
"Kenapa kak Gun disini?" tanya Alina lagi, ia pun masih dalam keadaan berpegangan di lengan Reno.
"Dia yang menemani kita kemari! ceritanya panjang, yang terpenting kau harus berobat dulu!" pinta Reno setulus hati. Niat Reno memang baik, namun berobat dalam lingkaran syaitan dan perdukunan itu tidak di benarkan dalam syari'at.
"Ja-jadi, kak Gun yang menemani kita?" tanya Alina dengan rasa tak percaya.
"I-iya!" angguk Reno lagi.
"Silahkan duduk, cucu ku! ada keperluan apa gerangan? aku melihat gejala aneh pada diri mu, Nak!" ucap Mbah Rohimah terdengar lembut, namun sangat menyeramkan di telinga Alina.
Alina terlihat bingung, pasalnya Mbah Rohimah menatapnya tajam. "Ulurkan kedua tangan mu!" pinta Mbah Rohimah. Alina pun menjulurkan tangannya, Mbah Rohimah pun mengambilkan beberapa biji sahang atau lada dan menaruhnya di beberapa bagian telapak tangan Alina.
"Aku melihat disetiap tembok-tembok rumah mu, terutama di sudut kamar mu ada yang menanamkan sesuatu yang tak lazim untuk membentengi diri mu agar tidak bisa berdekatan dengan lelaki mana pun!" terang Mbah Rohimah.
Alina, Reno dan Guntara pun di buat terperangah oleh ucapan Mbah Rohimah.
"Maksudnya di tanamkan apa, Mbah?" Alina terlihat gusar sekaligus tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.
"Bisa berupa kain kafan yang di ambilkan dari perkuburan orang yang sudah meninggal atau pun sejenis paku berkarat. Jika barang-barang tersebut tidak di temukan dan masih tertanam di sekeliling rumah mu, maka sampai sepanjang usia mu, dirimu tidak akan pernah bisa menikah dengan siapa pun. Itu berarti selamanya dirimu akan menjadi dayang atau perawan tua!" tegas Mbah Rohimah dengan tatapan yang menghunus tajam, membuat Alina merasa ketakutan dan diam seribu bahasa.
Tubuh Alina terasa bergetar hebat, ketika biji lada tersebut dipindah tangankan di telapak tangannya lama-kelamaan tangannya pun terasa berat dan bergetar, ia pun tiba-tiba menangis-nangis dan memegang dadanya.
Alina merasa kesakitan, ia terus menangis-nangis seperti ada yang menarik tangannya, hingga tubuhnya pun terangkat dari duduknya.
"Sakittttt!" ucap Alina di selingi isak tangisnya.
__ADS_1
Reno dan Guntara pun bangkit dari duduknya untuk menarik Alina dan menenangkannya. Namun, akhirnya terjadilah aksi tarik menarik. Ternyata memang ada yang menarik tubuh Alina, namun makhluk tersebut tak kasat mata.
"Astaghfirullah!" Reno dan Guntara pun seketika beristighfar, keduanya mengapit Alina dengan posisi Reno di sebelah kiri dan Guntara di sebelah kanan, mereka khawatir Alina tiba-tiba meraung berlari dan kerasukan kemana-mana jika tidak segera ditangani dan ditahan pergerakannya.
Alina ingin berontak, tatapannya kini berubah menjadi merah menyala seperti bola mata syaitan, energi negatif didalam tubuhnya lebih mendominasi, sebab tanpa mereka sadari mereka berobat pada jalan yang salah, sihir dan guna-guna yang menimpa Alina melalui tangan-tangan syaitan alias makhluk halus dan sekarang cara pengobatan yang mereka tempuh pun melalui cara yang tak di benarkan. Sehingga Alina pun terjerat lingkaran syaitan dan perdukunan yang kini telah menjebaknya.
Kekuatan ilmu hitam Mbah Rohimah beradu dengan kekuatan ilmu sihir Bagaskara Ardhana Putra yang menempel di tubuh Alina. Jika pun kekuatan ilmu hitam Mbah Rohimah menang, itu berarti Alina dibentengi oleh kekuatan jin yang lebih besar untuk menjaganya. Namun, bukan berarti ia lepas dari kekuatan sihir Bagaskara. Sebab, makhluk tak kasat mata tersebut telah bersarang di dalam tubuh Alina, dalam artian telah menyatu dan mendarah daging lewat makanan yang telah dimakan oleh Alina di saat pesta pernikahan kakaknya 4 bulan yang lalu.
Reno dan Guntara menggenggam erat pergelangan tangan Alina, agar Alina tidak bisa lepas dan lari kemana-mana.
"Lepaskan!" ucap Alina sambil meraung-raung kesakitan lahir dan batinnya.
"Alina maafkan kami!" ucap Reno dan Guntara hampir bersamaan. Mereka tak sampai hati melihat Alina nampak tersiksa dengan rasa sakitnya. Alina terus meraung-raung dan histeris menahan rasa sakit di jantung hatinya yang terasa ada yang meremas dan menarik-nariknya.
Mbah Rohimah dengan sorot mata tajam dan merah menyala pun bertanya pada Alina yang sedang meraung-raung kesakitan.
"Bagaskara Ardhana Putra bin Arya Arnenda!" ucap Alina spontan.
Seketika sorot mata Reno dan Guntara membulat sempurna, ketika nama Bagaskara di sebut. Namun, keduanya tetap fokus menangani Alina yang masih meraung-raung kesakitan.
"Jadi, ia biang keroknya! dasar ustadz bejat!" bathin Reno menahan geram.
Mbah Rohimah pun memijit telapak tangan Alina dengan keras menggunakan biji lada, "Aaaaaa ... Sakitttttt!" pekik Alina sambil menangis histeris.
"Tidak bisa di hentikan kah pengobatannya Mbah!" ucap Guntara yang ikut merasakan sakit dan teriris ketika melihat Alina merasa tersiksa dan menangis histeris.
__ADS_1
"Iya, Mbah. Tolong hentikan pengobatannya!" Reno pun ikut menimpali. Ia yang tak tahan melihat kesakitan Alina, pun ikut meneteskan air matanya.
"Tenanglah, aku akan memberikan jampi-jampi air untuknya agar bisa tenang dan berhenti dari tangisnya juga kesakitannya!" terang Mbah Rohimah yang memahami jika ilmu sihir yang bersemayam di dalam tubuh Alina bukan ilmu yang sembarangan dan itu bisa merenggut nyawa seseorang secara perlahan jika tidak segera ditangani, Arya Arnenda adalah pewaris ilmu hitam yang memang terkenal ampuh pada zamannya, tidak boleh sembarang orang yang menggunakannya jika tidak bisa untuk mengendalikannya.
Dan Bagaskara telah menyalahgunakan warisan ilmu peninggalan ayahnya. Sehingga ia tidak menyadari jika dirinya telah menghancurkan dan merusak kehidupan dan masa depan Alina secara perlahan.
"Minumlah ini!" Mbah Rohimah menyodorkan air putih yang telah dibacakan mantra-mantra saktinya. Alina pun meminumnya dengan perlahan hingga gangguan dalam tubuhnya mereda.
Alina terkulai lemas, ia pun tumbang dalam dekapan Guntara Arjuna Winata. Reno yang melihat adegan tersebut pun merasakan sesak di dadanya, ia cemburu melihat hal tersebut, namun ia tidak ingin egois. Sebab, semua itu bukanlah bentuk kesengajaan.
"Alina, bangun!" ucap Guntara dengan menepuk-nepuk pipi Alina.
Guntara refleks mendekap erat tubuh Alina, "Alina sadar, aku menyayangimu!" ucap Guntara dengan derai air mata. Ia tak sampai hati melihat wajah Alina yang terlihat pucat pasi, lemas dan tak berdaya.
"Siapa Bagaskara Ardhana Putra? bukankah ia sepupunya Alina!" sentak Guntara yang baru menyadari jika yang telah mengirimkan sihir dan guna-guna terhadap Alina adalah Bagaskara yang pernah menghajar Guntara sewaktu mereka berada di Garden Cleopatra tempo hari.
Reno yang merasa cemburu atas perhatian Guntara terhadap Alina, ia pun berusaha seprofesional mungkin. Ia tidak ingin membawa-bawa urusan pribadi dalam ranah kancah yang umum.
"Iya, kamu benar sekali. Bagaskara adalah saudara sepupu Alina!" terang Reno.
"Sudah ku duga!" Guntara Arjuna Winata mengepalkan tinjunya. Ia ingin sekali memberikan bogem mentah pada Bagaskara yang telah menyakiti wanita yang dicintainya.
Reno dan Guntara sama-sama menahan emosi mengingat kekejian yang di lakukan oleh Bagaskara terhadap Alina.
"Sebenarnya, kalian berdua ini siapa untuk gadis malang ini?" tanya Mbah Rohimah dengan mode seriusnya.
__ADS_1
"Saya orang yang sangat mencintai Alina, Mbah!" ucap Reno dan Bagaskara hampir bersamaan.