
Alina tampak berbaring di kasurnya, ia merasa sedikit lega setelah melakukan ruqyah pertamanya bersama ustadz Habib. Namun, ketenangannya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba jantung hatinya, seperti ditarik-tarik dan ditusuk-tusuk oleh sesuatu. Perutnya pun seperti disayat-sayat.
Makhluk yang tak kasat mata yang ada di dalam tubuhnya, seolah-olah tidak rela melihat Alina menempuh jalan yang benar.
"Astaghfirullah, gangguan apa lagi yang sedang ku alami!" batin Alina dengan memegang dadanya juga perutnya yang terasa tersayat-sayat.
Alina pun bergerak cepat dengan mengambil madu pemberian ustadz Habib yang telah diruqyah untuk menangkal penyakitnya. Setidak-tidaknya bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Ini benar-benar sangat menyakitkan!" Alina terus berusaha menahan rasa sakitnya.
Setelah meminum air madu tersebut, Alina merasa sedikit nyaman di dada dan perutnya. Namun sewaktu-waktu penyakit tersebut bisa saja menerangnya jika ia dalam keadaan lalai.
Alina pun segera mengambil wudhu untuk menenangkan hati dan pikirannya, ia merasakan hawa panas menyerang tubuhnya. Namun, Alina terus berjuang melawan rasa sakitnya. Ia pun membaca dzikir pagi petang yang disarankan oleh ustadz Habib.
"Ya Allah berikanlah hamba kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi segala ujian yang kau berikan ini! jadikanlah rasa sakit yang sedang hamba alami saat ini sebagai penggugur dosa-dosa hamba di masa yang lalu! hamba bertobat atas segala dosa dan maksiat yang pernah hamba perbuat. Hamba benar-benar menyesal atas semuanya!" Alina mengingat-ingat kembali potongan masa lalunya bersama Bagaskara, Abang sepupunya.
Alina tidak menyangka, jika ikatan cinta mereka yang terlarang tersebut berujung dengan hal mistis. Bagaskara semakin menggila dan telah tega mengguna-gunainya dengan sihir yang mematikan dirinya secara perlahan.
"Aku membencimu mas, sangat membencimu!" gumam Alina dengan isak tangisnya. Ia benar-benar menyesal karena pernah menjadi masa lalu Abang sepupunya yang bejat itu.
Pikiran Alina tiba-tiba kosong, sekujur tubuhnya serasa melayang. Ia tiba-tiba kehilangan tenaga dan merasakan keletihan yang teramat sangat.
"Kenapa gangguan di tubuhku semakin menjadi-jadi? ini pasti gangguan dan akal-akalan jin dan setan yang hendak melumpuhkan imanku!" Alina terus melawan rasa sakitnya, hingga pikirannya kembali tenang setelah membaca dzikir petang yang diamalkan olehnya barusan.
"Alhamdulillah, setidaknya aku bisa melawan rasa sakitku! aku tidak boleh lemah, aku harus kuat!" batin Alina menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia pun terus membaca zikir-zikir yang dapat menenangkan hati dan jiwanya. Alina pun menyetel kaset murottal yang diberikan oleh ustadz Habib padanya. Ia nampak khusuk mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut, hingga 30 menit sudah Alina menyetel kaset murottal dan mendengarkannya dengan penuh keyakinan dan keimanan berharap kesembuhan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Alina merasakan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, seiring keluarnya keringat tersebut. Seiring itu pula Alina merasakan tubuhnya terasa lebih bugar. Namun, bukan berarti ia langsung sembuh dari penyakitnya sebab semua itu butuh proses mengingat penyakitnya yang telah darah daging.
Ayah Farel yang baru pulang dari perkebunan nampak kaget sebab tidak biasanya putrinya menyetel kaset DVD yang berhubungan dengan ayat-ayat Qur'an. Ayah Farel merasa aneh, menurutnya ada sesuatu yang beda mengingat jarangnya dilantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di rumahnya lewat kaset DVD. Kecuali, hanya pembacaan langsung dari kitab suci Al-Qur'an yang ada di rumahnya tidak melalui mendengar lewat kaset-kaset murottal.
"Ini, siapa yang menyetel kasetnya Bu?" tanya ayah Farel pada ibu Chintya.
"Oh, itu anak bungsumu, Yah!" terang ibu Chintya.
Andara dan Dimas pun ikut menjelaskan pada ayahnya, "Itu salah satu terapi untuk kesembuhan Alina, Yah!" terang Andara di angguki pula oleh Dimas.
Ayah Farel hanya terdiam sambil manggut-manggut. Ia tidak ingin protes, jika itu memang kebaikan untuk putrinya ayah Farel ikut mensupport, apa yang menjadi keinginan anaknya.
Andara pun menghampiri Alina di dalam kamarnya, "Bagaimana rasanya setelah mendengarkan lantunan ayat Al-Qur'an dengan metode terapi ruqyah mandiri seperti ini?" tanya Andara dengan segenap perhatiannya terhadap adiknya.
"Syukurlah jika begitu, kakak senang mendengarnya. Sekarang kamu bersihkan diri dulu, sambil menunggu waktu ibadah shalat magrib!" Andara pun mengecup kening adiknya yang sangat disayanginya itu.
"Baiklah, Kak!" Alina pun bergegas menuju toilet untuk membersihkan dirinya.
Alina melihat dirinya di dalam pantulan cermin, "Ya Allah ... setelah di ruqyah aku merasa aura wajahku terlihat lebih cerah dan bercahaya. Akan tetapi aku masih merasakan keanehan dalam diriku, mungkin ini adalah salah satu gangguan dari makhluk tak kasat mata yang berada di tubuhku!" batin Alina dengan terus membersihkan dirinya.
***
Di sisi lain.
__ADS_1
Bagaskara merasakan jika dirinya ada yang merintangi untuk kembali menghembuskan buhul-buhul cintanya terhadap Alina. Ia semakin menggila, dia merasa jika Alina berusaha untuk terus lepas dari dirinya.
"Berdebah! kekuatan apa yang telah ia gunakan? berani-beraninya ia ingin lepas dariku!" Bagaskara nampak berang, ia yang baru pulih dari sakitnya pun kembali melemparkan barang-barang berharga yang ada di dalam kamarnya.
"Kau benar-benar membuatku emosi Alina! apa kau kira dirimu suci?" Bagaskara terus mengoceh sambil melempar semua barang-barang berharganya.
Quinsha Putri yang baru masuk mengunjungi Bagaskara di rumah mertuanya pun dibuat terkejut ketika melihat amukan Bagaskara.
"Mas, apa yang terjadi denganmu?" Putri merangkul tubuh suaminya dengan penuh kasih.
Karena bagaimanapun Putri harus menghargai Bagaskara yang kini telah menjadi imamnya.
"Kau baru datang!" Bagaskara pun segera menyambar bibir ranum milik istrinya. Di sesapnya bibir ranum tersebut dengan penuh nafsu. Putri nampak tersengal ketika mendapat serangan mendadak dari suaminya.
"Kau masih sakit, Mas!" ucap Putri dengan mendorong tubuh suaminya pelan, sehingga pagutan itu pun terlepas.
"Kau tidak bisa menolakku sayang!" ucap Bagaskara dengan mendorong tubuh istrinya di kasur.
Bagaskara membayangkan tubuh Putri sebagai tubuh Alina. Ia melampiaskan kekesalannya terhadap Alina, melalui Putri istrinya.
"Mas, area sensitif ku masih terasa sakit akibat pertempuran semalam! tolong beri aku jeda sejenak!" ucap Putri dengan memohon pada suaminya yang terlihat semakin menggila hendak menggerayanginya.
Tok ... tok ... tok, "Nak Bagas, nak Putri. Mama masuk ya? Di sini ada mama Shinta dan papa Rama yang juga ingin menjenguk dan melihat-lihat keadaan nak Bagas!" terang Mama Laras dari balik kamar.
Orang tua Alina dan Bagaskara pun tidak ingin asal menerobos masuk, sebelum izin dari anak menantu mereka.
__ADS_1
"Mas!" desah Putri ketika nafsunya terpancing oleh Bagaskara Ardhana Putra suaminya.
Bagaskara pun bangkit dari tubuh istrinya. "Kali ini kau selamat sayang!" ucap Bagaskara dengan mengecup lembut bibir Putri yang ia bayangkan sebagai Alina Cahya Kirani, adik sepupu yang sangat digilai olehnya itu.