
Hanya butuh waktu berapa detik saja, Bagaskara telah sampai di kediaman Alina.
"Assalamu'alaikum," ucap Bagaskara di buat lembut dan sesantun mungkin. Ia kini bersikap seolah-olah ia adalah orang yang paling alim dan berwibawa di seantero jagat raya.
"Wa'alaikumsalam, eh ... Mas Bagas, silahkan masuk!" ucap Andara yang tampak anggun dan santun dengan gamis dan jilbab syar'i yang di kenakannya.
Bagaskara pura-pura menundukkan pandangannya, padahal sebenarnya ia menatap sekilas pada Andara Albiya Finzani dari atas sampai bawah kakinya yang kini tertutup kaos kaki jempol. Sehingga yang tampak hanyalah wajah dan telapak tangannya saja.
"Wow, sempurna!" bathin Bagaskara memuji kecantikan dan keanggunan Andara.
Andara yang sama sekali tidak mengetahui akan kebejatan Bagaskara Ardhana Putra pun tetap bersikap ramah pada saudara sepupunya itu.
"Silahkan duduk, Mas!" ucap Andara dengan mempersilahkan Bagaskara, Bagaskara pun duduk dengan santunnya.
"Alina ada?" tanya Bagaskara singkat.
"Ada Mas, tunggu sebentar! Aku panggilkan, tadi ia habis mandi dan langsung berdiam diri di kamarnya. Entah kenapa itu anak akhir-akhir ini suka menyendiri!" timpal Andara.
Bagaskara mengangguk pelan, ia tampak magut-magut mendengar ucapan Andra.
"Hemmm, syukurlah jika Alina sekarang lebih betah di kamarnya. Itu berarti tidak ada laki-laki manapun yang dapat meliriknya kecuali aku!" bathin Bagaskara menyeringai licik.
Andara pun berjalan menuju kamar Alina. "Dek, ada Mas Bagas. Katanya ingin bertemu dengan mu!" ucap Andara dengan mendekati Alina adiknya.
"Iya, Kak." Alina Menganti baju santainya dengan atasan muslim dan rok panjang polos. Tak lupa ia pasangkan bros di jilbab segiempatnya, terlihat sederhana namun tetap menampakkan kecantikan dan keanggunan dari Alina yang memang sudah cantik dari sononya.
"Sudah!" ucap Alina, dengan menatap wajahnya di cermin.
"Maa syaa Allah, Dek. Rapi amat, mau kemana? seperti ingin bertemu orang spesial saja!" timpal Andara, ketika melihat riasan bedak tipis dan polesan lipsglos di bibir adiknya.
"Hehe, meskipun dirumah harus tetap tampil cantik dan energik, Kak. Biar nggak kelihatan kucel," timpal Alina dengan gaya anggunnya hendak menghampiri Bagaskara yang masih berstatus pacarnya.
Andara yang sama sekali tidak mengetahui hubungan spesial antara Alina dan Bagaskara pun, ia tetap berpikir positif.
"Dek tunggu! kaos kakinya di kenakan dulu, sebelum menghampiri Mas Bagas. Sebab, Abang sepupu pun bukan mahram. Baiknya kedua telapak kaki pun wajib di tutup." Andara menasehati adiknya.
"Oh ya, Alina baru tahu jika telapak kaki pun adalah aurat." Alina pun segera mengenakan kaos kaki coklat motif ukiran bunga sewaktu ia masih sekolah dulu.
__ADS_1
"Terima kasih, Kakak!" ucap Alina dengan mengecup pipi Andara kakaknya.
"Maa syaa Allah, ini adek satu-satunya luar biasa manjanya!" Andara mengelus pucuk kepala adiknya dengan penuh kasih.
"Sana, temui Mas Bagas! Nanti biar kakak yang buatkan minuman untuk kalian." Andara menerbitkan senyuman manisnya.
"Sekali lagi, terimakasih kakak ku yang baik!" ucap Alina yang terlihat manja dengan kakak semata wayangnya.
"Kak Bagas!" ucap Alina dengan menerbitkan senyuman yang menghiasi wajah ayunya.
"Alina!" Bagaskara merasa terpesona dengan kecantikan yang terpancar indah dari sosok wanita yang sangat dipuja-puja olehnya.
Bagaskara menatap wajah ayu itu dengan sejuta rasa cinta yang bertumbuh didalam hatinya.
Alina melambaikan tangannya di wajah Bagaskara, "Mas, kok bengong? apa ada yang aneh dari Alina Mas?" tanya Alina dengan melihat penampilannya saat ini.
"Tidak ada yang aneh, kau sangat sempurna Alina! Mas sangat kagum pada mu, kau tampak cantik hari ini!" ucap Bagaskara yang merasa gemas melihat kekasih hatinya tersebut.
"Gombal, Alina rasa semua laki-laki sama saja!" timpal Alina dengan mendaratkan bokongnya di kursi sofa yang empuk itu.
"Mas!" ucap Alina yang tiba-tiba gemulai ketika mengendus bau parfum melati dari sosok Bagaskara.
"Ia, pacar 5 langkah ku!" Bagaskara sengaja menghembuskan buhul-buhul cintanya pada Alina, lewat mantra-mantra yang di bacakannya pada parhum yang beraroma melati yang dipakainya.
Alina memukul lembut dada bidang Bagaskara, hingga terjadilah aksi saling canda di antara keduanya. "Apa katamu, pacar 5 langkah? kau menggoda ku Mas Bagas!" ucap Alina dengan penuh manja.
Perasaan dihati Alina semakin membuncah ketika dirinya mengendus parhum berbau melati dari Bagaskara.
"Mas Bagas, kau terlihat sangat tampan sekali!" ucap Alina yang mulai terhipnotis dengan pesona Bagaskara.
Lewat tatapan mata, Bagaskara kembali melancarkan aksinya. Ia pun menghipnotis Alina agar terus terpukau padanya.
Alina yang kembali dalam pengaruh ajian Bagaskara pun tiba-tiba menyentuh wajah Bagaskara dengan lembutnya. "Alina mencintai Mas!" ucap Alina pelan.
"Astaghfirullah! Mas Bagas, Alinaaa ... Apa yang kalian lakukan?" pekik Andara dengan meletakkan tampah berisi teh hangat dan camilan di atas meja.
"Kak Andara?" Alina nampak gugup, ia khawatir kakaknya mendengar apa yang diucapkan olehnya pada Bagaskara.
__ADS_1
"Andara, maaf. Tadi, Alina hendak meniup mata ku yang kelilipan." Bagaskara yang terbiasa licik dan berbohong pun memainkan sandiwaranya, sambil mengucek-ngucek matanya yang seolah-olah sedang menahan rasa sakit.
Andara mencoba berpikir positif, setelah sebelumnya dirinya sempat su'udzon terhadap adik dan sepupunya itu.
"Baiklah jika begitu, Alina kau duduklah di samping kakak. Biar Mas Bagas duduk sendiri di sofa itu!" tegas Andara yang memang sengaja menjaga jarak dari Abang sepupunya itu. Alina pun mengikuti titah Andara kakaknya.
"Mas Bagas, silahkan diminum teh hangatnya sama camilannya!" titah Andara dengan menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin menatap ke arah Bagaskara yang berdasarkan hematnya, saudara sepupu itu tetap bukan mahramnya. Jadi, sebisa mungkin ia menghindari bersitatap dengan sepupunya.
Bagaskara pun menyeruput teh panas itu pelan. Ia pun tidak lupa mencicipi camilan yang disuguhkan oleh Andara.
"Yang ini cookies coklat favorit aku!" ucap Alina dengan perasaan senang dan terlihat sangat manja, ia pun perlahan memasukkan cookies tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.
Andara merasa senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari rona wajah adiknya. Begitu pun dengan Bagaskara, perasaannya begitu bergelora ketika melihat senyum yang terpancar dari Alina.
"Kalau saja tidak ada Andara tentunya aku akan berhasil mencicipi bibir ranum Alina. Aku selalu gagal menghangatkan pacar 5 langkah ku ini!" bathin Bagaskara dengan mencuri pandang ke arah Alina.
"Alina, kau sangat menggemaskan sekali. Kalau saja tidak ada ikatan persepupuan di antara kita, tentu saja aku akan segera menikahi mu. Mengingat usia ku yang kini sudah beranjak 25 tahun. Sebentar lagi pun akan masuk 26 tahun, sebejat-bejatnya diriku aku ingin melabuhkan cinta ku pada satu hati. Akan tetapi, dari sekian banyak wanita yang ku singgahi hanya dirimu Alina Cahya Kirani yang bertahta di hatiku. Apapun yang terjadi, tak kubiarkan dirimu lepas dari genggaman ku! kau tetap hanya milik ku seorang!" bathin Bagaskara yang mulai dikuasai oleh nafsu syaitannya.
"Mas Bagas, kenapa ia memperhatikan Alina dengan tatapan yang berbeda?" bathin Andara yang tidak sengaja menangkap hal yang tak lazim menurutnya.
"Astaghfirullah! Aku tidak boleh berpikiran yang buruk, ini mungkin hanya perasaan ku saja," batin Andara dengan mencoba berpikir positif.
Sedangkan Alina nampak fokus mengemil cookies coklat yang di suguhkan oleh kakaknya.
"Mas Bagas, langsung saja ya? mungkin Alina sudah menyampaikan pesan ku, dua bulan lagi aku ingin melangsungkan pernikahan. Aku harap Mas Bagas berkenan menjadi ketua panitia dipernikahan ku. Alina pun sudah menyampaikan pesan ku kepada teman-temannya yang lain. Insya Allah, sebentar lagi teman-teman Alina akan datang kemari untuk berembuk. Jika ada teman-teman Mas yang laki-laki yang hendak membantu menjadi panitia ku, Mas boleh mengajaknya." Andara berbicara dengan lugasnya.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk," Bagaskara nampak tersedak ketika mendengar jika teman-teman Alina akan segera datang kemari.
"Busettttt, spot jantung ku!" bathin Bagaskara, ia khawatir tertangkap basah jika ia telah memacari semua teman-teman Alina.
"Pelan-pelan Mas, apa kau hendak beradu ngemil dengan Alina?" pungkas Alina dengan memberikan segelas teh miliknya untuk diminum oleh Bagaskara, sebab minuman Bagaskara telah tandas tanpa sisa.
"Terima kasih, Alina!" ucap Bagaskara dengan berusaha mengatur ritme jantungnya.
"Sama-sama, Kak." Alina terlihat santai tanpa memikirkan hal-hal yang buruk tentang Bagaskara.
"Aneh!" pikir Andara ketika memperhatikan wajah Bagaskara yang terlihat gugup dan merah padam.
__ADS_1