Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 88. Pertama kalinya Mengikuti Kajian


__ADS_3

Alina nampak fokus mempelajari tiap-tiap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan realigi. Kini ia pun semakin aktif, mengikuti kajian yang berhubungan dengan religi di kota S.


Alina nampak kaget, sebab semua wanita muslimah yang mengikuti kajian mengenakan setelan jubah syar'i yang hijabnya sampai di bawah lutut.


"Masya Allah, semuanya terlihat cantik sekali dengan juga syar'i yang dikenakannya?" Alina memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki yang masih mengenakan kerudung gaul dan celana jeans juga berpadu dengan atasan dress yang masih menggunakan manset.


"Aku jadi malu dengan penampilanku sendiri, tapi kan semuanya butuh proses!" Alina dengan seksama mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh ustadz di kajian tersebut.


"Bagaimana bisa aku melihat wajah ustadz tersebut, antara pria dan wanita terhalang tirai. Hanya bisa mendengar suaranya saja!" batin Alina lagi.


Para jama'ah nampak sibuk mencatat setiap poin-poin penting yang disampaikan oleh ustadz dalam kajiannya.


Alina yang masih awwam, tidak ada persiapan buku ataupun pena untuk menulis. Ia celingukan melihat para jama'ah wanita yang begitu fokus mencatat bagian penting dari kajian yang mereka dengarkan.


Yang lebih membuat Alina terpukau, anak-anak kecil yang berusia dari mulai 6 bulan sampai 5 tahunan sudah dibawa oleh orang tua mereka mendengar kajian.


"Ya Allah lucu sekali, itu anak bayi sudah memakai gamis!" Alina terus bermonolog di dalam hatinya.


Sementarara Dela yang menjadi temannya, berbisik kecil di telinganya. "Kau sedang memperhatikan apa Alina? aku yakin kau kebingungan, sama seperti aku dulu awal mula kajian aku pun nampak terpukau melihat para jama'ah yang begitu antusiasnya menuntut ilmu agama. Aku sangat bersyukur dikenalkan oleh Mbak Diah mengenai kajian khusus muslimah. Sayang, Maharani sudah pulang ke tanah airnya. Sedangkan Chika sibuk dengan kegiatannya bersama teman-teman sekolahnya. Kemarin aku sudah mengajaknya untuk ikut kajian, tapi dia sepertinya belum tertarik untuk ikut belajar. Alhamdulillah, aku merasa senang kamu sebagai teman baikku akhirnya mau ikut dalam kajian ini!" ucap Dela dengan penuh kelembutan.


"Semoga saja Allah meridhoi, niat baik kita ya?" ucap Alina. Ia pun ikut fokus mendengarkan kajian yang ada.


Satu jam kemudian, acara kajian pun selesai. Alina pun nampak berbaur dengan teman akhwat lainnya.


Alina merasa bangga, sebab bisa berkumpul dengan teman-teman yang sholih dan sholihah.


Alina nampak berbaur dengan teman-teman yang kebanyakannya sudah menikah. Ia nampak gemas melihat anak mbak Diah masih bayi sudah mengenakan hijab.


"Masya Allah cantik sekali! ia terlihat mungil dan lucu." Alina terus memandangi anak mbak Diah yang baru berusia 6 bulan itu. Ia pun mencubit pipi bayi lucu itu.

__ADS_1


"Anak sholiha!" Alina pun mengecup bayi mungil tersebut dengan penuh kasih.


"Bagaimana sebelum pulang nanti kalian singgah di rumah Mbak?" ucap Mbak Diah sambil menggendong bayi mungilnya. Ia menatap wajah Alina dan Dela secara bergantian.


"Baiklah Mbak, kami akan mampir ke rumah Mbak!" Alina dan Dela pun sepakat untuk mampir di kediaman Mbak Diah.


Mbak Diah bersama keluarganya naik mobil pribadi milik mereka, disusul pula oleh Dela yang membonceng Alina naik kendaraan motornya. Mereka tampak terlihat bahagia setelah mengikuti kajian bersama Mbak Diah dan teman-teman muslimah lainnya.


"Silakan masuk Alina, Dela!" ucap Mbak Diah setelah sampai di kediamannya.


Mereka pun masuk mengikuti langkah kaki Mbak Diah yang sedang fokus menggendong anaknya. Sedangkan, suami Mbak Diah berada di ruangan sebelah yang memang telah ada tirai khusus membatasi antara ruangan laki-laki dan perempuan.


Keluarga Mbak Diah sangat menganut agama Islam yang fanatik, sehingga antara laki-laki dan wanita ada batasannya agar tidak saling lirik pandang.


"Masya Allah mbak Diah, benar-benar sholihah!" ucap Alina yang nampak terpukau melihat keluarga Mbak Diah yang penuh sakinah, mawadah dan warohmah.


"Beginilah Alina, semuanya memang butuh proses. Mbak dahulu pun, masih awwam. Masih mengenakan kerudung gaul juga celana jeans!" terang Mbak Diah dengan mengingat kembali masa lalunya. Hingga sekarang dirinya telah berproses menjadi wanita muslimah yang lebih baik lagi.


"Kalau begitu insya Allah Alina pun bisa bermetamorfosa menjadi seperti Mbak Diah!" terang Alina dengan penuh semangat ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi.


"Insya Allah bisa Lina, jika niat kita karena Allah tidak ada yang tidak mungkin semuanya bisa berubah, yang penting Alina sering-sering ikut kajian untuk menambah ilmu agama yang belum Alina ketahui!" mbak Diah pun terus memberikan motivasi untuk Alina dan juga Dela.


Alina dan Dela pun mendengarkan untaian nasehat dari Mbak Diah. Dela sendiri sudah mengenakan gamis syar'i. Sedangkan Alina baru berproses menggapai jalan hijrahnya. Ia masih sering mengenakan pakaian dan kerudung gaul.


"Insya Allah nanti Alina juga ingin mencoba seperti Mbak Diah juga Dela. Untuk sementara Alina masih mengenakan celana jeans dan kerudung gaul. Alina belum punya gamis-gamis syar'i!" terang Alina jujur.


"Tidak apa-apa Alina, semuanya butuh proses!" ucap mbak Diah mengingatkan lagi.


Namun, Alina tiba-tiba meringis kesakitan. Ia memegang bagian dada dan perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum dan disayat-sayat.

__ADS_1


"Ada apa Alina?" Mbak Diah nampak khawatir melihat Alina tiba-tiba merasa kesakitan.


Alina pun menceritakan perihal penyakitnya, yang sedang dialaminya hampir satu tahun terakhir ini.


"Subhanallah, sesungguhnya ilmu sihir itu sangat dibenci oleh Allah. Pelakunya pun terancam api neraka jika tidak bertobat dari kedzolimannya. Itulah mengapa agama Islam melarang untuk berpacaran, sebab mudharatnya begitu besar. Apalagi sampai bersekutu dengan setan dan perdukunan, untuk mencapai hasrat kejinya." Mbak Diah nampak prihatin dengan penyakit yang dialami oleh Alina.


"Alina pun baru tahu, Mbak. Jika Alina tahu akan begini jadinya, Alina tidak ingin menempuh jalan pacaran Mbak." Alina terlihat menyesal, sedangkan Dela hanya menjadi pendengar setia. Sebab dia tahu persis penyakit yang dialami Alina adalah kiriman dari sihir Bagaskara Ardhana Putra yang dulu pernah menjadi masa lalu Dela juga.


"Tapi, Alina jangan bersedih dan jangan putus asa! semua itu sudah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Sekarang berusahalah mendekatkan diri padaNya, niatkan dari hati jika Alina memang ingin sembuh karena Allah! Mbak punya obat-obat herbal untuk mengatasi keluhan yang dialami Alina salah satunya habbatussauda yang insya Allah dapat menangkal dari segala penyakit, termasuk gangguan jin dan sihir." mbak Diah pun menyerahkan sebotol obat habbatussauda untuk Alina.


"Ini berapa harganya Mbak?" tanya Alina dengan melihat obat habbatussauda atau jinten hitam yang baru pertama kali dilihatnya.


"Mbak menjualnya dengan harga Rp 40.000. kebetulan Mbak memang berdagang obat-obat herbal, insya Allah nanti Mbak juga akan buka klinik herbal. Sekalian memperkenalkan obat-obat herbal yang disunnahkan oleh nabi besar kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam!" terang Mbak Diah.


Alina pun membeli obat tersebut dan membayarnya. Ia benar-benar ingin sembuh dan lepas dari jerat Bagaskara Ardhana Putra yang selama ini terus menghantuinya.


"Alhamdulillah, semoga berkah dan manfaat ya? semoga Alina bisa sembuh dari penyakit yang sedang Alina alami saat ini!" ucap Mbak Diah dengan penuh kelembutan.


"Alhamdulillah, Alina bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang sholeh!" ucap Alina penuh semangat.


Alina dan Dela pun berpamitan dengan mbak Diah setelah berbincang-bincang dengan sangat lamanya.


"Kami hendak pamit dulu, mbak!" Dela mewakili Alina. Mereka pun menyalami dan merangkul tubuh Mbak Diah, sambil cipika-cipiki sebagai salam perpisahan.


"Assalamu'alaikum!" Alina dan Dela pun mengucapkan salam sebelum meninggalkan kediaman Mbak Diah.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah!" mbak dia pun melepaskan kepergian dua wanita muslimah itu dari kediamannya.


"Alhamdulillah, kajiannya sangat menyenangkan!" pungkas Alina yang kini berada dalam boncengan motor Dela.

__ADS_1


"Syukurlah jika begitu Alina, baru mengikuti kajian pertama kali pun dirimu sudah memberikan contoh yang baik. Aku yakin di masa depan, dirimu akan benar-benar bermetamorfosa menjadi wanita muslimah yang diridhoi oleh Allah!" ucap Dela dengan terus mengendarai sepeda motornya.


"Aamiin ya robbal 'alaamin!" Alina tampak mengaamiinkan untaian do'a yang ditujukan Dela padanya.


__ADS_2