
Dalam keadaan sadar atau tidaknya, Alina sangat berharap jika Ansori bisa menjadi imam untuknya. Apapun yang terjadi ia akan terus berjuang untuk bisa menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidup Ansori.
Meskipun terkadang rasa cinta benci dan dendam sering merajai hatinya, Alina terus meyakinkan dirinya jika Ansori adalah sosok laki-laki soleh yang bisa membimbingnya dalam kebaikan dan kebenaran untuk menggapai keridhoan-Nya.
Alina sama sekali tidak mengetahui jika Ansori telah dijodohkan dengan wanita Sholihah pilihan orang tuanya. Entah apa jadinya jika Alina mengetahui itu semua. Tentunya, ia akan menikmati derita di atas cintanya yang tak kesampaian. Mungkin ia akan bersikap seperti orang yang kehilangan akal sebab tiada lagi bahu yang menopangnya, yang senantiasa menjadi tempat untuknya mengadu segala keluh kesah dan keresahannya.
Alina kembali menggoreskan tinta penanya di atas buku hariannya, ia mengungkapkan semua rasa isi hatinya yang terpendam untuk sosok Muhammad Al Faris Muzakki Ansori laki-laki yang sangat dicintai olehnya.
Alina pun mengukir kata-kata yang membuat dirinya tetap bersemangat untuk bertahan hidup dan sembuh dari rasa sakit yang diderita olehnya, kata-kata itu menjadi harapan untuknya agar bisa membina hubungan yang halal bersama sosok Muzakki Ansori.
"Wahai kau insan yang di sana, sungguh hatiku telah terpaut padamu. Kau yang telah memberikan setetes harapan untukku tetap bertahan mengarungi liku-liku kehidupan ini. Kuharap rasamu tetap terpatri padaku."
"Sungguh demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, ku berharap kaulah jawaban atas segala resahku."
"Wahai kau calon imamku, jangan pernah untuk pergi dariku. Berjanjilah bahwa dirimu akan tetap bertahan denganku dengan segala kelemahan dan kekuranganku."
"Kau yang telah membuat nafas hidupku lebih berarti, kau yang telah membuat aku jatuh hati padamu. Jangan pernah membuatku merasakan derita di atas cintaku padamu. Karena sungguh jika kau tak ada, aku akan mati dalam hidupku. Tak ada lagi cahaya yang menerangiku, kecuali hanya kegelapan yang menaungiku."
"Sungguh, aku berharap kaulah imam dunia dan akhiratku. Yang senantiasa membimbingku, mengingatku ketika aku rapuh. Jika kau tak ada, sungguh kan ku tangisi derita cintaku padamu dan aku tidak akan pernah lagi mengenal apa artinya cinta jika hatiku terluka olehmu Muhammad Al Faris Muzakki Ansori!"
"Semoga pertemuan kita nanti adalah awal untuk merajut kasih mengukir janji dalam ikatan suci yang memang telah diridhoi oleh sang penggenggam nafas cinta dan kehidupan. Kaulah kekasih hatiku dan tumpuan harapanku, jadi ku ingatkan sekali lagi jangan pernah pergi dari hidupku walau apapun yang terjadi wahai kau sosok bidadara nun jauh di sana. Kau yang telah mencuri segenap hati dan jiwaku. Jadi, jangan pernah kau biarkan aku haus dalam dahaga tanpa kau berikan seteguk air cinta untuk menyirami diriku yang kerontang oleh sebab dalam penantian cintamu yang hingga saat ini belum lah engkau mengikatnya dengan temali cinta yang halal untuk kita merajut tali kebersamaan dalam naungan cinta dan ridho-Nya."
"Sungguh diriku merindu untuk berjumpa denganmu wahai kau belahan jiwaku dan tumpuan harapanku!"
"Semoga dirimu ikhlas menerima segala sakitku dan kekurangan yang ada padaku. Terima kasih telah menguatkanku untuk sembuh dari rasa sakit yang kini mengerogotiku. Takkan ku lupa senyuman manismu, tatkala perjumpaan kita di kendaraan umum tempo hari, hingga akhirnya aku berujung mengenalmu dalam hidupku yang kini benar-benar telah membuatku jatuh hati oleh dirimu Muhammad Al Faris Muzakki Ansori sosok kekasih hati yang begitu sangat aku kagumi!" goresan pena tahun 20xx by Alina Cahya Kirani.
__ADS_1
Alina pun menutup buku hariannya, ia berusaha untuk bersemangat kembali demi menggapai cintanya pada Ansori yang kini telah bertahta di hatinya.
"Aku harus semangat, aku harus kuat, aku harus sembuh, aku harus sehat! semoga bismillah ku menjadi Alhamdulillah!" ucap Alina penuh harap.
"Cieee ... yang sedang falling in love!" goda Andara yang dari sejak tadi mengintip aktivitas adiknya yang begitu seriusnya menuliskan kata-kata hatinya di dalam buku hariannya.
"Jadi, kakak ngintip aku dari sejak tadi?" ucap Alina histeris. Alina pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya lantaran malu kepergok oleh kakaknya. Sebab telah mencurahkan isi hatinya pada sosok Muhammad Al Faris Muzakki Ansori.
Namun, itu cukup membuat wajah Alina nampak bersemu merah.
"Nggak apa-apa dek, kakak senang melihatmu kembali ceria dan bersemangat. Jadi kamu benar-benar jatuh hati pada pemuda tersebut?" tanya Andara dengan terus menggoda adiknya.
Alina pun mengangguk pelan sambil menampakkan senyum termanisnya.
"Insya Allah, Kak!" angguk Alina penuh semangat.
Kedua kakak beradik itu pun terlihat kompak menuju dapur guna bergelut dengan aktivitas pagi mereka untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Alina terlihat sangat cantik dan bercahaya, ia begitu bahagia ketika terus mengingat-ingat kenangan bersama Muzzaki Ansori yang penuh warna menghiasi hari-harinya meski hanya lewat benda pipihnya sebagai bahasa pengantar komunikasinya.
***
Di kediaman Queensha Putri Fayanna.
Putri baru tersadar dari pingsannya, setelah pergulatan panasnya di malam pengantinnya semalam bersama Bagaskara suaminya.
__ADS_1
"Mas Bagas di mana? kenapa dia tidak terlihat di kamar? ia benar-benar menjadikanku hanya sebatas pelampiasan hasratnya!" oceh Putri dengan merasakan derita di atas cintanya terhadap Bagaskara Ardhana Putra, yang menikahinya hanya sebatas untuk balas dendam semata.
"Awww, area sensitifku sangat sakit sekali rasanya! bagaimana aku bisa berjalan jika begini? aku kira aku sudah mati, dasar laki-laki bejat!" gerutu Putri sambil meringis kesakitan mengusap pelan mahkota berharganya yang telah direnggut paksa oleh suaminya Bagaskara.
"Dia ke mana lagi? menghilang begitu saja, dasar suami tidak bertanggung jawab!" Putri terus mengomel sambil menahan rasa sakitnya. Ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, namun area sensitifnya masih terasa nyeri untuk bangkit.
"Rasanya tubuhku remuk redam, mahkotaku rasanya terbelah. Aku ingin mati saja!" ucap Putri setengah frustasi.
Namun, ponselnya berdering-dering seolah-olah minta diangkat. Akan tetapi Putri kesulitan menggapai benda pipihnya yang ada di atas laci lemarinya.
"Ding!" notifikasi pesan masuk.
Putri berusaha untuk merangkak menuju lacinya, matanya membola sempurna ketika membaca isi pesan tersebut.
"Temui aku di rumah Mama Laras! aku sedang sakit, sudah kewajibanmu sebagai istri untuk mengurusi suami!" titah Bagaskara lewat pesan di ponselnya.
"Dasar suami laknat! ia pikir dia siapa? meninggalkanku begitu saja! emang dia pikir aku sehat apa? coba kalau dirinya jadi aku, pasti tidak akan sanggup menahan rasa sakit ku? biarkan saja aku tidak akan menemuinya, siapa suruh main kabur-kaburan pulang tanpa permisi! nikmati saja rasa sakitmu!" gerutu Putri dengan menghempaskan tubuhnya di kasurnya.
Putri tidak mengetahui jika suaminya pulang semalam hanya untuk menemui Alina setelah pergulatan panas dengan dirinya. Putri juga tidak tahu jika Bagaskara benar-benar sedang sekarang menahan sakitnya akibat perlawanannya hendak melumpuhkan Dimas Sidqi Amrulloh kakak ipar Alina melalui ilmu sihirnya, yang akhirnya menyebabkannya lumpuh dan terkalahkan oleh kekuatan Dimas yang selalu dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala.
"Mending aku tidur lagi, gara-gara dia aku menderita. Aku pun ketinggalan menjalankan ibadah shalat subuh ku! enak saja aku harus menikmati derita cintaku padanya, aku tidak ingin jadi budaknya! " gumam Putri yang terlihat malas setelah malam pengantinnya yang tak diinginkan olehnya bersama Bagaskara Ardhana Putra suami bejatnya yang telah merenggut kesuciannya dengan paksa.
Putri pun kembali terlelap, meskipun matahari mulai terbit di menampakan sinarnya. Putri masih terlena dalam tidurnya, tak peduli ribuan pesan dan ringan panggilan dari Bagaskara terhadapnya tak dihiraukan olehnya. Ia sengaja ingin membalas kekejian Bagaskara terhadapnya.
"Dasar istri laknat! awas jika aku sudah sembuh nanti, takkan kubiarkan kau bernafas sedikitpun!" ucapkan Bagaskara dengan membanting ponselnya, ketika istrinya tidak memperdulikannya.
__ADS_1