
Bagaskara keluar dari Cafe xx dalam keadaan acak-acakan, tak peduli semua nampak memandangnya hina.
Hatinya kini berselimut dendam pada sosok Queensha Putri yang telah berani-beraninya menjebak dirinya dan menyingkap tabir rahasianya sebagai seorang laki-laki play boy yang kerap kali gonta-ganti pacar.
Bagaskara singgah di sebuah toilet umum, ia pun mencuci bersih wajahnya yang kotor dan berantakan bekas hasil karya para wanitanya yang datang menyerangnya dengan tiba-tiba.
"Awas saja kau Queensha Putri Fayanna, akan ku buat hidup mu menderita sepanjang nafas hidup mu! kau telah merusak kesucian cinta ku bersama Alina wanita yang ku cintai, kau akan sangat menyesal dan menangis darah karena telah berani menentang ku!" Bagaskara melihat dirinya dalam pantulan cermin, sorot matanya kembali merah menyala, nafsu syaitannya kembali menguasainya, dendam dihatinya semakin menjadi-jadi untuk Queensha Putri yang telah mempermainkan hati dan perasaannya.
Sedangkan Queensha Putri justru merayakan kemenangannya, ia mentraktir semua teman-temannya di sebuah rumah makan ternama.
Setelah berhasil memberikan perhitungan pada Bagaskara, Putri menelfon kembali teman-temannya dan mengajak mereka semuanya ketemuan.
"Kak Putri, Rani nggak nyangka jika kakak bisa senekat dan seberani itu buat menghancurkan kak Bagas. Sedangkan kakak tahu sendiri kak Bagas itu seperti apa? jika ia menggunakan cara yang halus maka kakak hanya dengan satu kedipan mata bisa kepincut loh dengan kak Bagas!" Maharani yang memang sudah sering kali adu kekuatan dengan Bagaskara pun sangat paham betul jika Bagaskara memiliki ilmu sihir yang sangat luar biasa untuk melumpuhkan lawannya.
"Aku tidak takut Dengan hal-hal yang mistis sekalipun, jika sampai aku benar-benar kepincut pada kak Bagaskara berarti ia melakukan cara yang licik kepada ku! sejatinya, cinta yang berlandaskan pelet, sihir atau guna-guna tidak akan bertahan lama dan itu hanya akan merugikan pemiliknya. Sudah dosa berlipat-lipat, mati pun masuk neraka pula!" celutuk Putri asal-asalan.
"OMG, apa mungkin kak Bagas punya sihir dan guna-guna? rasanya itu mustahil deh, kalian berdua ini ada-ada aja. Di zaman modern nggak mungkin ada yang begituan, mentang-mentang kak Bagas bisa menggoda banyak wanita di bilang tukang pelet!" Chika protes sambil mengunyah ayam betutu yang pas sekali dilidahnya.
"Nikmat juga ya, aku baru kali ini mencicipi rasa ayam betutu!" Chika terus mengomentari apa yang dilihat dan didengar olehnya.
"Kasian sekali dirimu Chik, tertinggal jauh oleh perubahan zaman. Baru menemukan makanan yang enak," timpal Dela yang dari sejak tadi hanya fokus dengan makanannya.
"Sepertinya kak Dela patah hati luar biasa sama kak Bagas, sebab dari sejak tadi hanya murung terusan!" Chika justru menggoda Dela yang nampak murung.
__ADS_1
Bagaimana Dela tidak syok pasalnya Bagaskara telah mengambil ciuman pertamanya dan menjanjikan sejuta kata cinta untuknya, juga menyematkan cincin emas di jemarinya. Namun, semua hanya tinggal kenangan yang menyisakan kepiluan di jiwanya. Sang pujaan hati ternyata penjahat wanita.
"Aku tidak ingin terlalu memikirkan kak Bagas, toh segala yang ada dalam diri ku, belum pernah di jamah olehnya, kecuali rasa sakit di hati ku itu memang murni adanya." Chika tak henti-hentinya mengoceh tanpa menyadari jika teman-temannya sedang berduka oleh sebab telah terjamah oleh Bagaskara. Terutama Putri yang diambil paksa ciuman pertamanya, begitu pun Maharani kesuciannya hampir terenggut oleh Bagaskara, ketika keduanya sama-sama menjatuhkan lawannya dengan ilmu sihir yang di milikinya.
"Kalian kok diam? berarti dari sejak tadi aku bicara sendiri, sesama teman jangan perang dingin dong, yang salah itu kak Bagas, kita hanya korban!" ujar Putri yang terlihat polos dari semua teman-temannya.
"Kau ini dari tadi ngomel terus, sudah seperti ibu-ibu arisan! kita harus kembali pulang secepatnya buat nyamperin Alina, sepertinya ia benar-benar patah hati dari pada kita, asal kalian tau Alina adalah cinta pertamanya kak Bagas, jauh sebelum kita kenal dekat dengan kak Bagas, ia sudah satu tahun berpacaran dengan kak Bagas. Ia terus menerus dibohongi oleh Abang sepupunya itu, kasian sekali!" Putri menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Whatttt?" Chika, Dela dan Maharani pun ternganga mendengar ucapan Putri.
"Gila, benar-benar gila! aku benar-benar tidak menyangka kak Bagas sebejat itu!" pungkas Chika dengan terus mengunyah makanan apapun kedalam mulutnya, untuk menghilangkan segala kekesalannya.
"Aku juga sama, jika tahu kak Bagas adalah seorang Buaya, tentunya aku pun tidak mau menjadikan dirinya kekasih ku!" Dela meneteskan air matanya karena menyesal akan kecerobohannya.
Keempat sekawan itu pun saling berpelukan satu sama lain. Mereka sangat menyesal karena dengan mudahnya terjerat cinta Bagaskara Ardhana Putra yang terlihat baik dari luarnya, namun memiliki seribu tipu daya.
***
"Hiks ... hiks ... hiks," Alina menangis dalam pelukan Reno. Ia yang tidak tahu harus bersandar di bahu siapa, kini pun tanpa sengaja menyandarkan dirinya pada pemuda yang sebenarnya sangat dibenci olehnya. Namun, hari ini justru sebaliknya, Reno telah menjadi pahlawan super untuknya. Menyelamatkannya dari segala keterpurukannya oleh sebab kebejatan Abang sepupunya yang selama ini terus membohonginya.
"Tenanglah, aku akan selalu ada untuk mu Alina! jangan bersedih! dirimu terlalu sempurna untuk disakiti!" Reno berusaha untuk menenangkan Alina agar tidak terpuruk dengan keadaan yang menimpanya.
"Terimakasih, kak Reno!" ucap Alina melerai pelukannya. Ia baru menyadari jika dirinya terlalu lama menangis.
__ADS_1
"Kamu mau aku belikan es krim? katanya es krim bisa mendinginkan hati yang sedang terluka!" Reno begitu tulus menemani Alina.
"Boleh, Kak!" angguk Alina.
"Taraaa, ini es krim rasa coklat spesial untuk mu!" Reno terus menghibur Alina agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
Alina pun menikmati es krim tersebut seperti anak kecil yang habis menangis karena suatu hal.
"Andaikan aku bisa memutar masa lalu, sungguh aku tak ingin ada masa lalu yang kelam. Aku menyesal telah mengenal Mas Bagas dalam hidup ku! aku menyesal telah jatuh cinta dengan Mas Bagas!" tanpa sadar Alina telah mencurahkan isi hatinya pada Reno.
Reno mendengarkan ucapan Alina dengan seksama. Ia sangat prihatin dengan keadaan yang menimpa Alina.
"Kamu yang sabar Alina, setidaknya dirimu bisa bernafas lega, kebejatan ustadz Bagas telah terbongkar, dan kau pun bisa berlepas diri darinya!" Reno terus memberikan support untuk Alina.
"Dia tidak pantas di sebut ustadz! ia laki-laki bejat dan munafik!" ucap Alina dengan tiba-tiba meluapkan emosinya. Membuat Reno tersentak kaget ketika melihat emosi Alina pecah seketika.
Alina yang dalam keadaan kosong pun dengan mudahnya di kelabui oleh makhluk tak kasat mata yang kini bersemayam di tubuhnya, sehingga raganya di ambil alih dan di kuasai oleh mahkluk laknat tersebut.
"Awww, kepala ku sakit sekali, Kak!" ucap Alina tiba-tiba, Alina berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menderanya.
"Ada apa dengan mu Alina? kita ke dokter ya?" ucap Reno yang terlihat panik ketika melihat wajah Alina tiba-tiba berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
"Tidak kak, ini bukan penyakit biasa, Kak. Aku rasa ada yang menarik dan menghisap tubuh ku!" ucap Alina yang tiba-tiba menggigil kedinginan dan berapa detik kemudian Alina pun hilang kesadaran dan iapun tumbang dalam dekapan Reno.
__ADS_1
"Alina, bangunnnn!" pekik Reno dengan mengguncang-guncang tubuh Alina.