Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 96. Biarkan Saja


__ADS_3

Alina terus menikmati jus buah naga dan juga burger yang barusan ia beli bersama Guntara. Ia sengaja tidak mengangkat dering ponselnya, namun lama-kelamaan dia merasa jengah sebab sudah belasan kali deringan tersebut mengganggu gendang telinganya.


"Sudah angkat saja, mana tahu penting." Guntara coba untuk memberi saran.


Alina pun segera mengecek ponselnya, "Kak Muzzaki Ansori!" batin Alina tanpa berniat sedikitpun untuk mengangkat ponselnya. Ia masih kecewa oleh sebab Ansori ternyata telah dijodohkan dengan wanita pilihan umminya.


"Biarkan saja aku mendiamkannya, sungguh aku benar-benar malas untuk sekedar berbicara padanya. Apalagi yang harus dijelaskan, nyatanya dirinya pun mungkin lebih memilih wanita itu daripada aku." Alina pun terus ngedumel di dalam hatinya.


"Kenapa di simpan kembali ponselnya?" tanya Guntara lagi, setelah melihat Alina menyimpan ponselnya di dalam tas.


"Bukan siapa-siapa, biarkan saja!" cetus Alina dengan kembali menyeruput jus buah naganya yang masih tersisa sedikit.


"Kok di biarkan saja, memangnya itu tidak penting?" Guntara semakin kepo, ia begitu penasaran kenapa Alina begitu cuek terhadap itu semua.


Hening, Alina enggan menjawab pertanyaan Guntara. Ia lebih memilih untuk menghabiskan cemilan di hadapannya ketimbang menjawab pertanyaan Guntara yang begitu mengganggu konsentrasinya.


"Sepertinya waktu bermain ku sudah habis, khawatir ayah dan ibu ku menunggu ku di rumah." Alina hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, Guntara menahannya.


"Aku antar pulang ya?" Guntara memberikan penawaran.


"Boleh, tapi kita harus kembali ke mall yang tadi. Aku lupa mengambil kembali nasi kotak ku yang di titipkan di security tadi." Alina terkekeh, bagaimanapun itu adalah pemberian Ansori untuknya ketika ia menghadiri acara wisuda pemuda yang sempat singgah dihatinya, walaupun kini semuanya terasa hambar.


Alina berusaha meredam kekecewaannya, dirinya pun terpaksa menerima penawaran Guntara untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Ia berasa malas untuk menunggu Bis tujuan tempat tinggalnya.


"Tidak apa-apa sekali-kali sedikit nakal, aku capek selalu jadi bualan laki-laki. Apa salahnya aku mencoba membuka hati dengan yang lain, walaupun hanya sekedar berteman. Selama ini aku selalu di bohongi dan di permainkan oleh laki-laki, apa salahnya sekarang aku yang sedikit PHP pada mereka." Alina terselip rasa dendam pada laki-laki yang selalu menyakiti perasaannya.

__ADS_1


"Tapi, kasian juga kak Gun. Dia laki-laki baik, apa aku tega menghempas rasanya?" batin Alina yang tak sampai hati mempermainkan seseorang, apalagi orang itu baik padanya.


"Hey, kok melamun ayo naik!" ajak Guntara dengan mengendarai motor ninjanya yang didominasi warna oranye tersebut.


"Aku duduk di mana? kok motornya saja yang gede? namun tempat duduknya sempit sekali!" sela Alina sambil menggigit bibirnya, tanda kebingungan.


"Sudah naik saja, jangan khawatir. Ini muat kok untuk tubuh mungil mu," sela Guntara tanpa filter.


"Resiko CENTIMEN ya begini motornya gede dan tinggi pula, kan susah menaikinya." Alina pun terpaksa menaiki bobot tubuh mungilnya di atas motor gede tersebut.


"Memangnya Centimen itu apa?" tanya Guntara seolah terlihat bodoh di hadapan Alina.


"CENTIMEN itu artinya berapa Centimeter dari semen, Kak. Contohnya aku," sela Alina yang kini telah mendaratkan bokongnya di belakang Guntara.


"Kamu ada-ada saja Alina, ternyata diri mu pandai merangkai kata." Guntara tampak memuji kecerdasan Alina.


"No way, aku bisa menjaga diriku agar tidak jatuh. Aku tidak mungkin bersentuhan dengan yang bukan mahram ku." Alina tetap menjaga jaraknya.


"Berisik sekali ini ponsel, sudah berkali-kali di diamkan masih terus menghubungi. Maunya apa sih!" Alina mematikan ponselnya, ia merasa jengah dengan Ansori yang terus menghubunginya.


"Aku capek, aku lelah. Jalankan motornya kak!" pinta Alina tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab telfon Ansori.


***


"Alina, kau dimana? aku mengkhawatirkan mu, apakah dirimu sudah sampai di rumah?" Ansori terus memainkan ponselnya untuk menghubungi Alina.

__ADS_1


"Yah, dimatikan. Sepertinya, ia benar-benar marah padaku." Ansori merasa sangat bersalah karena tanpa sengaja telah mengecewakan Alina.


"Ini yang aku takutkan, akhirnya terjadi juga. Maafkan aku Alina, ini salah ku. Aku yang telah membangun kepercayaan padamu. Aku yang telah mencuri hati mu, namun akhirnya aku pula yang menyakitimu." Ansori menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang.


Hari ini, Ansori telah kembali kerumah orang tuanya di kota P, setelah sebelumnya ia tinggal di sebuah asrama yang tidak jauh dari kampusnya.


Tok ... tok ... tok," Nak, apa yang kau lakukan didalam. Ummi dan Abi sudah menunggu mu untuk bercengkrama, ada Annisa juga. Dari sejak tadi ia belum pulang. Ia sengaja menunggu mu, kita kumpul bersama." Suara Ummi Ansori di balik pintu terdengar jelas ditelinga Ansori.


"Ia, Ummi. Sebentar!" Ansori tidak punya semangat untuk sekedar keluar dari kamarnya, pikirannya hanya tertuju pada Alina. Namun, ia terpaksa memenuhi keinginan Umminya. Dirinya tidak ingin mengecewakan bidadari tak bersayapnya.


"Apa kukirimkan pesan kepada Alina? semoga nanti terbaca olehnya," gumam Ansori yang masih terus mengkhawatirkan keadaan Alina. Apalagi jika ia sangat mengetahui Alina rentan bersedih dan murung terkait dengan sakit yang masih menggerogoti tubuhnya.


Ansori sangat paham sekali, jika Alina belum sembuh dari penyakit non medisnya. Jika Alina terus didera rasa sedih, sakit hati dan kecewa akan tidak mungkin makhluk yang bernama Jin atau syaitan yang bersarang di tubuh Alina, akan terus mempengaruhi pikiran Alina dengan hal-hal yang buruk. Dan Ansori tidak ingin Alina terus menderita menahan rasa sakitnya.


📲 "Assalamu'alaikum, Alina maafkan aku. Ku mohon jangan mendiamkan aku seperti ini! Aku tahu kau marah padaku. Aku benar-benar minta maaf jika tanpa sadarku telah menyakitimu. Aku peduli padamu Alina! jika kau sudah merasa sudah lebih nyaman, ku mohon balaslah pesanku dan angkatlah telfon ku! Aku mengkhawatirkan mu," by Muzzaki Ansori.


Setelah mengirimkan pesannya, Ansori pun menuju ke ruang keluarga menemui kedua orang tuanya juga Annisa yang sudah dari sejak tadi menunggu kedatangannya.


"Kemarilah Nak, duduk di sebelah Ummi. Ada banyak hal yang harus kita bahas," terang Ummi Ansori dengan wajah berbinar.


Ansori pun terpaksa duduk di samping umminya, sementara Annisa nampak tertunduk malu. Ia merasa tidak nyaman, sebab Ansori begitu sangat kentara tidak menyukainya apalagi sampai menerima perjodohan dengannya.


"Ya Allah, kuatkan hati hamba dalam melalui semua proses kehidupan ini. Jika ia memang jodoh ku lunakkan lah hatinya untuk menerima ku menjadi bagian dari tulang rusuknya." Do'a yang terbesit dari kedalaman hati Annisa Nur Fadhilah.


Seketika Ansori menatap sekilas ke arah Annisa yang tampak menundukkan pandangannya, tanpa sedikitpun melirik ke arah Ansori.

__ADS_1


"Ya Allah, getaran apa yang telah memenuhi relung jiwaku? mengapa rona wajahnya yang teduh mampu menenangkan jiwaku!" batin Ansori dengan secepatnya mengalihkan pandangannya dari keterpanaannya pada sosok Annisa Nur Fadhilah.


__ADS_2