
Alina dan teman-temannya sepakat untuk tidak lagi memikirkan Bagaskara Ardhana Putra. Begitupun Maharani ia bertobat dari segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Ia meninggalkan semua sihir yang dipelajarinya, Ia pun membakar semua buku-buku yang berisi mantra-mantra setan tersebut.
"Aku tidak akan pernah lagi mempelajari ilmu sesat ini! Aku pun akan memulai kehidupan ku yang baru. Aku akan kembali ke tanah kelahiran ku di tanah Jawa, aku harus lepas dari lingkaran syaitan ini. Aku harus mencari pengobatan alternatif untuk melepaskan ilmu sihir yang terlanjur melekat di tubuh ku!" batin Maharani dengan membakar buku-buku yang berisi mantra-mantra peninggalan kakeknya.
Keputusan Maharani sudah bulat untuk kembali ke kampung halamannya bersama kedua orangtuanya yang memang mereka adalah perantau dari tanah Jawa dan sementara waktu menetap di desa xx kediaman Alina Cahya Kirani.
Orang tua Maharani pun tidak ingin lagi tinggal di desa tersebut setelah ia mengetahui anaknya terkena sihir dan guna-guna dari Bagaskara. Mereka tidak ingin putrinya terus larut dalam kesedihannya. Kedua orang tua Maharani ingin anaknya melupakan semua hal buruk yang dialaminya.
"Nak, bulan depan kita akan kembali ke kampung halaman. Ibu harap kau bisa sembuh dan melupakan semua kenangan terburuk yang pernah kau temui di sini. Sungguh, ibu tidak menyangka jika ustadz Bagas itu munafik! semoga saja ia kena karma atas perbuatannya!" umpat Ibunya Maharani berapi-api. Ia tak sampai hati melihat putrinya murung seperti itu.
"Maharani ... ayah bersyukur akhirnya kau pun meninggalkan ilmu sesat itu. Jangan kalian saling menyerang dengan ilmu hitam yang sangat tidak diridhoi Allah itu. Ayah tidak menyangka jika dirimu mengamalkan ilmu peninggalan kakek mu. Namun, ayah merasa bangga atas kejujuran mu terhadap kesalahan yang telah dirimu perbuat." Ayah Maharani pun mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih. Ia tidak tega melihat putrinya mengalami penderitaan itu di masa belianya.
Maharani pun berbaring di kamarnya, ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasurnya dengan menyandarkan kepalanya di atas bantal. Ia pun terpejam setelah berperang melawan rasa sakitnya. Kedua orangtuanya pun membiarkan anaknya beristirahat dengan tenang.
***
Di malam pengantin.
Bagaskara dengan beringasnya membuka pakaian yang melekat di tubuh Putri. Ia tampak bernafsu ingin segera mencumbui istri pelampiasan hasratnya itu.
Putri berusaha menutupi tubuh polosnya dengan kain selimut yang ada di dekatnya, "Jangan sentuh aku! kenapa kau begitu kejam sekali? dasar laki-laki bejat dan tidak punya perasaan! memangnya aku bonekamu!" pekik Putri dengan menyelimuti tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1
Putri meringkuk di balik selimutnya, rasanya dirinya tak rela menyerahkan mahkota berharganya kepada laki-laki yang kini telah menjadi status suaminya.
"Jangan mencoba-coba untuk menolak ku sayang dan jangan berisik nanti terdengar orang tua mu papa Rama dan mama Shinta!" Bagaskara menyumpal mulut Putri dengan bibirnya di ikuti pula dengan deru nafas yang memburu. Ia pun komat-kamit melafalkan mantra-mantra syaitannya dengan niat menyetubuhi Putri namun membayangkan wajah dan tubuh Putri sebagai Alina Cahya Kirani, adik sepupu yang sangat digilai olehnya itu.
Tepatnya Putri hanya menjadi pelampiasan hasratnya, untuk menyalurkan hasrat nafsu bejatnya. Sedikitpun tidak ada rasa cinta di hati Bagaskara untuk Putri. Ia terus membayangkan tubuh Putri seolah-olah dirinya menggerayangi tubuh Alina wanita yang dicintainya.
"Alina, kau sangat memabukkan sekali!" ucap Bagaskara tiba-tiba di sela-sela aktivitasnya menggerayangi tubuh Putri. Membuat air mata putri tiba-tiba jatuh berlinang, ketika senjata ampuh milik Bagaskara menerobos masuk dengan paksa mahkota berharganya yang telah lama dijaga olehnya dengan baik. Namun, malam ini noda merah di seprai pengantinnya menjadi saksi bahwa kesuciannya telah terenggut oleh laki-laki bejat yang kini telah menjadi suaminya.
"Sakittttttt! kau sangat kejam!" ucap Putri dalam rintihan tangisnya.
"Kau telah menjadi istriku, seluruh yang ada didalam dirimu adalah milikku!" ucap Bagaskara dengan terus berfantasi membayangkan tubuh Putri sebagai sosok Alina.
"Jika kau menganggap ku istrimu, mengapa kau menyebut wanita lain saat mencumbui ku?" ucap Maharani dengan isak tangisnya.
Putri merasa sensasi yang luar biasa di tubuhnya, seperti tersengat aliran listrik. Hingga ia pun meracau dengan lenguhan panjangnya ketika rasa sakit di bagian sensitifnya berubah menjadi rasa nikmat yang tiada taranya. Hingga membuat Bagaskara semakin mempercepat pacuannya sehingga keduanya pun mencapai puncak kenikmatan secara bersama.
Bagaskara pun tumbang di atas tubuh Putri dengan sensasi nikmat yang sangat luar biasa.
"Alina aku sangat mencintaimu!" ucap Bagaskara yang seolah-olah merasakan Putri sebagai sosok Alina. Ia terus menembuskan buhul-buhul cintanya lewat Putri yang ditujukan atas nama Alina.
Putri pun mendorong tubuh Bagaskara dengan sangat kerasnya, hingga Bagaskara hampir terhuyung dari sisi ranjang. Ia tidak rela jika dirinya dijadikan istri pelampiasan hasrat oleh Bagaskara Ardhana Putra.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau mendorongku!" Bagaskara menarik dagu Putri dan menyesap bibir manis itu dengan brutalnya.
Airmata Putri semakin jatuh berlinangan membasahi wajah cantiknya. Bagaskara sama sekali tidak memperdulikan Putri merintih di malam pengantinnya. Ia pun kembali mengukung tubuh Putri di atas ranjang pengantin. Ia pun kembali menyetubuhi istrinya dengan berbagai macam gaya, Putri pun meringis menahan rasa sakitnya ia pun pingsan tak sadarkan diri. Pasalnya, Bagaskara terus memacu tubuhnya yang kini terlihat sangat lemah oleh hentakkan demi hentakan keras yang keluar masuk dari area sensitifnya terus di tusuk-tusuk oleh senjata ampuh milik Bagaskara suaminya yang sudah seperti orang ke syetanan.
"Alina, kau sangat nikmat sekali!" ucap Bagaskara dengan menyemburkan lahar panasnya di ladang milik Putri yang kini sudah di obrak-abrik olehnya.
"Ya Allah, apakah ini akhir dari nafas kehidupan ku!" bathin Putri dengan memejamkan matanya. Ia benar-benar tidak sadarkan diri setelah aksi Bagaskara mencumbuinya dengan sangat brutalnya.
Bagaskara menyeringai licik, ketika ia menyadari Putri memejamkan matanya dan tak sadarkan diri.
"Ya, dia pingsan! dasar lemah! mana aksi liar mu tempo hari dengan berani-beraninya menjebak dan mempermalukan ku di cafe XX bersama para wanita ku yang akhirnya menyergap ku dan menimpuki ku dengan sangat kejamnya! sekarang rasakan olehmu pembalasanku, aku akan terus menyiksa lahir batinmu!" Bagaskara tersenyum dengan penuh kemenangan.
Bagaskara merasa mendapatkan batangan emas berharga ketika berhasil menyakiti lahir dan batin Putri yang dulu pernah menjebaknya dan menyombongkan diri padanya. Dan kini wanita tersebut lemah dan tak berdaya di bawah kungkungannya.
"Alina, aku merasakan sensasi yang luar biasa ketika membayangkan tubuh dan wajah mu ketika berada di atas tubuh istriku!" gumam Bagaskara pelan, sambil menjilati area wajah Putri yang kini sedang terpejam tak sadarkan diri.
***
Sementara dikediaman Alina Cahya Kirani.
Rintihan di malam pengantin antara Putri dan Bagaskara kini seolah-olah di rasakan oleh Alina. Hembusan buhul-buhul cinta yang di hembuskan oleh Bagaskara kini perlahan-lahan tiba-tiba menyergapi seluruh tubuh Alina yang seolah-olah seperti tersengat oleh aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Tubuh ku!" rintih Alina ketika waktu menunjukkan tepat jam dua belas malam ia tiba-tiba terbangun dan merengkuh erat tubuh sendiri.