
Seketika suasana hening, ketika mendengar pekikan Ibu Chintya. Apalagi Alina yang tiba-tiba menggigil kedinginan dan mengerang kesakitan. Ia menatap tajam ke arah Bagaskara.
Semakin ia mengingat goresan luka yang di torehkan oleh Bagaskara di hatinya semakin Alina merasakan sakit lahir batinnya.
"Pergi! pergi! pergi dari hadapan ku! Aku tak ingin melihat mu lagi!" bentak Alina histeris. Ia benar-benar tidak ingin lagi melihat Bagaskara.
"Kau telah menghancurkan masa depan dan hidup ku! ku mohon pergilah!" ucap Alina dengan isak tangisnya. Alina mengusir Bagaskara di hadapan semua orang, tanpa melihat wajah murung Bagaskara yang merasa malu sekaligus frustasi dengan penolakan Alina terhadapnya. Apalagi di saksikan langsung oleh Om dan bibinya, Pak Farel dan ibu Chyntia. Juga Reno dan Guntara.
Bagaskara bungkam, ia tidak menyadari jika gangguan yang terjadi pada Alina adalah akibat gangguan sihir dan guna-guna yang ia hembuskan pada Alina tempo hari. Yang ia tahu hanyalah ambisi untuk memiliki Alina, tanpa memikirkan beban dan rasa sakit yang harus ditanggung oleh Alina seumur hidup.
Pak Farel dan Ibu Chyntia kebingungan, melihat Alina dan Bagaskara tiba-tiba bertengkar dan saling membenci.
"Alina, kenapa kau mengusir Abang sepupu mu? kenapa pula Nak Bagas dan Nak Guntara saling menyerang? apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya?" tanya Ibu Chintya penuh selidik.
Alina tidak menjawab, ia justru menangis sejadi-jadinya. "Ibu, aku ingin dia pergi, aku tidak ingin melihatnya!" Alina menyembunyikan wajahnya dalam pelukan ibunya.
Bagaskara merasa tersinggung dengan perlakuan Alina terhadapnya. "Awas kau Alina, kau telah mempermalukan ku dihadapan semua, jangan salahkan aku merusak hidup mu sampai kau mati. Kau telah mengusir ku, berarti dirimu yang mulai menabuh genderang perang dengan ku!" Netra Bagaskara tiba-tiba tertuju pada sebuah benda yang berada dalam kantong plastik yang ada di meja ruang tamu.
"Bukankah itu jeruk nipis, bawang putih dan buah pinang muda? Untuk apa itu semua? bukankah itu untuk penangkal ilmu sihir dan guna-guna?" bathin Bagaskara yang sangat memahami tentang ilmu sihir dan perdukunan.
"Celaka! berarti ia sudah mengetahui semua akan apa yang telah aku hembuskan padanya? Ini tidak bisa di biarkan, Alina tidak boleh sembuh. sukmanya tetap milik ku!" bathin Bagaskara dengan sorot mata merah menyala.
"Astaghfirullah! Aku melihat hal yang aneh dalam diri Bagaskara, apa mungkin ia yang mengirimkan sihir dan guna-guna pada Alina anak ku? tidak mungkin ia kan sepupuan dengan Alina? apa mungkin ia ingin mendzolimi adik sepupunya sendiri!" gumam Pak Farel di dalam hati. Ia berusaha untuk menepis pikiran kotornya.
__ADS_1
"Bagaskara, untuk sementara Alina tidak ingin melihat mu! terlepas dari apapun masalah kalian, Om harap untuk saat ini pergilah dan menjauhlah dari Alina! untuk saat ini Alina dalam proses pengobatan, ada semacam kekuatan energi negatif yang menyerangnya. Terlepas dari siapapun pelakunya, Om akan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini!" ujar pak Farel dengan mengepalkan tinjunya.
Bagaskara menelan ludahnya, kerongkongannya seolah tercekat untuk mengemukakan pendapatnya. Pasalnya, yang melakukan semua itu terhadap Alina adalah dirinya sendiri.
"Baiklah, Bagas akan pergi!" ucap Bagaskara dengan perasaan campur aduk. Rasa cinta, benci dan dendam terhadap Alina kini bersarang dibenaknya.
"Kau tidak akan pernah lepas dari ku Alina! tidak akan ada satu orang pun yang dapat menyembuhkan dan melepaskan mu dari jeratku! tak akan ada satu orang pun yang sanggup bertahan dengan mu! aku memang tidak bisa memiliki tubuhmu secara langsung, namun aku akan terus menghantui diri mu di sepanjang nafas hidup mu. Raga ku akan menikahi jasad mu dalam buhul ghaib!" bathin Bagaskara dengan senyum syaitannya.
Bagaskara melangkah pergi, ia sudah seperti orang yang tak waras, mengenang percintaannya bersama Alina yang kini pupus tanpa bisa untuk ia mengembalikan semua keindahan yang dahulu pernah mereka ciptakan bersama.
Alina berhenti dari isak tangisnya ketika melepaskan kepergian Bagaskara yang terusir dari kediamannya.
"Mas Bagas, mengapa kau tega menghancurkan hati dan perasaan ku? apalah artinya cinta jika kau nodai dengan ritual kemungkaran dan bersekutu dengan syaitan! kau kejam, Mas! pantas saja selama ini aku terus merasakan keanehan dalam diriku? ternyata dirimu penyebab utamanya!" Alina kembali merenung dan murung.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu dan Abang mu? kenapa kau tiba-tiba membenci dan mengusirnya?" tanya ibu Chintya sambil mengelus-elus pucuk kepala Alina.
Sementara Reno dan Guntara menatap penuh prihatin, melihat beban mental yang semakin menggerogoti Alina, wanita yang mereka cintai. Namun, entah kenapa tekad mereka tiba-tiba menjadi melemah untuk mendekati Alina setelah melihat keanehan demi keanehan yang ada dalam diri Alina.
Apalagi ketika melihat Bagaskara di usir, Reno dan Guntara merasakan ada yang merintangi mereka untuk terus mendekati Alina.
Langkah kaki keduanya seolah-olah di tuntun untuk pergi dan menjauhi Alina.
"Om Farel ... maaf, kami harus undur diri! obat ini tolong di berikan kepada Alina!" Guntara menjelaskan tata cara meminumnya.
__ADS_1
Pak Farel pun magut-magut, sebab dari sejak kecil ia sudah terbiasa dengan pengobatan semacam itu. Jadi, tidak ada hal yang sulit baginya untuk menerapkan hal itu terhadap Alina.
"Baiklah, Nak Guntara terima kasih atas semua bantuannya. Maaf, telah merepotkan, maaf juga karena keponakan kami Bagaskara telah berlaku tidak sopan terhadap kalian!" ucap Pak Farel merasa tidak enak hati terhadap Guntara dan Reno.
"Tidak apa-apa, Om. Yang terpenting Alina bisa sembuh!" timpal Reno. Begitupun dengan Alina ia pun melakukan hal yang sama.
Kedua anak manusia itu pun beranjak pergi dari kediaman Alina. Guntara pulang ke kota S, sedangkan Reno pulang menuju kediamannya yang masih satu Desa dengan Alina. Mereka pulang dengan membawa pikiran masing-masing yang berkecamuk di dadanya memikirkan percintaan mereka yang seolah terhalang buhul ghaib yang tak kasat mata.
***
"Nak, tolong makan buah pinang muda ini! sudah ayah gerus untuk mu! juga bawang putih ini, biarkan ibu mu nanti yang menggosok di jempol kaki mu! Untuk air jeruk ini minum dan usapkan lah di wajah mu 3x. Semoga dengan wasilah ini gangguan yang kau alami akan berkurang!" ucap Ayah Farel.
Alina yang masih awwam mengenai itu semua ia pun menuruti cara pengobatan yang diritualkan oleh ilmu syaitan dan perdukunan.
Ibu Chintya menggosok jempol kaki Alina dengan menggunakan bawang putih yang diritualkan oleh Mbah Rohimah.
"Semoga kau sembuh dengan cara ini, Nak!" Ibu Chintya meneteskan air matanya, melihat putri bungsunya kini tidak seceria hari-hari kemarin.
Alina tampak sedih dan murung, ia terlihat melongo tatapannya kosong, seperti tak ada kehidupan di sana. Ia kini tak ubahnya seperti patung yang tak bernyawa, Alina seperti melupakan dirinya sendiri. Ia seperti mati dalam hidupnya.
Alina tak henti-hentinya meneteskan air matanya, batinnya benar-benar tersiksa oleh cinta yang berkabut duka yang telah disematkan oleh Bagaskara dalam hidupnya.
Ibu Chintya pun meninggalkan Alina sendirian di kamarnya, agar putrinya bisa beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
Setelah kepergian Ibunya, Alina kembali teringat dengan sosok Muzakki Ansori yang kerap kali selalu menasehatinya dengan setetes embun kesejukan.
"Kak An, apa kabar mu? Aku hampir melupakan mu!" batin Alina dengan bangkit dari tempat tidurnya. Ia pun meraih tas selempangnya, untuk mengecek keadaan ponselnya.