
Semua teman-teman Alina telah beranjak pergi dari kediamannya, tinggallah Bagaskara yang masih berada di kediamannya. Andara segera merapikan semua gelas dan piring yang kotor bekas minum dan makan teman-teman Alina menuju dapur dan segera mencuci perabotan yang kotor, sedangkan Alina menatap tajam pada Bagaskara Ardhana Putra.
"Kita harus keluar sebentar Mas, buat cari angin segar!" pungkas Alina yang terlihat cemberut. Pasalnya ia sebenarnya cemburu ketika teman-temannya menyanjung Bagaskara dihadapannya, apalagi sampai ada yang blak-blakan mengirim pesan untuk Bagaskara di hadapannya.
"Kita mau kemana, gadis manja ku?" tanya Bagaskara yang pura-pura tidak tahu akan kemarahan dan kecemburuan Alina.
"Kita pergi ke perkebunan Cleopatra di Desa Xx, sambil melihat taman bunga yang indah. Di sana setiap hari Minggu banyak pengunjungnya, kita mencari pondokan yang khusus untuk kita berdua!" timpal Alina.
"Iya, iya. Mas ambilkan motor sport Mas dulu!" ucap Bagaskara tetap terlihat santai. Jiwanya harus siap-siap menerima interogasi dari belahan jiwanya, yang sangat dicintainya itu.
"Cepat! Lima menit dari sekarang tak pakai lama!" timpal Alina dengan wajah masamnya.
"Ini anak, semakin lama semakin menggemaskan!" bathin Bagaskara yang tak tahan melihat tingkah Alina, meskipun marah tetap terlihat manja.
Bagaskara pun segera pulang menuju rumahnya yang hanya 5 langkah dari kediaman Alina, untuk mengambil motor sportnya.
"Bibi Chintya, bibi di sini? kebetulan sekali Bagas pamit dengan Bibi, Bagas hendak jalan-jalan sore dengan Alina. Kita mau refreshing ke Garden Cleopatra didesa sebelah, Alina ingin melihat taman bunga katanya." Bagaskara berpamitan dengan Ibu Chintya, ibunya Alina yang sedang berbincang-bincang dengan Mama Laras sambil membicarakan pernikahan Andara yang akan digelar dua bulan lagi.
"Oh iya, hati-hati Nak! jaga Alina baik-baik!" titah ibu Chintya yang percaya jika Bagaskara akan menjaga Alina dengan baik, mengingat Alina adalah sepupu Bagaskara Ardhana Putra.
Bagaskara pun berpamitan dengan Mamanya, Mama Laras sebenarnya sangat keberatan melepaskan Bagaskara pergi bersama Alina. Sebab Mama Laras sangat mengetahui akan kebejatan anaknya. Namun, karena ada adik kandungnya ibu Chintya, ibunya Alina. Mau tidak mau Mama Laras mengizinkan anaknya pergi. Ia tidak ingin kentara jika ada hal besar yang terjadi antara Bagaskara dan Alina Cahya Kirani tanpa sepengetahuan ibu Chintya, ibunya Alina.
Bagaskara pun bergegas menuju rumah Alina dengan mengendarai motor sportnya.
Tin ... tin ... tin, "Came on baby, mari kita pergi!" ucap Bagaskara dengan menyembunyikan klakson motornya.
__ADS_1
Alina berpamitan dengan kakaknya, "Kak Andara, Alina berangkat dulu!" pungkas Alina setengah berlari.
"Mau kemana, Dek?" tanya Andara yang baru selesai mencuci piring.
"Refreshing ke Garden Cleopatra, Kak! Assalamu'alaikum." Alina melambaikan tangannya di atas motor.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, itu anak kok mendadak aneh? biasanya ia tidak sembarang jalan sana-sini? semoga saja Mas Bagas bisa menjaga Alina. Tunggu dulu, aku melihat gelagat aneh dari Alina dan Bagas. Tapi, tidak mungkin mereka memiliki hubungan spesial. Mereka berdua adik sepupu, jika itu benar terjadi, itu anak wajib di ruqyah. Biar pikirannya terarah, ruqyah syar'i kan bukan hanya untuk orang yang kesurupan jin saja. Orang yang stres dan gangguan kejiwaan pun wajib di ruqyah!" gumam Andara pelan.
"Siapa yang wajib di ruqyah, Nak?" tanya ibu Chintya yang baru pulang dari kediaman keluarga Bagaskara.
"I-itu, nggak ada Bu. Andara hanya asal bicara saja, Bu!" ucap Andara sambil mengatupkan mulutnya yang keceplosan.
"Ya sudah, ibu mau menyiapkan masakan untuk ayah mu. Sebelum Ashar biasanya ayahmu sudah pulang dari perkebunan."
"Maa syaa Allah, yang sudah mau jadi istri!" Ibu Chintya tampak menggoda anaknya.
"Ibu!" ucap Andara dengan tertunduk malu.
Sementara, ibu Chintya nampak tersenyum bahagia melihat anak sulungnya kini mulai beranjak dewasa.
"Oh ya, Bu. Tadi, Alina dan Mas Bagas keluar. Katanya ingin jalan-jalan lihat taman bunga di Garden Cleopatra." Andara memberitahukan ibunya.
"Iya, tadi Mas Bagas mu sudah pamit sama ibu," terang ibu Chintya.
Alina pun mengangguk pelan, ia pun segera membantu ibunya memotong sayuran untuk persiapan makan malam.
__ADS_1
***
Di Garden Cleopatra.
Alina menarik Bagaskara naik ke dalam pondokan, yang di bawahnya mengalir air jernih yang memang sengaja dibuatkan oleh pemilik Garden Cleopatra sebagai penghias taman bunga tersebut agar terkesan menarik dimata para pengunjung.
Alina duduk santai sambil memandangi gemercik air yang mengalir dengan tenangnya. Akan tetapi jernihnya air yang mengalir tak sebening dan tak setenang hatinya. Tempo hari, di pantai ia melihat Bagaskara begitu dekat dengan Desi yang katanya hanya sekedar teman untuk Bagaskara. Berlanjut pula kedekatan Bagaskara yang katanya hanya sebatas guru dan murid. Sekarang, Bagaskara ketahuan berdekatan dengan Chika.
Alina terngiang-ngiang, ketika Chika sering menghubungi Bagaskara. Yang menyesakkan dada, Chika memanggil Bagaskara dengan sebutan darling.
"Jadi, apa hubungan mu dengan Chika Mas? tadi ketika dihadapan teman-teman dan kak Andara, Alina berusaha untuk tersenyum seolah-olah tidak ada hubungan apa-apa di antara kita agar tidak kentara jika kita memang memiliki hubungan khusus. Kenapa Mas Bagas tidak jujur saja, jika Mas mengagumi wanita lain selain Alina? kenapa Mas terus mengikat ku, jika ada wanita lain yang bersemayam di hati Mas?" Alina terus menginterogasi Bagaskara. Ia merasa tak terima jika Bagaskara berhubungan dengan wanita lain meskipun hanya lewat telfon atau sekedar berkirim pesan.
Bagaskara nampak tersenyum mendengar celotehan Alina. "Jadi, ceritanya ada yang jelous nich?" Bagaskara menoel hidung Alina.
"Tak perlu basa-basi dan tak perlu berkilah Mas. Jika memang Mas mempunyai wanita lain, putuskan Alina dan lanjutkan dia!" pungkas Alina dengan memalingkan wajahnya.
"Hei, kamu kok gitu sih?" Bagaskara menarik dagu Alina. Ia pun hendak mengecup bibir ranum itu, namun Alina segera menutup wajahnya dengan jilbab segi empatnya, hingga kecupan Bagaskara terhalang hijab.
Bagaskara mendengus pelan, "Alina, mengapa dirimu selalu enggan di sentuh Mas? apa kau merasa jika berciuman dengan Mas?" ucap Bagaskara yang pura-pura merajuk agar Alina mau di sentuh olehnya.
"Maaf, Alina bukan tidak ingin di sentuh oleh Mas. Akan tetapi Alina akan memberikan ciuman Alina hanya untuk suami Alina nanti!" ucap Alina penuh penekanan.
"Kalau begitu, menikahlah denganku! Dan jadilah istri ku agar aku bebas untuk menyentuh mu!" pungkas Bagaskara yang merasa terganggu ketika biduk hawa nafsunya sudah sampai ubun-ubun, akan tetapi Alina terus menolaknya.
"Jangan gila kau Mas! keluarga kita tidak akan pernah merestui hal yang tabu itu!" ucap Alina penuh penegasan.
__ADS_1