Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 61. Mencoba Menentang Badai


__ADS_3

Alina nampak sumringah, dia berjalan menuju toilet untuk segera melakukan ritual wudhunya guna menjalankan ibadah sholat magrib hari ini. Rasa sakit karena gangguan jin dan sihir yang kerap kali menderanya, tidak dirasakan lagi olehnya, yang ada hanyalah senyum kebahagiaan yang terukir dari bibir manisnya.


Ibu Chintya tampak kaget melihat anaknya yang semula terlihat lemah terkulai kini lebih bersemangat lagi dalam menjalani aktivitasnya.


"Ada apa dengan anak itu? dia tidak seperti biasanya, sekarang begitu penuh dengan keceriaan. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya merasa bahagia, semoga saja semua ini adalah awal dari kebahagiaannya. Aku berharap semoga Alina tidak menemui lagi kesedihan seperti hari-harinya kemarin. Semoga ia benar-benar sembuh dari penyakit non medis yang diderita olehnya, ibu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak!" gumam ibu Chintya yang ikut senang melihat kebahagiaan yang kini terpancar dari wajah Putri bungsunya Alina Cahya Kirani.


Alina menghamparkan sajadahnya dengan penuh semangat, hatinya benar-benar masa tenang, kehadiran Ansori benar-benar mewarnai hidupnya memberikan setetes senyum kebahagiaan di hatinya yang semula berkabut duka oleh sebab kejahatan dan kebejatan Bagaskara Ardana Putra padanya.


Alina mencoba menentang badai , ia berusaha melawan rasa sakitnya. Dia tidak ingin terus berada dalam keterpurukan, ia berusaha untuk belajar memahami ilmu agama yang lebih baik lagi agar dirinya bisa terhindar dari segala bentuk kejahatan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.


Alina melaksanakan ibadah shalatnya dengan khusyuknya, ia benar-benar melaksanakan ibadah shalatnya dari relung hati yang paling dalam. Tak ada lagi ke gundahan, keresahan yang menderanya. Dia berusaha melawan kekuatan energi negatif yang hendak menyerangnya, ia benar-benar mengamalkan apa yang telah disampaikan oleh Muzakki Ansori padanya.


Semangat Alina begitu tingginya untuk melakukan ibadah shalatnya, ia selalu mengingat apa yang telah dinasehatkan oleh Ansori padanya. Untaian dan nasehat pemuda tersebut selalu terngiang-ngiang di benaknya, seolah merasuki dalam hati dan jiwanya yang paling dalam.


Gangguan jin dan sihir yang terus meresapi tubuhnya tak dipedulikan lagi olehnya, Alina terus melawan kekuatan energi negatif tersebut dengan terus melafalkan dzikir dan doa untuk melumpuhkan kekuatan mistis tersebut.


"Ya Allah dadaku terasa panas sekali, kekuatan apa yang telah menyerang ku ini? sungguh, diriku tidak kuat lagi untuk menahannya, ya Allah hamba berlindung kepadamu dari segala bentuk kejahatan baik dari golongan jin setan dan manusia yang ingin menyesatkan dan memperdaya. Ya Allah tunjukkan kekuasaan Mu kepada orang yang telah menzalimi hamba seperti ini ya Allah."


"Ya Allah tunjukkanlah bahwa yang haq adalah yang haq dan batil adalah yang batil. Hamba yakin Engkau tidak akan menguji hamba di luar batas kemampuan hamba, ya Allah berikanlah hamba kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi segala ujian yang Engkau berikan ini."


"Ya Allah jika rasa sakit ini adalah karena dosa-dosa dan maksiat yang pernah hamba lakukan di masa yang lalu ampunilah hamba ya Allah. Jadikanlah rasa sakit ini sebagai penghapus segala dosa-dosa yang pernah hamba perbuat di masa yang lalu. Hamba bertaubat kepada Mu ya Allah dari segala dosa-dosa yang pernah hamba lakukan, baik yang sengaja ataupun tidak disengajakan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi."


"Ya Allah sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni segala dosa-dosa kecuali Engkau, hamba pasrahkan segala hidup dan mati hamba hanya kepadamu ya Robb. Tiada Tuhan selain Engkau dan hanya kepada-Mu lah hamba berserah diri, jadikanlah rasa sakit ini semakin mendekatkan diri hamba kepada Mu, aamin ya robbal alaamiin." Untaian do'a yang terlahir dari kebeningan hati Alina Cahya Kirani.


Alina pun kembali melanjutkan doanya, untuk sekali ini ia berdoa khusus untuk seseorang yang sangat dicintainya Muhammad Al Faris Muzakki Ansori.


"Ya Allah terima kasih telah kau hadirkan dia dalam hidupku menemani segala suka dukaku, dia yang senantiasa mengingatkanku akan kebesaran Mu. Dia yang selalu mengingatkanku dari segala bentuk kelalaian ku, dia pula yang membimbingku untuk senantiasa mengagungkan asma Mu untuk menggapai ridho Mu."

__ADS_1


"Ya Allah jadikanlah cinta di hati ini kepadanya hanya karena mengharap keridhaan Mu, jadikanlah cinta di hati kami ini semakin mendekatkan kami kepada Mu wahai penggenggam nafas kehidupan."


"Ya Allah hamba berharap dialah jodoh yang telah kau pilihkan untukku, untuk menjalani kehidupanku di masa depan nanti. Sosok imam yang dapat membimbingku menuju jalan kebenaran dalam mengarungi bahtera kehidupan."


"Ya Allah izinkanlah kami untuk menggapai keridhoan Mu dalam naungan cinta dan rahmat-Mu. Ya Allah titipkanlah rasa rindu dan cinta di hatinya untukku, jagalah kesucian cinta kami dalam naungan kasih dan rahmat-Mu, sungguh hamba benar-benar mencintainya ya Robb."


"Ya Allah, izinkanlah kami dapat bertemu kembali setelah pertemuan pertama kemarin, sungguh hamba benar-benar jatuh hati padanya ya Robb. Jika sampai rasa ini terpisahkan sungguh hamba tidak tahu ke mana lagi hamba akan melangkah, sebab rasa cinta ini benar-benar telah terpatri padanya!" ucap Alina setengah memelas.


"Ya Allah kabulkanlah segala doa hambamu ini, sungguh hanya kepadamu lah tempat kami berharap. Tanpa kasih dan sayang Mu sesungguhnya kami bukan apa-apa, kami lemah kami hina di hadapan Mu. Dalam keadaan bersimpuh ku tundukkan keningku pada Mu, bahwa hanya Engkaulah Tuhan kami penggenggam segala nafas kehidupan kami. Hanya kepada Mu lah kami berserah diri, semoga segala harapan dan impian ini akan indah pada waktunya, aamin ya robbal alaamiin."


Alina pun melanjutkan mendaras Al-Qur'an seperti biasanya, ia terus melawan kekuatan energi negatif yang terus menyerangnya. Tak dipedulikannya betapa sakitnya sekujur tubuhnya seolah-olah terbakar panasnya api. Alina terus melantunkan ayat-ayat suci Alquran tersebut dengan sangat menjiwai hingga tanpa sadar ia telah berada di ujung bacaannya keringat dingin pun mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Ia merasakan kenyamanan ketika tetesan keringat tersebut terus keluar melalui pori-pori kulitnya.


Alina merasakan kesemutan di kakinya, seperti sengatan aliran listrik yang menjalar mengikuti urat-urat nadinya. Ia pun hendak bangkit dari sajadahnya, namun ia merasa sangat kesulitan untuk berjalan sehingga ia harus menahan berapa detik dari rasa kesemutan yang menjalar di kakinya.


"Ya Allah, Alhamdulillah ... akhirnya hamba bisa melewati segala gangguan ini. hamba bersyukur karena bisa menghadapkan wajah hamba kepada-Mu dengan hikmatnya, wahai zat pemilik nafas kehidupan." Alina terus bermonolog di dalam hatinya.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa bernafas lega!" seru Alina dalam hatinya, ia pun berjalan menuju dapur untuk berkumpul dengan kedua orangtuanya yang sudah berapa waktu ini sering kali kali dia menjauhinya lantaran selalu mengurung diri di kamarnya.


"Ayah, ibu selamat malam!" sapa Alina kepada ayah Farel dan ibu Chintya.


"Masya Allah, ada apa dengan anak kita, Yah? ibu sangat senang sekali melihat keceriaannya," timpal ibu Chintya dengan senyum bahagianya.


"Sepertinya putri kita sedang mendapatkan bintang jatuh dalam pelukannya!" ucap ayah Farel turut bahagia melihat Alina yang kini nampak ceria.


"Ayah, ibu, Alina lapar. Alina ingin makan bersama ayah dan ibu!" ucap Alina penuh dengan rasa manja.


"Baiklah, mari kita mulai makan malam kita! "ucap ibu Chintya dengan memandu agar keluarga kecilnya memulai santap malamnya.

__ADS_1


Mereka pun menyantap makan malamnya dengan rasa sukacita setelah sekian lamanya Alina jarang sekali berkumpul dengan kedua orangtuanya. Kini kebahagiaan mereka seolah tertata kembali dengan hadirnya putri bungsu mereka di meja makan mereka saat ini.


***


Di kediaman Bagaskara Adana putra.


"Berdebah! siapa yang telah merintangiku? kenapa aku gagal menyerang Alina Cahya Kirani, berani-beraninya ia menentangku!" Bagaskara melempar barang-barang berharga yang ada di kamarnya.


"Prankkkk ... prankkkk!" Bagaskara melempar semua barang-barang ke segala arah, sehingga dalam waktu seperkian detik kamarnya telah berantakan oleh perbuatannya sendiri.


Bagaskara merasa berang, sebab untuk kali ini ia gagal menghembuskan buhul-buhul cintanya kepada Alina, rasa cinta benci dan dendamnya kini bersarang dibenaknya. la ingin menghancurkan kehidupan Alina sehancur-hancurnya namun kekuatan cahaya ilahi menghalanginya dari menyakiti Alina untuk sekali ini.


"Awas kau Alina, takkan ku biarkan kau bersenang-senang di atas penderitaanku! aku tidak akan menyerah untuk menghancurkan kehidupanmu sehancur-hancurnya!" ucap Bagaskara berang, sorot matanya merah menyala, menandakan bahwa dirinya begitu terselimuti dendam membara pada sosok Alina Cahya Kirani.


"Bagaskara, apa yang sedang kau lakukan, Nak? ibu perhatikan dirimu semakin gila!" pekik Mama Laras dengan rasa keterkejutan dan emosinya pada anak sulungnya tersebut.


"Lupakan Alina, sudah cukup semuanya, Nak! jangan kau coba lagi untuk menentang badai, jika kau sendiri tak mampu untuk menyapu arus gelombang." Mama Laras berusaha mencegah agar Bagaskara berhenti dari kekonyolannya.


"Tidakkkkk ibu, Bagaskara tidak akan menyerah untuk mendapatkan Alina. Sampai kapanpun ia hanya milikku, hanya milikku!" tegas Bagaskara dengan rahang yang mengeras menahan emosi yang bergejolak di dadanya.


"Plakkkk!" tamparan mendarat sempurna di pipi Bagaskara. Mama Laras benar-benar murka mendengar ucapan Bagaskara yang tidak bisa untuk dinasehati.


Bagaskara mengusap pipinya yang terasa kebas oleh tamparan mamanya.


"Mama tidak peduli minggu depan kau harus menikah dengan wanita pilihan mama! mama tidak ingin melihat kau selalu berbuat kemungkaran seperti ini, kau harus memiliki pendamping hidup secepatnya. Agar dirimu bisa lepas dan melupakan sosok Alina Cahya Kirani adik sepupumu itu! "ucap Mama Laras dengan nada serius.


"Baiklah, jika itu maunya mama, Bagas akan menuruti semua keinginan mama, agar mama puas dengan semuanya!" ucap Bagaskara setengah frustasi.

__ADS_1


__ADS_2