
Reno terus menggoyang-goyang tubuh Alina, ia pun menepuk-nepuk kedua pipi wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, Alina tak kunjung sadarkan diri, wajahnya pun terlihat pucat seperti tak berdarah.
"Apa ia masih hidup?" gumam Reno dengan memeriksa urat nadi Alina.
"Syukurlah kau masih bernafas Alina, sebenarnya kau sakit apa? aku harus membawa mu ke dokter!" Reno pun mengangkat tubuh Alina ala bridal style, ia hendak mencari pertolongan untuk Alina.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka pun segera mengerumuni Reno yang sedang mondar-mandir menggendong tubuh Alina yang masih dalam keadaan pingsan.
"Ada apa dengan istrinya, Bang?" tanya orang-orang di sekitar jalan raya tersebut. Mereka mengira jika Alina adalah istrinya Reno.
"Dia tiba-tiba mengeluhkan sakit kepala, kemudian wajahnya berubah pucat pasi. Ia sempat berujar jika ada yang menarik dan menghisap tubuhnya! tubuhnya pun sempat menggigil kedinginan, sebelum dirinya jatuh pingsan!" terang Reno.
"Subhanallah, ini bahaya sepertinya istri anda terkena serangan mendadak?" ucap seseorang yang seolah-olah memiliki mata bathin.
"Maksudnya serangan seperti apa? aku ingin membawanya ke dokter, adakah yang berkenan untuk memberikan tumpangan untuknya?" Reno benar-benar panik, sebab Alina tidak sadarkan diri dari sejak tadi.
"Kau hanya punya satu pilihan, membawanya berobat ke orang pintar, sebab dokter tidak akan mampu menangani penyakit istri anda." Orang yang seolah-olah merasakan hawa mistis yang ada dalam diri Alina pun mengarahkan Reno pada pengobatan alternatif yang berhubungan dengan perdukunan.
"Maaf, pak. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit!" tegas Reno yang tak rela jika ada yang merendahkan Alina dan menganggap wanita yang dicintainya terkena gangguan seperti yang dikatakan oleh orang tersebut.
"Mari saya antarkan kerumah sakit!" sarkas seorang pemuda yang tak sengaja melihat keributan yang ada di pinggir jalan, hingga ia pun menyempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi.
"Baiklah, terimakasih! motor ku, biar ku parkiran kan dulu di tempat parkir! nanti jika sudah selesai urusannya baru aku kembali kesini lagi!" pungkas Reno.
"Ya sudah, silahkan bawa masuk ke mobil ku wanita mu!" ucap laki-laki tersebut. Ia tidak memperhatikan siapa perempuan yang di bopong oleh Reno.
Reno pun memasukkan Alina kedalam mobil, ia merasa bahagia bisa terus berada di sisi Alina.
"Alina, bangunlah! kita hendak kerumah sakit, tolong buka matamu!" Reno hampir menjatuhkan air matanya. Dirinya tak sanggup melihat penderitaan Alina.
__ADS_1
"Alina Cahya Kirani!" pekik pemuda yang memiliki mobil berkelas yang di tumpangi Alina dan Reno.
"Kau, apa kau mengenal Alina?" Reno menatap pemuda yang barusan memanggil nama lengkap Alina.
"Iya, kenal dekat." pemuda itu menjawab santai, namun ia pun merasa tidak tenang setelah mengetahui jika wanita yang sedang terkapar tersebut adalah wanita yang sangat dikaguminya selama ini.
Alina tiba-tiba meracau dalam keadaan mata masih terpejam, "Mas Bagas, Mas dimana? Mas Bagas, Alina merindukan Mas!" racau Alina, bulir air matanya pun berlinang membasahi pipinya. Alina terus menangis dalam keadaan terpejam.
"Astaghfirullah! sepertinya Alina memang sedang tertekan atau terkena gangguan? kenapa dari sejak tadi ia selalu menyebut nama Bagaskara? apa mungkin ustadz Bagas melakukan cara yang keji? naudzu billah!" bathin Reno bertanya-tanya.
Pemuda yang memberi tumpangan pada Alina dan Reno, yang tak lain adalah salah satu pengagum Alina yakni, Guntara Arjuna Winata pun segera menepikan mobilnya sejenak, mendengar igauan Alina.
"Sepertinya, sakit yang di alaminya sangat tidak wajar, apa kita bawa saja ia ke psikiater atau pengobatan alternatif lainnya?" Guntara memberi saran, ia sangat paham betul mengenai sakit medis dan non medis.
"Kau seperti ahli nujum saja! akan tetapi hari ini sudah dua kali yang mengatakan jika Alina terkena serangan mendadak, artinya penyakitnya memang tak lazim. Apa kita bawa ke orang pintar saja!" saran Reno.
"Maksudnya ke Mbah dukun gitu?" Guntara balik bertanya.
"Kita kerumah Mbah Rohimah, ia ahli pengobatan alternatif yang tak jauh dari sini!" ujar Guntara dengan memutar kembali mobilnya menuju kediaman Mbah Rohimah.
Sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Mbah Rohimah yang kini tinggal di sebuah gubuk reyot yang terlihat penuh dengan aura mistis.
Sebagai seorang muslim, mereka pun mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
"Assalamu'alaikum!" sapa Reno dan Guntara.
Kedua pemuda yang sama-sama mengagumi Alina tersebut nampak tegang, keringat pun mengucur dingin dari dahi keduanya.
Mereka saling lirik pandang ketika gubuk reyot itu terbuka.
__ADS_1
Krieeetttt! bunyi pintu gubuk tua tersebut dibuka, "Silahkan masuk cucu-cucu ku!" ucap suara khas nenek-nenek yang sudah lanjut usia dari dalam gubuk reyot tersebut.
Reno dan Guntara pun sambil lirik pandang, detak jantung mereka seolah-olah sedang lari maraton. Sebab penasaran dan khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sebentar, kau masuk duluan! aku mengangkat tubuh Alina yang masih berada didalam mobil, dulu!" seru Reno yang di angguki langsung oleh Guntara Arjuna Winata.
Reno berjalan menuju mobil, ia hendak mengangkat tubuh Alina yang ia kira masih terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Alina, kau sudah sadar?" tanya Reno dengan menyentuh lembut kedua pipi Alina.
Alina yang memiliki mata batin dan bisa merasakan aura mistis yang berlawanan dari dalam dirinya, pun enggan keluar dari dalam mobil.
Alina tiba-tiba menatap nyalang pada Reno, rasanya dirinya begitu muak dan jijik pada Reno.
"Ya Allah, kenapa diriku tiba-tiba membenci kak Reno? padahal ia sangat baik pada ku?" batin Alina yang memang tidak menyadari jika dirinya dalam pengaruh makhluk gaib.
"Kenapa Alina menatap ku seperti itu? sepertinya memang benar-benar ada yang tidak beres dalam diri Alina. Ia memang harus segera di obati!" bathin Reno.
"Alina, kita turun ya? kita hendak mengobati penyakit mu! ku mohon jangan menolak, ini demi kebaikan mu!" ucap Reno setengah memelas.
Alina pun terpaksa turun dari dalam mobil mengikuti langkah kaki Reno. Mereka pun berjalan menuju gubuk reyot tersebut, menyusul Guntara yang sudah masuk duluan.
"Astaghfirullah! apa yang terjadi pada ku? sepertinya aku merasakan adanya aura mistis di sini! ada sesuatu yang seperti magnet menarik raga ku untuk masuk ke dalam gubuk ini? Ada apa dengan ku?" batin Alina yang berusaha menetralkan detak jantungnya yang mulai tak karuan, keringat dingin pun mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Alina kamu rileks ya? jangan terlalu tegang!" ucap Reno dengan kembali memenangkan Alina.
Keduanya pun perlahan masuk ke dalam rumah gubuk tersebut dan di sambut dengan tatapan yang menghunus dari sosok Mbah Rohimah.
"Jangan takut, ya? ada aku untuk mu!" ucap Reno menenangkan Alina, Alina pun refleks berpegangan pada lengan Reno, seperti anak kecil yang ketakutan jika hendak di injeksi oleh dokter.
__ADS_1
"Kak Guntara? kau disini juga?" Alina nampak kaget dengan keberadaan Guntara di gubuk reyot tersebut. Ia mulai berpikiran negatif terhadap sosok Guntara yang tanpa ia sadari mobil yang ditumpanginya bersama Reno barusan adalah hak milik Guntara.
"Iya, ini aku!" ucap Guntara dengan menahan rasa cemburunya, ketika netranya tak sengaja melirik Alina memegang erat lengan Reno.