
"Kau kenapa lagi, Nak?" pekik Mama Laras, ketika melihat Bagaskara membanting handphonenya.
"Lihat saja menantu kesayangan Mama, sedikitpun tidak ada perhatiannya dengan Bagas! suami sedang sakit bukannya dirawat, malah diacuhkan!" adu Bagas pada mamanya.
"Mungkin kamu melakukan kesalahan, Nak. Apa Putri tahu tiba-tiba kau berada di sini? sejak kapan kamu berada di dalam rumah ini, Mama sampai tidak tahu akan kedatanganmu!" timpal Mama Laras.
Bagaskara terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa sebab dirinya memang keluar dari kamar pengantinnya tanpa seizin Putri. Ia nekat ingin menemui Alina karena rasa rindunya yang menggebu kepada adik sepupunya itu.
"Kenapa kau diam? Mama tahu persis, berarti yang salah adalah dirimu bukan Putri!"
"Bagas sudah yakin pasti Mama lebih membela Putri!" ucap Bagas terkesan merajuk dengan mamanya.
Mama Laras pun menghubungi Putri, ia ingin tahu keadaan menantunya apakah sedang baik-baik saja atau sedang bermasalah dengan putranya? Namun tidak ada panggilan terjawab, Mama Laras pun berinisiatif menghubungi besannya Mama Shinta dan Papa Rama.
"Hallo, assalamualaikum jeng Laras." Mama Shinta tampak antusias menyambut panggilan telepon besannya Mama Larasati, mertua putrinya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, pagi jeng Shinta. Apa kabar menantuku, Putri? suaminya sekarang ada di rumahku. Ia sedang sakit!" terang Mama Laras.
"Apa? sakittt? bukankah Bagaskara tengah bersama putriku?" ucap Mama Shinta kaget.
"Entahlah, jeng. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan anak menantu kita, tiba-tiba saja aku lihat Bagaskara ada di dalam kamarnya dalam keadaan sedang sakit!" ucap Mama Laras menyembunyikan masalah Bagaskara yang sebenarnya.
"Kok bisa begitu? sebentar biar aku cek bagaimana keadaan Putri, sebab dari sejak tadi ia tidak keluar-keluar dari dalam kamarnya. Semoga saja mereka tidak sedang bertengkar, baru saja malam pertama tidur bersama apa mungkin terjadi percekcokkan di antara mereka?" ucap Mama Shinta lagi.
Mama Sinta dan Mama Laras pun mengakhiri percakapannya. Mama Shinta segera menuju kamar putrinya.
Tok ... tok ... tok, "Put apa kau ada di dalam, Nak?" tanya mama Shinta di balik pintu.
Namun Putri masih terbuai dalam tidur lelapnya, ia sama sekali tidak mendengar pekikan Mamanya.
Berkali-kali mama Shinta mengetuk pintu kamar Putri, namun tidak ada jawabannya. Mama Shinta pun, membuka gagang pintu kamar Putri yang masih berhiaskan bunga-bunga pengantin.
"Ternyata tidak dikunci." Mama Shinta pun segera masuk ke kamar Putri, ia pun nampak perangah melihat putrinya yang terlelap seperti orang yang sedang kelelahan seperti habis bertempur di medan perang.
Netra Mama Shinta pun tak sengaja tertuju pada sprei pengantin milik Putri dan Bagas.
__ADS_1
"Bercak merah?" gumam Mama Shinta di dalam hatinya.
"Berarti putriku telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia nampak kelelahan, mungkin ini malam pertamanya yang membuatnya terlelap lama seperti ini." Mama Shinta melihat detik jarum jam yang telah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"Ya Allah, segitu lelahnya putriku. Perasaan aku dahulu tidak seperti itu!" batin mama Shinta dengan mengingat-ingat malam pertamanya dengan suaminya papa Rama.
"Apa yang aku pikirkan? kenapa aku kepo sama anak sendiri?" mama Shinta tersenyum-senyum melihat keunikan dirinya sendiri.
"Baguslah jika begitu, setidaknya aku akan cepat menimang cucu!" batin Mama Shinta lagi.
"Berarti, Bagaskara menantuku pasti kelelahan. Makanya dia bilang dirinya sakit! Ternyata mereka semalaman bergelut melakukan hubungan suami istri!" mama Shinta kembali melihat bercak merah yang ada di sprei anaknya.
"Seharusnya mereka tidak boleh teledor, bagaimana jika sampai papa Rama yang lihat pasti mereka akan malu!" ucap Mama Shinta dengan menutupi sprei pengantin Putri dengan menggunakan selimut. Ia jadi malu sendiri melihat bercak merah tersebut.
Putri mengerjapkan matanya, ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di sampingnya.
"Ja-jangan!" pekik Putri kaget. Ia kembali mengingat, bagaimana Bagaskara merenggut paksa kesuciannya.
"Kau tidak apa-apa, Nak?" Mama Shinta mengelus pucuk kepala putrinya.
"Kau kelihatan takut dan gugup, Nak? suami mu tidak menyakiti mu, kan?" tanya Mama Shinta dengan penuh kecemasan. Sebab melihat putrinya terlihat pucat pasi dan ketakutan.
Putri menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak mama!" kilah Putri. Ia menundukkan pandangannya, dia tidak ingin mamanya mengetahui kegetiran hatinya.
"Ma, mama dimana?" pekik papa Rama mencari keberadaan mama Sinta.
"Mama di sini Pa, di kamar Putri!" jawab mama Shinta dari dalam.
Papa Rama pun segera masuk dan menyusul mama Shinta. "Apa yang Mama lakukan di sini? Bagaskara mana?" tanya papa Rama dengan tatapan yang tak biasa.
"Bagaskara pulang ke rumahnya, Pa. Kata jeng Laras, Bagaskara sedang sakit." Mama Shinta berkata terus terang.
"Sakitttt? Benarkah?" tanya papa Rama setengah tak percaya.
"Iya Pa, barusan Mama telfonan dengan jeng Laras!" terang mama Shinta lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari kita melihat menantu kita di rumah besan kita Larasati. Putri sendiri kenapa masih di sini? kenapa tidak ikut suamimu, Nak? mengapa kau tidak merawatnya jika ia sedang sakit?" tanya Papa Rama.
"Putri juga nggak tahu Pa, jika mas Bagas sakit. Ketika Putri bangun mas Bagas sudah tidak ada di samping Putri!"
"Tapi, Putrikan sudah menjadi status seorang istri. Sudah selayaknya, kamu melayani suamimu dengan baik!" nasehat papa Rama.
"Putri kan tidak tahu mas Bagas tiba-tiba menghilang, lagian sudah beristri juga masih anak mama. Harusnya mas Bagas yang lebih dewasa dari Putri!" Putri membela dirinya di hadapan papa Rama.
"Ya sudah, kalau begitu mari kita sama-sama menjenguk suamimu di rumah mertuamu Larasati!" ajak papa Rama.
"Ta-tapi, Putri lagi tidak enak badan, Pa!" sangkal Putri dengan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia pun menarik selimutnya. Putri tidak menyadari jika noda merah menempel disprei pengantinnya.
"Bercak merah?" papa Rama hilang konsentrasi ketika melihat noda merah di atas kasur anaknya.
"Papa?" Pekik Mama Shinta dengan menutupi kembali bercak merah tersebut. Mama Shinta pun menutupi kembali bercak merah tersebut.
Sementara wajah Putri sudah seperti kepiting rebus, ia menahan rasa malu terhadap kedua orang tuanya atas segala keteledorannya.
Memahami jika putrinya, terlihat canggung dan malu Mama Shinta pun mengajak papa Rama keluar dari kamar putrinya.
"Ayo kita keluar, Pa!" ajak Mama Laras dengan menggandeng tangan suaminya.
Papa Rama yang memahami hal tersebut pun segera mengikuti titah istrinya. Mereka pun segera keluar dari dalam kamar Putri.
Putri yang menyadari itu semua pun segera mengganti sprei pengantinnya dengan sprei yang baru.
"Ya Allah, semua ini gara-gara Mas Bagas. Aku jadi malu dengan papa dan mama!" celoteh Putri dengan mengibas-ngibas tempat tidurnya dan menggantikannya dengan sprei yang baru.
***
"Adek, ayo buruan! mobil angkutan umum yang di sewa Kak Dimas sudah datang, kita hendak mendatangi kediaman Ustadz Habiburrahman!" teriak Andara dengan menarik pergelangan tangan Alina yang terlihat berat untuk melangkah.
"Aduh, kenapa mata ku jadi mengantuk dan kaki ku pun terlihat berat untuk melangkah!" gumam Alina pelan. Pergerakannya untuk menuju kediaman ustadz Habiburrahman untuk mengobati penyakitnya dengan ruqyah syar'iyyah seolah-olah di halangi oleh sesuatu yang tak terlihat olehnya.
"Ayo, jangan malas! kau harus semangat! lawan segala hal mistis yang hendak menghalangi mu!" ucap Andara dengan menyeret langkah kaki Alina untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1