
"Apaaa?" pekik Alina dengan rasa tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka sekaligus terkejut jika temannya Queensha Putri dijodohkan dengan Abang sepupunya Bagaskara Ardhana Putra yang kini telah menjadi mantan pacarnya.
"Pernikahan kami akan segera digelar satu minggu lagi!" ucap Putri dengan isak tangisnya.
"Bagaimana itu bisa terjadi Put? kenapa kau tidak menolaknya, bukankah dirimu sangat membenci kak Bagas?" tanya Alina dengan rasa penasaran.
Putri pun menceritakan kronologis kejadian yang terjadi antara dirinya dan Bagaskara saat mereka berada di kursi taman belakang rumah keluarga Bagaskara Ardhana Putra. Putri menceritakan kejadian buruk yang telah menimpanya terhadap Alina dengan derai air mata yang berlinang di pipinya.
"Astaghfirullah Put, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpamu barusan! mas Bagas benar-benar keterlaluan, aku tidak menyangka jika ia sebejat itu!" ucap Alina dengan nada sedihnya.
"Ia Lin, aku sudah terlanjur menerima perjodohan ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, aku merasa masa depanku hancur oleh dirinya. Aku tidak tahu apakah pernikahan ini akan bertahan lama, namun setidaknya aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku yang begitu sangat berharap aku menikah dengan lelaki bejat itu, yang mereka sendiri tidak tahu sebenarnya menantu pilihan mereka itu bukanlah calon menantu yang baik!" tegas Putri dengan tetap meratapi nasibnya.
"Apa perlu bantuan ku Put, untuk menggagalkan rencana pernikahan kalian?" Alina mencoba menawarkan diri untuk membantu Putri agar keluar dari masalahnya saat ini.
"Sepertinya tidak bisa, Alina. Kedua orang tuaku juga orang tua mas Bagas sudah menyusun semua rencananya dan aku tidak ingin mengecewakan mereka. Biarlah aku yang berkorban demi kebahagiaan mereka, juga untuk dirimu Alina. Karena aku tahu Bagaskara terus mengejarmu dengan cara bejatnya! ia selalu menggunakan kekuatan mistis untuk melumpuhkan kekuatan wanita yang diinginkannya, jadi cukup aku saja yang merasakan segala kepedihan dan kegetiran itu!" ucap Putri mencoba untuk tegar.
"Ya Allah Put, aku salut akan ketegaran jiwamu jika aku ada di posisimu aku tidak akan mampu menjalani semua itu!" ucap Alina penuh keprihatinan terhadap sahabatnya Putri yang terpaksa harus menikahi Abang sepupunya.
"Ia Alina, aku merasa semuanya seperti mimpi. Kebahagiaanku seolah terenggut. Dia benar-benar penuh dengan kelicikan, dia menjebakku dalam permainannya!" ucap Queensha Putri yang masih menyimpan kebencian pada sosok Bagaskara calon suaminya.
"Aku doakan dirimu tegar dan kuat serta bahagia dengan pilihanmu Putri," ucap Alina dengan nada sendu.
__ADS_1
"Terima kasih atas segala do'anya Alina, semoga Allah menjagamu dari segala kejahatan yang hendak memudaratkanmu!" ucap Putri yang sangat memahami akan kekejian Bagaskara yang telah mengirimkan sihir dan guna-guna untuk Alina Cahya Kirani sahabatnya.
"Sama-sama Queensha Putri!" ucap Alina dengan tetap memikirkan akan nasib sahabatnya nanti ketika menikah dengan Abang sepupunya Bagaskara yang terkenal dengan kemunafikannya itu.
"Alina aku mohon, untuk sementara rahasiakan dulu kepada siapapun tentang hal ini. Sampai nantinya aku resmi menikah dengan Bagaskara , aku tidak ingin teman-teman kita Maharani, Dela, dan Chika merasa terkhianati oleh diriku. Karena sebelumnya aku yang mati-matian menyingkap tabir kebohongan Bagaskara di hadapan mereka, namun akhirnya justru aku yang terjebak menikah dengannya! teman-teman kita pasti marah denganku, terutama Maharani dia yang begitu tergila-gila pada Bagaskara sampai hari ini. Aku tidak tega untuk menyakiti Maharani!" ucap Putri yang tahu persis akan hubungan terlarang antara Maharani sahabatnya dan Bagaskara calon suaminya tempo hari.
"Baiklah, aku akan merahasiakan semua ini! kau jangan khawatir aku akan menutup rapat-rapat rahasia ini jika memang itu yang terbaik untukmu!" ucap Alina dengan nada sendunya.
"Sekali lagi terima kasih Alina atas semua pengertianmu!" ucap Putri yang mencoba untuk ikhlas atas segala takdir hidup yang kini telah tertulis untuknya.
"Sama-sama Putri, aku do'akan semoga Allah selalu memberkahi mu, semoga kau bahagia dengan pilihanmu!" ucap Alina dengan berat hati. Ia tidak tega melihat sahabatnya merasa tersiksa oleh perjodohan yang tidak diharapkannya tersebut.
Alina pun mengakhiri percakapannya. Ia pun menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirkan nasib sahabatnya Putri bagaimana kedepannya jika menjalani rumah tangganya tanpa cinta.
"Apa aku harus menghubungi mas Bagas, agar membatalkan pertunangannya dengan Putri!" batin Alina lagi.
Alina pun menyentuh benda pipihnya, ia pun menekan nomor ponsel Bagaskara. Tidak butuh waktu lama sambungan telepon itupun tersambung, Bagaskara mengangkat telepon dari Alina dengan wajah berbinar.
"Halo sayang, akhirnya kau pun menghubungiku!" ucap Bagaskara kepedean.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, hentikan niat buruk mas untuk menikahi sahabatku Putri!" tegas Alina tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Hahaha, ternyata dia mengadu kepadamu. Malang sekali nasib gadis itu, tapi aku senang melihat penderitaannya!" ucap Bagaskara yang bersikap seperti orang gila.
"Kamu sudah gila mas Bagas, di mana akal sehatmu? aku tidak menyangka kau begitu bejat. Kau kira kezholimanmu dapat mengekalkanmu!" ucap alina di bumbui rasa emosi.
"Iya aku memang sudah gila, gila karenamu Alina Cahya Kirani!" pungkas Bagaskara tanpa filter.
"Kau semakin menjadi-jadi ya, Mas? Aku tidak ingin kau sampai merusak Putri sahabat ku. Cukup aku yang mas sakiti lahir dan batinnya!" ucap Alina yang kehabisan akal untuk menasehati Abang sepupunya.
"Jangan sok menasehati Mas Alina! dirimulah yang telah membuat Mas seperti ini. Kau yang telah menolak ku dengan kejam, semakin kau menjauhi ku dan berusaha untuk meninggalkan ku. Semakin aku akan berbuat yang lebih menggila. Sampai mati pun kau tetap milikku Alina, ragamu tetaplah milikku camkan itu!" tegas Bagaskara yang mulai bangkit sisi gelapnya.
"Naudzubillah, ternyata Mas memang benar-benar sudah gila. Tidak bisa di bimbing untuk berbuat baik. Mas terlalu mengikuti nafsu syaitan Mas, taubat Mas! selagi nafas hidup mu masih di kerongkongan!" Alina terus menasehati Abang sepupunya yang gelap mata itu.
"Sejak kapan kau mulai pintar menceramahi ku Alina. Tak perlu membawa nama-nama agama untuk menasehati ku sebab semua itu tidak akan merubah tekad ku untuk menikahi Putri. Ia telah mempermalukan ku di Cafe Xx. Ia juga telah memisahkan aku dengan mu, memisahkan cinta kita Alina. Ia yang telah melunturkan keyakinan mu padaku dan kau pun telah kejam mengusir Mas dari kediaman mu dan menolak ku mentah-mentah di hadapan Om Farel dan Bibi Chintya orang tua mu. Kau juga telah menjatuhkan harga diri ku di hadapan Guntara dan Reno. Asal kau ingat satu hal, aku tidak akan pernah merelakan diri mu dengan siapapun kendati aku sudah menikah dengan Putri nantinya, dirimu akan tetap menjadi yang pertama di hatiku!" tegas Bagaskara dengan semakin menggila.
"Dirimu benar-benar sudah hilang waras, Mas. Tidak takutkah dirimu dengan azab Allah, akan kebejatan yang kau lakukan? kau telah merusak banyak wanita dengan ilmu hitam yang kau miliki. Kau pun telah menyakiti ku dengan ilmu sihir yang kau miliki, lalu dimana letak benar mu? Aku sungguh aku tidak lagi mengenal mu, Mas. Kau benar-benar telah lupa daratan!" Alina hampir menangis, lahir batinnya merasa tersiksa menghadapi sosok Bagaskara yang semakin jauh dari kebenaran iman.
"Ternyata sangat sulit menasehati hati yang sudah mengeras!" batin Alina hingga ia pun meneteskan air mata kesedihannya.
Alina tidak mengerti bagaimana jalan pemikiran Bagaskara, namun ia benar-benar tidak habis pikir dengan kekejian Bagaskara yang semakin menjadi-jadi itu.
"Alina sayang, kembalilah pada Mas, Mas janji akan setia pada mu dan meninggalkan semua kebejatan Mas!" ucap Bagaskara yang mencoba untuk meluluhkan Alina.
__ADS_1
"Aku tidak percaya lagi pada mu Mas. Jadi, jangan bermimpi untuk mendapatkan kepercayaan ku seperti dulu lagi. Karena aku tidak lagi mempercayai mu, setelah untuk kesekian kalinya kau menyakiti hati ku dengan tingkah liar mu. Apalagi aku telah mengetahui jika Mas telah menguna-gunaiku dengan ilmu syirik Mas. Itu semakin membuat ku ilfeel menjalani kehidupan ku bersama Mas. Lupakan aku yang pernah hadir dalam hidup mu, Mas! dan aku pun akan melakukan hal yang sama," tegas Alina dengan mematikan telfonnya sepihak. Membuat Bagaskara menjadi berang.
"Berdebah! kau yang menabuh genderang perang terhadap ku. Jadi jangan salahkan aku, jika aku terus melampiaskan kekesalan ku pada setiap wanita yang ku temui! Ini semuanya dirimulah penyebabnya Alina!" sangkal Bagaskara dengan rasa berangnya.