masih terus mengintai keberadaan Alina di manapun gadis itu berpijak.


"Alina, aku akan terus menghembuskan dirimu dengan buhul-buhul cintaku. Tak kan kubiarkan seorang laki-laki pun bisa mendekatimu, jiwa dan ragamu tetap milikku meski tak kasat mata."


Bagaskara mengendarai motor sportnya dengan kecepatan pelan, ia sengaja melewati jalan yang berseberangan dengan Alina dan teman-temannya kini berada.


"Kak Alina, lihat itu kak Bagas sepertinya ia memandangmu sinis. Apa ia cemburu melihat keberadaan mu dengan gebetan mu sekarang," sela Chika tanpa filter.


"I don't care, ia kan sudah menikah. Kenapa pula digadang-gadangkan denganku. Oh ya, ralat ... aku dan kak Guntara hanya berteman, kita tidak pacaran." Alina terus mengelak, sebab dirinya memang belum bisa melupakan bayang-bayang tentang Ansori lelaki yang memang benar-benar dicintai olehnya.


Namun, kekecewaannya terhadap pemuda yang ia harapkan akan menjadi calon imamya tersebut tersamarkan oleh sebab Ansori terang-terangan telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan wanita yang lebih sholih dari dirinya.


Raut wajah Guntara terlihat mendung, ketika mendengar Alina sedikitpun tidak mengakui keberadaannya kecuali hanya sebagai teman. Namun, ia berusaha untuk sabar dan tegar mengingat kondisi Alina yang sering tidak labil.


"Aku akan menunggumu Alina, sampai dirimu berkenan menerima rasaku untukmu," lirih Guntara dalam hatinya.


"Kak Gun, aku turun duluan ya? terima kasih karena sudah mengantarku?" ucap Alina dengan segera beranjak turun dari atas motor gede milik Guntara yang dari sejak tadi begitu setia menemaninya.


"Beneran tidak mau diantar sampai rumah?" Guntara kembali memberikan penawaran.


"Benar Kak, terima kasih untuk semuanya." Alina menampilkan senyum khasnya.


Dela dan Chika pun ikut pamit undur diri dari hadapan Guntara, "Kami juga hendak pamit, mari Kak!" ucap Dela sekedar basa-basi.


Entah kenapa, ketika melihat keteduhan di wajah Guntara ada getaran rasa yang berbeda di hati Dela. Namun, sebagai wanita muslimah yang baru belajar menuntut ilmu agama, Dela lebih nyaman menyembunyikan rasa ketertarikannya terhadap pemuda yang begitu mendambakan sahabatnya Alina Cahya Kirani.

__ADS_1


"Ya Allah, getaran apa yang kurasakan? kenapa aku tiba-tiba tersentuh rasa olehnya? ujian di saat hijrah begitu beratnya," batin Dela yang memang tidak ingin menempuh jalan pacaran. Dirinya berniat untuk memilih jalan ta'aruf jika nantinya dirinya sudah siap untuk menikah.


Untuk sekarang Dela lebih fokus dengan kuliahnya, sedangkan Chika masih duduk di bangku SMA.


Alina sendiri, sudah hampir satu tahun mager di rumah. Ia memang belum berniat untuk melanjutkan kuliah, apalagi mengingat kondisi fisiknya yang sering drop tiba-tiba, membuat Alina tidak sanggup untuk melanjutkan pendidikannya.


Apalagi ketika kepalanya tiba-tiba pusing berat dan ia pun tiba-tiba dalam kondisi yang tidak labil sering sekali merasa ingin jatuh dan pingsan tiba-tiba.


"Nasib ... nasib ... kenapa takdir hidupku serumit ini?" Alina meratapi nasibnya, hingga tak sadar dirinya pun telah sampai di hadapan rumahnya.


Alina memasuki pekarangan rumahnya dengan langkah gontai, sedangkan Guntara berputar balik arah setelah melihat Alina dari kejauhan sudah sampai di kediamannya dengan selamat.


Alina mengucapkan salam penuh hikmat kepada seisi rumah, "Ramai sekali, ada suara tangisan bayi." Alina pun segera masuk ke dalam rumah, ia pun segera mencari sumber suara.


"Maa syaa Allah ... kak Andara, kenapa tidak bilang-bilang jika ingin kemari? Kalau tahu ada kakak dan baby Nadeera lebih baik aku cepat-cepat pulang." Alina pun segera memeluk dan menempelkan pipi kanan dan kirinya pada kakaknya Andara.


"Anak Abi, cup ... cup ... cup." Dimas menggendong bayinya dengan gerakan cepat, mengingat Alina baru pulang dari luar. Akan tidak mungkin virus-virus pun bertebaran dan menempel mengikutinya, Dimas tidak ingin virus-virus tersebut mengenai anaknya.


"Orang dewasa yang baru saja dari luar, silahkan bersihkan diri dulu! baru bisa mendekati anak Abi dan Ummi," sela Dimas sambil menimang-nimang anaknya.


Alina mengerucutkan bibirnya, "Dasar kakak ipar pelit, dari dulu tidak ada habisnya ingin mencari perkara dengan ku. Baiknya pas aku lagi sekarat saja, giliran sudah terlihat sehat walafiat malah diledekin. Menyebalkan sekali!" Alina menggerutu di dalam hatinya.


"Kak Dimas, tidak begitu juga sebenarnya bersikap, kasian Alina kan baru pertama kalinya melihat baby Nadeera. Pas aku melahirkan kemarin ia tidak sempat menjenguk ku, berikan ia kebebasan untuk melihat bayi kita." Andara mengingatkan suaminya yang terlalu over protektif.


"Iya, iya ... maaf Abi yang salah." Dimas pun mengecup pipi puteri kecilnya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Ia pun kembali meletakkan bayinya di samping Andara istrinya. Sementara Alina sudah terlanjur baper.

__ADS_1


"Ya sudah, aku bersih-bersih diri dulu! takut ada kuman di tubuhku, da ... da ... baby Nadeera," Alina pun keluar dari dalam kamar kakaknya sambil terus menggerutu.


"Nasib ... nasib, jodoh lepas dari genggaman. Dapat kakak ipar yang sangat menyebalkan pula." Alina pun beranjak masuk ke dalam kamarnya, namun ia berpapasan dengan ibunya.


"Sudah pulang, Nak? bagaimana acara hari ini? apakah menyenangkan?" tanya ibu Chintya penuh kehati-hatian ketika melihat wajah anak bungsunya terlihat muram.


"Acaranya sangat menyenangkan Bu," ucap Alina dengan menutupi kesedihannya.


"Syukurlah, jika begitu. Kamu istirahat dulu, pasti kecapaian setelah seharian beraktifitas." Ibu Chintya mengelus pucuk kepala putrinya.


Alina pun mengangguk, "Oh ya, ayah mana Bu?" tanya Alina sebab dari tadi ia tidak melihat keberadaan pak Farel ayahnya.


"Ayah mu sedang keperkebunan Nak, melihat para pekerjanya."


"Iya Bu, Alina ke dalam dulu."


Ibu Chintya pun meninggalkan Alina sendiri di dalam kamarnya. Sedangkan ibu Chintya sendiri berjalan menuju kamar Andara untuk melihat cucu kesayangannya.


***


Alina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, ia masih belum bisa melupakan bayangan Ansori, pria yang begitu sangat dikaguminya.


"Kak An, kenapa aku harus jatuh hati pada mu. Namun, akhirnya kau hempaskan rasa ku? kenapa dari sejak mula kau berusaha untuk menyentuh hati ku dengan semua perhatian mu terhadap ku, namun akhirnya kau pun seolah berada di atas angin? kenapa ada dia di antara kita, ketika dihatiku telah terukir namamu? kenapa? aku benci dengan rasa cinta ku terhadap mu, jika waktu dapat diputar kembali sungguh ku tak ingin ada cinta, lebih baik aku sendiri." Alina terus meratapi kesedihannya.


"Ia pun merogoh ponselnya yang dari sejak tadi ia matikan lantaran dirinya tidak ingin diganggu siapa pun ketika dirinya sedang menghibur diri bersama Guntara Arjuna Winata yang begitu setia menemani kemanapun ia pergi."

__ADS_1


"Ya Allah banyak sekali pesan masuknya sampai puluhan kali, panggilan tak terjawabnya juga sudah 199 kali. Aku serasa di serang oleh bom atom," ucap Alina dengan memijit pelipisnya yang terasa pusing memikirkan segala problema hidupnya yang seakan-akan tak berujung.


__ADS_2