Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 102. Berobat Kampung vs Berobat Kota


__ADS_3

Alina mengelus benda pipihnya, ia menghubungi ustadz Habib yang pernah meruqyahnya 5 tahun yang lalu.


📲"Assalamu'alaikum, Ustadz. Saya Alina Cahya Kirani, yang dulu pernah ruqyah dengan Ustadz Habib. Begini ustadz, saya hendak melakukan terapi ruqyah lagi. Apakah ustadz Habib memiliki waktu luang untuk terapi? terima kasih."


Pesan singkat yang di kirimkan oleh Alina pada ustadz tersebut. Lima belas menit kemudian, Alina pun menerima balasan dari ustadz yang ia harapkan bisa untuk mengulangi kembali terapi ruqyahnya yang masih belum tuntas, sebab setelah dua kali terapi 5 tahun yang lalu, Alina tidak pernah lagi melanjutkan terapi tersebut. Sebab, Alina merasa lebih baik ketika itu. Ia sama sekali tidak menyadari jika makhluk tak kasat mata tersebut begitu betah bersarang di tubuhnya.


📲 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi, mohon maaf sebelumnya untuk empat puluh hari kedepan saya belum bisa untuk terapi ruqyah para pasien saya. Sebab, saya sedang khuruj fisabilillah selama empat empat puluh hari. Akan tetapi, saya mempunyai seorang teman Ikhwan ( laki-laki) yang juga biasa terapi ruqyah. Silahkan hubungi beliau, sampaikan jika ini adalah arahan dari saya, Ustadz Habib. Terimakasih!"


Ustadz Habib pun mengirimkan nomor ponsel sahabatnya, ustadz Sabri Abu Ja'far.


Alina pun segera menghubungi ustadz Sabri, tidak butuh waktu lama ustadz Sabri pun segera membalas pesan Alina dan melakukan konfirmasi kapan jadwal terapi untuk Alina.


Kesepakatan telah di buat, Alina akan terapi ruqyah besok pagi di klink terapi milik ustadz Sabri di jalan xx. Ia pun segera menghubungi kakaknya Andara.


"Assalamu'alaikum, kak Andara. Besok pagi Alina bisa minta tolong kakak nggak? Ini penting, aku ingin terapi ruqyah lagi kak." Alina nampak serius untuk segera terapi, setelah sekian lama tidak melanjutkan lagi terapinya yang dulu sempat tertunda.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, insya Allah bisa Dek. Besok pagi kakak dan kak Dimas yang temani, Nadeera kecil pun juga ikut." Andara nampak senang. Sebab, Akhirnya Alina ingin kembali terapi untuk menyembuhkan penyakit non medis yang derita olehnya.


Alina nampak bersemangat, karena ada kakaknya yang selalu mensupport-nya. Setidaknya, dirinya bisa mempunyai harapan untuk sembuh walaupun harus melewati beberapa kali proses terapi mengingat penyakit yang di deritanya telah mendarah daging di tubuhnya.

__ADS_1


Alina menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia merasakan sangat kesepian, semua kaum Adam yang pernah dekat dengannya kini satu pun satu-persatu telah meninggalkannya.


Entah kenapa, Alina tiba-tiba gamang dengan perasaannya sendiri. Ketika semuanya pergi, Alina merasa sangat kehilangan.


"Kak Gun, kenapa aku merasa sangat kehilangan ketika dirimu hendak menikah, padahal sebelumnya aku begitu membencimu ketika kau berulang kali ingin melamarku? sebenarnya apa yang terjadi padaku? sepertinya kejiwaanku memang benar-benar terganggu, aku harus bisa lepas dan sembuh dari rasa sakitku." Alina terus bermonolog di dalam hatinya. Ia pun terlelap dalam tidurnya setelah begitu banyak memikirkan segala kerumitan hidup yang menderanya.


***


Keesokan harinya matahari tampak terbit di ufuk timur, Alina pun beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini, hari di mana ia akan mengulangi kembali terapi ruqyah yang dulu sempat tertunda. Ia segera mempersiapkan dirinya sambil menunggu kedatangan kakaknya Andara Albiyah Finzani dan iparnya Dimas Sidqi Amrullah untuk menemaninya terapi ruqyah di klinik terapi ustadz Sabri.


"Mau kemana, Nak? pagi-pagi sudah terlihat rapi?" tanya Ibu Chintya sambil menata sarapan pagi di atas meja.


"Maa syaa Allah, nanti ibu ikut nak! sekalian menjaga cucu ibu Nadeera, ibu juga ingin mengetahui terapi ruqyah mu selanjutnya sebab dahulu belum terlihat jelas siapa laki-laki yang telah berani-beraninya mengguna-gunaimu," sela Ibu Chintya, yang selama ini tidak tahu jika Bagaskara keponakannya yang telah mengirimkan sihir dan guna-guna pada Alina anaknya.


Alina dan kakaknya Andara, juga kakak iparnya Dimas sengaja menyembunyikan itu semua. Demi menjaga keharmonisan keluarga mereka, apalagi ibu Bagaskara dan ibu Alina adalah saudara kandung. Jadi, sebisa mungkin mereka menutupi aib tersebut dari kedua orang tua Alina. Namun, untuk sekali ini Alina sengaja ingin memberitahukan kepada orang tuanya jika yang telah menyakitinya secara tak kasat mata adalah Bagaskara Ardhana Putra sepupunya.


Alina benar-benar kecewa atas sikap Bagaskara yang tiada henti-hentinya menyakitinya. Jadi, untuk sekali ini, dia sengaja ingin ibunya mengetahui akan hal itu, agar tidak ada lagi hal yang mengganjal dalam keluarga mereka.


"Boleh Bu, kalau ayah mau ikut juga boleh!" ucap Alina dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Ikut kemana, Nak?" tanya ayah Farel yang baru saja keluar dari kamarnya, ia hendak sarapan pagi sebelum pergi ke perkebunan miliknya. Mengawasi para pekerjanya.


"Ikut menemani Alina terapi, Yah. Apa Ayah mau ikut?" tanya Ibu Chintya.


"Ayah tidak bisa ikut Bu, sebenarnya jika Alina ingin berobat kampung juga bisa Bu, tidak usah di terapi juga. Buktinya terapi 5 tahun yang lalu Alina sampai hari ini tidak sembuh-sembuh, justru penyakitnya masih terus melekat di badannya. Kenapa tidak berobat pada kakek Ammar saja. Ia kan sejak dulu mengobati orang sakit dengan ilmu yang dimilikinya. Banyak orang dari berbagai daerah datang ke tempatnya, bukankah dari sejak dulu jika ada hal-hal yang mistis kita berobatnya ke orang pintar atau dukun, tidak ada yang namanya terapi ruqyah dengan ustadz dan sejenisnya," sela Ayah Farel yang juga memiliki ilmu tentang pengobatan perdukunan peninggalan orang tuanya. Akan tetapi, Alina selalu bersikeras untuk menolak jika ayahnya ingin mengobatinya.


Alina merasa sangat bertentangan dengan hatinya, sebab pengobatan gangguan mistis yang di terapkan oleh orang tuanya dan juga dukun yang bernama Kakek Ammar menggunakan jeruk nipis yang dicelupkan dengan air putih di dalamnya sebagai proses pengobatan, diminum dan diusapkan pada ubun-ubun sebagai proses penyembuhan. Selain itu, juga sering menggunakan telur ayam kampung, bawang putih dan bawang merah juga garam sebagai pengobatan hal-hal yang mistis setelah dibacakan mantra-mantra pengusir syeitan dan tidak jarang pula menggunakan jimat sebagai pelindung diri dan masih banyak lagi cara yang lain yang bertentangan dengan syariat yang tidak disukai Alina.


"Maaf ayah, Alina menyukai pengobatan terapi ruqyah yang syar'iyyah berdasarkan bacaan ayat-ayat Qur'an yang murni sebagaimana yang telah dituntunkan oleh nabi besar kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam," terang Alina tanpa keraguan di hatinya.


Bukan ia tidak menghormati dan tidak menuruti kehendak orang tuanya akan tetapi, Alina mempelajari tentang ilmu syar'i, jika berobat ke dukun atau orang pintar itu bertentangan dengan syariat dan tidak diridhai Allah. Selain itu, hal tersebut termasuk ke dalam perbuatan syirik atau menyekutukan Allah subhanahu wa ta'ala zat yang maha segalanya di atas segalanya.


Pak Farel mengernyitkan dahinya, dia sangat paham dengan kepribadian Alina anaknya, meski ia tidak menyukai cara pengobatan yang Alina tempuhi pak Farel pun akhirnya mengalah.


"Ya sudah, jika itu memang pilihanmu silakan mau berobat kota, ayah tetap dengan pendirian ayah berobat kampung itu lebih baik. Jadi, berobat kampung vs berobat kota itu adalah pilihan masing-masing," ucap Pak Farel dengan menyebutkan berobat ruqyah yang Alina tempuhi dengan menamainya berobat kota.


"Terima kasih ayah, sudah memberikan kebebasan pada Alina memilih." Alina tampak menahan senyumnya ketika mendengar ucapan ayahnya yang sangat mengelitik hatinya.


"Ayah ada-ada saja menyamai pengobatan ruqyah dan orang pintar dengan menamainya berobat kampung vs berobat kota," batin Alina sambil mengunyah sarapan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2