
Bagaskara dengan langkah terburu-buru menuju bilik kamarnya, ia tetap menjalankan ibadah shalat 5 waktunya. Akan tetapi ia mencampur adukkan antara kebathilan dan kebenaran. Sehingga membuatnya terus berada dalam kesesatan dan tipu daya syaitan yang semakin menenggelamkannya dalam jurang terjal yang teramat dalam, hingga membuat segala amal kebajikan yang ia lakukan terbuang sia-sia, terbakar hangus oleh kemusyrikan yang dilakukan olehnya. Sehingga yang ia dapatkan bukan pahala melainkan dosa yang dengan perlahan membakar jiwanya.
Bagaskara terus komat-kamit membaca mantra pelindung untuk membentengi dirinya dari segala kejahatan yang sewaktu-waktu dapat menyerangnya.
Di hembuskannya ajian pembenteng diri tersebut keseluruh tubuhnya, hingga hembusan angin pun bertiup halus memasuki celah kamarnya. Kekuatan energi negatif pun perlahan merasuki tubuhnya, Bagaskara merasakan makhluk tak kasat mata yang berasal dari Jin atau sejenis makhluk jahat, kini telah membentengi dirinya. Hingga membuat tubuhnya terasa lebih kuat dan kebal dari serangan kekuatan dari luar yang hendak menyerangnya.
"Ha ... ha ... ha, aku merasa tubuh ku memiliki penyangga yang kokoh, aku Bagaskara Ardhana Putra kini telah memiliki ilmu pembenteng diri yang sangat luar biasa, semua orang pasti akan bertekuk lutut pada ku! terutama kaum wanita, mereka akan terpukau pada ketampanan ku. Desa ini akan ku kuasai sepenuhnya. Aku akan menjadi sosok pemimpin yang kuat. Aku akan selalu menghiasi penampilan ku menjadi orang yang suci. Aku akan menjelma menjadi guru mengaji atau Ustadz, agar semua orang merasa segan dan menaruh rasa hormat pada ku!" bathin Bagaskara dengan seringai liciknya.
Bola mata Bagaskara merah menyala seperti bola mata iblis dan syetan, yang kini menguasai raganya. Ia melebarkan tawa selebar-lebarnya di tengah hembusan angin yang meliuk-liuk mengelilingi sekitaran rumahnya yang seolah-olah terpagar ketat oleh makhluk gaib yang menjadi penjaga disekelilingnya, hingga nampaklah aura mistis dari rumah kediaman mendiang Arya Arnenda tersebut.
Bagaskara terus menjalankan ritualnya, dan kembali memusatkan perhatiannya pada mantra-mantra yang telah dipelajarinya luar kepala. Waktu pun telah menunjukkan pukul dua belas malam. Detik jarum jam pun berdenting mengisyaratkan bahwa ritual di malam Jum'at Kliwon yang di lakukan oleh Bagaskara kini telah mencapai puncaknya. Ia menghadapkan wajahnya ke dalam pantulan cermin, aura wajahnya berubah sangat menyeramkan dengan bola mata yang terlihat merah menyala.
"Alina Cahya Kirani, hadirlah dalam sukma ku! ragamu hanyalah milik ku!" Bagaskara terus menguji keampuhan ilmunya tersebut pada sosok wanita yang sangat dicintainya. Entah mantra apa yang dihembuskan oleh Bagaskara, hingga Alina pun terbangun di tengah malam, ia merasakan sukmanya terpanggil oleh bisikan gaib di telinganya.
"Astaghfirullah! Mas Bagas, Alina sangat merindukan Mas!" ucap Alina dengan memeluk erat tubuhnya sendiri. Ia merasa tubuhnya seperti ada yang merengkuh dan menggerayanginya. Hingga membuat keinginan hawa nafsunya tiba-tiba memuncak.
"Apa yang terjadi pada ku!" bathin Alina dengan menguasai biduk hawa nafsunya. Alina merasa ia seolah-olah menikmati manisnya bercinta dengan sosok Bagaskara Ardhana Putra dalam ilusinya.
"Mas Bagas!" Alina membuka pintu kamarnya dan dituntun berjalan untuk melangkahkan kakinya menuju rumah Bagaskara.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku?" Alina langsung menuju sumur dan mengambil air wudhu di sumur tua di belakang rumahnya. Alina berusaha untuk mengontrol dirinya. Dengan tetesan air wudhu itu, ia merasakan ketenangan. Hawa dingin tiba-tiba menyergapi seluruh tubuhnya, Alina pun terus melawan energi negatif yang terus menyerangnya. Ia hamparkan sajadahnya dengan bermunajat pada Rabb-Nya dengan tubuh yang bergetar hebat, Alina merintih dan mengadu pada Rabb-Nya atas segala gejolak bathin yang menyerangnya. Ia nampak menikmati sholat malamnya bersujud dan mengadu pada Rabb-Nya atas segala keluh kesahnya.
Alina yang masih polos tentang hal-hal mistis dan juga hal-hal yang berkaitan dengan gejolak nafsu orang dewasa pun benar-benar di buat bingung dengan keinginan hawa nafsunya yang tiba-tiba memuncak.
__ADS_1
Tubuh Alina terasa panas dingin dan mengeluarkan buliran keringat yang sangat banyak, seperti ada sesuatu yang keluar lewat tetesan keringatnya.
Alina melanjutkan mendawamkan kitab suci Al-Qur'an, tanpa sadar ia pun mendaras Qur'an dengan merdunya hingga sampai 3 juz surah Al Baqarah, barulah ia merasa tenang dan nyaman.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? akhir-akhir ini aku selalu merasakan keanehan dalam diri ku, seolah-olah ada hal mistis yang menyerang ku? apa ini hanya perasaan ku saja?" bathin Alina yang merasakan hawa panas dingin yang menyerangnya kini tiba-tiba mulai berkurang. Ia pun bersandar di tempat tidurnya telah selesai melawan kekuatan energi negatif ditubuhnya.
"Mas Bagas adalah pemuda yang sholih, ia tidak mungkin menyerang ku dengan energi negatif? bukankah ia menyayangi ku? ia juga sepupu ku dan juga masih menjadi pacar ku, tidak mungkin ia menjahati ku?" bathin Alina dengan membacakan do'a-do'a pelindung diri dari segala macam bentuk kejahatan, dari golongan jin dan manusia, yang memang selalu rutin di dawamkan olehnya.
Alina yang masih polos dan selalu berpikir positif sama sekali tidak terpikir dalam benaknya jika ada orang-orang di sekelilingnya hendak menyakiti atau pun mendzoliminya.
Akan tetapi satu hal ilmu yang belum di pahaminya, jika pacaran itu tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam. Alina masih mengalami itu bersama lemah dan polosnya jiwanya.
"Aku benar-benar tidak bisa tidur setelah mengalami tragedi aneh barusan yang sedang ku alami!" bathin Alina dengan berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak bisa tidur, tragedi dimalam Jum'at Kliwon tersebut menyisakan tanda tanya di hati dan pikiran Alina.
"Maa syaa Allah, Kak Muzzaki? 17 kali panggilan tak terjawab? Aku benar-benar tidak mengetahuinya, sebab semalam setelah pulang dari rumah Mas Bagas aku sempat menunaikan ibadah shalat Isya, namun setelah itu aku terlelap!" bathin Alina sambil memikirkan kembali peristiwa-peristiwa aneh yang sempat di alaminya. Namun, ia tidak ingin terlalu mengingat-ingat hal mistis yang di alaminya dari sejak semalam hingga detik ini. Ia lebih memikirkan hal-hal yang positif ketimbang terus memikirkan hal-hal yang negatif yang dapat merusak kebeningan hati dan pikirannya.
"Hemmm, ada pesan masuk juga?" Alina menyentuh benda pipihnya itu dan perlahan membaca pesan masuk di ponselnya tersebut.
📲 "Assalamu'alaikum, Alina Cahya Kirani. Kakak sudah sampai di ibukota Jakarta dan besok insyaAllah sudah mulai magang. Jaga dirimu baik-baik, jangan banyak pikiran dan jangan lupa sholat!" by Muzzaki Ansori.
"Ya Allah, kak Muzzaki masih sempat mengabari ku berapa jam yang lalu. Sedangkan aku sibuk dengan urusan ku sendiri dan hampir melupakannya. Apa aku telfon saja, agar ia tidak terus mengkhawatirkan ku?" bathin Alina dengan mencoba menelfon Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.
Telfon tersebut pun tersambung, "Assalamu'alaikum, Alina. Apa kabar mu? kenapa semalam telfon kakak tidak di angkat? apa yang terjadi pada mu?" tanya Ansori dengan perasaan khawatir yang mewarnai dirinya terhadap sosok Alina, gadis ayu yang telah berhasil mencuri hatinya.
__ADS_1
Sepanjang usia Ansori yang ke 21 tahun, baru sekali ini Ansori memberanikan diri untuk memiliki teman istimewa dari kaum wanita. Sebelumnya, ia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun selain Alina Cahya Kirani.
"Maaf, Kak. Semalam Alina ketiduran," kilah Alina memberi alasan. Ia tidak ingin menceritakan tragedi aneh yang menimpanya berapa jam yang lalu.
"Oh, iya tidak apa-apa. Tubuh dan pikiran pun punya hak untuk istirahat, kakak senang mendengar dirimu baik-baik saja. Apa kau sudah sholat Tahajjud?" tanya Muzzaki Ansori.
"Alhamdulillah, sudah Kak. Maaf, menganggu kakak."
"Tidak apa-apa, Alina. Kakak dari sejak semalam memikirkan mu, khawatir terjadi apa-apa dengan mu."
"Terima kasih, Kak An!" Alina menganti panggilan Muzzaki Ansori menjadi panggilan kak An saja, terkesan ringan untuk di lisankannya.
"Kalau begitu, mari kita sama-sama menanti datangnya sholat shubuh. Kakak mau itikaf di Mesjid dulu yang tak jauh dari apartemen kakak!" ucap Muzzaki dengan mengakhiri percakapannya.
Alina pun mengikuti arahan Ansori, ia pun mengakhiri percakapan dengan mengucapkan salam.
"Baru pukul 03.30 wib, cepat sekali kak Ansori pergi ke Mesjid? benar-benar sosok pemuda yang sholih," pikir Alina Cahya Kirani. Ia pun kembali mendawamkan do'a-do'a di dalam buku dzikir dan do'a yang rutin di amalkan olehnya di setiap harinya.
***
Di kediaman Bagaskara Ardhana Putra.
Mama Larasati menangis sesenggukan setelah mengetahui jika putra kesayangannya telah mengamalkan ilmu hitam peninggalan suaminya Arya Arnenda.
__ADS_1
"Bagaskara, kenapa kau lakukan ini semua, Nak? jika mama tahu akan begini akhirnya, buku catatan hitam itu lebih baik mama musnahkan dari muka bumi ini. Kakak dan adik mu tidak ada satu pun yang berniat mengamalkan ilmu peninggalan mendiang ayah mu. Namun, kau berani-berani sekali menyeret dirimu sendiri untuk tercebur dalam lingkaran syaitan itu!" bathin Mama Laras dengan isak tangisnya, mengenang nasib putranya yang kini telah jatuh dalam kemusyrikan yang teramat dalam.