
Alina memandangi wajahnya di cermin, ia memoles wajahnya dengan make up natural dan sedikit polesan lipstik tipis di bibirnya. Agar wajahnya terlihat lebih cerah dan tidak pucat setelah aksi kesurupannya barusan.
"Alhamdulillah terlihat lebih cerah," gumam Alina dengan terus menatap wajahnya dalam pantulan cermin.
Jika semua orang nampak sibuk menghadiri resepsi pernikahan Bagaskara dan Putri. Alina justru asyik bergelut dengan dunianya sendiri. Tak peduli orang menganggapnya apa, yang jelas dirinya tidak ingin menampakan wajahnya di hadapan abang sepupu yang sangat dibenci olehnya itu. Tiada kata maaf di hati Alina untuk seseorang yang telah memberikan rasa kecewa dan luka di dalam hatinya.
"Aku harap tidak akan pernah melihat wajahmu lagi, meskipun jarak antara rumah kita hanya lima langkah. Aku akan pergi jauh dari desa ini, tak ingin lagi aku mengingat semua kenangan bersamamu. Kau telah menghancurkan masa depan hidupku dengan caramu yang begitu picik dan licik. Sebaik apapun kau bersikap tak kupercaya lagi semua ucapanmu, setelah ku tahu dirimu membunuh hidupku secara perlahan. Sungguh kau tak pantas menyandang gelar ustadz untuk menutupi segala kebobrokanmu!" Alina membakar semua hadiah pemberian dari Bagaskara Ardhana Putra tanpa sisa satupun. Boneka kesayangan hello Kitty pink menjadi santapan kepulan asap api terakhir.
Alina meratapi nasibnya, dia sangat membenci penyakit yang kini menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Ia benci ketika ia tak sadarkan diri tingkah polanya tidak bisa untuk dikontrol. Membuat dirinya harus menahan malu oleh sebab, pikiran perasaannya yang sering berubah-ubah seolah-olah ada yang menguasai dirinya.
Alina menangis pilu, dia bingung dengan dirinya sendiri yang terkadang sabar dan lembut namun tiba-tiba memberontak dan sering marah-marah tanpa sebab. Mungkin semua orang melihatnya akan menganggapnya aneh, padahal itu semua di luar kesadarannya. Gangguan dalam dirinya semakin hari semakin berubah-ubah dan semakin menjadi-jadi. Makhluk tak kasat mata begitu gencarnya untuk terus mengganggu setiap aktivitas kesehariannya. Hingga membuat Alina tak ubahnya seperti boneka, yang hanya untuk menjadi bahan mainan saja atau hanya untuk sekedar pajangan. Setiap laki-laki datang dan pergi masuk dalam kehidupannya namun tak satupun yang mampu bertahan dengannya, mengingat segala keanehan yang ada dalam dirinya.
"Alina, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kamu membakar semua barang-barang berharga ini! kenapa kamu tidak menghadiri resepsi pernikahan Bagaskara dan Putri. Tadi Putri menanyakan keberadaanmu!" ucap Reno yang datang tiba-tiba menemui Alina di belakang rumahnya dengan setumpuk barang-barang berharga pemberian Bagaskara, yang kini sudah ludes terbakar oleh si jago merah.
"Apa pedulimu padaku, Ren! aku ini wanita yang kotor dan berpenyakitan, semua orang pasti menjauhiku. Kenapa dirimu masih terus menemuiku? Padahal sudah ribuan kali aku menolakmu? jangan berharap aku akan datang menghadiri resepsi laki-laki bejat itu. Aku tak sudi melihat wajahnya!" ucap Alina ketus. Ia pun memalingkan wajahnya dari Reno yang sejak tadi menatapnya penuh dengan rasa iba.
"Alina, meskipun orang-orang menjauhimu namun tidak denganku. Aku tetap peduli padamu. Jadi jangan pernah untuk merasa sendiri!" dengan perasaan ibanya terhadap penyakit yang kini menggerogoti tubuh Alina.
"Hahaha, apaaa? kau peduli padaku? Aku yakin tidak ada orang yang mampu untuk bertahan denganku, dengan segala rasa sakit dan keanehan yang aku derita!" sangkal Alina yang tiba-tiba menangis meneteskan air matanya di hadapan Reno.
__ADS_1
"Alina dengarkan aku, aku dari sejak tadi mencarimu. Ketika aku melihat kepulan asap api dari arah belakang rumahmu, aku yakin kau ada di sini!" terang Reno dengan tatapan yang penuh arti terhadap Alina.
Reno hendak mendekati Alina, akan tetapi Alina menyilangkan tangannya ke depan. "Jangan mendekat, menjauhlah dariku!" ucap Alina histeris.
Entah kenapa semakin Reno nekat untuk mendekatinya dan memiliki rasa simpati padanya semakin Alina menaruh rasa benci pada Reno, padahal Reno hanya berniat untuk menjadi seorang yang bisa menjadi penompang untuk segala kedukaan yang dialami oleh Alina. Namun, kekuatan energi negatif yang berasal dari makhluk tak kasat mata di dalam tubuh Alina menguasai dan mengendalikan diri Alina sepenuhnya untuk membenci orang-orang yang mencintainya. Sampai semua orang-orang yang mencintai Alina menjauhinya.
Namun, tidak dengan Reno. Ia tetap memperjuangkan cintanya pada Alina. Entah mengapa dirinya begitu ingin menghapus segala kesedihan di mata gadis malang itu.
"Alina, mengapa semakin ku kejar semakin kau jauh. Tidak adakah terbesit di hatimu sedikit saja untuk menerimaku menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu!" ucap Reno dengan mengungkapkan segala isi hatinya yang kepalang basah harus ia ungkapkan demi untuk bisa menemani Alina dalam melewati kesulitan hidupnya.
Akan tetapi semakin Reno mencintai Alina, semakin Alina menjauhinya. Dengan seribu tatapan kebencian yang terpancar dari sorot mata Alina Cahya Kirani terhadap Reno.
"Aku sangat berterima kasih padamu, kau selalu membantuku ketika aku membutuhkanmu. Akan tetapi, maafkan aku. Aku tidak bisa membalas perasaanmu terhadapku!" ucap Alina jujur.
"Jika kau menolakku untuk menjadi seorang yang istimewa di hatimu, bolehkah aku untuk sekedar menjadi temanmu. Teman yang selalu ada untukmu di saat dirimu membutuhkan segala pertolonganku. Aku tidak akan meninggalkanmu Alina! aku akan tetap menjadi temanmu meskipun kau membenciku!" ucap Reno dengan penuh ketulusan.
Alina pun merasa sedikit lega, mendengar penuturan Reno. "Jika memang hanya untuk berteman, insya Allah aku mau untuk berteman denganmu!" ucap Alina yang kini menerbitkan senyuman manis dari wajah ayunya. Ia pun tiba-tiba di dera rasa bahagia ketika tahu Reno hanya ingin berteman dengannya, tidak lebih.
"Baiklah, deal kita berteman!" ucap Alina dengan menautkan jari kelingkingnya bertaut dengan jari kelingking Reno.
__ADS_1
"Deal, terima kasih sudah berkenan menjadi temanku!" ucap Reno yang kini terlihat bersemangat. Baginya, bisa melihat keceriaan di wajah Alina itu sudah cukup baginya.
"Kalau begitu, mari kita ngobrol santai di teras rumahku. Sambil menunggu teman-teman lainnya. Katanya, Maharani, Chika dan Dela hendak kemari setelah pulang dari menghadiri resepsi pernikahan putri. Katanya, mereka ingin refreshing hati bertukar pikiran denganku. Aku salut dengan mereka, meski telah disakiti dan dikecewakan oleh laki-laki bejat itu mereka masih tetap datang demi menghargai Putri. Tapi, tidak untukku. Aku tidak akan pernah menemuinya lagi!"
Alina yang kecewa dan terluka terhadap kebejatan Bagaskara padanya memutuskan untuk tidak lagi menjalin silaturahmi dengan orang yang telah menzholiminya.
"Baiklah!" Reno pun berjalan beriringan dengan Alina menuju teras rumah, sambil menunggu kedatangan teman-teman lainnya.
***
Resepsi pernikahan Putri dan Bagaskara, begitu terlihat megah. Namun tidak dengan Putri, batinnya merasa tersiksa dengan pernikahan paksaan tersebut.
Semua orang nampak menikmati alunan musik yang dibawakan oleh grup musik ternama yang disewakan oleh Bagaskara dan keluarga.
Di tengah meriahnya pesta tersebut, ada hati yang terluka dan kecewa yakni Maharani. Gadis yang dulu pernah menjadi pelabuhan cinta Bagaskara.
Maharani komat-kamit melafalkan mantranya untuk mempermalukan Bagaskara di hadapan khalayak ramai. Namun, untuk saat ini ilmu sihir yang dipelajarinya seolah-olah ada yang merintanginya.
Maharani yang hendak menjatuhkan reputasi Bagaskara oleh rasa dendamnya, justru dia yang harus tumbang. Ia pun kalah, keampuhan ilmunya tidak berfungsi dengan baik. Sebab, ternyata Bagaskara sudah memagari sekeliling tempat acara resepsi pernikahannya dengan pagar ghaib yang tidak dapat ditembus oleh mata biasa. Sehingga, jika ada yang hendak menghancurkan Bagaskara maka keampuhan ilmu tersebut akan menyerang sang pemiliknya sendiri.
__ADS_1
"Brukkkkkk, awwww!" orang-orang nampak dikagetkan dengan pingsannya Maharani.
"Cepat angkat! ada tamu undangan yang pingsan!" pekik orang-orang yang tidak sempat menangkap tubuh Maharani yang ambruk di lantai.