Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 9 . Penuh Dengan Misteri


__ADS_3

Langkah kaki misterius tersebut pun semakin mendekat di ambang pintu, Bagaskara berusaha menguasai ritme jantungnya begitu pun Maharani ia merapikan kerudungnya yang terlihat acak-acakan oleh ulah Bagaskara yang mencumbuinya penuh nafsu. Gadis malang itu pun menjaga jarak dengan Bagaskara seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Walaupun sebenarnya ia merasa rugi telah memberikan ciuman pertamanya kepada sosok pria dewasa yang statusnya adalah seorang guru untuknya, namun Maharani tidak menyadari kenapa ia tiba-tiba terhipnotis dengan pesona Bagaskara Ardhana Putra sehingga ia menuruti keinginan pemuda tersebut. Semuanya seolah penuh dengan misteri, yang hanya dengan seperkian detik mencabik dan merampas jiwa mudanya.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara dari luar.


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi," jawab Bagaskara dan Maharani. Keduanya pun saling melemparkan pandangan.


Bagaskara didera ke khawatiran yang luar biasa ketika melihat siapa yang datang, ia merasa takut jika kedoknya sampai terbongkar di hadapan wanita yang di cintainya.


"Alina Cahya Kirani, kau! kenapa kemari? Mas kan sudah bilang akan datang ke rumah mu ba'da isya nanti." Bagaskara berusaha untuk tenang, sebab hanya ia dan Maharani yang berada dalam ruangan tersebut. Ia khawatir Alina berpikiran yang tidak-tidak padanya dan Maharani.


"Memangnya kenapa jika Alina kemari? kenapa Mas Bagas terlihat gugup? Alina hanya ingin mengantarkan bubur kacang ijo ini untuk Tante Laras. Ibu yang menyuruhnya," ucap Alina santai. Ia pun meletakkan rantang berisi bubur kacang ijo tersebut diatas meja.


"I-iya, terima kasih. Tapi Mama Laras sedang keluar, kumpul arisan dengan teman-temannya. Mas sendirian di rumah habis mengajar anak-anak mengaji," ujar Bagaskara dengan melirik sekilas ke arah Maharani yang sedang tertunduk lesu mengingat kejadian intim yang terjadi di antara mereka barusan.


"Maharani, apa kau sudah selesai mengaji? kenapa masih di sini? tidak baik berduaan dengan yang bukan mahramnya di sini, apalagi status kalian adalah guru dan murid." Alina bicara dengan nada penuh penegasan.


Entah kenapa Alina merasa sangat cemburu dengan Maharani yang masih betah duduk di kursi yang tidak jauh dari Bagaskara Ardhana Putra sepupunya, sekaligus menyandang predikat sebagai kekasihnya, meskipun dengan diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya.


"I-iya, Kak Alina ma-af aku memang hendak beranjak pulang." Maharani terlihat gugup. Alina pun bergantian melirik ke arah Bagas dan Maharani yang nampak terlihat mencurigakan. Namun, ia tidak punya bukti harus menuduh yang bukan-bukan pada dua anak manusia yang kini berada di hadapannya.


"Baiklah, kau segera pulanglah!" ucap Alina ketus.


Entah kenapa semenjak Bagaskara menghembuskan buhul-buhul cintanya, lewat mantra-mantra yang di amalkannya membuat Alina mudah marah, murung dan cemburu jika Bagaskara bersama dengan yang lainnya. Sangat sulit bagi Alina mengontrol emosinya. Energi negatif atau aura mistis tersebut semakin merasuk dalam hati dan pikirannya. Padahal sebelumnya, Alina terkenal sangat lembut dan penuh kesantunan. Dan anehnya, jika tidak melihat Bagaskara ia di dera rindu setengah mati yang seolah-olah menyiksa jiwanya.


Maharani segera pulang setelah menyalami Alina dan juga Bagaskara yang ia anggap sebagai gurunya, walaupun ia harus menahan dirinya agar jangan sampai membongkar rahasianya bersama Bagaskara terhadap siapapun.

__ADS_1


Setelah Maharani hilang dari pandangan mereka, Alina menginterogasi Bagaskara Ardhana Putra dengan tatapan yang penuh dengan intimidasi.


"Mas Bagas, kenapa kau masih betah berduaan dengan Maharani? apa yang kalian lakukan berdua? para santri yang lainnya sudah pulang, sedangkan Tante Larasati tidak ada di rumah?" ucap Alina dengan tatapan mengintimidasinya terhadap Bagaskara Ardhana Putra.


"Sayang, dengarkan Mas! Mas dan Maharani hanya sebatas guru dan murid, ia mengaji di urutan terakhir sebelum dirimu datang," ucap Bagaskara dengan berlutut di hadapan kekasihnya tersebut. Di genggamnya jemari tangan Alina membuat tubuh Alina terasa melayang ke puncak nirwana yang menenggelamkannya pada cinta terlarang antara keduanya yang kini masih terjalin meski sempat untuk mereka mengakhiri ikatan cinta di antara mereka. Namun, karena hembusan buhul-buhul cinta lewat ajian pengasihan yang dihembuskan oleh Bagaskara terhadap Alina membuat Alina batal memutuskan hubungan dengan Bagaskara Ardhana Putra.


Ketika memandang wajah dan manik mata Bagaskara Ardhana Putra, Alina kembali terlihat lemah. Perasaannya tiba-tiba berubah penuh cinta terhadap Bagaskara.


"Mas, kau terlihat sangat menarik sekali!" ucap Alina tiba-tiba.


Bagaskara duduk di kursi sofa, tempat di mana kekasih hatinya tersebut duduk. Ia pun merapatkan dirinya agar lebih dekat dengan adik sepupu yang sangat digandrunginya itu.


"Alina, tatap mata Mas!" Alina yang sedang terhipnotis oleh pesona Bagaskara pun seketika menuruti keinginan Bagaskara. Hingga manik mata keduanya pun saling bertemu pandang.


Bagaskara ingin memberikan sentuhan hangat di bibir manis milik Alina, namun entah kenapa menatap wajah ayu nan teduh tersebut membuat Bagaskara mengurungkan niatnya. Ia pun mengikis jarak di antara mereka. Bagaskara benar-benar tidak ingin menodai kesucian wanita yang sangat dicintainya itu. "Maafkan Mas, Alina!" ucap Bagaskara sehingga Alina tersadar dari keterpanaannya.


"Maaf untuk apa, Mas?" tanya Alina yang baru tersadar dari pengaruh aura negatif yang di hembuskan oleh Bagaskara padanya diluar kesadarannya.


"Maaf untuk segalanya, maaf jika Mas tanpa sadar telah menyakiti mu! Mas sangat mencintai mu!" ucap Bagaskara dengan mengusap lembut pucuk kepala Alina yang terhalang hijab.


Alina menampakkan senyuman indah yang menghiasi wajahnya, membuat Bagaskara terpukau akan kecantikan alami adik sepupu yang sangat dicintai olehnya itu.


"Kenapa menatap ku seperti itu, Mas? lebih baik makan bubur kacang ijo buatan ibu ku. Rasanya enak dan manis sekali seperti diriku!" ucap Alina menyelipkan sedikit candaan pada Abang sepupunya itu.


"Kau memang manis Alina lebih manis dari gula atau pun bubur itu!" ucap Bagaskara dengan menoel hidung Alina dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Dasar gombal! lebih baik makan bubur ini mumpung masih hangat. Eh, sebentar aku ambilkan dulu mangkok dan sendoknya. Jangan dihabiskan, sisihkan untuk Tante Larasati juga."


Alina pun berjalan menuju dapur untuk mengambilkan mangkok dan sendok makan special untuk Bagaskara kekasihnya.


Tanpa sepengetahuan Alina, Bagaskara pun mengikutinya dari belakang.


"Alina, Mas sangat mencintai mu! jangan pernah tinggalkan Mas, tetaplah menjadi kekasih hati ku dan belahan jiwa ku, walau apapun yang terjadi!" pungkas Bagas dengan merengkuh tubuh mungil Alina dengan penuh rasa cinta.


"Mas, kau! kenapa seperti ini? malu jika dilihat orang, bagaimana jika tiba-tiba Tante Laras pulang dan memergoki kita sedang bermesraan seperti ini?" tanya Alina dengan rasa gugupnya ketika tiba-tiba mendapat perlakuan manis dari Bagaskara Ardhana Putra sepupunya.


"Tidak akan ada yang mengetahuinya sayang, kau tenanglah!" Bagaskara meletakkan dagunya di bahu Alina.


"Ia, tapi lepas dulu! bagaimana Alina mengambil sendok dan mangkoknya, jika direngkuh seperti ini?" ucap Alina dengan menolehkan wajahnya yang hampir bersentuhan dengan Bagaskara.


"Iya, iya gadis ku!" ucap Bagaskara dengan melepaskan rengkuhannya dari pinggang Alina yang begitu sangat menggemaskan dalam pandangannya.


Keduanya pun kembali ke ruang tamu sambil menikmati bubur kacang ijo buatan ibu Chintya, ibunya Alina.


"Aammm ... buka mulutnya!" ucap Bagaskara hendak menyuapi Alina sang pujaan hatinya.


Keduanya tidak menyadari jika kebersamaan diantara mereka di dengar dan dilihat langsung oleh sepasang mata dibalik tembok jendela dengan mengendap-endap dari sejak mula Bagaskara dan Alina saling bercumbu rayu.


"Bukankah kak Alina adik sepupunya kak Bagas? mengapa keduanya bersikap seperti sepasang kekasih? benar-benar ada yang tidak beres di antara mereka dua. Mengapa semuanya seolah penuh dengan misteri?" ucap wanita tersebut dengan air mata yang tiba-tiba telah menganak sungai membanjiri pipi mulusnya. Ia benar-benar merasa sangat kecewa dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya. Kedekatan Bagaskara dan Alina seolah-olah menoreh luka di hatinya yang paling dalam. Ia pun pergi dari hadapan kedua anak manusia tersebut membawa rasa perih mengguris jiwanya yang seakan terjebak dalam lingkaran asmara yang menyesatkan yang tak tau kemana arah dirinya menuju.


"Kak Bagas aku benci pada mu! kau telah merusak hati dan jiwa ku, juga masa depan ku!" bathin Maharani dengan isak tangisnya, ketika melihat kemesraan Bagaskara dan Alina Cahya Kirani di balik tembok jendela.

__ADS_1


__ADS_2