Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 43. Semakin Memanas


__ADS_3

Bagaskara terus menatap nyalang ke arah Guntara dan Reno yang kentara sekali beradu untuk mendapatkan Alina. Sayangnya, Alina yang tidak ingin terlalu ambil pusing dengan perhatian para lelaki tersebut ia tetap bersikap santai dan sewajarnya.


"Ma-af, silahkan di nikmati dulu hidangannya kak Gun! Alina break dulu sejenak," ucap Alina yang sedang ingin mengangkat ponselnya yang bergetar dari sejak tadi.


Guntara pun mengangguk pelan. Ia pun melanjutkan menikmati hidangannya.


"Kak Reno, tolong temani kak Putri! Alina mau kebelakang sejenak. Ada telfon dari teman," ucap Alina dengan segera menjauh dari keramaian.


Reno pun menyanggupi permintaan Alina, meski pada kenyataannya, dirinya berharap untuk bisa lebih dekat dengan Alina Cahya Kirani.


Putri yang bisa membaca pikiran Reno pun akhirnya turun tangan. "Santai aja kak Reno, kalau jodoh tidak kemana? sebelum janur kuning melengkung Alina masih milik bersama, kok!" ucap Putri santai.


Reno menjadi salah tingkah, semua ucapan Putri itu benar, jika dirinya telah jatuh hati pada Alina, dan dirinya tidak ingin Alina sampai jatuh ke tangan pria lain.


"Hemmm ... apa kau menyimpan nomor Alina? jika ada, tolong kirim padaku ya?" pinta Reno setengah berbisik.


"Ada, ini? silahkan save!" ucap Putri santai, membuat Bagaskara menatap nyalang pada kedua anak manusia itu.


"Kurang ajar! apa yang direncanakan Queensha Putri dan Reno? Belum kapokkah dirimu Queensha Putri Fayanna? awas saja jika kau berani macam-macam terhadap hubungan ku dan Alina, kupastikan hidup mu tidak akan pernah tenang!" bathin Bagaskara yang mulai dirasuki makhluk tak kasat mata yang kini menguasai dirinya. Sebab, tanpa disadari Bagaskara jatuh dalam kesyirikan Akbar yang benar-benar telah menenggelamkannya dalam kesesatan dan kemaksiatan yang teramat dalam.


Bagaskara yang merasakan hawa mistis sedang menguasainya, ia pun menjauh dari keramaian. Bola matanya tiba-tiba merah menyala, ia hendak mencari keberadaan Alina yang telah menghilang dari pandangannya. Membuatnya di dera rasa cinta berkabut nafsu yang luar biasa pada sosok Alina Cahya Kirani.


***


"Alina di mana dirimu? ingin rasanya aku menggauli mu saat ini juga!" bathin Bagaskara yang sedang mencapai puncak nafsu yang tinggi terhadap Alina. Pasalnya senjata ampuhnya tiba-tiba berdiri tegak ingin menyalurkan hasratnya. Bagaskara benar-benar tergila-gila pada Alina yang membuatnya di landa cemburu dan mabuk kepayang.


"Mau kemana kau, Nak? jangan coba-coba untuk menganggu dan menyakiti Alina!" sentak Mama Laras yang kini tiba-tiba muncul di hadapannya. Seolah menghalangi langkahnya untuk mencari keberadaan Alina.

__ADS_1


"Ibu, menyingkirlah!" ucap Bagaskara dengan mata merah menyalang seperti hendak menerkam mangsanya.


"Tenangkan diri mu, Nak! ini tempat khalayak ramai, jangan sampai orang lain mengetahui sikap burukmu. Jangan biarkan hawa nafsu syaitan terus menguasai mu!" ucap Mama Laras dengan berusaha menenangkan gemuruh di dada Bagaskara yang seolah berkobar bagai nyala api yang sangat membara.


Bagaskara melihat kesekelilingnya ia pun berusaha meredam segala hasrat yang terpendam di hatinya.


"Sejak kapan ibu mengekori ku!" ucap Bagaskara mulai melemah. Bola matanya pun kini terlihat normal tidak seperti sebelumnya, sangat nampak kebengisan yang bersarang di jiwanya.


"Ibu tidak sengaja melihat mu di dera rasa cemburu, ketika melihat Alina bersama laki-laki lain pada saat Alina berada di ruang lingkup kepanitiaan!" ucap Mama Laras jujur.


Bagaskara pun terdiam, ia pun berpura-pura santun dan lembut di hadapan ibunya.


"Iya, Ibu. Bagas memang cemburu melihat Alina dekat-dekat dengan yang lain. Tapi, mau bagaimana lagi, Bagas sadar jika antara Bagas dan Alina adalah saudara sepupu. Dan kami tidak mungkin untuk bersama!" ucap Bagaskara dengan memasang wajah sedih.


"Kamu sabar ya, Nak! ibu telah memilih jodoh yang terbaik untuk mu, jika sudah saatnya ibu akan mempertemukan dirimu dengannya!" ucap Mama Laras dengan manik mata tertuju pada salah satu panitia wanita berkerudung cantik yang memang telah dijodohkan Mama Laras dengan Bagaskara Ardhana Putra.


"Tentu saja kau sangat mengenalnya, Nak! Ia adalah anak teman dekat Ibu dari sejak SD, SMP dan SMA dulu, Nak."


Mama Laras nampak tersenyum bahagia, ia mengira Bagaskara benar-benar telah menerima perjodohan tersebut, padahal sejatinya Bagaskara hanya tergila-gila dengan Alina saja. Tiada yang lain.


"Kalau begitu, Bagas mau menyusul Alina dulu ibu, mau mengajak Alina makan siang dulu, mumpung tamu undangan sudah mulai sepi!" pungkas Bagaskara seolah-olah terlihat santai, padahal perasaannya seperti di aduk-aduk oleh rasa cemburunya yang teramat dalam terhadap Alina Cahya Kirani, cinta gilanya.


***


Bagaskara mondar-mandir mencari keberadaan Alina, namun tak jua di temukannya.


"Alina kau jangan membuat aku resah seperti ini. Kau dimana?" Celoteh Bagaskara. Ia celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Alina. Namun, tak jua di temukan sosok gadis pujaan hatinya tersebut.

__ADS_1


"Berdebah! kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi? Ia sedang telfonan dengan siapa?" Bagaskara semakin memanas ketika menyaksikan Alina duduk santai dan menjauh dari keramaian.


Alina menggoyangkan kakinya sambil tersenyum-senyum ceria, di balik telfon dengan seseorang yang memang sangat di cintainya.


"Coba saja kak An, ada di sini tentunya Alina sangat bahagia sekali, Kak. Di antara semua teman-teman Alina hanya kak Ansor yang tidak menghadiri walimahan kakak ku. Jika saja kakak datang kemari, Alina akan memperkenalkan kakak dengan keluarga Alina, bahwa kini Alina sudah punya teman istimewa, yakni kak Muzzaki Ansori!" ucap Alina penuh harap.


"Maafkan kakak ya Alina, kakak belum bisa pulang. Kakak harus menyelesaikan magang kakak yang masih tinggal 10 bulan lagi! Insya Allah setelah ini kakak akan segera kembali menemui mu!" ucap Ansori meyakinkan.


"Benarkah begitu, Kak?" tanya Alina penuh antusias.


"Insya Allah benar, Alina. Semoga Allah segera mempertemukan kita kembali!" ucap Ansori yang juga di dera rasa rindu yang teramat dalam pada Alina, walaupun baru sekali ia berjumpa.


"Kalau begitu, Alina akan setia menunggu kak An di sini!" ucap Alina yang memang dirinya benar-benar telah jatuh hati pada Muzzaki Ansori.


"Terima kasih, atas segala penantiannya!" ucap Ansori yang juga memiliki rasa yang sama terhadap Alina.


Obrolan keduanya pun terus berlanjut, keduanya pun semakin intens berkisah. Alina tidak menyadari jika kini Bagaskara menatapnya dengan perasaan yang semakin memanas.


Semula Bagaskara cemburu dengan Reno dan Guntara yang hendak mendekati Alina. Namun, sekali ini rasa cemburu Bagaskara semakin meningkat menjadi 99%, ketika melihat Alina nampak asyik berbicara dengan Muhammad Al Faris Muzzaki Ansori lewat bahasa telfon.


"Alina Cahya Kirani, kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Bagaskara tiba-tiba. Hingga membuat Alina nampak terkejut dengan kehadiran Bagaskara Ardhana Putra disampingnya.


"Kak Bagas, ia disini?" bathin Alina didera oleh rasa takut dan khawatir. Kalau-kalau Bagaskara akan merebut ponselnya dan memarahi Muzzaki Ansori yang telah menghubungi dirinya dengan penuh sukacita.


"Semoga saja, kak Bagas tidak nekad ya Rabb!" Alina berdo'a penuh ketulusan. Sebab dirinya tidak ingin Bagaskara mencaci maki Muzakki Ansori.


"Siapa yang memanggil mu Alina?" tanya Ansori dari seberang telfon.

__ADS_1


__ADS_2