Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 111. Tunggu Masa Iddah


__ADS_3

''Alhamdulillah, sudah Kak. Aku merasa senang, akhirnya aku bisa bercerai dengan laki-laki yang telah menghancurkan masa depan hidupku. Aku bisa bernafas lega dan bisa menikmati hari-hariku.'' Putri nampak tersenyum ceria dari seberang telfon hingga membuat papa Rama dan Mama Shinta saling melemparkan pandangannya untuk menggoda anaknya.


''Hemmm, yang sudah menemukan tambatan hati yang baru kenalkan dong dengan papa dan mama calon barunya,'' ujar Mama Shinta dengan menggoda Putri anaknya.


''InsyaAllah, tunggu masa iddah Ma, Pa. Nanti akan Putri kenalkan, Papa dan Mama pasti tahu siapa orangnya.'' Putri tampak menerbitkan senyumnya.


''Kita tunggu kabar selanjutnya!'' Papa Rama dan Mama Shinta ikut tersenyum bahagia melihat putrinya kini kembali bersemangat lagi. Dan masih ingin menjalani hubungan dengan pria lain meskipun ia sudah gagal satu kali dalam membina rumah tangganya.


''Siappp, Ma, Pa ... terima kasih atas support mama dan papa,'' ucap Putri tanpa menutupi lagi hubungan yang telah ia jalin dengan Reno beberapa pekan terakhir ini yang selalu setia menemani setiap yang membutuhkan bantuan dan arahan mengenai hubungannya dengan Bagaskara yang telah di ujung tanduk.


Reno selalu memberi support yang baik padanya sehingga Putri memiliki rasa percaya diri setelah dirinya sempat disakiti oleh pria yang pernah menjadi mantan suaminya.


Reno yang mendengarkan percakapan Putri dan kedua orang tuanya dari seberang telepon pun ikut merasa senang dan bahagia. Hatinya terasa berbunga-bunga sebab kedua orang tua putri restui hubungan mereka berdua meskipun kedua orang tuanya belum tahu jika Putri menjalani hubungan dengan Reno teman yang masih teman akrab dan satu desa dengannya.


''Hemmm, yang sedang asyik berbincang-bincang dengan ortunya, kakak siap deh jadi pendengar setia.'' Reno menjadi seorang yang paling pertama kali mendengarkan apa pun yang dapat mengukir senyum bahagia di wajah wanita yang kini telah bertahta di hatinya.


Reno mencoba untuk move on dari rasa cintanya terhadap Alina Cahya Kirani yang kerap kali bertepuk sebelah tangan. Dan sekarang dirinya lebih memilih menjalin hubungan dengan wanita yang telah jelas dan nyata mencintai dan menerimanya apa adanya ketimbang terus menunggu Alina yang tidak pernah memberikan kepastian padanya selama 5 tahun ia bertahan menunggu Alina untuk menerima dirinya menjadi sosok yang berharga dalam kehidupan wanita tersebut akan tetapi penolakan yang dilakukan oleh Alina terhadapnya berulang kali sudah menjadi sebuah kejelasan jika Alina tidak pernah menganggap ia ada. Sehingga kini Reno lebih memilih membangun hubungan dengan Queensha Putri meskipun berstatus janda.

__ADS_1


''Hemm, jadi benar nich ... tunggu masa iddah dulu untuk halal,'' goda Reno membuat pipi Queensha Putri semakin merona.


''InsyaAllah, Kak.'' Wajah Putri semakin bersemu oleh sebab godaan pemuda yang insyaAllah akan menjadi calon suaminya untuk menata masa depannya yang baru.


''Kalau begitu kakak tunggu Putri ya, sampai habis masa iddahnya? kakak harap Putri selalu menjaga hati untuk kakak begitu pun dengan kakak. Kakak pun akan menjaga hati kakak untuk Putri,'' ujar Reno dengan nada yang terdengar serius.


Reno benar-benar telah memantapkan hatinya untuk Queensha Putri, setelah kekecewaan terhadap Alina.


''InsyaAllah, Kak. Semoga Allah meridhoi niat baik kita. Sudah dulu Kak, nanti kita sambung lagi ya? aku sama papa dan mama hendak pulang ke rumah, sekarang masih di dalam mobil habis dari persidangan.''


Putri sengaja mengakhiri percakapannya sebab pembicaraan mereka sudah di luar jangkauan dan bersifat pribadi. Ia tidak ingin pembicaraannya didengar oleh kedua orang tuanya, bagaimana pun ia merasa malu jika kedua orang tuanya mendengar percakapannya dengan Reno yang semakin mengarah ke hal yang pribadi.


''Mama.'' Putri terlihat manja, ia pun menyandarkan kepalanya di pundak mama Shinta seperti seorang anak kecil yang begitu butuh perhatian orang tuanya.


''Anak kita manja sekali, Pa.'' Mama Shinta pun mengelus dan mencium pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih. Ia merasa sangat bahagia sebab kini putrinya telah berkumpul kembali dirumah mereka setelah sebelumnya menjadi tawanan cinta Bagaskara yang sangat kejam dan tak bertanggung jawab.


Papa Rama pun terlihat bahagia melihat kebersamaan antara anak dan istrinya yang begitu penuh ketulusan. Mereka pun terlihat harmonis setelah ujian menerpa dalam melewati masa-masa sulit mereka ketika putrinya terkurung dalam sangkar emas suaminya dan kini ia bebas dari derita yang pernah menderanya.

__ADS_1


''Alhamdulillah, terimakasih ya Rabb atas nikmat bahagia ini!'' batin Putri dengan tak henti-hentinya menerbitkan senyum bahagianya.


***


Satu Minggu Kemudian, setelah sidang perceraian antara Putri dan Bagaskara serta peristiwa yang menegangkan untuk Bagaskara atas terbongkarnya segala kebejatannya di kancah masyarakat sekitarnya, kini Bagaskara lebih memilih berdiam diri di kamarnya, setidaknya ia merasa senang sebab bisa lepas dari ancaman maut.


''Ilmu yang ku pelajari benar-benar paten, maut pun bisa ku tentang!'' gumam Bagaskara dengan nada angkuhnya sambil menyandarkan tubuhnya di kasur empuknya.


''Alina, sekarang mas sudah menyandang status duren alias duda keren. Maka apa pun yang terjadi Mas akan terus menghantui kehidupan mu sampai tak seorang laki-laki pun tidak dapat mendekati mu apalagi sampai menyentuh mu.''


Bagaskara bukannya taubat, malahan dirinya semakin sombong dan mengadi-ngadi.


Bagaskara malah semakin bersemangat untuk melafalkan buhul-buhul ghaib guna untuk membuat Alina kembali ke pelukannya seperti saat-saat mereka bersama dahulu.


''Alina, semakin hari dirimu semakin cantik dan mempesona. Aku jadi gemas ingin kembali memiliki mu seperti dulu lagi. Toh, semua orang di desa ini telah mengetahui hubungan kita. Bahwa kita pernah menjadi kita dulunya,'' gumam Bagaskara dengan terus memandangi wajah ayu Alina yang masih tersimpan di ponselnya. Hingga sampai detik ini ia masih menyimpannya tanpa berniat menghapus memori tentang Alina dari dalam hati dan pikirannya.


Selama satu pekan ini, Bagaskara memang tidak menghembuskan mantra-mantranya untuk mengikat Alina dengan sihir dan guna-gunanya.

__ADS_1


Begitu pun dengan Alina, kini gangguan yang ia rasakan semakin berkurang. Ia pun telah mengemasi barang-barangnya untuk merantau ke kota S. Ia memilih menjauh dari kampung halamannya, agar dirinya bisa lepas dan semakin menjauh dari pandangan mata Bagaskara Ardhana Putra yang terus-menerus menghantui setiap pergerakannya.


''Ayah, Ibu. Alina berangkat dulu ya? sekitar pukul 08.15 wib mobil travelnya akan sampai kemari. Do'akan Alina agar betah bekerja di TPA Khansa Day Care, Tempat Penitipan Anak-anak yang di kelola oleh mbak Diah teman pengajian Alina,'' pamit Alina sembari mencium kedua punggung tangan kedua keramat hidupnya dengan takzim.


__ADS_2