
Waktu semakin berlalu dengan begitu cepatnya, hari ini hakim telah mengetuk palu. Queensha Putri yang didampingi oleh kedua orang tuanya pun akhirnya telah resmi bercerai dengan Bagaskara Ardhana Putra. Tampak senyum bahagia terbit menghiasi dua lesung pipinya.
''Selamat ya Nak, akhirnya kau pun telah resmi bercerai dengan laki-laki bejat itu. Maafkan papa dan mama sebab telah menjerumuskan mu hingga hidup bersama laki-laki tak bermoral itu, untung saja kau tidak memiliki keturunan dengannya selama 4 tahun pernikahan kalian. Kalau tidak mama akan stress berat melihat cucu mama yang terlahir dari benih yang kejam!'' sungut mama Shinta dengan terus mengumpat Bagaskara sepuasnya, meluahkan segala emosinya yang terpendam selama ini oleh sebab kekejian Bagaskara yang terus-menerus menyiksa Putri anaknya selama 4 tahun pernikahan mereka.
''Mama berharap, laki-laki bejat itu kena karmanya. Ia mati mengenaskan dan tidak diterima bumi!'' sumpah serapah mama Shinta yang dilayangkan pada Bagaskara Ardhana Putra, laki-laki yang telah menghancurkan masa depan Queensha Putri anaknya.
''Mama, biarkan Allah jua yang membalas semua perbuatan bejatnya. Allah maha melihat segala hal yang ada di atas muka bumi ini baik yang nyata ataupun yang tersembunyi. Bisa bercerai dengannya sudah cukup bagi Putri Ma,'' ucap Putri dengan meneteskan air mata bahagianya.
Putri merasa sangat senang karena bisa lepas dari sangkar emas Bagaskara Ardhana Putra terhadapnya, yang sejak bertahun-tahun mengukungnya dalam ikatan cinta yang tak wajar.
Mama Laras yang mewakili sidang perceraian antara Bagaskara anaknya dan Queensha Putri Fayanna pun menghampiri Putri dan keluarganya untuk minta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Bagaskara anaknya selama ini, hingga Putri sampai menggugat cerai anaknya yang memang telah melakukan kesalahan yang fatal.
''Maafkan kesalahan putra saya jeng Shinta, saya merasa sangat malu atas perbuatannya yang tidak bermoral itu.'' Larasati nampak minta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan oleh putranya terhadap Putri yang pernah menjadi menantunya.
''Aku tidak semudah itu memaafkan anakmu jeng Laras, selama ini Putri begitu tersiksa menikah dengan anakmu yang kukira dia adalah laki-laki sholeh. Namun, ternyata jauh api daripada panggang. Anak ku begitu merasa tersiksa dan sangat menderita lahir dan batinnya semenjak menikah dengan anakmu. Bukan hanya itu saja, putra mu pun setelah mengamalkan ilmu syirik yang menyesatkan dengan mengatasnamakan anakku ketika dirinya sedang melakukan hubungan suami istri yang ia khayalkan adalah Alina sepupunya. Itu namanya gila dan sangat tipis imannya atau sama sekali tidak beriman!'' pungkas Mama Shinta dengan nada berangnya.
Mama Shinta benar-benar marah mengingat perbuatan keji yang dilakukan oleh Bagaskara terhadap putrinya.
Larasati dampak menundukkan wajahnya, ia merasa sangat malu atas kelakuan bejat anaknya, hingga sampai menikah pun ia masih terus menghantui Alina dengan ilmu sihirnya.
__ADS_1
''Ayo kita pergi, Nak! urusan kita telah selesai, kau berhak bahagia dan meneruskan hidupmu dengan penuh warna tanpa ada yang mengekang mu lagi.'' Mama Shinta merangkul pundak putrinya dan memimpin tangannya untuk segera pergi dari hadapan mama Laras.
Putri pun mengikuti jejak langkah mamanya menuju keluar area gedung persidangan. Ia pun sudah sangat kecewa terhadap keluarga Bagaskara, termasuk terhadap mertuanya yang selama ini telah menutupi kebejatan anaknya sehingga Putri menjadi korbannya dan harus menikah dengan Bagaskara yang notabenenya adalah laki-laki bejat dan tak bermoral.
''Laras, maafkan atas ketidakpedulian anak dan istriku. Mereka sudah terlanjur sakit hati dan kecewa jika mengingat semua kenangan yang buruk yang telah dilakukan oleh anakmu terhadap putri kami. Dan sekarang kami merasa lega, akhirnya Queensha Putri bisa lepas dari jerat putramu yang sangat tidak bertanggung jawab itu.'' Papa Rama pun berlalu pergi dari hadapan Larasati setelah mengeluarkan segala unek-unek yang terpendam di hatinya dalam bahasa yang halus akan tetapi penuh dengan penekanan dan peringatan yang tak akan bisa terlupakan dalam hati seseorang yang mendengarnya.
Larasati semakin tertunduk malu mendengar ocehan demi ocehan dari keluarga Queensha Putri yang ditujukan pada Bagaskara anaknya.
Tiga kali persidangan Bagaskara memang tidak menghadiri sidang perceraian tersebut, ia lebih memilih duduk manis di rumah ketimbang memikirkan hal-hal yang membuat waktunya terbuang sia-sia menurutnya. Hingga akhirnya mama Laras lah yang menghadiri sidang perceraian tersebut sampai selesai dan berakhir dengan ketukan palu jika kedua insan yang pernah merajut janji suci itu memang benar-benar sudah bercerai dan tidak berstatus suami istri lagi.
Larasati segera menunggu angkutan umum untuk pulang menuju kediamannya. Ia tidak tahan lagi ingin memarahi anaknya dan mengumpatnya habis-habisan lantaran telah membuat malu nama keluarga dan tidak bertaubat dari perbuatan keji dan musyriknya.
Seisi alam seolah merestui do'anya, lantaran sudah tidak tahan lagi akan kebejatan pemuda tersebut yang tidak pernah berhenti berbuat keji dan mungkar menyekutukan Allah dalam hal peribadatannya.
***
''Jedarrrrr!'' bunyi kilatan petir menyambar di siang bolong, ketika mendengar doa yang teruntai dari lisan seorang ibu yang sudah tidak sanggup lagi menahan kepedihan dan luka di hatinya oleh sebab perbuatan anaknya yang berkali-kali menyakiti hati dan mempermalukannya.
Bagaskara yang sedang duduk santai mengopi di bawah pohon rambutan yang ada dibelakang rumahnya pun seketika terperanjat, dirinya merasa seolah-olah petir hendak menyambar wajahnya akan tetapi ia masih bisa menghindar.
__ADS_1
''Hemmm, ada kilatan petir di siang bolong, ada apa gerangan? tidak ada angin tidak ada hujan,'' kelu Bagaskara dengan menyugar rambutnya.
Bagaskara seolah menentang badai, ia sama sekali tidak mengetahui jika semesta sudah muak menyaksikan segala kemusyrikan yang telah diperbuat olehnya yang seolah begitu bangga atas segala dosa-dosa yang diperbuatnya.
Hujan pun turun dengan derasnya seolah-seolah memberikan peringatan besar padanya agar segera bertaubat dari segala keingkarannya. Bagaskara pun berlari masuk ke dalam rumahnya dan menutup rapat pintu dan jendela rumahnya.
''Gila, hujannya begitu deras di sertai angin ****** juga kilatan petir yang menyambar-nyambar. Pertanda apakah ini?'' Bagaskara bersembunyi di balik selimutnya.
''Mama kemana sih? lama sekali pulangnya, sudah ku katakan tak perlulah ia menghadiri acara persidangan perceraian itu, kalau sudah cerai ya cerai saja. Begitu saja kok repot,'' oceh Bagaskara di dalam keheningannya.
''Awww, dadaku mengapa sesak sekali. Seolah-olah ada yang menarik ulur jantung hatiku.''
Bagaskara bangkit dari selimutnya dan berusaha untuk memusatkan konsentrasinya dengan komat-kamit membaca mantra saktinya untuk mengobati rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya.
''Berdebah! kekuatan apa yang telah menyerang ku?'' Bagaskara terus melafalkan mantra-mantra yang bertentangan dengan syari'at. Tak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk bertobat pada Rabb-nya atas segala dosa-dosa yang telah berbuatnya.
''Bagaskara Ardhana Putra hentikan perbuatan kejimu, Nak! antara adzab dan perceraian kini telah mengerubungimu. Bertaubatlah sebelum semuanya terlambat dan kau pun telah terbujur kaku menjadi mayat!'' pekik mama Laras yang baru saja pulang dari menghadiri acara persidangan perceraian Bagaskara Ardhana Putra dan Queensha Putri Fayanna yang dulu pernah menjadi menantunya, namun kini ikatan tersebut terlerai sudah setelah hakim mengetuk palu bahwa perceraian tersebut telah sah di kaca mata hukum dan agama.
Tak ada lagi harapan dari ibu paruh baya itu, ia benar-benar kecewa dengan sikap puteranya yang sudah di luar batas wajarnya.
__ADS_1