
Alina menyandarkan kepalanya di bantal Hello Kitty Pink yang dulu dihadiahkan Bagaskara untuk dirinya, di saat sehari setelah mereka berpacaran. Ia pun memandangi isi kamarnya yang bernuansa pink yang semuanya dihiasi dengan wallpaper hello Kitty, juga boneka-boneka yang tersusun rapi semuanya adalah pemberian Bagaskara semenjak satu tahun terakhir ini.
"Mas Bagas, sampai kapan kau terus mengikat ku dengan bayang-bayang mu? kenapa kau selalu memenuhi ruang ilusiku, ketika aku hendak memantaskan hati ku bersama sosok laki-laki yang lain selain dirimu, namun kau terus menghalangi langkah ku!" Alina terus menatap dalam kekosongan, di peluknya salah satu boneka berbentuk hati yang diberikan oleh Bagaskara padanya.
"Mas Bagas, Alina sangat mencintai Mas!" gumam Alina. Ia pun tiba-tiba merasa sedih dan murung, wajahnya terlihat pucat pasi. Makhluk tak kasat mata seolah-olah mempengaruhi auranya.
Terkadang Alina terlihat cantik dan bercahaya sehingga orang-orang yang melihatnya nampak kagum dengan kecantikan wajahnya, namun tak jarang ada yang melihat Alina pucat pasi seperti mayat hidup yang tak bernyawa. Ia tak ubahnya mutiara dalam kotak kaca yang hanya bisa di pandang namun tak bisa di sentuh. Tanpa ia sadari penyakit karena gangguan Jin dan Sihir semakin menggerogoti tubuhnya. Ia pun kerap kali mengurung diri di kamarnya. Ia asyik dengan dunianya sendiri. Tidak ada lagi keceriaan seindah dulu, ia pun semakin malas untuk beraktivitas, ia asyik menuliskan segala isi hatinya dibuku hariannya.
"Nak, ayo makan siang! Ayah telah menunggu di ruang makan! apa yang kau lakukan di dalam seharian? tidak baik terus menerus mengurung diri, nanti penyakit semakin bersarang di tubuh." Ibu Chintya mengingatkan putrinya.
"Iya, Ibu. Sebentar!" Alina melangkahkan kakinya dengan malas.
"Ya Allah, kenapa badan ku lemas sekali? tengkuk ku pun terasa berat, seolah-olah habis menggendong beban berat!" Alina menyeret langkah kakinya keluar kamarnya menuju dapur.
"Ya Allah, Nak. Anak gadis jam segini baru keluar kamar, ayah perhatikan wajahmu tampak pucat, apa kau sedang tidak enak badan?"
"Alina baik-baik saja, Ayah."
Alina pun segera menyantap hidangan di hadapannya.
"Kenapa ikan sama sayurnya tidak di makan, Nak? ayah perhatikan dari tadi kau hanya makan goreng tempe saja! nanti dirimu kekurangan asupan makanan," timpal ayah Farel.
"Iya Nak, ada dengan mu? Jika sakit kita ke dokter saja!" Ibu Chintya ikut menimpali.
"Alina tidak apa-apa ibu. Alina hanya bingung kenapa jika mencium bau ikan dan sejenisnya, Alina tidak berselera dan anehnya Alina pun tidak suka mencium bau kopi apalagi meminumnya!" timpal Alina yang merasakan keanehan dalam dirinya.
Ayah Farel dan ibu Chintya saling lirik pandang apalagi ketika melihat tempe goreng habis di lahap oleh Alina.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Alina Bu? kenapa ia terlihat aneh sekali?" tanya Ayah Farel kepada Ibu Chintya setelah kepergian Alina dari ruang makan.
"Ibu juga tidak tahu, Yah." Ibu Chintya mengendikkan bahunya sebagai isyarat jika dirinya pun bingung melihat keanehan Alina akhir-akhir ini.
"Ya sudah, Bu. Mungkin moodnya memang sedang kurang baik." Ayah Farel pun berusaha untuk berpikir positif.
__ADS_1
"Iya, Yah. Lebih baik kita fokus menyambut kepulangan Andara Albiya Finzani besok pagi. Dia pasti sangat bahagia dengan pilihan hatinya, apalagi Dimas Sidqi Amrulloh adalah pemuda yang sholih. Ibu pun sangat kagum dengannya, semoga putri kita Alina juga mendapatkan jodoh yang baik seperti calon suaminya Andara." Harapan Ibu Chintya.
"InsyaAllah, Bu. Aamiin." Ayah Farel dan ibu Chintya pun melanjutkan pembicaraannya diruang keluarga, sedangkan Alina kembali menutup diri di dalam kamarnya, dirinya tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ia tenggelam dengan dunianya sendiri. Ia tidak lagi menyukai keramaian, menyendiri membuat dirinya merasa sangat nyaman.
***
Keesokan harinya.
"Assalamu'alaikum, Ayah Ibu, Alina, kakak datang!" ucap Andara Albiya Finzani dengan penuh semangat menanti kemunculan orang-orang terkasihnya dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, kakak ku yang baik!" ucap Alina menyambut kehadiran kakaknya.
"Maa syaa Allah, tumben itu bibir kamu polesin lipstik. Biasanya kamu nggak suka dandan dan selalu tampil alami!" sarkas Andara ketika melihat penampilan Alina beda dari biasanya. Menurutnya itu terlihat sangat aneh.
Entah kenapa, setelah Bagaskara tiada henti-hentinya mengirimkan sihir cinta padanya. Kondisi lahir dan batin Alina berubah total. Ia jadi suka berkaca di cermin melihat aura wajahnya yang semakin terpancar indah ketika kaum Adam melihatnya. Namun, anehnya semua orang tidak bisa untuk mendekatinya lebih dekat seolah-olah ada yang menghalangi para pemuda untuk mendekatinya. Mereka hanya bisa mengagumi kecantikan alami Alina tanpa bisa untuk menyentuhnya.
"Biasalah, Kak. Anak remaja!" timpal Alina yang kini terlihat memikat dengan sejuta pesonanya.
"Astaghfirullah," Dimas Sidqi Amrulloh pun beristighfar di dalam hatinya ketika melihat kecantikan Alina yang nampak menghipnotisnya.
"Kak Dimas, mari masuk! sepertinya ayah dan ibu sedang di dalam!" ujar Andara dengan mempersilahkan calon suaminya masuk.
Detak jantung Dimas semakin berdegup kencang ketika netranya tidak sengaja melihat kecantikan yang terpancar dari Alina Cahya Kirani.
"Astaghfirullah ... astaghfirullah ... ya Allah ya Rabb, hamba berlindung pada mu dari godaan syaitan dan pandangan mata jahat!" do'a Dimas Sidqi Amrulloh di dalam hatinya. Ia pun menetralkan detak jantungnya yang tak karuan ketika tak sengaja memandangi calon adik iparnya.
"Kak Dimas, kamu duduk dulu di temani Alina. Andara ingin melihat ayah dan ibu di belakang rumah. Mungkin mereka sedang ada kesibukan." Andara pun mencari keberadaan kedua orang tuanya setelah menyimpan barang-barangnya di kamarnya.
Sementara Alina, nampak memainkan jemarinya yang lentik setelah habis diriasnya menggunakan Nail Henna. Keanehan dalam diri Alina semakin menjadi-jadi, ia pun memoles jemarinya dengan pacar kuku tersebut, layaknya seorang calon pengantin. Makhluk tak kasat mata perlahan menguasai dirinya. Ia tanpa menghiasai dirinya dengan jilbab segiempat berpadu dengan bross bunga menghiasi hijabnya.
Alina tidak menyadari jika ada hati yang merasa panas dingin menatap sekilas ke arahnya.
"Maa syaa Allah, ia terlihat sangat cantik, betapa beruntungnya pemuda yang bisa mendapatkannya. Ia lebih anggun dan mempesona di bandingkan kakaknya. Kalau saja sebelumnya, aku bisa mengenalnya lebih dulu! Astaghfirullah, apa yang ku pikirkan!" bathin Dimas Sidqi Amrulloh.
__ADS_1
Tring ... tring ... tring, ponsel Alina berbunyi. Ia pun mengangkat telfonnya. "Hallo, assalamu'alaikum .... kak Muzzaki Ansori, apa kabar?"
"Alhamdulillah, kakak baik Alina. Kamu apa kabar?"
"Alina juga baik, kak An sedang apa?"
"Kakak habis olahraga, kamu sendiri?"
"Alina sedang duduk santai kak, Alina kangen kakak!" ucap Alina yang tampak beda dari biasanya. Ia yang biasa santun dan menjaga ucapannya, kini terkesan lebih terbuka, Alina benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Ia yang semula malu menampakkan perasaannya kini terkesan blak-blakan.
Ansori merasa tersedak, ia menyemburkan air mineral yang barusan ia teguk dari mulutnya ketika mendengar Alina mengucapkan kata kangen padanya.
"Subhanallah, apa aku tidak salah dengar?" bathin Ansori.
"kenapa, Kak? sepertinya kakak sedang minum dan tersedak," timpal Alina dari seberang telfon.
"I-iya, apa yang Alina ucapkan barusan. Coba ulangi kembali!"
"Alina kangen dengan kakak dan itu benar adanya, Kak." Alina bicara seadanya, tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Deg
Deg
Deg
Detak jantung Ansori berdetak lebih cepat dari biasanya, "Ya Allah, ada apa dengannya? kenapa ia bisa seberani itu? biasanya ia lebih menjaga hati," bathin Ansori yang merasa kaget dengan keanehan Alina kali ini. Namun, ada setitik rasa bahagia di hati Ansori, kini ia mengerti jika Alina pun menaruh hati padanya.
"Kenapa diam, Kak? apa Alina salah jika menyimpan rasa kangen terhadap kakak?" tanya Alina yang mulai baperan. Akhir-akhir ini ia memang seringkali tiba-tiba murung dan tersinggung. Efek dari gangguan jin dan sihir yang tidak di sadari olehnya.
"Terima kasih atas rasa kangennya, bagi kakak Alina adalah teman yang istimewa!" timpal Ansori yang juga perlahan menampakkan rasa sukanya pada Alina.
"Terima kasih juga, sudah menjadikan Alina teman istimewa untuk kakak!" Alina terlihat sangat bahagia, karena sebenarnya ia sangat mengagumi sosok Ansori, namun bayang-bayang Bagaskara sepupunya seolah-olah menghantui setiap langkahnya.
__ADS_1
"Jadi, dia juga sudah punya kekasih?" bathin Dimas Sidqi Amrulloh ketika menyaksikan Alina, calon adik iparnya berkomunikasi dengan Ansori di seberang telfon.