Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 95. Mengulik Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Alina mengerjapkan netranya, ketika mendengar suara kericuhan yang menggangu tidur lelapnya.


"Kak Gun, maaf ... aku ketiduran," ucap Alina tanpa dosa.


AIina sama sekali tidak mengetahui jika Guntara merasa spot jantungnya oleh sebab rudungan pertanyaan dari karyawati mall tersebut yang mengira jika dirinya dan Alina telah melakukan perbuatan asusila di dalam arena paduan suara yang kini sedang mereka tempati.


Beruntung Guntara bisa mencari alasan untuk menghindari prasangka yang dituduhkan oleh karyawati itu.


"Terima kasih telah menemani dan menjagaku," ucap Alina terdengar polos.


"Sama-sama, kita pulang ya? sudah puas kan bermainnya?" tanya Guntara dengan penuh kelembutan.


"Belum kak, aku ingin bermain mesin capit di sana! sepertinya bonekanya bagus-bagus." Alina terlihat manja, sehingga karyawati tersebut mengira jika memang benar Guntara dan Alina memang adik kakak.


"Maaf, jika mengganggu kenyamanannya. Silakan lanjutkan, setiap fasilitas dan permainan yang ada di sini!" ucap karyawati tersebut dengan berlalu pergi dari hadapan Guntara dan Alina.


Alina mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan absurd dari karyawati tersebut. Ia sama sekali tidak mengetahui kegamangan yang dirasakan oleh Guntara.


"Hey, gadis manja. Kau tahu tadi karyawati itu mengira kita sedang begituan, habis kau tidur terlalu lama!" protes Guntara yang akhirnya keluar juga dari bibirnya.


"Maaf, piece ya? resiko menemani orang yang patah hati ya begini," ucap Alina terdengar santai.


Tanpa sadar Alina sudah meluahkan isi hatinya pada Guntara, setelah sekian detik menahan sesak di dadanya.


"Hemmm, jadi kau beneran patah hati? pantas saja lagunya mellow," seloroh Guntara tanpa sengaja kata-kata itu terucap dari lisannya.


Guntara khawatir Alina akan sedih mendengar ucapannya barusan. "Aku minta maaf, jika ucapan ku tak berkenan di hati mu!" ucap Guntara penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, Kak. Aku memang sedang galau, aku butuh hal-hal yang dapat menghibur ku. Aku lelah dengan semua yang ada, ingin rasanya ku hapus saja semua kenangan terburuk yang pernah ada. Melupakan segala kenangan yang menyakitkan." Alina kembali tertunduk lesu.


"Baiklah, jangan bersedih lagi! aku tak sanggup melihat kepedihan di matamu. Dirimu terlalu indah untuk terus tersakiti. Masih ada aku untukmu!" sela Guntara lagi.


"Aishhh, semua laki-laki sama, bisanya cuma gombal doang," cibir Tiara dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tapi, aku berbeda Alina. Bagiku kau begitu sempurna." Guntara berusaha untuk pelan-pelan saja menyentuh hati Tiara, agar gadis tersebut merasa nyaman.


Akan tetapi Alina tidak merespon segala ungkapan cinta yang tak sengaja keluar dari lisan Guntara.


Setelah rasa kekecewaannya terhadap Ansori. Alina seolah mati rasa terhadap semua laki-laki. Apalagi, mengingat kisah percintaannya bersama Bagaskara sepupunya yang berujung mistis hingga menyiksa lahir dan batinnya, Alina semakin jijik dan muak untuk sekedar mengingat nama Bagaskara Ardhana Putra yang kini telah menikah dengan Queensha Putri, sahabatnya.


"Aku tidak ingin mengingatnya lagi!" ucap Alina spontan, sambil menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kalau begitu jangan di ingat lagi, lebih baik kita cari hiburan lagi. Katanya mau bermain mesin capit lagi. Mana tahu dirimu mendapatkan boneka yang unik dan lucu-lucu." Guntara refleks menarik pergelangan tangan Alina. Akan tetapi, Alina menolaknya pelan.


"Tadi juga satu jam kau bersandar di pundak ku ketika dirimu tertidur pulas, kenapa baru sekarang berkata begitu!" protes Guntara.


"Itu kan tidak sengaja kak!" ucap Alina santai. Ia pun berlari-lari kecil menuju mesin capit yang terdapat begitu banyak boneka unyu-unyu.


"Alina tunggu, dasar anak nakal!" batin Guntara yang merasa gemas dengan tingkah absurd Alina.


"Kemarilah, Kak! temani aku bermain di sini, kakak fotoin dan videoin aku ya? nanti jangan lupa kirimkan di story medsos aku!" ucap Alina dengan segara mulai bermain mesin capit.


Guntara pun menuruti inginnya Alina, ia merasa senang ketika melihat kebahagiaan yang terpancar dari gadis imut itu. "Maa syaa Allah, ia benar-benar seperti anak kecil, menggemaskan sekali!" bathin Guntara dengan terus mengabadikan momen-momen berharga yang dilalui oleh Alina hari ini.


"Kak, Alhamdulillah ... Aku mendapatkan boneka panda, Hello Kitty love, beruang, ada boneka burger juga. Sepertinya enak jika ini burger sungguhan!" pekik Alina kegirangan. Ia begitu puas dengan permainannya hari ini.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kita beli burger saja sekalian belikan jus buah untuk melepaskan dahaga." Guntara dengan cepat menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membuat Alina merasa nyaman.


"Boleh!" Alina pun tidak menolak, setelah bermain dengan banyak aneka game mereka pun segera keluar dari puncak mall dan mencari tempat orang-orang menjual aneka makanan ringan.


"Itu sepertinya enak!" tunjuk Alina pada salah satu tempat khusus penjual burger yang sekaligus bersebelahan dengan pedagang es buah.


"Baiklah came on Baby!" ucap Guntara dengan niat menarik kembali pergelangan tangan Alina. Namun, segera ia urungkan.


"Maaf," ucap Guntara dengan menerbitkan senyum termanisnya. Begitu pun Alina ia tertawa lepas ketika melihat tingkah absurd Guntara yang begitu menggelitik hatinya.


Guntara merasakan kesejukan di hatinya, ketika melihat senyuman terukir indah di wajah Tiara hingga menampakkan sejuta pesona yang mampu membuat Guntara tersentuh rasa pada gadis ayu tersebut.


"Alina Cahya Kirani, jika terus melihat keindahan rona wajah mu seperti ini diriku seolah melihat pelangi di matamu yang begitu penuh warna!" batin Guntara tanpa berkedip memandangi wajah ayu Alina.


"Melamun lagi, aku tahu aku memang cantik!" ucap Alina dengan menjentikkan jarinya di hadapan Guntara. Membuat Guntara tersadar dari lamunan dan keterpanaannya pada Alina.


"Eh, anu. Ma-af." Guntara terlihat gelagapan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Tidak lama kemudian pesanan burger dan jus buah yang mereka minta pun telah selesai. Guntara segera merogoh sakunya dan membayar uang pesanan mereka.


"Kak, kita duduk di taman kota sana yuk!" ajak Alina dengan segera melintasi jalan raya menuju ke taman kota tersebut. Di mana, disitu pernah menjadi tempat terakhir pertemuannya dengan Bagaskara sebelum dirinya memutuskan kisah cinta yang pernah terjadi di antara mereka, hingga tanpa disadari olehnya saat itulah petaka di mulai. Bagaskara telah tega mengguna-gunainya dengan sihir cinta yang sampai saat ini membuat Alina bagai terpenjara dalam sangkar emas. Bertahan hidup dalam rasa sakit yang semakin hari terus-menerus menggerogoti tubuhnya.


Di saat itu pula menjadi pertemuan tak terduga untuk Alina bertemu dengan Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori hingga secara perlahan rasa yang asing tersebut terus bertumbuh dihatinya.


Alina kembali mengulik kenangan masa lalunya sambil menyeruput habis jus buah naga yang ada di hadapannya. Sementara Guntara membiarkan Alina berbuat sesuka hatinya. Asal gadis itu merasa tenang dan nyaman.


"Alina ponsel mu berbunyi berulang kali, kenapa tidak diangkat?" sela Guntara.

__ADS_1


"Biarkan saja, aku sedang ingin menikmati waktu sendiri ku. Aku tidak ingin diganggu siapa pun," terang Alina tanpa sedikitpun berniat untuk menjawab dering ponselnya.


__ADS_2