
Maharani dan teman-temannya telah sampai di kediaman Alina Cahya Kirani.
Maharani menangis sesenggukan dalam pelukan Alina.
"Hiks ... hiks ... hiks," Maharani meluapkan isi hatinya lewat tangisnya. Ia merasa takut ketika membayangkan kembali tragedi ambruknya di resepsi Bagaskara dan Putri.
"Apa yang terjadi denganmu Maharani, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Alina dengan mengusap punggung Maharani yang sedang menangis dalam pelukannya.
"Tadi Maharani pingsan di pernikahan kak Bagas dan Putri!" timpal Chika dengan menyesap es krimnya yang masih tinggal tetesan terakhir.
"OMG, ini anak masih sempat-sempetnya ngemil. Orang lagi tegang juga!" seru Dela, dengan mengoceh Chika.
"Ya mau gimana lagi Kak, kalau nggak dimakan tanggung mubazir!" timpal Chika dengan mulut yang masih belepotan oleh sisa es krim.
"Ya Allah, kau ini masih seperti anak kecil saja, lihat tuh ada sisa es krim disudut bibirmu!" timpal Reno yang juga masih hadir di sana menemani Alina sebelum kedatangan teman-temannya.
Reno yang notaben sebagai seorang laki-laki ikut nimbrung di percakapan ke empat orang bidadari yang ada di hadapannya. Reno pun memberikan tissue untuk Chika yang memang sudah ia anggap adik sendiri, lantaran usianya yang masih sangat belia.
"OMG, terima kasih kakak yang baik!" ucap Chika dengan gaya cute-nya.
__ADS_1
Reno pun mengangguk pelan. Ia pun beralih ke arah Maharani yang masih berada dalam pelukan Alina. Reno tak sampai hati melihat Maharani yang terus terisak dalam tangisnya
Reno berperan sebagai seorang kakak untuk ke empat gadis muda yang ada di hadapannya itu.
"Maharani, bagaimana ceritanya kamu sampai ambruk tak sadarkan diri di resepsi Bagaskara dan Putri?" Reno penasaran sebab Maharani tiba-tiba mengalami hal yang tak wajar tersebut.
"Iya, ceritakan kepada kami Maharani?" ucap Alina dengan melerai pelukannya dan mengusap air mata kesedihan dari pelupuk mata Maharani yang terlihat sembab. Wajahnya pun masih terlihat pucat pasi akibat insiden perlawanannya bertarung dengan Bagaskara melalui ilmu sihirnya yang dilakukan olehnya secara diam-diam tanpa bisa dilihat oleh tatapan mata biasa.
"Se-sebenarnya, aku telah melakukan dosa yang besar. Aku telah mempelajari mantra-mantra yang bertentangan dengan syari'at, demi untuk menggapai menggapai hasratku untuk merebut hati kak Bagas. Pasalnya aku sakit hati, dia telah menundukkan ku dengan ilmu sihir yang dimilikinya. Sehingga aku terpedaya oleh rayuan mautnya." Maharani terus terisak dalam tangisnya ketika menceritakan perihal yang telah ia lakukan bersama Bagaskara.
Maharani pun melanjutkan kalimatnya, "Hampir saja, mahkota berharga ku terenggut olehnya. Untung saja Allah masih melindungiku dari melakukan hal yang keji tersebut. Aku ingin membalas dendamku, terhadap kak Bagas yang telah mempermainkan hati dan perasaanku. Mulanya, aku bisa menyerangnya dengan ilmu yang kumiliki. Kami memiliki benteng pertahanan yang sama-sama kuat. Akan tetapi hari ini aku gagal untuk menjatuhkan reputasinya, aku hendak mempermalukannya di hadapan khalayak ramai dengan mantra-mantra sakti yang ku hembuskan padanya. Akan tetapi, ia justru memiliki benteng pertahanan yang kokoh dengan menyematkan pagar ghaib di sekeliling acara resepsi pernikahannya yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata biasa."
"Aku pun tiba-tiba ambruk dan terkalahkan oleh ilmu sihirnya yang begitu dahsyat menyerangku dengan tiba-tiba tanpa bisa aku untuk menghindarinya. Sampai sekarang aku merasakan sesak di dadaku, jantung hatiku seolah-olah ditarik-tarik. Sekujur tubuhku rasanya sakit dan menggigil kedinginan, aku hampir saja mati oleh sebab serangannya yang tiba-tiba. Kalian harus berhati-hati berhadapan dengan kak Bagas. Dia itu lelaki yang licik dan picik, dia bukan orang yang baik-baik. Dia menyembunyikan dirinya dibalik kedok ustadznya. Ia tak ubahnya seperti manusia iblis, yang sewaktu-waktu bisa menyerangmu dengan tiba-tiba. Jikaka ada hal yang tidak berkenan di hatinya dari diri kita." Maharani masih terus saja berceloteh, menceritakan segala unek-unek yang terpendam di hatinya.
"Naudzubillah min dzalik, Mas Bagas benar-benar keterlaluan! kita semua sudah menjadi korbannya. Andai kalian tahu, aku pun saat ini sedang didera rasa sakit yang aneh yang tidak bisa di pahami oleh manusia biasa. Dia telah tega mengguna-gunaiku dengan ilmu sihirnya, sehingga aku harus menahan rasa sakit lahir dan batinku. Begitu banyaknya hal-hal yang aneh yang kurasakan akhir-akhir ini, aku ingin sekali lepas dari jeratnya. Namun, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku sudah mendarah daging. Sungguh, apa yang dialami oleh Maharani tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku alami saat ini!" terang Alina dengan tiba-tiba didera rasa sedih dan murung yang meresapi relung hatinya.
"Kita sama-sama telah menjadi korbannya. Dia benar-benar laki-laki bejat, aku sangat membencinya!" terang Alina dengan matanya yang mulai berembun.
"Jadi, kak Alina pun memiliki sakit yang sama seperti yang Maharani alami saat ini?" tanya Maharani.
__ADS_1
"Lebih dari itu!" Alina nampak tertunduk lesu, ia benar-benar sedih dan murung atas apa yang telah menimpanya.
"Astagfirullah, kalian berdua yang sabar ya?" Dela merengkuh tubuh Alina dan Maharani secara bersamaan. Ia memberikan support dan semangat untuk kedua sahabatnya itu.
Dela pun sebenarnya mengalami kekecewaan dan sakit hati dengan Bagaskara, namun dirinya tidak mengalami hal yang aneh atau hal-hal yang nyeleneh lainnya. Kecuali hanya ciuman pertamanya saja yang direnggut oleh Bagaskara. Namun itu cukup membuatnya sakit hati dan patah arang.
Ketika mengetahui kedua sahabatnya, mengalami hal yang lebih miris darinya membuat Dela sedikit bersyukur sebab Bagaskara tidak sampai menodainya atau mengirimkan hal yang mistis padanya.
"Aku juga mau dipeluk!" ucap Chika dengan merengkuh tubuh ketiga sahabatnya. Setidaknya Chika lebih beruntung, sebab tidak ada hal yang aneh yang dilakukan oleh Bagaskara padanya. Ia yang paling polos dari semuanya, ia juga yang selamat dari perbuatan mesum Bagaskara Ardhana Putra terhadapnya.
Andara dan suaminya, yang baru pulang dari resepsi pernikahan Putri dan Bagaskara pun tak sengaja mendengarkan kisah Alina dan teman-temannya. Ia kaget ternyata bukan hanya adiknya Alina yang menjadi korban Bagaskara. Tetapi semua teman-teman Alina juga pernah menjadi belahan jiwa seorang Bagaskara Ardhana Putra.
"Apaaa? jadi kalian semua pernah menjadi kekasih mas Bagas? ini benar-benar keterlaluan, mas Bagas benar-benar lelaki yang tidak baik. Aku tak menyangka dia sebejat itu!" Andara nampak syok mendengar ucapan Alina dan teman-temannya.
Andara menarik nafasnya pelan, dia merasakan sesak di dadanya oleh sebab kelakuan bejat saudara sepupunya itu.
"Dan kau Maharani, kakak harap berhentilah dari mengamalkan ilmu yang tak lazim tersebut. Sebab, ilmu hitam tersebut sangat bertentangan dengan syariat Islam. Sesungguhnya, perbuatan syirik itu sangat jauh dari kebenaran iman. Dan Allah tidak meridhoi perbuatan tersebut, tinggalkanlah hal-hal yang dilarang oleh Allah dan bertaubatlah kepada-Nya atas segala kehilafan yang pernah kau perbuat. Sesungguhnya ilmu hitam itu, tidak akan pernah mengekalkan. Ia hanya menyesatkan kita, dan membuat kita jauh dari Rabb kita. Perlu diketahui, ilmu sihir itu adalah tipu daya jin dan setan yang menyesatkan kita dan membuat kita menyekutukan Allah dalam keimanan kita." Andara menasehati Maharani dengan penuh ketegasan.
"Selain itu, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya tetap dalam kesyirikannya dan ancamannya ia akan menjadi bahan bakar api neraka. Tentunya, kita tidak ingin menjadi manusia yang merugi dunia dan akhirat. Jadi, kakak harap selagi nafas hidup masih berhembus. Mari kita sama-sama bertaubat kepada Allah atas segala dosa dan maksiat yang telah kita lakukan baik sengaja ataupun tidak sengaja, yang sembunyi ataupun terang-terangan. Bertaubatlah dan jangan pernah mengulangi lagi dosa yang pernah kita perbuat dengan cara taubatan nasuha!" Andara terus memberikan solusi dan motivasi kepada Maharani juga teman-teman Alina lainnya.
__ADS_1
Maharani pun tertunduk malu, ia sangat menyesali atas segala dosa dan kesyirikan yang telah diperbuatnya. Air matanya, semakin berlinang membasahi pipi mulusnya.
"Ya Allah, maafkan hamba atas segala dosa dan kesyirikan yang pernah hamba perbuat!" batin Maharani dengan penuh penyesalan. Ia merasa bersyukur, sebab masih ada yang mengingatkannya menuju jalan kebenaran.