Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 62. Cinta Berselimut Dendam


__ADS_3

"Baguslah itu yang mama tunggu, kau tidak boleh menolak lagi!" pungkas Mama Laras.


"Terserah mama, malam ini juga pertemukan aku dengannya. Aku ingin melihat siapa wanita yang menjadi pilihan mama!" timpal Bagaskara, ia sudah menyerah untuk terus menolak permintaan mamanya. Bagaskara benar-benar frustasi mengenang kemelut cintanya dengan Alina yang pupus di persimpangan jalan tanpa bisa ia untuk menahannya.


"Baiklah, kau tunggu saja! sebentar lagi mereka akan datang kemari. Mama akan menghubungi teman Mama tersebut, dan membawa anaknya kemari untuk bertemu denganmu!" ucap Mama Laras lagi.


Mama Laras pun menghubungi temannya, temannya tersebut pun merespon permintaan Mama Laras.


Sepuluh menit kemudian, keluarga dari calon istri Bagaskara akan datang ke rumahnya untuk membahas tentang perjodohan dan pernikahan Bagaskara dengan wanita pilihan mamanya.


Sebuah mobil Xenia bernuansa putih pun memasuki perkarangan rumah Bagaskara Ardana Putra, jantung hati Bagaskara pun terasa berdebar-debar. Ia tidak menyangka jika mamanya benar-benar mendatangkan keluarga mempelai wanita untuk datang berkunjung ke rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap suara dari luar.


"Waalaikumsalam warahmatullah," Mama Laras nampak bahagia menyambut kedatangan calon mantu dan besannya. Ia nampak sumringah, akhirnya apa yang menjadi impiannya akan segera terwujud dalam waktu dekat ini.


Bagaskara membolakan matanya dengan sempurna ketika melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya. Begitupun sebaliknya, sang calon wanita pun dibuat terperangah dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka jika orang tuanya menjodohkannya dengan Bagaskara Ardhana Putra, pria yang sangat dibenci olehnya setengah mati.


"Kau!" pekik Queensha Putri Fayanna dengan rasa kagetnya. Ia tidak menyangka jika sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengannya adalah Bagaskara Ardana Putra.


"Kau! pucuk dicinta ulam pun tiba," batin Bagaskara menyeringai licik. Ia tidak menyangka musuh pun datang dengan sendirinya menyerahkan tampuk kekalahannya tanpa harus bersusah payah ia mengejar dan menjebaknya.

__ADS_1


"Hemmm, aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkanmu Queensha Putri Fayanna. Kau pun kini telah berada di bawah kekuasaanku, aku tidak akan menolak perjodohan ini. Dengan begini aku bisa membalaskan dendamku padamu! kau yang telah merusak hubungan cintaku dengan Alina Cahya Kirani, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatan burukmu. Jangan salahkan aku jika nantinya aku menyiksamu secara perlahan, sampai kau menderita sepanjang umur hidupmu! kau akan kujadikan selir persembahanku, ketika aku membutuhkan sosok Alina Cahya Kirani maka lewat dirimu lah akan ku hembuskan segala hasratku yang terpendam." Niat buruk terhadap Queensha Putri kini telah tertanam di benak Bagaskara Ardhana Putra.


"Jangan harap kau akan mendapatkan cinta sempurna dariku, karena kau hanya akan kujadikan pelampiasan nafsuku! akan kusebut nama Alina, jika diriku akan bercinta dan bercumbu rayu dengan mu. Sehingga yang ku gagahi adalah seolah-olah sosok Alina bukan dirimu!" batin Bagaskara dengan nafsu setannya.


Cinta berselimut dendam di dalam hati Bagaskara benar-benar telah membutakan mata hati dan jiwanya. Ia benar-benar telah terjerat lingkaran setan yang menyesatkan dirinya ke dalam jurang yang teramat dalam, yang membuatnya tidak lagi mengingat akan kebesaran Rabbnya.


Noda hitam semakin menempel di hati Bagaskara, kesucian jiwanya benar-benar telah tercabik oleh dosa-dosa yang telah menenggelamkannya ke dalam sumur dosa yang tak bisa lagi untuknya kembali bertaubat kepada Rabbnya seperti masa yang lalu di saat dirinya masih bertahan dalam biduk keimanannya.


"Queensha Putri Fayanna, aku merasa sangat bahagia sekali akhirnya kau pun hadir tanpa ku undang. Aku menjadi tidak sabaran ingin bermain-main dengan mu aku ingin melihat bagaimana raut wajah ketakutanmu ketika berhadapan denganku di malam pernikahan kita nanti!" batin Bagaskara dipenuhi nafsu setannya.


"Ya Allah, mimpi apa aku di siang bolong bisa bertemu dengan dirinya pemuda yang sangat ku benci. Menjijikkan sekali! aku tidak sudi dijodohkan dengannya," gumam Putri di dalam hatinya.


"Silakan masuk jeng Shinta! aku merasa bahagia sekali akhirnya kita bisa mempertemukan putra dan putri kita. Aku jadi tidak sabaran untuk menanti hari bahagia itu!" ucap Mama Laras dengan seutas senyum bahagianya.


Pak Rama ayahnya Queensha Putri pun tak kalah senangnya untuk menjodohkan putrinya dengan Bagaskara, anak teman masa kecilnya almarhum Arya Arnenda, ayahnya bagaskara Ardhana Putra.


Sementara Putri, ia merasa risih berada di kediaman Bagaskara, ia ingin sekali melangkahkan kakinya untuk pulang. Melihat keceriaan di wajah kedua orang tuanya Putri urung untuk melangsungkan niatnya untuk pergi dari kediaman Bagaskara. Ia pun terpaksa mendengarkan celotehan para orang tua mereka yang begitu bersemangat untuk menjodohkannya dan menentukan hari pernikahan mereka.


"Bagaimana Putri, apakah kamu setuju untuk segera menikah dengan Bagaskara, anak dari teman papa dan Mama Shinta?" papa Rama meminta pendapat Putri namun Putri masih bungkam, ia ingin menolak tapi ia khawatir papa Rama dan mama Shinta akan kecewa mendengar ucapannya.


"Pu-putri, pa mah. Ma-af---?"

__ADS_1


Ucapan Putri terjeda karena Bagaskara langsung menyelanya, "maaf, om tante Bagas dan Putri menerima perjodohan ini!" ucap Bagaskara dengan satu tarikan nafas, membuat Putri mendelik tajam ke arah pemuda yang sangat dibencinya itu.


"Tapi mah, pa?" Putri hendak menolak, namun kedua orang tuanya langsung sumringah mendengar ucapan Bagaskara Ardana putra yang menyatakan jika ia dan putrinya menerima semua perjodohan tersebut.


"Syukurlah jika begitu, papa dan mama senang mendengarnya!" ucap papa Rama dengan mengembangkan senyumannya.


"Iya, Mama juga senang Nak mendengarnya," ucap mama Shinta dengan tak kalah senangnya, ia pun mengecup kening putrinya.


Putri terdiam, dia tidak sampai hati jika harus menolak permintaan kedua orang tuanya. Namun, di satu sisi ia tidak rela jika harus menikah dengan Bagaskara Ardhana Putra yang telah ia ketahui segala kebejatannya.


"Om, tante. Bolehkah Bagas berbicara dengan Putri sebentar!" ucap Bagaskara dengan berpura-pura santun dan lembut di hadapan kedua orang tua putri.


"Oh, iya boleh silakan, Nak!" ucap papa Rama dengan senyum semeringahnya. Dia merasa sangat bahagia sebab dalam pandangannya Bagaskara bisa membimbing putrinya dan menjadi sosok suami yang baik untuk Queensha Putri Fayanna.


Sementara Mama Laras, mamanya Bagaskara merasa senang karena akhirnya putranya bisa menerima perjodohan tersebut, dengan begitu putranya bisa melupakan dan lepas dari perasaan konyolnya pada adik sepupunya Alina Cahya Kirani.


"Alhamdulillah akhirnya anakku menerima Putri untuk menjadi calon istrinya, ya Allah hamba bahagia sekali, dengan begini Bagas bisa lepas dan terpisah dari Alina. Semoga dengan hadirnya Putri dalam kehidupan Bagaskara saat ini bisa merubah dirinya dari segala kebejatannya!" batin Mama Laras dengan penuh pengharapan.


Tidak ada yang tahu niat jahat dan akal bulus Bagaskara, ia menerima perjodohan dengan Putri hanya karena ingin melampiaskan dendamnya pada Alina Cahya Kirani juga ia ingin ingin membalas dendamnya pada putri yang telah berani-beraninya membongkar kebejatannya di hadapan para wanitanya tempo hari ketika mereka berada di cafe Xx.


Bagaskara mengamit tangan Queensha Putri dan membawanya menuju taman belakang rumahnya, iya menarik Putri untuk duduk di bangku santai di bawah pepohonan yang rindang sambil menikmati hembusan angin malam.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku! aku tidak Sudi disentuh olehmu!" ucap Putri dengan berangnya. Dia merasa jijik melihat wajah Bagaskara yang sok baik dan lembut di hadapan kedua orang tuanya.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku Queensha Putri Fayanna!" pungkas Bagaskara dengan menarik Queensha Putri dalam pelukannya.


__ADS_2