
"Nak, apa kami sudah boleh masuk?" tanya Mama Laras dengan kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Bagaskara.
Putri buru-buru merapikan pakaiannya yang acak-acakan oleh ulah suaminya. Ia pun dengan siaga merapikan kamar suaminya yang terlihat berantakan oleh sebab amukan Bagaskara yang selalu bertindak sesuka hatinya atau semaunya ketika sedang marah.
"Iya ibu, sebentar!" ucap Bagaskara menyeringai licik sembari menatap wajah istri pelampiasan hasratnya.
Putri pun membuka handle pintu kamarnya, "papa Rama, mama Shinta, mama Laras silakan masuk!" Putri mempersilakan orang tua mereka untuk segera melihat Bagaskara yang pura-pura berbaring di atas tempat tidur seolah-olah sedang meringis kesakitan.
Padahal, baru saja Bagaskara ingin menuntaskan hasratnya pada Putri istrinya karena rasa benci dan kesalnya terhadap Alina hingga putri yang menjadi korbannya untuk menuntaskan nafsu bejatnya.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya mama Shinta, dengan duduk di tepi kamar tidur Bagaskara menantunya.
"Alhamdulillah, sudah sedikit lebih baik!" ucap Bagaskara pura-pura terlihat lembut dan ramah menyembunyikan segala kemunafikannya di hadapan kedua mertuanya.
"Makanya jika bermain itu harus lembut, jangan langsung pada sasarannya! kalian kan baru menikah!" ceplos papa Rama mengingat bercak merah di sprei pengantin anaknya pagi tadi.
Hingga wajah Putri nampak bersemu merah menahan malu di hadapan papanya, lain halnya dengan Bagaskara. Ia yang memang urat malunya sudah putus pun menanggapi guyonan papa mertuanya terhadap mereka.
"Biasalah Pa, anak muda suka tidak bisa mengontrol diri. Asal bermain saja," ucap Bagaskara yang kini terlihat lebih sehat.
Mama Laras pun mendelik ke arah putranya, agar bisa menjaga sopan santunnya pada mertuanya. Namun, kedua pria berbeda generasi tersebut masih terus dengan guyonannya.
"Papa sebaiknya kita keluar, mungkin Putri ingin berduaan dengan suaminya. Jangan terus digoda!" timpal Mama Shinta dengan menggandeng tangan suaminya menuju keluar kamar Bagaskara dan Putri.
"Iya, iya. Kau lihat menantumu sudah sembuh kan? ketika papa ajak ngobrol tentang hal-hal yang manis seperti itu!" ucap papa Rama lagi diikuti gelak tawanya.
Mama Laras pun ikut keluar kamar dan meninggalkan anak menantu mereka yang sedang honeymoon.
Bagaskara pun segera mengunci pintu kamarnya, ia kembali mendekati istrinya dan segera ingin menuntaskan hasratnya yang terpendam. Ia pun mendorong tubuh Putri di atas kasurnya.
"Jangan, Mas! Aku tiba-tiba datang bulan! ini memang jadwal haid ku," ucap Putri pelan karena takut ketahuan dan terdengar oleh orang tua mereka.
__ADS_1
Ingin rasanya Putri menimpuk wajah Bagaskara dengan teflon, lantaran terlalu mesumnya sebagai suami. Namun, ia merasa bahagia setidaknya untuk malam ini ia selamat dari cengkraman laki-laki bejat tersebut.
"Alhamdulillah, untung tiba-tiba datang bulan!" batin Putri tersenyum bahagia.
"Dasar istri tidak becus! Pintar berkelit." Bagaskara pun tidak percaya begitu saja dengan ucapan Putri. Ia pun nekat membuka pakaian dalam istrinya.
ketika melihat cairan merah itu, Bagaskara rasanya ingin muntah. Perlahan, nafsu bejatnya pun luntur seketika. Ia pun mendorong tubuh Putri dengan keras.
"Baru saja semalam aku bermesraan denganmu, ada-ada saja." Bagaskara menjadi jijik melihat wajah Putri.
Niat hati ingin bayangkan wajah Alina terhadap Putri istrinya pun sirna seketika.
"Makanya Mas, jangan terlalu bernafsu. Apalagi sampai tidak mengenal tempat, aku ingin pulang ke rumah mama Shinta. Tadi ku kira sakitmu parah, ternyata kau hanya bersandiwara. Sifatmu memang tidak pernah berubah, aku memang istri mu namun aku bukan bonekamu yang semau mu hendak menguasainya. Jika pernikahan ini merumitkan hidupku. Aku pun bisa mengakhiri hubungan ini dalam waktu yang singkat meski baru satu minggu yang lalu kita menikah!" tegas Putri yang tidak tahan lagi dengan kelakuan psikopat suaminya.
"Apaa? kau berani menentangku? kau tidak akan bisa lepas dariku. Jika kau tidak ingin kedua orang tuamu mati mendadak di hadapanmu! ibumu sakit jantung bukan? kalau ia sampai tahu kita berpisah, kau akan melihatnya sekarat di rumah sakit. Asal kau tahu semua modal perkebunan ayahmu adalah hasil bantuan dari keluargaku, apa kau mau keutuhan keluargamu tiba-tiba hancur sebab kecerobohan mu?" ucap Bagaskara tersenyum licik.
"Dasar psikopat gila!" ucap Putri meringis kesakitan ketika tubuhnya dihempas begitu saja oleh Bagaskara tanpa kelembutan dan kasih sayang.
"Kau memang laki-laki yang kejam! jangan bermimpi kau akan mendapatkan cinta Alina. Ia sudah mengetahui akan kebusukan dan kebejatanmu." Putri sama sekali tidak takut untuk melawan Bagaskara yang semena-mena padanya.
"Apaaa? sekali lagi kau ucapkan kata-kata itu dengan mulut busuk mu, kau tahu Alina itu hanya milikku. Raga dan Sukma Alina hanya milikku! tak ada seorangpun yang dapat mengikatnya kecuali aku!" ucap Bagaskara dengan berjalan mendekati Putri yang masih terbaring di atas kasur akibat hempasan tangan kekarnya.
Bagaskara nampak berang ketika Putri menyebutkan bahwa dirinya tidak bisa memiliki Alina adik sepupunya. Walau pada kenyataannya memang itu yang terjadi, namun Bagaskara tidak terima dengan penolakan dan kenyataan yang ada.
"Istri tidak tahu di untung!" Bagaskara mencekik leher Putri dengan mata yang merah menyala seperti ingin menghabisi mangsanya.
Putri semakin kesusahan bernafas oleh tangan kekar Bagaskara yang menghimpit tubuhnya dan mencekiknya tanpa perasaan.
"Le-lepas!" ucap Putri dengan mata yang sudah berair. Air matanya menetes membanjiri kedua pipi mulusnya sebagai saksi bahwa dirinya sangat tersiksa lahir batin dengan pernikahannya.
Putri pun berusaha melakukan perlawanan, ia pun menendang junior milik suaminya dengan lututnya. Ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Jangan mendekat padaku! atau aku akan berteriak keras agar seisi rumah ini tahu akan kebejatanmu dan seluruh dunia akan tahu bahwa kau adalah sosok suami yang tidak berperikemanusiaan. Yang hanya berkedok laki-laki sholeh, pada kenyataannya dirimu sangat bengis dan munafik!" pekik Putri setengah histeris.
Putri pun mengambil gunting di laci dan mengarahkannya kepada Bagaskara yang hendak mendekatinya dengan memegang juniornya yang sakit oleh tendangan Putri.
"Jangan gila kau Putri! lepaskan benda tajam itu! Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba mencekik mu, jika sudah berurusan dengan Alina, aku tidak ingin ada yang merintangiku!" tegas Bagaskara dengan menenangkan Putri. Ketika mendengar deru langkah kaki yang hendak menuju kamarnya.
Putri pun ikut melemah, ia pun tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Ia pun melepaskan benda tajam yang kini ada dalam genggamannya. Ia pun menjatuhkan tubuhnya di lantai dan menyandarkan kepalanya pada tembok. Lehernya terasa sangat sakit akibat cekikan suami bejatnya. Putri pun menangis terisak meluapkan rasa kecewanya.
"Jika tahu begini jadinya aku lebih baik mencari cara, agar tidak menikah denganmu. Aku sangat menyesal telah menerimamu dalam hidupku, jika kenyataannya aku hanya menjadi pelampiasan hasratmu. Dan kau pun hendak melenyapkan nyawa ku!" ucap Putri dengan terus menangis.
Mama Laras yang paham akan kekejian anaknya di setiap harinya pun segera mengetuk pintu kamar Putri dan Bagas dengan kerasnya.
"Apa yang terjadi dengan kalian, Nak? Ini Mama Laras, tolong buka pintunya!" pekik Mama Laras yang hendak mengajak anak menantu mereka makan malam bersama.
Pertengkaran sengit itu pun seketika terhenti, Putri mengusap air matanya dan memakaikan kerudungnya untuk menutupi bekas cekikan Bagaskara di lehernya.
"Bersikaplah baik-baik di depan orang tua kita!" ucap Bagaskara dengan pura-pura menggandeng tangan Putri dengan menahan rasa sakit di juniornya bekas tendangan Putri ketika mereka sedang saling meluapkan emosi masing-masing.
"Sebentar mama, istriku sedang berganti pakaian!" ucap Bagaskara terlihat lembut dari dalam kamarnya hingga membuat pikiran Mama Laras travelling kemana-mana.
"Apa mereka barusan melakukan itu?" Mama Laras bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia mengira anak menantu mereka sedang menikmati manisnya bercinta sebagai pasangan suami istri.
Padahal kenyataannya, tidaklah demikian kedua pasangan pengantin baru itu sedang bergelut dengan emosi yang membakar di hati masing-masing sehingga terjadilah pertengkaran sengit yang tak terelakkan tanpa sepengetahuan orang tua mereka yang mengira jika hubungan mereka baik-baik saja.
***
Di kediamannya, Alina nampak asyik membaca buku-buku yang berkaitan dengan religi. Dirinya baru akan memulai proses hijrahnya setelah kepulangannya dari rumah ustadz Habib.
Sisi religius Alina begitu terlihat. Ia nampak bersemangat mengkaji ilmu-ilmu agama yang belum diketahui olehnya.
"Aku baru tahu, ternyata kaki juga termasuk aurat! pantas saja kak Andara jika mau keluar selalu mengenakan kaos kaki. Aku kira kemarin kak Andara bercanda ketika sedang mengingatkanku perihal aurat. Akan tetapi aku bersyukur bisa menggapai hidayah-Mu ya Rabb dengan cara perlahan!" gumam Alina pelan sambil membolak-balikkan buku fiqih wanita yang dibaca olehnya.
__ADS_1