Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 113. Hari Pertama Mengasuh


__ADS_3

Alina pun mengucapkan salam pada penghuni yang ada di penitipan anak Khansa Day Care tersebut. Kedatangannya begitu disambut baik oleh bunda-bunda pengasuh disana.


Sudah ada tiga orang pengasuh di sana berikut mbak Diah yang juga merangkap sebagai kepala sekolah dipaud penitipan yang baru berapa bulan ini di bangun.


''Maa syaa Allah, Alina. Silahkan masuk, akhirnya datang juga kemari. Selamat bergabung di paud penitipan Khansa Day Care,'' ucap mbak Diah dengan penuh antusias sambil menyalami dan cipika-cipiki dengan Alina diikuti pula oleh dua orang pengasuh lainnya pun menyambut Alina dengan sangat ramah.


''Salam kenal ya ukhti, ana Ummu Hamzah dan ini Nur Syifa Al Hidayah. Ia juga masih single sama seperti mu,'' ucap Ummu Hamzah yang memang sudah menikah. Akan tetapi, dirinya belum punya anak meskipun sudah 2 tahun usia pernikahannya.


Sedangkan, Nur Syifa Al Hidayah seumuran dengan Alina usianya 22 tahun. Ia pun sama seperti Alina baru pertama nyemplung di paud penitipan anak.


Alina pun menyalami Nur Syifa sebagaimana saudari sesama muslimnya, keduanya pun tampak akrab meskipun baru pertama saling mengenal.


''Ayo taruh dulu barang-barang mu di kamar sebelah ukh!'' ajak Nur Syifa sambil membantu Alina mendorong kopernya masuk ke dalam kamar khusus untuk Alina.


''Jadi, kau menginap di sini juga?'' tanya Alina yang mulai terlihat akrab dengan Nur Syifa.


''Tidak, rumah ku di dekat sini juga. Jika kau terlihat kesepian aku akan sering menemani mu menginap di sini. Oh ya, mampir juga ke rumah ku, jika kapan kita ada waktu. Hari Minggu kan kita libur, terus hari Sabtu jadwal mengasuhnya hanya sampai jam satu siang. Kau bisa main ke tempat ku,'' ucap Nur Syifa dengan penuh semangat. Ia merasa senang bisa berkenalan dan bertemu langsung dengan Alina dalam urusan pekerjaan yang baru akan mereka geluti.

__ADS_1


''InsyaAllah, terima kasih sudah menerima ku dengan baik disini. Senang berkenalan dengan anti,'' ucap Alina yang ikut menyelipkan sedikit bahasa Arab kepada Nur Syifa mengikuti tata krama yang ada di Khansa Day Care tersebut.


Kedua wanita sholiha itu pun terus bercengkrama dengan baik, mereka tampak bertukar pikiran dan membagi cara serta tugas untuk mengurus anak-anak asuh yang nanti akan mereka rawat dengan sepenuh hati seperti anak mereka sendiri.


Ummu Hamzah yang sejak tadi mengurusi dan bermain dengan anak-anak paud pun segera menghampiri Alina dan Nur Syifa. Anak-anak pun dalam pengawasan mbak Diah untuk sementara waktu.


''Maa syaa Allah, kalian terlihat cocok sekali. Ummu yakin kalian akan bisa membawa paud penitipan ini pada tingkatan yang lebih baik lagi. Di mana cara mendidik dan mengasuh anak-anak dengan metode yang islami dan tentunya diridhoi oleh Allah Subhana wa ta'alla dunia wal akhirat,' tutur Ummu Hamzah terdengar lembut.


''Oh iya, ini hari pertama Dik Alina mengasuh. Mari Ummu perkenalkan siapa-siapa anak-anak paud Khansa Day Care yang hendak kita asuh bersama nantinya.'' Ummu Hamzah pun membimbing Alina menuju ruang khusus anak-anak berdasarkan usianya, sedangkan Nur Syifa bergabung dengan mbak Diah menemani anak-anak paud di ruangan bermain sambil bercanda ria, dengan metode belajar sambil bermain.


''Ini ruangan khusus bayi, yang ini namanya Aslan umurnya baru dua bulan. Dan yang ini namanya Dimas umurnya baru masuk 6 bulan. Dan yang ini Ridho usianya tidak jauh dari Dimas mereka seumuran hanya beda hari saja,'' terang Ummu Hamzah sambil menampakkan senyum kelembutannya yang bersikap seperti seorang ibu untuk anak-anak asuhnya.


Sementara anak bayi, Aslan, Ridho dan Dimas sedang tidur di ruangan khusus bayi. Sedangkan Aslan yang baru berumur dua bulan begitu tidur sangat nyenyak di box bayi.


Alina pun menyesuaikan diri dengan anak-anak, tidak butuh waktu lama semua anak-anak pun betah dalam asuhan Alina. Alina tampak ceria menghandle setiap pergerakan Ola dan Faiqah, keduanya nampak berebutan duduk di pangkuan Alina.


''Unda, Oya au ain lok cucun ( Bunda, Ola mau main block susun ),'' ujar si kecil Ola yang baru berusia 2 tahun itu. Ola kecil nampak terlihat imut dengan bahasanya yang masih cedal sesuai umurnya.

__ADS_1


''Ai ga au ain cun ( Faiqah juga mau main blok susun ).'' Faiqah yang masih berumur 1.5 tahun ingin ikut bermain block susun bersama Ola. Keduanya nampak bergelayut manja di dekat Alina.


''Baiklah, kita bermain bersama bunda. Kita buat rumah-rumahan sama hewan jerapah,'' ucap Alina dengan menyusun block susun sekaligus mengenalkan aneka warna tersebut pada anak asuhnya.


Faiqah dan Ola terlihat begitu riang gembira bermain bersama Alina yang kini mereka panggil dengan sebutan Bunda. Tepat pukul sebelas siang semua anak asuh yang di handle Alina, bersama pengasuh lainnya pun tertidur pulas.


Ummu Hamzah nampak berkutat di dapur memasak makan siang untuk mereka semua, dibantu pula oleh pengasuh lainnya yakni Nur Syifa. Sedangkan mbak Diah izin pulang ke rumah untuk mengerjakan segenap aktivitas rumahnya. Dua orang anaknya ia tinggalkan di rumahnya bersama suaminya yang belum masuk kerja sebab suaminya mendapat dinas malam di rumah sakit xx.


Tinggallah Nur Syifa, Alina dan Ummu Hamzah yang masih fokus menghandle anak-anak.


''Aku izin keluar dulu ya Umm? ada yang hendak aku belikan di toko dekat sana,'' ujar Alina dengan segera beranjak keluar sebentar.


''Oh iya, silahkan ukh!'' ucap Ummu Hamzah sembari duduk di lantai mencicipi sayur dan ikan yang sedang di masaknya.


Sedangkan Nur Syifa tampak sibuk mengulek sambal untuk lalapan mereka sebagai pelengkap menu siang ini.


''Alhamdulillah, untuk hari pertama mengasuh hari ini aku begitu merasa nyaman dan betah,'' batin Alina dengan senyuman termanis yang terukir dari raut wajah ayunya. Setidaknya ia bisa melupakan semua kenangan terburuknya bersama Bagaskara Ardhana Putra yang kerap kali menyiksa lahir dan batinnya, sehingga dirinya harus mengalami rasa sakit akibat terus di kukung oleh Bagaskara dengan kekuatan mistisnya.

__ADS_1


Alina tidak menyadari jika seorang pemuda yang bernama Fajar Guntur Ramadhan kembali menatapnya dari kejauhan.


''Gadis berkerudung merah, ia hendak kemari juga? ini yang namanya jodoh,'' batin Fajar dengan penampilannya yang masih terlihat ugal-ugalan jika dibandingkan dengan sosok Alina bisa di bilang seperti bumi dan langit.


__ADS_2