
"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku!" ucap Putri dengan berusaha melepaskan diri dari dekapan Bagaskara Ardana putra.
Namun, Bagaskara semakin erat merengkuh tubuh gempal milik Putri, ia tidak peduli terhadap protes Putri yang dilayangkan terhadapnya, yang terpenting baginya adalah berhasil menjerat Queensha Putri dalam permainannya.
"Cuppp, jangan galak-galak pada calon suami!" Bagaskara mengecup pipi Queensha Putri dengan tiba-tiba, membuat Putri merasa jijik oleh sentuhan pemuda yang tak berakhlak tersebut.
Putri mendorong tubuh Bagaskara dengan kerasnya, sehingga terhuyung.
"Jangan bermimpi Bagaskara Ardhana Putra, aku tidak Sudi menjadi istrimu!" tegas Queensha Putri dengan menatap tajam ke arah Bagaskara.
Namun Bagaskara dengan tidak tahu malunya terus menggoda Putri dengan rayuan mautnya, membuat Queensha Putri semakin kesal dengan tingkah Bagaskara yang sangat menjijikkan menurutnya.
"Cuihhhh!" Queensha Putri membuang ludahnya, ia tidak sudi mendengar rayuan maut Bagaskara terhadapnya.
Semakin Putri membencinya dan menjauhinya semakin Bagaskara tertantang untuk terus melumpuhkan kesombongan gadis cantik nan ayu tersebut agar jatuh dalam pelukannya.
"Aku suka sekali melihat raut wajahmu yang dipenuhi emosi!" sangkal Bagaskara dengan senyuman setannya.
Bagaskara kembali menarik putri dalam dekapannya, ditariknya dagu gadis yang terlihat sayu dan tak berdaya itu, dengan kurang ajarnya Bagaskara menelusuri wajah Queensha Putri dengan jemari tangannya. Dengan deru nafas yang memburu Bagaskara mengikuti nafsu bejatnya untuk menuntaskan hasratnya yang terpendam pada gadis malang itu. Hanya dengan seperkian detik Bagaskara berhasil melabuhkan ciumannya di bibir wanita yang akan dijadikannya sebagai hasrat pelampiasannya itu.
"Hmptttttt!" Putri ingin melepaskan diri dari kungkungan Bagaskara, namun tubuh ringkihnya tidak kuat untuk untuk melawan kekuatan pemuda yang sedang dirasuki oleh nafsu setan tersebut.
Bagaskara terus menyesap bibir manis Queensha Putri dengan nafsu bejatnya, ketika dia menyesap bibir Putri ia seolah-olah membayangkan bahwa yang ada di hadapannya itu adalah Alina Cahya Kirani sehingga membuat Bagaskara semakin memperdalam ciumannya.
"Alina aku sangat mencintaimu, namun kau begitu mudahnya menghempaskan rasaku yang kini menggila padamu! berani beraninya kau pergi meninggalkanku dan tak pernah kembali, aku membencimu sekaligus mencintaimu Alina!" Bagaskara membatin dalam hatinya sambil terus mencumbui bibir ranum milik Putri dengan beringasnya. Ia terus membayangkan bahwa bibir itu adalah milik Alina bukan Putri.
Air mata Putri jatuh berlinangan membasahi pipi mulusnya, kekuatannya melemah, entah angin apa yang dihembuskan oleh Bagaskara sehingga membuat dirinya perlahan mengikuti permainan pemuda yang tak berakhlak itu.
__ADS_1
Putri nampak terlena dalam buaian manisnya madu cinta yang diberikan oleh Bagaskara padanya saat ini.
"Mas Bagas," Putri tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah bertingkah seperti Alina. Seolah-olah terjadi pertukaran sukma antara dirinya dan Alina. Bagaskara pun terus menghembuskan buhul-buhul cintanya di telinga Queensha Putri Fayanna.
Putri pun membalas ciuman sengit yang dilakukan oleh Bagaskara padanya, hingga ia tidak menyadari bahwa ia telah terjerat ke dalam permainan pemuda tersebut.
Putri tidak menyadari jika Bagaskara menghembuskan buhul-buhul cinta di telinganya dengan menyebutkan nama Alina Cahya Kirani ketika bercinta dengannya. Mantra-mantra penunduk nafsu yang dibacakan oleh Bagaskara membuat biduk hawa nafsu Putri seketika melambung tinggi terbang ke alam nirwana. Ia seolah-olah menikmati manisnya cumbuan Bagaskara yang sangat memabukkan tersebut.
Keduanya pun saling bertukar saliva dan memainkan lidahnya masing-masing dengan penuh nafsu. Bagaskara pun semakin bertindak nakal. Ia hendak menyelipkan jemari tangannya di bukit kembar milik Queensha Putri, hingga Putri pun mendes*h berat.
"Mas!" ucap Putri diikuti deru nafas yang memburu. Sehingga Bagaskara terus melancarkan aksinya ketika mendengar desah*n lembut Putri.
Namun, gerakan tangan Bagaskara terhenti ketika mendengar pekikan suara yang sangat mengejutkan mengganggu gendang telinga keduanya, sehingga tautan bibir itu pun terlepas membuat Putri menahan rasa malu setengah mati. Ia baru menyadari bahwa dirinya terjerat oleh permainan Bagaskara Ardhana Putra yang hampir-hampir merenggut mahkota kesuciannya.
"Bagaskara, Queensha Putri. Apa yang telah kalian lakukan?" pekik Mama Laras yang datang tiba-tiba menemui kedua anak manusia tersebut. Mama Laras pun dibuat kaget oleh aksi mesum Bagaskara terhadap Putri yang di luar pemikirannya.
Putri melirik ke arah Mama Laras, ia benar-benar malu atas apa yang telah terjadi antara dirinya dan Bagaskara.
"Tante maaf, ini tidak seperti yang Tante lihat. Putri yakin Bagaskara telah memanfaatkan keadaan, ia pasti telah menundukkan ku dengan mantra-mantra pemikatnya, hingga diriku pun mengikuti permainannya!" ucap Putri tak terima akan perbuatan mesum Bagaskara terhadapnya.
"Bukankah kau pun menikmatinya Queensha Putri Fayanna!" ucap Bagaskara menyeringai licik.
"Apa yang telah kau lakukan padaku? kamu menjebakku dengan permainan mu!" pekik Putri, ketika ia menyadari bahwa Bagaskara mencumbunya dengan penuh nafsu.
"Aku tidak sudi disentuh olehmu, jika saja dirimu tidak melakukan hal mistis terhadapku, aku tidak mungkin mengikuti permainanmu!" Putri membela diri di hadapan Mama Laras. Air matanya jatuh berderai membasahi pipi mulusnya, ia benar-benar malu atas apa yang terjadi dengan dirinya dan Bagaskara.
"Gawattttt, Putri tidak boleh membatalkan perjodohan ini! ia harus menikah dengan Bagaskara anakku, dengan begini akan lebih baik daripada Bagaskara terus menghantui adik sepupunya Alina. Aku harus bisa meyakinkan Putri agar menerima perjodohan ini dan menikah dengan anakku!" batin Mama Laras yang ketakutan jika Putri membatalkan perjodohan ini dan mengadukan tindak kejahatan Bagaskara kepada kedua orang tuanya, mama Shinta dan papa Rama.
__ADS_1
"Putri, maafkan atas kelancangan anak tante. Mungkin, dirinya khilaf dan ambisi untuk memilikimu. Tante harap kalian segera menikah dan menerima perjodohan ini. Kalian telah melakukan perbuatan asusila, tante akan menjelaskan semua ini pada kedua orang tuamu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Bagaskara terhadapmu. tante tidak ingin lepas tanggung jawab atas kebejatan anak tante!" ucap Mama laras dibuat seserius mungkin, agar Putri mengurungkan niatnya membatalkan perjodohan tersebut.
"Tante, Putri mohon jangan ceritakan kejadian ini pada Papa dan Mama. kedua orang tua Putri pasti akan marah. Apalagi papa, ia pasti akan kecewa dengan Putri. Karena tidak bisa menjaga harga diri, Putri takut papa terkena serangan jantung ketika mendengarkan hal ini. Putri akan menerima perjodohan ini!" ucap Putri penuh keterpaksaan demi menjaga martabat keluarganya.
"Baiklah, Nak Putri. Tante minta maaf atas kelancangan anak tante yang telah berbuat hal yang tak wajar kepadamu!" ucap mama Laras dibuat selembut mungkin, agar Putri semakin luluh hatinya.
Mama Laras pun mengusap air mata Putri, ia pun menuntun langkah calon menantunya tersebut menuju ruang tamu menemui kedua orang tua Putri. Putri pun mengikuti langkah Mama Laras sembari membetulkan pakaiannya yang masih acak-acakan oleh perbuatan mesum Bagaskara terhadapnya.
"Kalian ke mana saja, Nak? lama betul perbincangannya? kalau begini sebaiknya kita percepat saja pernikahan anak kita. sepertinya mereka sudah merasa cocok, buktinya mereka berdua betah untuk berlama-lama!" timpal papa Rama dengan nada seriusnya.
"Boleh, boleh!" ucap Mama Laras tak kalah semangatnya.
Sementara Putri pun tertunduk lesu, batinnya seakan tersiksa. la pun terpaksa menerima perjodohan ini. Ia tidak ingin calon mertuanya, ibu Bagaskara menceritakan perbuatan mesumnya bersama Bagaskara barusan.
Keputusan pun sudah diambil, kesepakatan pun sudah bulat. Queensha Putri dan Bagaskara akan segera melangsungkan pernikahannya minggu depan tepat pada hari Jum'at di kediaman keluarga Putri dan Minggu depannya lagi baru akan digelar acara resepsi pernikahannya.
Bagaskara pun tersenyum setan, ia merasa menang mendapatkan sosok Queensha Putri dengan cara yang lebih mudah dari yang ia bayangkan sebelumnya.
"Queensha Putri, akhirnya kau pun akan segera menjadi milikku!" batin Bagaskara menyeringai licik. Ia pun melepaskan kepulangan Putri dan keluarganya dari kediamannya dengan tak henti-henti mengembangkan senyum kemenangannya, atas apa yang dimilikinya saat ini.
***
Queensha Putri menghempaskan tubuhnya di kasurnya, ia meringis pilu meratapi kedukaannya. Ia pun segera menghubungi Alina Cahya Kirani, untuk menceritakan kemelut hidup yang kini menderanya.
"Hiks ... hiks ... hiks," terdengar suara Putri menangis di seberang telepon, membuat Alina kebingungan mendengar jerit tangis Putri yang sangat memilukan tersebut.
"Hallo Put, apa yang terjadi dengan mu?" tanya Alina dengan penuh kekhawatiran, saat mendengar sahabat yang menangis.
__ADS_1
"A-aku, aku terpaksa menerima perjodohan dengan Bagaskara sepupumu!" ucap Putri dengan isak tangisnya.