
Maharani tidak henti-hentinya mengembangkan senyumnya, ia merasa senang melihat Bagaskara yang selalu gagal untuk menuntaskan hasratnya pada Alina Cahya Kirani.
"Aku harus mendekati kak Alina dan mengatur siasat agar kak Alina tahu kebejatan Bagaskara sepupunya, aku tidak akan membiarkan Bagaskara menghancurkan harkat dan martabat kaum wanita. Enak saja semua wanita dan teman-teman ku menjadi korbannya." Maharani berjalan menuju rumahnya setelah selesai menguntit pergerakan Bagaskara dan Alina.
Maharani segera masuk ke dalam kamarnya dan kembali melancarkan aksinya, mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit membaca mantra yang di tujukan pada Bagaskara Ardhana Putra yang masih berada di kediaman Alina Cahya Kirani.
Maharani sengaja mencuri kesempatan dalam kesempitan, di saat Bagaskara lalai dan lengah, di saat itulah Maharani menghembuskan ajian pengasihannya untuk menundukkan Bagaskara Ardhana Putra agar bertekuk lutut padanya.
"Kali ini, aku yakin siasat ku tak akan gagal!" bathin Maharani dengan sorot mata yang merah menyala, ilmu yang dianutnya kini telah merasuki dalam tubuh dan pikirannya.
"Ha ... ha ... ha, aku tidak menyangka aku bisa mempelajari ilmu peninggalan mendiang kakek ku dari tanah Jawa." Maharani tidak henti-hentinya komat-kamit membaca mantra untuk menyerang Bagaskara Ardhana Putra.
***
"Awww, jantung hatiku terasa disusuk ribuan jarum. Sakit sekali! Maharani kau dimana? aku tidak tahan jika tidak melihat mu!" bathin Bagaskara hendak meninggalkan Alina yang sedang meringis kesakitan memegang kepalanya.
"Alina, Mas pergi dulu! ada keperluan mendesak yang harus Mas tangani."
"Tapi, Mas. Alina butuh Mas, menemani Alina disini!" timpal Alina yang masih dalam pengaruh ajian Bagaskara Ardhana Putra.
"Ma-af, Mas harus pergi Alina!" sarkas Bagaskara yang kini didera rasa rindu yang teramat dalam pada Maharani.
"Maharani, aku merindukanmu!" bathin Bagaskara yang didera rasa yang bergelora pada sosok Maharani.
"Mas!" ucap Alina melemah. Alina pun perlahan memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah seperti seorang yang habis memikul pekerjaan yang berat, pengaruh ajian pengasihan yang dihembuskan oleh Bagaskara membuatnya mengantuk berat. Namun, setidaknya ia beruntung bisa selamat dari tindakan asusila Bagaskara dalam keadaan tidak sadarnya.
__ADS_1
"Om Farel, Tante Chyntia, Bagas pulang dulu! Alina sudah istirahat di kamarnya!" Bagaskara nampak terburu-buru keluar dari kediaman keluarga Alina. Hatinya seolah-olah di garuk-garuk untuk segera menemui Maharani. Jika sampai tidak bertemu Maharani ia justru akan merasakan tersiksa setengah mati. Hati dan perasaannya benar-benar di aduk-aduk oleh perasaan yang membara pada Maharani.
Om Farel dan Tante Cynthia, orang tuanya Alina saling lirik pandang ketika melihat Bagaskara tergopoh-gopoh beranjak dari tempatnya.
"Ada apa dengan Nak Bagas, Bu? kenapa ia nampak buru-buru sekali seperti orang yang di kejar Bull dog!" timpal Om Farel.
"Ibu juga nggak tahu, Yah. Berapa waktu ini, Ibu memang melihat keanehan pada diri Bagaskara dan Alina anak kita. Entah apa yang disembunyikan mereka, ibu juga tidak tahu apa yang membuat mereka berdua bersikap demikian. Sebaiknya, kita lihat dulu keadaan Alina!"
Tante Cynthia pun mengamit tangan suaminya, menuju kamar Alina.
"Apa yang terjadi dengan mu, Nak? kenapa dirimu mudah sekali lelah dan sakit-sakitan?" gumam Ibu Cynthia sambil mengelus pucuk kepala putrinya yang sedang terlelap.
Sedangkan Ayah Farel nampak menyelimuti putri kesayangannya itu dengan penuh kasih.
"Selamat tidur, putri bungsunya ayah dan ibu. Semoga Allah senantiasa menjaga mu di mana pun dirimu berpijak, Nak! semoga rasa sakit yang kau alami segera sembuh, hingga hari esok kau pun terbangun dalam keadaan segar bugar." Do'a yang teruntai dari ayah Farel untuk Alina puteri kesayangannya.
"Bu, sebentar lagi putri kita Andara Albiya Finzani akan segera kembali ke rumah. Ia akan segera berhenti bekerja dan akan menikah dengan pemuda pilihannya, Dimas Sidqi Amrulloh. Kita akan merasakan kesepian jika puteri sulung kita menikah. Biasanya satu Minggu sekali ia pulang ke rumah untuk mengunjungi kita pas libur kerja. Jika ia sudah menikah katanya ingin tinggal di kediaman suaminya, tentu ia akan jarang pulang." Wajah ayah Farel berubah pias.
"Jangan bersedih, Yah. Kita masih punya Alina, ia baru berusia 17 tahun. Setidaknya, ia masih lama berada di samping kita!" Ibu Cynthia nampak menghibur suaminya.
"Terima kasih Bu, sudah mengingatkan ayah!" kedua orang tua Alina pun saling merangkul satu sama lain.
"Yah, ayo kita kembali ke kamar kita! biarkan Alina istirahat dengan tenang," ucap ibu Cynthia dengan menggandeng suaminya seperti masih muda, layaknya pengantin baru. Keduanya berjalan menuju kamarnya untuk mengistirahatkan diri setelah pun melewati aktivitas seharian penuh.
***
__ADS_1
Di sisi lain.
Maharani nampak bersandar di tempat tidurnya, setelah menghembuskan mantranya pada Bagaskara Ardhana Putra. Ia tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, namun Maharani masih kesulitan memejamkan matanya, ia sebenarnya sangat mencintai Bagaskara. Namun, karena rasa kecewanya ia pun sulit mempercayai Bagaskara sebab sudah ketahuan belangnya.
"Aku memang sudah jatuh hati pada mu kak Bagas, namun aku tidak ingin jatuh dalam perangkap mu. Kau sangat luar biasa buayanya, dan aku harus senantiasa menjaga diri ku agar tidakmudah terjerat dan tergoda oleh bujuk rayu bualan mu!" ucap Maharani yang mengingat kembali adegan yang mesranya bersama Bagaskara Ardhana Putra.
"Kenapa bayangan wajah mu senantiasa menghantui ku kak Bagas, aku tidak ingin menjadi manusia bodoh yang terlalu berharap pada seseorang yang tak punya hati!" celoteh Maharani pada dirinya sendiri. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya. Namun, jendela kamarnya seperti ada yang mengetuk berulang-ulang.
Tok ... tok ... tok, "Siapa sich malam-malam begini ketok-ketok pintu?" Maharani beranjak dari tempat tidurnya dengan rasa malas, namun matanya tiba-tiba membola sempurna ketika melihat siapa yang hadir di hadapannya.
"Kak Bagas, kau disini!" pekik Maharani dengan rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, aku disini. Aku sangat merindukanmu Maharani." Bagaskara hendak masuk lewat jendela untuk menghampiri Maharani yang terlihat sempurna dalam pandangan matanya.
"Jangan masuk, Kak! pamali," pungkas Maharani. Ia pun nekat turun dari jendela kamar dengan sangat hati-hati, karena takut ketahuan ayah dan ibunya, jika diam-diam ia keluar dari kamarnya.
"Hati-hati, biar kakak bantu untuk mengimbangi mu!" Maharani pun menyambut uluran tangan Bagaskara. Ia pun loncat dari jendela kamarnya.
"Awww, sakit!" pekik Maharani ketika menyadari ia terjatuh menimpa tubuh Bagaskara, dengan posisi ia berada di atas tubuh Bagaskara, sebaliknya Bagaskara berada di bawah kungkungannya.
Bagaskara yang masih dalam pengaruh ajian pengasihan dari Maharani pun tiba-tiba menatap gadis belia itu dengan penuh kasih.
"Maharani, kau terlihat sangat cantik dan mempesona!" ucap Bagaskara dengan deru nafas yang memburu. Ia pun terus memandangi wajah Maharani dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"OMG, sepertinya siasat ku berhasil!" bathin Maharani dengan detak jantung yang berdebar-debar, ketika menyaksikan dirinya dan Bagaskara saling memandangi.