
Alina nampak termenung di sudut kamarnya, setelah melakukan berbagai rangkaian ibadahnya. Setidaknya dia merasa lebih nyaman, meskipun jika ia sedang lalai kekuatan energi negatif yang ada di dalam tubuhnya tiba-tiba menyerangnya, namun ia tidak berputus asa dan berusaha untuk sembuh.
"Apa yang harus kulakukan? sepertinya aku harus minta pendapat dari kak Andara mengenai penyakit aneh yang ku alami ini? akan tetapi aku malas jika harus berhadapan dengan kakak iparku yang sangat menyebalkan itu, Dimas Sidqi Amrulloh. Sudah lama sekali mereka tidak berkunjung ke sini, semoga saja kak Andara mempunyai solusi dari masalah yang kuhadapi ini!" gumam Alina pelan.
Alina menekan benda pipihnya dan ia pun segera menghubungi kakaknya Andara di kota P.
"Halo, assalamualaikum. Adek apa kabar?" ucap Andara kegirangan di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, ,Alhamdulillah Alina baik, Kak. Bolehkah Alina curhat dengan kakak?" ucap Alina malu-malu.
"Ya bolehlah, Dek! memangnya mau cerita apa? apa kamu sudah menemukan jodoh dan segera ingin menyusul kakak?" ucap Andara menggoda adiknya.
"Jodoh apaan kak, yang ada dapat penyakit!" gerutu Alina yang mulai resah dengan penyakitnya.
"Emangnya sakit apa, Dek? segitunya sampai menggerutu."
Alina pun menceritakan kronologis penyakitnya hingga ia harus sampai berobat ke orang pintar dan kejadian aneh lainnya dialami olehnya.
"Apaaa? jadi benar dugaan kakak selama ini dirimu dan mas Bagas memiliki hubungan khusus! Astagfirullah dek, kenapa semua itu bisa terjadi? Seharusnya kalian memikirkan baik buruknya. Jika sudah begini kita bisa apa? bagaimana jika ayah dan ibu tahu jika yang mengguna-gunai mu adalah mas Bagas tentunya ini akan menjadi musibah besar dalam keluarga kita!" ucap Andara yang kaget mendengarkan penjelasan Alina.
"Alina juga tidak tahu kak, kalau tahu mas Bagas sebejat itu, Alina tidak akan pernah menerima mas Bagas untuk menjadi kekasih Alina."
"Kakak benar-benar tidak harus pikir, Dek. Bisa-bisanya kalian menjalin hubungan yang tak wajar, apalagi kalian berdua adalah adik sepupu. Apakah di dunia ini tidak ada lagi laki-laki dan wanita yang lain untuk dijadikan teman istimewa!" omel Andara setelah tahu kenyataan yang terjadi antara adiknya Alina dan sepupunya Bagaskara menjalin hubungan yang terlarang.
"Mau bagaimana lagi kak semuanya sudah terjadi!" ucap Alina tertunduk lesu.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan kau teruskan lagi berobat ke orang pintar. Sebab itu sama saja menjerumuskan dalam kesyirikan Akbar! artinya sama saja kita menyekutukan Allah dalam keimanan kita!" ujar Andara mengingatkan adiknya.
"Jadi, Alina harus bagaimana, Kak?" tanya Alina penuh dengan kecemasan. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, sebab dalam kepercayaan keluarga mereka jika ada hal-hal yang mistis pastilah yang menjadi tujuan utama adalah merujuk ke orang pintar atau perdukunan sebagai jalan untuk memecahkan segala persoalan yang ada.
Apalagi kedua orang tua mereka begitu sangat mempercayai orang pintar atau dukun yang memang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka dahulu.
"Nanti kakak akan diskusikan dengan kak Dimas, suami kakak. Dia memiliki banyak teman dari kalangan ustadz yang bisa meruqyah orang-orang yang terkena gangguan jin dan sihir atau sejenisnya!" ucap Andara memberikan solusi.
"Tapi, Alina takut, Kak! Alina juga malu jika kak Dimas mengetahui Alina pernah berhubungan dengan kak Bagas dan itu aib untuk Alina, Kak!" terang Alina lagi.
"Kamu mau sehat, kan? kamu juga mau kekuatan energi negatif tersebut tidak menyerangmu, lagi kan? Jadi jangan takut jika untuk berobat ke jalan yang benar! berobat ke orang pintar saja dirimu berani, padahal penuh dengan hal mistis yang jelas-jelas itu bertentangan dengan syariat Islam!" terang Andara, membuat Alina yang masih awwam mengenai pengobatan yang syar'i pun nampak terus berpikir keras memikirkan ucapan kakaknya tersebut yang sama persis dengan nasehat Muzakki Ansori tempo hari.
"Dan satu lagi, kamu harus banyak-banyak berkumpul dengan orang-orang sholih. Ikuti kegiatan islami atau kajian-kajian islami yang bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan tentang agama Islam, agar diri kita terhindar dari hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah!" ucap Andara menasehati adiknya.
"Insya Allah, Kak. Sepertinya, setelah ini Alina ingin mencari pekerjaan di kota S dan tinggal di sana. Alina tidak ingin terus berlama-lama berada di desa! Alina pun tidak ingin terus berada di bawah bayang-bayang masa lalu dengan mas Bagas. Ia benar-benar telah merusak hidupku, jika tahu begini aku tidak akan pernah menerimanya menjadi seseorang yang istimewa dalam hidupku!" sesal Alina.
"Insya Allah kak, setelah ini Alina akan belajar memperdalam ilmu agama. Apalagi, sekarang mas Bagas sudah menikah. Alina ingin jauh dari pandangan matanya agar dia tidak lagi berbuat yang aneh terhadap Alina!" ucap Alina dengan nada serius.
"ltu akan lebih baik, Dek. Jangan berikan kesempatan untuk setan menggoda kalian. Terlepas dari bertaubat atau tidaknya Mas Bagas itu menjadi urusannya sendiri dan tanggung jawabnya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Insya Allah bulan depan, kakak akan berkunjung ke desa, sebab untuk saat ini kakak belum bisa ke mana-mana. Kondisi fisik kakak masih lemah dengan kandungan anak pertama kakak dan kak Dimas."
"Jadi, Alina akan segera punya keponakan dong, Kak!" ucap Alina kegirangan.
"Insya Allah, Dek." Andara nampak bahagia dengan kehamilan anak pertamanya dengan di Dimas Sidqi Amrulloh.
"Pantesan saja kakak jarang pulang, ternyata kakak sudah berbadan dua!" ujar Alina menggoda kakaknya.
__ADS_1
Andara nampak tersipu malu mendengar celotehan adik semata wayangnya.
"Lagi ngobrol sama siapa, Dek?" tanya Dimas di seberang telepon, ketika melihat istrinya Andara tampak asyik berselancar di ponselnya.
"Alina, Kak!" ucap Andara pada Dimas suaminya.
Sementara Alina mendengar celotehan antara kakaknya dan kakak iparnya Dimas di seberang telepon dengan mengerucutkan bibirnya.
"Dasar suami posesif!" batin Alina yang memang sampai saat ini masih marah kepada kakak iparnya tersebut yang dulu pernah merendahkannya dan menganggap dirinya aneh.
Alina pun mengakhiri obrolannya. Sesi curhat dan motivasinya dengan kakaknya Andara terputus saat kehadiran kakak iparnya Dimas. Ia pun kembali menghempaskan tubuhnya di kasurnya, sambil memikirkan segala problema yang menimpanya akhir-akhir ini.
***
Satu minggu pun sudah berlalu, acara resepsi pernikahan antara Bagaskara dan Putri pun berjalan dengan lancarnya.
Banyak dari para tamu undangan keluarga, sahabat, handai taulan dan orang-orang penting yang menghadiri acara resepsi tersebut.
Semua orang nampak berbahagia melihat kedua mempelai yang bersanding duduk di atas pelaminan yang menurut mereka nampak serasi sekali.
Padahal semua itu, hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi kebobrokan Bagaskara Ardhana Putra agar terlihat baik di kancah masyarakat.
Semua orang nampak menghadiri acara resepsi tersebut, namun tidak dengan Alina. Ia asyik berselancar di dunia maya dengan seseorang yang memang sangat dicintai olehnya. Alina sangat malas untuk bertemu dengan Bagaskara yang telah merusak kesucian hatinya dan hidupnya secara perlahan.
"Kak Muzzaki, memangnya kakak tidak ada acara apa-apa hari ini?" tanya Lina dari seberang telepon.
__ADS_1
"Nggak ada hari ini waktunya spesial untuk teman istimewaku!" ucap Ansori tanpa filter. Sehingga membuat detak jantung Alina semakin bertalu-talu terhadap sosok lelaki yang sangat dikagumi olehnya itu.