Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 29. Antara Benci dan Rindu


__ADS_3

Alina terus menangis sesenggukan, ia tiba-tiba merindukan sosok Bagaskara yang menjadi dalang dari duka lara yang akhir-akhir ini menyergapinya.


Sejenak ku pikirkan hendak ku benci saja dirimu


Namun ... sulit ku membenci


Pejamkan mata bila ku ingin bernafas lega


Dalam angan ku aku berada


Di satu persimpangan jalan yang sulit ku pilih


Kupeluk semua indah hidupku


Hikmah yang kurasa sangat tulus


Ada dan tiada cinta


Bagiku, tak mengapa


Namun ada yang hilang, separuh diriku, ho wo ...


"Mas Bagas, aku merindukan mu!" bathin Alina yang mulai diserang oleh kekuatan energi negatif yang bersemayam dalam dirinya.


Air mata Alina semakin mengalir deras, ia terus bersyai'r seperti orang yang sedang dirundung nestapa yang teramat dalam. Seolah-olah dirinyalah yang nampak tersiksa. Kondisi kejiwaan Alina semakin terganggu. Ia yang semula tak suka bersyai'r jadi menyukai sya'ir yang melo.


"Hiks ... hiks ... hiks, Mas Bagas aku mencintaimu namun aku pun membenci mu!" gumam Alina pelan di selingi isak tangisnya yang mengharu biru. Antara cinta dan benci terhadap Bagaskara kini bersarang di benaknya sedangkan yang di rindu entah kemana, sedetik pun tak nampak batang hidungnya. Kabar berita pun tak tampak.


Bagaskara yang menitipkan cinta dan mengirimkan sihir dan guna-guna pada Alina, sehingga Alina di dera rindu setengah mati jika tidak berjumpa dengannya. Akan tetapi Bagaskara pula yang menarik ulur jantung hati Alina, hingga gadis ayu tersebut pun tersiksa lahir dan batinnya.


Alina terus menangis hingga terlelap. Ia tidak lagi keluar dari dalam kamarnya, setelah kekesalannya pada calon kakak iparnya Dimas Sidqi Amrulloh. Hingga berujung yang ia pikirkan adalah Bagaskara Ardhana Putra yang telah mempermainkan hati dan perasaannya.


***


"Alina mana Nak? kok tidak kelihatan dari sejak tadi?" tanya Ibu Chintya, ketika melihat Andara Albiya Finzani nampak asyik berbincang-bincang dengan calon suaminya Dimas.


"Astaghfirullah, Andara sampai melupakan Alina ibu. Sebentar Andara lihat dulu, mungkin ia dikamarnya." Andara pun berjalan menuju kamar adiknya.


"Dek, apa kamu didalam? ibu memanggil, kita mau makan siang bersama nantinya!" Andara mendorong pintu kamar Alina.


"Ya Allah, dikunci. Apa ia sedang ketiduran, aku harus mengedornya dari pintu jendela. Itu anak tingkahnya semakin aneh saja!" gerutu Andara.


"Mau kemana, Nak? adik mu mana?" tanya Ibu Chintya lagi.

__ADS_1


"Pintu kamarnya dikunci ibu, sepertinya Alina ketiduran." Andara pun keluar dari dalam rumah dan melangkah menuju jendela kamar Alina.


"Ya Allah, ternyata ia molor!" gumam Andara pelan.


Andara mengedor jendela kamar Alina berulang-ulang kali, sehingga Alina pun perlahan mengerjapkan netranya.


"OMG, siapa yang berisik?" Alina mengucek-ngucek matanya yang masih menyipit.


"Kakak disini, Dek! anak gadis molor pagi-pagi begini," celoteh Andara.


"Iya, iya sebentar!" Alina turun dari tempat tidurnya dan menarik gagang pintu kamarnya yang memang di kunci olehnya.


"Sebenarnya, aku malas keluar. Harus bertemu dengannya lagi!" Alina merasa jengah melihat calon kakak iparnya yang telah menyinggung perasaannya.


Alina keluar dari dalam kamarnya, ia berjalan menuju toilet guna membasuh wajahnya yang masih terlihat mengantuk.


"Apa ia marah pada ku, lantaran aku memintanya untuk menjauh dari ku? jika diperhatikan ia adalah gadis yang unik!" bathin Dimas ketika Alina nyelonong begitu saja tanpa melirik ke arahnya.


"Ibu, Alina ingin duduk di samping ibu. Kak Andara di sebelah sana!" ucap Alina yang merasa tak sudi duduk bersebelahan dengan calon kakak iparnya, ia merasa baper dengan kejadian yang tadi. Sedikit pun ia tidak mau melirik ke arah Dimas.


Melihat sikap Alina yang sedikit aneh kedua orang tuanya pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak gadisnya yang terlihat tidak bersahabat dengan calon kakak iparnya.


"Ya Allah, dia benar-benar marah pada ku. Aku harus mencari cara untuk meminta maaf padanya, tapi aku takut jika dekat dengannya ada aura mistis yang seolah menganggu ku!" bathin Dimas dengan sekilas melirik ke arah Alina yang nampak asyik mengunyah makanannya.


"Kak, kok bengong? di makan nasinya!" Andara menaruh lauk-pauk ke piring nasi calon suaminya Dimas." Dimas pun mulai menyendokkan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya.


"Dasar manja! belum juga jadi suami," batin Alina ketus.


"Uhuk ... uhuk, siapa yang mengumpat ku!" bathin Dimas yang tiba-tiba tersedak.


"Pelan-pelan makannya, Kak!" Andara pun menuangkan segelas air putih untuk Dimas. Dimas pun segera menyeruput air putih yang diberikan oleh Andara calon istrinya.


"Syukurin, makanya jangan sok kegantengan!" batin Alina dengan menyumpahi Dimas Sidqi Amrulloh. Hatinya seakan tergelitik geli melihat wajah calon kakak iparnya yang nampak merah padam.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Nak? Ayah perhatikan dari sejak tadi suasana hati mu sedang tidak baik-baik saja." Ayah Farel menimpali.


"Tidak apa-apa Yah, Alina tersenyum saja teringat hal-hal yang lucu." Alina pun melirik ke arah calon kakak iparnya.


"Ayam, ikan dan sayurnya di makan juga, Nak!" titah ibu Chintya dengan membantu menaruh lauk pauk ke piring nasi Alina.


Alina pun menutup hidung dan mulutnya. "Maaf Ibu, Alina tidak bisa mencium bau ikan atau sejenisnya, begitu juga dengan ayam, hewan-hewan yang berdarah! Alina hanya ingin makan lauk tempe saja, Bu." Alina pun kembali mengunyah tempe yang masih tinggal berapa potong.


Ibu Chintya pun membiarkan Alina melakukan apa yang diinginkan oleh anaknya, tanpa memikirkan hal penting lainnya. Yang terpenting Alina tumbuh sehat dan tidak kekurangan asupan makanan, itu sudah cukup bagi ibu Chintya.

__ADS_1


Alina pun mempercepat proses makannya, ia tidak enak hati sebab semua orang tampak memandangi dirinya.


"Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga!" ucap Alina dengan memuji Rabb-Nya.


Semua orang yang ada di ruang makan tersebut pun di buat tersenyum oleh tingkah Alina yang tiba-tiba kekanak kanakkan.


***


Di sisi lain, Bagaskara nampak menikmati pemandangan indah di tepi pantai. Ia asyik duduk di bebatuan bersama Desi teman di masa abu-abunya yang kini sudah menjadi pacar gelapnya di belakang Alina Cahya Kirani.


Bagaskara menggenggam jemari tangan Desi dan mengecupnya lembut.


"Bagas, terimakasih sudah berkenan menjadi pacar ku. Aku bahagia bersama mu!" ucap Desi dengan menyandarkan kepalanya dalam pelukan dada bidang Bagaskara Ardhana Putra.


"Aku pun bahagia bersama mu Desi, sudah sejak lama aku menanti mu!" ucap Bagaskara dengan menarik dagu Desi, sehingga mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.


Bagaskara mendekatkan bibirnya pada bibir tipis milik Desi, dikecupnya pelan bibir tipis itu, hingga Desi pun mengikuti permainan Bagaskara. Desi mencium bibir Bagaskara dengan penuh nafsu, ciuman ala orang dewasa pun semakin memanas. Desi memainkan lidahnya di rongga mulut Bagaskara, sehingga membangkitkan gairah laki-laki dewasa itu untuk melakukan hal yang lebih ganas lagi pada sosok Desi.


"Dasar wanita! mereka semuanya bodoh, mudah sekali untuk di goda dan di sentuh!" Bagas meremas benda kenyal milik Desi, sehingga membuat Desi melenguh dengan desah*n yang membangkitkan gairah Bagaskara.


"Oh, bagaimana ini aku tidak mungkin menodainya. Aku hanya ingin beraktivitas di atas bibirnya. Bukan ingin memberikan kehangatan cinta layaknya pasangan suami istri, aku akan menjaga keperjakaan ku untuk istri ku nanti!" bathin Bagaskara dengan melepaskan tautan bibirnya, hingga membuat Desi sedikit kecewa, lantaran biduk hawa nafsunya sudah sampai ubun-ubun.


"Maaf, Des. Jangan sampai kita melakukan sesuatu diluar jangkauan!" ucap Bagaskara dengan menyadarkan Desi yang hendak menyentuh juniornya.


"Jangan, Des! Ini adegan berbahaya, lebih baik kita pulang! Di sini banyak syaitan menggoda." Bagas berusaha untuk membujuk wanita dewasa itu agar jangan sampai melakukan hal-hal yang di luar batas manusia normal.


"Tapi, aku menginginkannya!" Desi menarik kerah kemeja Bagaskara dengan penuh nafsu, ia pun ******* bibir Bagaskara dengan rakusnya, membuat Bagaskara kesulitan bernafas.


"Hemmm, resiko berpacaran dengan wanita dewasa, aku kewalahan dibuatnya! Ia tidak sama dengan Alina ku yang begitu pandai menjaga marwahnya." Bagaskara membatin di dalam hatinya, ia ingin secepatnya lepas dari genggaman Desi.


"Baru kali ini aku kena batunya, jika Alina yang menyentuh ku seperti ini, tentu aku akan merasa sangat bahagia menerima sentuhannya dan aku tidak bisa menolaknya."


"Awww, sakit dasar binatang laut tidak punya adat! dia menggigit ku!" pekik Queensha Putri Fayanna dengan melepaskan ubur-ubur yang lengket di kakinya.


"Hey, siapa disitu? sejak kapan kau disini menguntit ku!" pekik Bagaskara dengan setengah emosi. Sorot matanya menyiratkan jika ia tidak suka jika ada yang menganggu ketenangannya.


Bagaskara pun meninggalkan Desi yang sedang dalam keadaan nafsu yang memburu.


"Kau mau kemana Bagaskara?" pekik Desi yang masih mengatur nafasnya akibat ciuman panas yang di lakukan olehnya pada Bagaskara.


"Aku hendak menyelesaikan kekacauan ini, ada sedang menguntit kita. Kau pulanglah duluan!" pekik Bagaskara setelah selesai bermain dengan Desi pacarnya.


"Dasar laki-laki tak berhati!" umpat Desi yang tak terima ditinggalkan begitu saja oleh Bagaskara Ardhana Putra.

__ADS_1


Desi pun segera merapikan kerudung gaul dan bajunya yang acak-acakan setelah aksi panasnya dengan Bagaskara.


__ADS_2