
Alina terus berlari sekencang-kencangnya menjauh dari keramaian, entah mengapa hatinya begitu sakit setelah mengingat Bagaskara menggenggam erat jemari tangan Maharani di hadapannya.
"Mas Bagas, kenapa dirimu tega mengguris bathin ku? kurang apa diriku pada mu? jika aku hanya tempat persinggahan mu dan hanya ladang untuk kau sakiti, kenapa kau terus mengikat ku? Aku tak sanggup lagi bertahan dengan mu, satu persatu kedok yang kau sembunyikan mulai terbuka, alasan apalagi yang ingin Mas sampaikan untuk berdalih? sedangkan sudah jelas Mas menatap Maharani dengan penuh arti. Aku harus mencari tahu segala bukti kebenarannya, jika diketahui Mas benar-benar main serong, aku akan meninggalkan Mas Bagas dan mengakhiri hubungan terlarang ini. Toh kita hanya adik sepupu," bathin Alina dengan berbaring di kamarnya.
Alina memainkan ponselnya, ia tidak ingin terlalu larut dalam kesedihannya. Puluhan dan ratusan kali Bagaskara menelfon dan mengirim pesan padanya, sama sekali tak digubris olehnya.
"Aku capek, aku lelah dengan ikatan ini, aku ingin lepas dari mu Mas Bagaskara Ardhana Putra. Tempo hari kau hendak mendekati kak Desi dan sekarang Maharani. Sungguh tak ku sangka kau sebejat itu!" bathin Alina.
"Kau pun berselingkuh aku pun bisa melakukan hal yang sama!" tegas Alina didalam hatinya.
Ponsel Alina pun berdering, ia pun mengangkat ponselnya.
"Assalamu'alaikum, kak Muzzaki Ansori!" ucap Alina penuh semangat.
Entah mengapa Alina merasakan semangat yang luar biasa ketika berhadapan dengan sosok Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori. Kekecewaannya terhadap Bagaskara pun seolah terobati.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, apa kabar Alina?"
"Alhamdulillah, Alina baik Kak."
"Syukurlah jika begitu, kakak senang mendengarnya."
kisah antara Alina dan Ansori pun berlanjut, mereka membahas hal-hal yang berkaitan dengan realigi membuat Alina semakin semangat untuk belajar.
"Jadi, berjilbab itu wajib ya Kak untuk wanita sebagaimana wajibnya shalat? Alina baru tahu, Kak. Alina baru mengenakan kerudung biasa, Kak."
"Nggak apa-apa, semuanya butuh proses. Pelan-pelan, tidak langsung menjadi sempurna, yang Allah nilai itu adalah prosesnya. Jadi, lakukanlah segala sesuatunya hanya karena Allah semata. Agar nanti berbuah pahala disisinya."
"Sering-seringlah berkumpul dengan orang-orang shaleh, agar kita pun ketularan sholihnya!" sarkas Muzzaki Ansori selanjutnya.
"Insya Allah Kak, berarti jika Alina berteman dengan kakak Alina juga ketularan sholihnya kakak!" pungkas Alina yang mulai tersentuh rasa yang lain. Bersama Ansori ia merasa kekuatan spiritualnya seolah-olah meningkat.
"Kakak hanya orang biasa, kakak bukan apa-apa. Namun, kakak berusaha terus belajar memperbaiki diri. Semoga Alina pun demikian, karena sejatinya dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita Sholihah. Kakak yakin Alina termasuk di dalamnya!" ucap Ansori dengan terus memberikan motivasi pada Alina, membuat Alina semakin kagum dengan sosok Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori.
"Betapa beruntungnya wanita yang bisa berdampingan dengan mu, kak Muzzaki Ansori. Seandainya aku bisa menjadi seorang yang istimewa di hati mu, Kak. Betapa aku akan menjadi wanita yang paling bahagia!" bathin Alina yang mulai tersentuh rasa yang lain. Sejenak ia mulai melupakan masalahnya bersama Bagaskara Ardhana Putra yang kerapkali mempermainkan perasaannya.
***
__ADS_1
Di sisi lain, dikediaman Bagaskara Ardhana Putra.
"Arrrggggghhhh! kenapa nomornya tidak bisa di hubungi? dia lagi telfonan dengan siapa? awas saja kau Alina, jangan sampai kau telfonan dengan yang lain. Sampai kapanpun aku tak rela jika ada yang sampai menyentuh hati mu kecuali aku!" ucap Bagaskara dengan mata merah menyala dan penuh emosi.
"Jangan salahkan aku Alina, jika aku menghembuskan sihir dan guna-guna yang lebih mengikat mu, hingga membuat satu persatu laki-laki menjauhi mu seumur hidup mu!" Bagaskara terus mengoceh-ngoceh di kamarnya, hingga tertangkap indera pendengar Mama Larasati.
"Apa benar yang kudengar ini? tidak mungkin putra ku mencintai adik sepupunya, ini tidak boleh terjadi!" bathin Mama Laras histeris.
"Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi, sangat pantang di keluarga Arya Arnenda menjalin hubungan dengan saudara sepupu, apalagi sampai menikah! Aku akan mencarikan jodoh untuk putra ku Bagaskara, agar ia bisa lepas dan terpisah dari Alina Cahya Kirani, keponakan ku, anak dari adikku Chintya. Aku tidak boleh membiarkan ini berlarut-larut," bathin Mama Laras yang kini di penuhi rasa khawatir terhadap hubungan Bagaskara dan Alina Cahya Kirani.
"Aku akan menjodohkan Bagaskara dengan anak teman ku yang baru menempuh jenjang perguruan tinggi itu, dengan begitu Bagaskara dan Alina tidak akan bisa bersama-sama lagi!" gumam Mama Laras dengan menyusun rencananya.
Sementara Bagaskara tampak tidak tenang ketika ratusan kali ia menelfon Alina namun tetap tak bisa di hubungi.
"Kau kemana Alina? jangan bermain-main dengan ku, kau hanya milikku, sampai kapanpun tetap milikku!" pekik Bagaskara dengan bola mata yang merah menyala.
"Aku akan menjadikan para wanita dan juga teman-teman mu menjadi pelampiasan ku Alina, camkan itu!"
"Maharani, Dela, Chika dan Queensha Putri Fayanna, kalian ku tandai untuk menjadi wanita ku. Kekasih gelap ku!" bathin Bagaskara dengan menandai satu persatu nama-nama teman Alina.
"Terutama dirimu Queensha Putri Fayanna, kau telah menyombongkan diri mu terhadap ku, jangan harap kau bisa lepas dari genggaman ku!" bathin Bagaskara menyeringai jahat.
Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t'lah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu untuk mengenangmu
Darimu (darimu), kutemukan hidupku
__ADS_1
Bagiku (bagiku), kaulah cinta sejati
Yeah, huu, huu (darimu)
(Bagiku, engkaulah cinta sejati)
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
'Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang t'lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah ...
"Alina kau kah yang menelfon ku!" ucap Bagaskara seperti orang yang sudah gila ketika mendengar ponselnya berbunyi dengan untaian nada cinta tersebut. Namun, yang muncul bukan Alina akan tetapi Desi teman sekolahnya dahulu.
"Desi, kau ... kau hendak menyetor ragamu pada ku? oh iya aku akan menjadikan mu wanitaku, sekedar menghibur hatiku untuk menghilangkan kejenuhan ku tanpa Alina!" gumam Bagaskara di selingi tawa renyah,seperti orang yang tidak waras.
"Iya, hallo sayang. Apa kabar mu?" tanya Bagas dengan seringai jahatnya, ia benar-benar berniat untuk menjadikan Desi sebagai kekasih gelapnya.
Deg! jantung hati Desi semakin berdegup kencang ketika mendengar Bagaskara memanggilnya sayang.
"Bagas, loe tidak sedang kehabisan obat kan?" timpal Desi penuh tanda tanya.
"Memang menurut mu aku bercanda dan main-main? tidak, aku memang serius. Aku sudah lama mengagumi mu, Desi. Dari semenjak masa putih abu-abu dahulu. Maukah kau menjadi teman istimewa ku?" ucap Bagaskara seolah-olah dirinya benar-benar mencintai Desi.
"Tentu saja tidak akan ada yang bisa menolak mu Bagaskara Ardhana Putra. Sungguh, aku pun sudah lama mengagumi mu, aku bersedia menjadi teman istimewa mu!" ucap Desi dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sekian lama ia menunggu Bagaskara menyambut cintanya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba!" bathin Desi penuh kegirangan.
__ADS_1
"Akhirnya, hanya butuh gombalan sesaat saja aku bisa melumpuhkan seorang wanita. Setelah ini aku akan mendekati teman-teman mu satu-persatu yang memang telah ku tandai namanya Alina. Namun yang kau tetap menjadi yang pertama di hatiku Alina Cahya Kirani!" bathin Bagaskara dengan tersenyum devil.
Kegilaan Bagaskara pun semakin menjadi-jadi tanpa bisa untuk dicegah. Nafsu syaitan telah merasuki hati dan jiwanya. Sehingga ia lupa manisnya iman terhadap Rabb-Nya.