Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 35. Pertengkaran


__ADS_3

"Apanya yang gila Alina? jika kita saling mencintai, apa salahnya jika kita menikah!" Bagaskara terlihat serius, sedangkan Alina nampak berpikir keras.


"Tetap salah Mas, dalam silsilah keluarga kita dan juga pandangan masyarakat kita, menikahi saudara sepupu itu hal yang tabu dan tidak diperbolehkan alias pamali."


"Lalu bagaimana cara ku menyentuh mu Alina, jika kau terus menolak ku?" ucap Bagaskara yang tak terima jika Alina terus menolak keinginannya.


"Haruskah saling mencintai itu, harus selalu saling menyentuh dan melakukan adegan mesum Mas? Alina tidak ingin hal itu terjadi, sebab bagi Alina hal tersebut dapat merusak kesucian cinta, Mas. Cinta yang hanya di dasari hawa nafsu tidak akan pernah bertahan lama jika akhirnya kedua pasangan merasa bosan dengan kekasihnya, lalu berpaling pada yang lain!" pungkas Alina lagi sehingga membuat Bagaskara terdiam, ia merasa tertohok mendengar ucapan Alina yang menurutnya sangat pedas dan menyakiti hatinya.


Keduanya pun terdiam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara, seketika suasana menjadi hening. Hanya bunyi gemericik air yang mengalir pada porosnya. Alunan musik dari para vokalis khusus menghibur para pengunjung diatas rumah panggung Garden Cleopatra pun mengalun dengan merdunya, seolah mewakili perasaan Bagaskara dan Alina.


"Sampai kapan hubungan kita akan selalu gantung tanpa restu orang tua kita Alina? sebejat-bejatnya aku, aku pun ingin memiliki cinta yang tulus dan ketulusan cinta ku hanya untuk mu Alina Cahya Kirani!" tegas Bagaskara dengan wajah yang merah padam.


"Sampai kapanpun mungkin kita tidak akan pernah menyatu sebagaimana pasangan yang halal Mas, tidak bisakah kita akhiri hubungan ini secara baik-baik Mas? dari pada kedepannya kita akan terus saling menyakiti seperti ini, Mas. Jika kita berpisah secara baik-baik, mungkin akan kecil kemungkinan kita akan kecewa dari pada kita saling mengantung seperti ini, namun akhirnya ketahuan selingkuh, itu akan lebih menyakitkan lagi!" pungkas Alina yang tak sanggup lagi bertahan dengan Bagaskara yang kerap kali menarik ulur jantung hatinya. Ia tidak mengerti, setiap kali ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Bagaskara, tiba-tiba perasaannya semakin membuncah pada Abang sepupunya itu.


"Jangan bermimpi kau bisa lepas dari ku Alina, sampai mati pun kau akan tetap terikat pada ku, lahir dan batin mu adalah milik ku. Cam kan itu! jadi jangan coba-coba untuk pergi dari ku dengan cara apapun!" tegas Bagaskara Ardhana Putra.


"Maksud mu terus mengikat ku seperti apa, Mas? tidak bisakah Mas membiarkan aku bahagia meski hanya sedetik saja? Aku juga ingin bahagia dan butuh ketenangan walaupun tanpa kehadiran Mas di sisiku!" tegas Alina dengan menggoyangkan tubuh Bagaskara yang terus menatapnya dengan deru nafas yang memburu.


"Dengarkan Mas Alina! Mas bisa saja melakukan hal nekat terhadap mu, dengan sekejap seluruh raga dan apa yang ada dalam dirimu saat ini juga bisa Mas miliki hanya dengan satu hembusan nafas saja. Mas sangat menyayangi mu Alina!" ucap Bagaskara dengan menarik Alina dalam pelukannya.

__ADS_1


Bagaskara pun mengusap lembut pucuk kepala Alina yang masih terhalang hijab. Alina yang kehabisan kata-kata pun hanya bisa terisak dalam tangisnya, perlahan ia pun mulai melemah. Alina membenamkan wajahnya di dada bidang Abang sepupunya yang kerap kali selalu berhasil meluluhkan hati dan jiwanya.


Untuk sekali ini Bagaskara sengaja tidak menghembuskan mantra cintanya pada Alina. Ia sengaja ingin bermain murni. Sebab, ia meyakini kini buhul-buhul cinta yang pernah ia hembuskan pada Alina tempo hari perlahan telah merasuki tubuh Alina. Dengan begitu, semua pemuda yang mencoba mendekati Alina perlahan akan menjauhi Alina sebab mereka akan mengalami keanehan dan rasa sakit jika terus-menerus nekat mendekati Alina Cahya Kirani.


Kini, Alina tak ubahnya boneka mainan yang selalu menuruti keinginan Bagaskara Ardhana Putra dalam hal apapun. Akan tetapi satu hal yang patut disyukuri Alina. Bagaskara berusaha tidak menyentuh dan merusak kesucian Alina tanpa izin dari wanita yang di cintainya itu.


"Jangan menangis lagi!" ucap Bagaskara dengan menyeka air mata Alina.


Alina pun mengangguk pelan dan menuruti inginnya Bagaskara.


Pertengkaran kedua anak manusia itu pun mulai mereda, segala unek-unek yang terpendam di hati keduanya pun kini telah ternetralisir dengan baik. Bagas dan Alina pun kembali baikan.


"Lebih baik kita makan bakso saja ya? kembang gula tidak mengenyangkan sayang!" ucap Bagaskara dengan bersikap lembut pada kekasih hatinya.


"Tidak mau, Alina mau kembang gula!" ucap Alina dengan menyebikkan bibirnya.


"Iya, iya. Gadis manjaku!" Bagaskara menggenggam jemari tangan Alina dengan penuh kasih. Ia pun membawa Alina menuju ke arah pedagang kembang gula.


"Satu saja ya, jangan banyak-banyak! kau tidak boleh terlalu banyak makan kembang gula, ini banyak pengawetnya!" ucap Bagaskara menatap penuh cinta pada Alina.

__ADS_1


"Iya, Mas!" ucap Alina manja.


Bagaskara membayar uang pecahan sepuluh ribu untuk kembang gula Alina. Keduanya tidak menyadari jika aksi mesranya tertangkap kamera digital milik seorang gadis yang berpakaian tomboi dengan kerudung gaul yang di kenakannya. Gadis tersebut menutup wajahnya dengan masker agar penguntitannya tidak ada yang mengetahuinya.


"Hemmm, berhasil! aku akan mencari bukti lebih banyak lagi, untuk membongkar kedok mu Bagaskara Ardhana Putra! ku pastikan dalam waktu yang tepat aku akan membongkar aksi bejatmu terhadap teman-teman ku. Bukti asmara mu dengan seorang wanita di bebatuan pantai tadi pun telah tersimpan di kamera ku, tinggal mencetaknya menjadi bukti yang kuat untuk membongkar kebejatan mu!" bathin Queensha Putri yang telah menyimpan foto-foto mesum antara Bagaskara dan Desi di bebatuan pantai. Dan sekarang bukti kebejatan Bagaskara semakin bertambah.


"Alina Cahya Kirani, maafkan aku yang mengambil foto mu bersama ustadz munafik itu. Semua ini hanyalah sebagai bukti yang akan segera terkuak jika Bagaskara telah bermain hati dengan banyak wanita, kita dan teman-teman semua telah menjadi soulmate alias belahan jiwa Bagaskara. Ia telah merusak banyak wanita dengan aksi bejatnya. Ia pun telah berbuat asusila pada ku. Ustadz bejat itu harus menerima ganjaran dari perbuatan buruknya. Aku sumpahin ia tidak mendapat keturunan alias mandul jika bertemu dengan jodohnya!" umpat Queensha Putri Fayanna yang di tujukan pada Bagaskara Ardhana Putra yang telah merusak kesucian jiwanya.


Alina nampak saling suap-suapan dengan Bagaskara di bawah pohon yang rindang. Keduanya duduk di ayunan kayu jati. Mereka tampak menikmati indahnya pemandangan di sore hari, bunga-bunga warna-warni tumbuh dan bersemi dengan mekarnya. Para pengunjung pun nampak mengabadikan foto-fotonya di taman bunga yang indah tersebut. Anak-anak terlihat bermain prosotan, ayunan, odong-odong, ada yang bermain di istana balon yang ditinjau langsung oleh orang tua masing-masing.


"Mas, Alina haus. Alina juga lapar!" ucap Alina manja.


"Baiklah, kita kewarung makan itu ya?" ucap Bagaskara dengan beranjak dari ayunan yang kini menjadi tempat duduk mereka.


"Iya Mas!" Alina mengangguk pelan.


Bagaskara menggandeng tangan Alina seolah menunjukkan tanda kepemilikannya, kepada semua yang hadir di Garden Cleopatra tersebut.


"Untuk saat ini, nikmatilah kebebasan mu Bagaskara Ardhana Putra! setelah ini kau akan menerima karma dan ganjaran atas kebejatan mu!" bathin Queensha Putri Fayanna dengan terus mengambil foto-foto Bagaskara dan Alina menggunakan kamera digitalnya.

__ADS_1


__ADS_2