
Alina terdiam sejenak mendengar ucapan Fajar, ia tidak menyangka pemuda yang dianggapnya seorang bad boy tersebut memiliki akal pikiran yang jernih. Padahal belum genap hitungan hari Fajar Guntur Ramadhan mempelajari ilmu syar'i, akan tetapi ia sudah mengusai banyak ilmu kehidupan dari hasil proses belajarnya.
''Terima kasih, sudah memotivasi ku!'' ucap Alina dengan sekilas melirik ke arah Fajar yang sedang menundukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Alina.
''Sama-sama, aku senang melihat kau kembali ceria. Oh, ya nanti jika dirimu ingin berobat ruqyah yang syar'i bisa melalui Abi ku. Kebetulan ada saudara Abi ku yang bisa meruqyah seseorang yang terkena sihir dan guna-guna!'' terang Fajar sehingga membuat Alina semakin tak percaya seorang badboy seperti Fajar mengetahui tentang pengobatan syari'yyah.
''InsyaAllah, nanti jika aku ingin berobat ruqyah akan aku kabari.'' Alina terlihat bersemangat, dirinya tidak menyangka jika Fajar memberikan solusi terbaik padanya mengenai penyakitnya.
Nur Syifa yang baru keluar dari arah dapur pun tersenyum simpul melihat interaksi Alina dan Fajar yang mulai terlihat akrab.
''Diminum dulu teh hangatnya, juga camilannya!'' titah Nur Syifa pada Alina juga adiknya.
Alina dan Fajar pun segera menyeruput teh hangat tersebut, ada rasa kagum dalam hati Alina ketika melihat dan mendengar penuturan Fajar yang sama sekali tidak mempermasalahkan penyakit ganguan mistis yang di alaminya.
__ADS_1
Ketiga anak muda berbeda generasi itu pun terlibat obrolan panjang, tanpa disadari Alina dan Fajar pun sudah terlihat akrab dengan di temani Nur Syifa sebagai penengah antara mereka berdua. Tiada lagi rasa kecanggungan, mereka pun membahas apa saja yang memang harus mereka bahas.
Waktu pun semakin larut, Fajar pun hendak undur diri. "Kak Syifa, Fajar pulang dulu. Tolong jaga dan temani Alina di sini, kalau ada apa-apa tolong hubungi Fajar!"
Sebenarnya, Fajar masih ingin menemani kakaknya dan Alina di paud Khansa Day Care. Akan tetapi, ia menyadari ada batasan mahram yang harus ia jaga. Mengingat Alina terus menerus menolak untuk bersamanya dalam ikatan yang halal.
''Aku akan tetap menunggu mu Alina Cahya Kirani, sampai dirimu benar-benar berkenan menerima ku untukmu! kau tahu, hatiku benar-benar terpikat padamu. Kendati usiaku 2 tahun lebih muda darimu, namun tidak akan pernah menyurutkan diriku untuk mendapatkanmu! aku janji aku akan perbaiki diriku lebih baik lagi, aku akan meninggalkan dunia gelapku jika nantinya kau berkenan menerima ku dalam hidupmu!" batin Guntur di dalam hatinya.
Satu hari nanti, Guntur berjanji akan membuktikan pada Alina, jika ia mampu menjadi imam untuk gadis yang tengah rapuh itu. Ia pun menghilang dari pandangan Alina dan kakaknya Nur Syifa, tinggallah kedua gadis berkerudung itu saling tersenyum dan melemparkan pandangan setelah kepergian Fajar Guntur Ramadhan.
Nur Syifa menceritakan sepenggal kisah sang Fajar pada Alina. Alina pun mendengarkannya dengan seksama. Diam-diam Alina pun mengagumi tentang perubahan yang terjadi dalam diri Fajar. Namun, hanya sekedar mengagumi, bukan menyukai. Begitu yang Alina rasakan saat ini.
''Afwan, bukannya aku tidak menyukai Fajar, akan tetapi aku sudah menganggapnya seperti seorang adik, tidak lebih. Aku kagum dengan niat baiknya yang ingin terus mepelajari ilmu syar'i, bagiku itu sangat luar biasa.'' Alina enggan menanggapi pertanyaan Nur Syifa, sebab dirinya tidak tahu harus memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Setelah dirinya berkali-kali gagal menemukan jodohnya.
__ADS_1
Satu nama yang masih bertahtah di hati Alina kini, yakni Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori. Pemuda yang dulu pernah membuatnya tersentuh rasa dimasa yang lalu, setelah dirinya putus dari sepupunya Bagaskara Ardhana Putra yang telah tega mengguna-gunainya. Hingga, ia harus kehilangan orang-orang terdekat yang menyayanginya.
Alina memilih untuk mengadu nasib di kota S, demi untuk melupakan semua masa kelamnya.
''Tidak apa-apa, ukh ... jika hatimu belum bisa menerima kehadiran seorang pria dalam hidupmu. Aku sangat mengerti dan memahami keadaanmu, aku harap kau bisa pulih dan sembuh dari rasa sakitmu. Nanti kita coba ruqyah dengan teman Abi ku, aku yakin kau pasti akan sembuh, meski harus melewati berbagai proses. Aku punya buku dzikir khusus untuk terapi dari gangguan Jin dan Sihir, akan tetapi jika kau mulai merasakan hal yang tak lazim ketika membacanya, hendaklah ada ustadz atau orang sholih yang mendampingi, mengingat penyakit gangguan yang kau alami sudah menahun. Aku sampai tak habis pikir, kenapa ada orang yang tega mendzolimi orang lain dengan jalan sihir dan guna-guna. Apa ia tidak takut dengan azab Allah atas kemusyrikan yang diperbuatnya?'' keluh Nur Syifa.
Nur Syifa begitu prihatin dengan keadaan Alina yang bisa saja tiba-tiba pingsan dan mengalami gangguan yang lain efek dari sihir dan guna-guna yang menyerang gadis tak berdosa itu.
''Syukron atas pengertiannya ukh, laki-laki yang mengguna-gunaiku itu adalah sepupu ku sendiri. Ia memang pernah menjadi masa laluku, akan tetapi ... ia tidak pernah rela jika aku bersama laki-laki lain dalam hidupku. Kau tahu dalam masyarakat kita semua itu sangat tabu jika kita sampai menikah dengan sepupu sendiri, meskipun ternyata sepupu itu bukan mahram kita, artinya kita boleh menikah dengannya. Akan tetapi, dalam silsilah keluarga kami itu pamali. Itu sebabnya aku menakhiri hubungan ku dan sepupuku, tapi aku sungguh tak menyangka ia sampai berbuat sekeji itu pada ku. Sekian tahun aku berjuang melawan rasa sakit dan gangguan yang menderaku hingga sempat membuat ku putus asa dan hilang semangat dalam menjalani hari-hariku!'' Alina meneteskan air matanya mengingat tentang luka yang perih menyayat hatinya.
''Subhanallah, astaghfirullah ... kamu yang sabar ya ukh. Semoga Allah senantiasa menguatkanmu dalam menghadapi segala musibah. Yakinlah Allah tidak akan menguji hambaNya kecuali seorang hamba itu kuat memiikul beban dan ujian di pundaknya. Dan dirimu adalah salah satu orang pilihan Allah, dari segala insan yang ada di atas muka bumi ini. Semoga rasa sakit yang kau derita selama ini bisa menjadi penggugur dosa-dosa di masa lalu kita.''
Nur Syifa merangkul tubuh Alina dan mengusap lembut bahu wanita yang sedang tertekan lahir dan bathinnya itu. Alina pun merangkul erat pundak sahabatnya.
__ADS_1
''Sekarang saatnya kita istirahat!'' ajak Nur Syifa sambil menggandeng tangan Alina menuju salah satu kamar yang ada di paud Khansa Day Care tersebut.