
Reno dan Guntara saling lirik pandang, ketika keduanya keceplosan menyebutkan jikalau mereka mengakui jika mereka adalah orang yang sangat mencintai Alina di hadapan Mbah Rohimah.
"Jadi, kalian berdua mencintai wanita yang sama?" tanya Mbah Rohimah dengan tersenyum getir, namun akhirnya ia pun terkekeh melihat wajah kedua pemuda itu tampak canggung dan merah padam. Ada rasa malu menyelimuti hati keduanya, namun Reno dan Guntara berusaha untuk bersikap sedewasa mungkin.
Meskipun mereka melihat senyum kegetiran di wajah Mbah Rohimah, Namun di dalam hati Reno dan Guntara berusaha untuk bersaing secara sehat demi merebut hati Alina.
"Jika kalian benar-benar ingin merebut hati gadis malang ini, bersaing lah secara sehat! sebab, tidak mudah untuk meraih hati seorang gadis yang sudah terikat makhluk gaib!" cecar Mbah Rohimah.
"Jadi, kami harus bagaimana Mbah?" tanya Reno dan Guntara saling melirik satu sama lain.
"Jika kalian mampu bertahan silahkan lanjutkan perjuangan kalian! Tapi, Mbah rasa tidak akan ada yang sanggup bertahan dengan Alina mengingat ajian pelet dan guna-guna yang di kirimkan oleh Bagaskara sangat ampuh dan sudah mendarah daging di tubuh Alina. Kalian akan senantiasa melihat keanehan dalam diri Alina. Penyakit yang bersarang dalam dirinya akan membunuhnya secara perlahan!" ucap Mbah Rohimah terdengar miris.
"Kami mengerti, Mbah!" ucap Reno dan Guntara, namun keduanya tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Alina.
"Baiklah, bawakan buah pinang ini dan juga bawang putih serta jeruk nipis ini untuk Alina ketika kalian hendak pulang nanti!" titah Mbah Rohimah.
"Bagaimana cara menggunakannya Mbah?" Reno yang baru pertama kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis pun bertanya sampai ke akar-akarnya.
"Gunakan pinang muda tersebut 3x sehari, makan dengan rutin. Agar hal-hal mistis yang sering mengganggu tubuh Alina bisa sedikit mengurangi rasa mual di perutnya. Jeruk nipis itu letakkan di setengah gelas air kemudian minumkan satu teguk, selanjutnya usapkan kewajah dan dahinya 3x. Konon katanya, dalam ilmu perdukunan makhluk tak kasat mata sejenis jin sangat takut dengan aroma jeruk nipis. Kemudian, bawang putih bisa menangkal kejahatan makhluk gaib yang sewaktu-waktu dapat menyerangnya. Gosokkan bawang putih tersebut dijempol kakinya yang sering tiba-tiba dihisap oleh makhluk tak kasat mata. Satu lagi, pantangannya jangan makan yang berdarah-darah selama masa pengobatan!" terang Mbah Rohimah.
"Berarti Alina tidak boleh makan hewan yang berdarah-darah seperti ayam, daging dan sejenisnya." Guntara mencoba menyuarakan isi hatinya.
__ADS_1
"Benar sekali anak muda!" timpal Mbah Rohimah.
"Ampun, repot betul persyaratannya! seperti orang yang sedang hamildun saja. Bulu kuduk ku jadi merinding. Ku pikir ilmu syaitan dan perdukunan itu hanya ada di film-film misteri. Ternyata sekarang aku sendiri terjebak di dalamnya dan parahnya merangkap sebagai pelakonnya!" bisikan hati Reno yang mulai tidak betah berada di kediaman Mbah Rohimah.
Mbah Rohimah, yang seolah-olah bisa membaca pikiran Reno pun bisa menangkap jalan pikiran Reno. "Memang sangat merepotkan tong, namun kalian tidak boleh melanggar pantangan, jika tidak ingin mengalami kemalangan yang lebih dahsyat lagi pada teman kalian!" Mbah Rohimah pun terkekeh. Senyuman syaitan pun nampak dari rona wajahnya yang kini terlihat sangat menyeramkan.
Bulu kuduk Reno pun semakin merinding mendengar suara kekeh Mbah Rohimah yang sudah seperti Mak Lampir.
"OMG! nenek tua ini semakin lama semakin menyeramkan!" bathin Reno yang mulai merasakan aura mistis di sekitarnya.
Reno menyenggol lengan Guntara yang masih mendekap erat tubuh Alina yang masih terbujur pingsan. Ia sudah tidak tahan lagi berada di gubuk reyot yang penuh aura mistis tersebut.
Guntara yang menyadari akan kekalutan Reno pun berusaha mencari alasan agar bisa keluar dari gubuk milik Mbah Rohimah yang semakin terlihat menyeramkan tersebut.
Desiran angin kencang pun berhembus menerpa wajah-wajah mereka yang sedang kalut, namun demi Alina Guntara berusaha berperang melawan mentalnya yang sebenarnya hampir ciut, oleh hawa dingin yang tiba-tiba menusuk dikulit ari mereka.
"Hehe ... hehe ... hehe, jangan takut anak muda! suasana disini memang setiap harinya seperti ini. Setiap hari selalu ada pasien yang datang kemari untuk berobat mengenai hal mistis yang kerap kali mereka alami. Sama seperti yang terjadi dengan teman kalian ini!" ucap Mbah Rohimah dengan terus terkekeh.
Tanpa diketahui oleh Guntara dan Reno, Mbah Rohimah pun menggunakan bantuan jin untuk mengobati Alina lewat jampi-jampi syirkiyah yang memang bertentangan dengan syari'at yang di baca olehnya. Namun, keduanya tidak menyadari akan hal itu, yang mereka pikirkan adalah agar Alina segera sembuh dari gangguan penyakitnya.
Namun, sebenarnya Alina hanya diberikan pagar ghaib atau pembatas dan di jaga oleh Jin yang lebih besar kekuatannya dibandingkan Jin yang menguasai tubuh Alina, sayang sekali tidak semudah itu melumpuhkan dan melenyapkan sihir yang melekat di tubuh Alina. Sebab, ilmu yang di pelajari Bagaskara bukan sembarang ilmu atau asal-asalan. Ilmu hitam yang memiliki keampuhan yang sangat luar biasa di kalangan ilmu hitam lainnya. Sehingga, Mbah Rohimah sebenarnya sangat kesulitan untuk mengobati Alina, ia hanya berusaha semampunya saja tidak lebih.
__ADS_1
"Mbah Rohim, kami hendak pulang dulu! terima kasih atas bantuannya! ini sebagai uang pemasinnya atau mahar atas jasa Mbah karena sudah berkenan mengobati teman kami Alina." Guntara menyerahkan pecahan uang merah sebanyak lima lembar, membuat bola mata Mbah Rohimah seketika membelalak sempurna melihat pecahan uang merah tersebut.
"Kalau yang berobat setiap hari memberikan uang senilai seperti ini, aku bisa mendadak kaya!" bathin Mbah Rohimah dengan senyuman devilnya. Ia pun mengambil uang tersebut dengan hati riang gembira.
"OMG! banyak betul si Guntara memberikan uang maharnya, ia kalau Alina sembuh, kalau tidak ya rugi total!" dumel Reno yang mulai merasakan hal yang tak beres di gubuk milik Mbah Rohimah.
Brakkkkk! bunyi sesuatu di balik jendela gubuk reyot milik Mbah Rohimah, membuat Reno tiba-tiba senam jantung dan berpegangan erat pada lengan Guntara yang masih setia mendekap Alina yang belum sadarkan diri.
"Eh copot, eh copot ... Astaghfirullah! ada makhluk gentayangan!" ucap Reno spontan.
"Meong ... meong ... meong!" ternyata itu suara kucing hitam yang menerobos masuk lewat jendela, ia hendak mencari mangsanya berupa tikus kecil namun tak tertangkap.
"Ya Allah, kau ini penakut sekali! bagaimana bisa kau bersaing secara sehat dengan ku untuk menjaga Alina, jika nyali mu pun ciut?" gertak Guntara dengan membopong tubuh Alina ala bridal. Seketika itu pula Alina mengerjapkan matanya ketika melihat wajah tampan Guntara Arjuna Winata yang mendekapnya dengan penuh kasih.
"Sempurna!" satu kata yang Alina sematkan khusus untuk Guntara yang entah kenapa tiba-tiba menyentuh hatinya.
Alina yang masih dalam pengaruh makhluk ghaib pun tidak bisa mengontrol dirinya, perasaannya seolah-olah di tarik ulur untuk menyukai, mencintai dan membenci seseorang begitu pun seterusnya, perasaannya terus berubah-ubah tanpa bisa ia untuk mengontrolnya.
Guntara pun menatap manik mata indah itu, "Alina kau begitu cantik dan mempesona, angin apa yang membawaku hingga aku bisa sebucin ini pada mu!" bathin Guntara yang mulai terhipnotis dengan pancaran sinar kecantikan yang terpampang nyata dari sosok Alina Cahya Kirani yang kini dalam pengaruh aura mistis yang menguasai dirinya sehingga terlihat cantik dan bercahaya setelah sebelumnya rona wajahnya terlihat pucat pasi ketika sedang pingsan tak sadarkan diri.
"Nasib ... nasib, aku kebagian getahnya doang!" gerutu Reno sambil membawa plastik obat khusus Alina yang di berikan oleh Mbah Rohimah.
__ADS_1
Sementara Mbah Rohimah nampak terkekeh, melepaskan kepergian ketiga anak muda tersebut, sambil mengipasi lima lembar uang merah di wajahnya yang tak lagi muda.