Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 116. Pesona Sang Fajar


__ADS_3

Alina terus memikirkan tentang sang Fajar yang kini telah menjelma seperti seorang ustadz ternama yang sering tayang di stasiun televisi.


''Ia benar-benar seperti ustadz Adi Hidayat,'' batin Alina yang sedikit menyelip rasa kagum pada pesona sang Fajar yang tak biasanya.


Fajar benar-benar terlihat sangat religius dengan sarung dan koko serta peci yang dikenakannya.


''Andai saja, ada sedikit bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya tentu saja ia akan lebih terlihat berkharisma. Astaghfirullah, apa yang ku pikirkan? jangan terkecoh dengan penampilan luar seseorang, bukankah ia itu bad boy? lalu apa yang membuatnya bisa berubah dratis seperti ini?'' batin Alina terus bertanya-tanya tentang brondong manis yang ada di hadapannya.


''Maa syaa Allah, jadi kalian sudah saling mengenal? ini Fajar anak Ummi, ia baru akan belajar untuk menjalankan ibadah shalat hari ini. Biasanya, ia lebih memilih untuk bergabung dengan teman-teman genknya. Ummi merasa sangat bahagia, entah angin apa yang menuntunnya hingga tergerak untuk menjalankan ibadah sholat yang sudah lama sekali ditinggalkannya,'' terang Ummi Zainab tanpa di tutup-tutupi.


Ummi Zainab tidak ingin Alina berpikir macam-macam tentang anaknya yang masih labil itu. Di mana gunjingan orang kerap kali mendera anaknya, kedua orang tuanya juga kakaknya sangat taat beribadah. Akan tetapi, adiknya sangat sulit untuk di atur.


''Alhamdulillah, hidayah Allah masih menyapanya Ummi. Alina do'akan semoga dek Fajar terus istiqomah dalam ibadahnya, serta semangat dalam menuntut ilmu agama, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan bertaubat untuk menggapai ridho-Nya,'' ujar Alina memberikan semangat untuk Fajar Guntur Ramadhan.


''Aamiin!'' semua orang yang ada di sana pun ikut mengamini do'a Alina. Tak terkecuali Fajar sendiri.


''Maaf, bisakah kamu memanggil ku dengan panggilan Fajar atau Guntur saja, aku bukan anak kecil lagi. Usia ku sudah 20 tahun, atau jangan-jangan malah kita seumuran,'' ucap Fajar terdengar lucu di telinga setiap orang yang mendengarnya.

__ADS_1


Alina terkekeh, ''Maaf, jika kamu keberatan untuk dipanggil adik. Aku panggil Fajar saja. Sebenarnya, usia ku sudah 22 tahun seumuran dengan kakak mu Nur Syifa,'' terang Alina dengan menampakkan sedikit senyum khasnya.


''Baiklah, panggil Fajar lebih asyik kedengarannya.'' Fajar terlihat lebih santai, tidak secanggung sebelumnya ketika berhadapan dengan Alina.


''Anak Abi, ayo kita berangkat! sebentar lagi sudah kumandang adzan Maghrib, obrolannya ditunda dulu!'' ujar Abi Sofyan mengingatkan putranya yang begitu sangat kentara sekali menyukai Alina.


Sebagai sosok seorang ayah, Abi Sofyan dapat menyimpulkan jika putranya tiba-tiba berubah menjadi sangat religius karena pertemuannya dan perkenalannya dengan Alina. Akan tetapi, Abi Sofyan tidak ingin terlalu menguliti itu semua, sampai Fajar benar-benar serius dengan taubatannya bukan hanya karena terpikat dengan hati seorang wanita.


Fajar dan Abi Sofyan tampak berjalan di depan, sedangkan Alina berjalan beriringan dengan Nur Syifa dan juga Ummi Zainab.


Pesona sang Fajar benar-benar menghipnotis orang-orang sekitarnya dengan penampilannya yang memang sangat mirip dengan ustadz kondang Adi Hidayat.


''Semoga saja, si Guntur benar-benar taubat. Bukan hanya sekedar TOMAT alias TAUBAT MAKSIAT saja,'' bisik-bisik kecil para tetangga ketika melihat Guntur lewat di depan rumah mereka bersama kedua orang tuanya dan juga kakaknya serta Alina gadis baru yang masih asing dalam pandangan masyarakat di sekitar kompleks tersebut.


Tidak hanya sampai di situ, pesona sang Fajar pun tampak menjadi pusat perhatian para muda-mudi di Mesjid, terutama kaum hawa yang baru pertama kali melihatnya menginjakkan kakinya di rumah Allah tersebut.


''Tak ku sangka, si Fajar tampan dan sekeren itu. Ia benar-benar mirip dengan ustadz Adi Hidayat, coba saja dari dulu ia seperti itu pasti banyak wanita sholehah yang menggandrunginya,'' batin salah seorang wanita yang begitu sangat terpukau dengan pesona Fajar Guntur Ramadhan yang tampak beda dari biasanya.

__ADS_1


Para jama'ah laki-laki tampak bertegur sapa dengan Abi Sofyan, mereka begitu menghormati orang yang sangat dianggap sepuh di sekitar komplek perumahan mereka. Abi Sofyan lah yang kerap kali membimbing anak-anak mereka mengaji dan juga menyampaikan dakwah dan ilmu yang bermanfaat, akan tetapi Abi Sofyan merasa gagal mendidik anaknya sendiri, namun hari ini ia dibuat takjub oleh keajaiban yang telah Allah berikan kepada anaknya Fajar Guntur Romadhan yang tiba-tiba terbesit ingin menunaikan kewajiban ibadah shalat di Mesjid bersamanya dan dan keluarganya.


''Semoga secara perlahan dirimu dapat bermetamorfosa menjadi pemuda sholih wahai anakku,'' harap Abi Sofyan di dalam hatinya.


Kumandang adzan pun bergema di Mesjid Baiturrahman tersebut, semua jama'ah dari laki-laki dan perempuan nampak khusuk mendengarkan seruan panggilan shalat itu, tak terkecuali Alina, Nur Syifa dan Ummi Zainab. Mereka begitu seksama menjawab setiap seruan adzan yang di kumandangkan oleh muadzin.


Begitu pun dengan Guntur, air matanya seketika berlinang membasahi pipinya. Ia begitu sangat hina di hadapan Rabb-Nya. Telah banyak dosa dan maksiat yang di perbuatnya. Pemuda itu pun menyesali perbuatan dosa dan maksiat yang kerap kali di lakukan olehnya bersama teman-temannya.


''Ya Allah, terimakasih atas hidayah mu. Melalui dirinya hatiku terketuk untuk mengagungkan kebesaran-Mu. Aku berharap dapat terus berjuang di jalan ini, dan aku pun berharap gadis yang bernama Alina Cahya Kirani bisa menjadi jodoh ku untuk meniti jalan-Mu. Menikah muda pun aku mau, jika ia yang menjadi jodoh ku!'' do'a yang teruntai dari kedalaman hati seorang Fajar Guntur Ramadhan di tengah kumandang adzan yang masih menggema diMesjid Baiturrahman tersebut.


Sebejat-bejatnya, dan seawam-awamnya Fajar tentang ilmu agama, ia sangat meyakini jika berdo'a di saat mendengar suara kumandang adzan, maka doanya akan diijabah oleh Allah subhanahu wa ta'ala cepat atau lambat. Begitulah keyakinan yang terlahir dari kebeningan hati, pikiran dan jiwa seorang Fajar Guntur Romadhan yang terkenal dengan bad boy-nya.


Setelah seruan iqomah, ibadah shalat Maghrib pun segera di mulai. Fajar tampak kebingungan, sebab dirinya lupa akan gerakan sholat beserta bacaannya.


''Ya Allah, apa yang harus kulakukan? tak ada sedikitpun yang ku hafal dan ku ingat dari bacaan dan gerakan shalat, betapa bodohnya aku. Benar juga apa kata kak Syifa percuma prestasi duniaku bagus akan tetapi prestasi akhiratku sangat buruk bahkan zonk sama sekali,'' batin Guntur setengah putus asa dan ingin menangis oleh karena keawamannya tentang ilmu agama.


''Ya sudah, aku mengikuti gerakan dan bacaan imam saja! Untung saja aku berada di shaf paling depan, jadi aku lebih leluasa mengikuti gerakan imam, bukankah status ku di sini sebagai makmum?'' Fajar terus ngedumel di dalam hati sebelum ia melafadzkan niat shalatnya untuk mengikuti imam.

__ADS_1


__ADS_2