
"Alhamdulillah, Alina sudah lebih baik ibu!" ucap Alina dengan merangkul ibunya penuh kasih.
"Syukurlah jika begitu, Nak!" Ibu Chyntia mengusap-usap punggung anaknya.
Ayah Farel pun ikut sumringah melihat Alina terlihat ceria.
Namun, tidak dengan Guntara dan Reno, mereka sangat paham dengan keadaan Alina, semua itu hanya bersifat sementara. Selama kekuatan sihir dan makhluk tak kasat mata itu masih bersemayam dalam tubuh Alina, maka Alina akan terus mengalami keanehan sepanjang nafas hidupnya.
"Kak Gun, kak Reno. Terimakasih, sudah menemani dan mengantarkan Alina pulang." Alina terlihat lembut dan gemulai, wajahnya yang semula terlihat pucat pasi, tiba-tiba terlihat cantik alami dan bersinar.
"OMG! Alina begitu terlihat cantik dan bercahaya!" bathin Reno yang mulai dipengaruhi oleh makhluk yang tak kasat mata di tubuh Alina. Reno benar-benar terpukau dan tergila-gila dengan Alina.
Namun, anehnya Alina justru kembali merasa risih dan jijik ketika menyadari Reno menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Ya Allah, kenapa aku rasanya ingin muntah melihat wajahnya kak Reno. Aku tidak menyukainya, kenapa dia menatap ku seperti itu!" batin Alina dengan memalingkan wajahnya dari Rena.
"Jlebbb!" Reno menelan salivanya ketika melihat bibir sensual milik Alina.
Sedangkan Ibu Chyntia sedang ke dapur membuatkan minuman untuk Reno dan Guntara. Sedangkan Guntara nampak asyik bercerita dengan Farel, ayahnya Alina.
Alina duduk menyilangkan kakinya bak Putri Keraton, ia meletakkan tangannya bertumpu di atas lututnya. Alina terlihat sangat cantik dan jelita, membuat Reno semakin terpukau karenanya.
Reno terus menatap wajah ayu Alina dengan perasaan yang bergelora, "Andai saja aku pengantin mu, sungguh ku ingin menjadikan mu ratu di hatiku Alina Cahya Kirani!" bathin Reno dengan berkhayal-khayal tentang Alina.
Menyadari jika Reno terus menatapnya, Alina justru menatap sekilas ke arah Guntara, namun anehnya ketika melihat Guntara justru perasaan Alina mendadak mengagumi pemuda tersebut.
"Astaghfirullah! sepertinya aku sudah gila! melihat kak Reno aku jijik, melihat kak Gun justru perasaan ku semakin bergelora." Alina mencoba menyelami dasar hatinya.
"Ini perasaan cinta apa nafsu? kenapa semakin hari pikiran ku semakin tak menentu? apa ini bagian dari gangguan dari sakit non medis yang ku alami?" Alina terus bertanya-tanya didalam hatinya.
Alina terus berperang dengan pikirannya, begitu pun dengan Reno. Guntara yang menyadari gelagat aneh antara Reno dan Alina ia pun spontan menginjak kaki Reno.
"Awww, sakitttt!" pekik Reno. Lamunannya tentang Alina pun buyar, ketika menyadari kakinya di injak oleh Guntara.
__ADS_1
Alina menahan tawanya ketika melihat wajah Reno yang nampak gusar akibat menahan rasa sakit di jari kakinya.
"Ada apa Nak, Reno?" tanya Ayah Farel.
"Kaki Reno Om di injak gajah!" sangkal Reno sambil nyengir kuda.
Sedangkan, Guntara pun berusaha menahan tawanya, perutnya merasa tergelitik melihat tingkah kocak Reno.
Pak Farel, ayahnya Alina pun ikut melebarkan tawanya melihat kekocakan para anak muda tersebut.
"Kalian disini dulu, ya? Om hendak membersihkan diri dulu! Tadi baru pulang dari perkebunan belum sempat bersih-bersih."
"Iya, Om!" angguk Reno dan Guntara.
Kini tinggallah ketiga anak muda berbeda usia itu saling berkisah satu sama lain. Di tengah keterasyikan mereka saling bercanda ria tampaklah Bagaskara muncul dengan wajah masamnya. Tidak ada angin tidak ada hujan, dan tanpa ucapan salam Bagaskara nyelonong masuk.
"Alina, kau tidak apa-apa?" ucap Bagaskara, ketika dirinya tadi menyaksikan dari kediamannya Alina keluar dari dalam mobil di bopong oleh Guntara membuat Bagaskara naik pitam. Ia cemburu melihat Alina dalam dekapan laki-laki lain selain dirinya.
Bagaskara hendak mendekati Alina, namun Alina enggan menatapnya. Alina sakit hati atas semua kelakuan bejat Bagaskara yang bertubi-tubi padanya.
"Pergi Mas! Aku tidak ingin berbicara dengan mu, sudah cukup kau menyakiti ku dengan semua kebohongan dan kebejatan mu! jangan kau ganggu hidup ku lagi! Aku benci Mas Bagas!" bentak Alina, dengan manik mata yang mulai berembun.
"Ta-tapi, Mas peduli pada mu Alina!" ucap Bagaskara hendak berlutut di hadapan Alina. Ia pun mencoba meraih tangan Alina, namun dengan sigap Alina menepisnya.
"Alina, kenapa kau berubah?" ucap Bagaskara setengah frustasi, ia tak peduli akan kehadiran Reno dan Guntara. Baginya Alina adalah segalanya.
"Cukup Mas! cukup!" Alina berteriak histeris. Sehingga membuat Reno dan Guntara jengah melihat Bagaskara yang nampak kekeuh untuk mempertahankan Alina.
"Apa kau tidak dengar jika Alina tidak ingin lagi bicara dengan mu!" Guntara yang berusaha menahan rasa kesal di dadanya terhadap Bagaskara akhirnya pun membuka suaranya.
"Itu bukan urusan mu! ini adalah masalah ku dengan Alina!" tegas Bagaskara.
"Apa yang menjadi urusan Alina juga menjadi urusan ku! Aku peduli padanya. Aku bukan pecundang seperti mu!" tegas Guntara.
__ADS_1
"Bugh!" satu pukulan mendarat sempurna di wajah Bagaskara, hingga membuatnya meringis kesakitan. Guntara tersenyum kecut, baginya pukulan tersebut tidak sebanding dengan luka hati Alina selama ini. Setelah terlalu seringnya disakiti oleh Bagaskara.
"Berani-beraninya kau memukuli ku!" Bagaskara hendak membalas pukulan Guntara. Namun, pergerakannya di tahan oleh Reno. Reno tidak ingin ada keributan di rumah orang tuanya Alina.
"Hentikan! Ini rumah orang tuanya Alina, jika kalian ingin melanjutkan adu jotos nanti di luar sana!" Reno mencoba untuk melerai pertikaian antara Guntara dan Bagaskara.
Alina menutup gendang telinganya, kepalanya tiba-tiba pusing melihat perdebatan dua anak muda tersebut.
"Sakitttttt!" pekik Alina yang kembali meraung-raung, ia merasakan beban berat di kepalanya melihat pertikaian Bagaskara dan Guntara.
"Astaghfirullah! Alina kau tidak apa-apa?" Reno melepaskan cekalan tangan Bagaskara dan beralih menenangkan Alina.
"Alinaaa!" pekik Guntara dan Bagaskara ketika melihat Alina meringis kesakitan.
"Ini semua karena ulah mu! hiaaaa ... " Bagaskara hendak memberikan bogem mentah di wajah Guntara. Namun, dengan secepat kilat Guntara menepisnya.
"Brukkkk!" Bagaskara jatuh tersungkur hanya dengan satu pukulan yang di layangkan oleh Guntara yang sudah naik pitam dengan kelakuan Bagaskara yang kerap kali menyakiti Alina. Apalagi mengingat Alina yang menderita gangguan penyakit sihir dan guna-guna tersebut adalah ulah Bagaskara.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Ini semua ulah mu, kau yang membuat Alina menderita seperti ini!" Guntara melayangkan bogem mentah di wajah, perut dan bagian-bagian tubuh tertentu untuk melumpuhkan kekuatan Bagaskara.
"Kurang ajar, berdebah!" wajah Bagaskara merah menyala, bola mata menyiratkan kemarahan yang teramat sangat. Ia ingin menggunakan ilmu sihirnya untuk melumpuhkan kekuatan Guntara.
"Hiaaaaa!" hanya dengan satu kekuatan tenaga dalam saja di pastikan musuh akan tumbang dan tak berdaya, namun pergerakan Bagaskara tertahan ketika mendengar pekikan dari arah dapur.
"Nak Bagas, hentikan aksi gila mu!" pekik Om Farel yang seperti paham kekuatan magic yang hendak di luncurkan oleh Bagaskara untuk melumpuhkan Guntara Arjuna Winata.
"Nak Bagas, Nak Guntara!" pekik Ibu Chyntia yang juga baru datang dari arah dapur untuk menyuguhkan minuman untuk para tamunya.
__ADS_1
Prankkkkk! gelas minuman dalam genggaman Ibu Chyntia pun retak seribu, ketika ia melihat kekacauan yang terjadi di ruang tamu.
"Apa yang terjadiiii?" pekik Ibu Chyntia histeris.