Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 122. Menjagamu


__ADS_3

Alina sudah terlihat lebih baik, ia ingin segera kembali ke paud penitipan Khansa Day Care tempat dimana ia bekerja sekaligus tempat menginap baginya.


''Ummi, Abi. Nur Syifa, aku pamit dulu! keadaan ku sudah lebih baik, terima kasih atas pertolongannya dan perhatian kalian semua terhadap ku,'' ucap Alina dan tak lupa ia melirik sekilas ke arah Fajar yang berapa menit lalu telah membuat jantung hatinya tak karuan oleh tingkah absurd pemuda yang hendak melamarnya di hadapan kedua orang Fajar sendiri.


''Apa sebaiknya nak Alina menginap di sini dulu bersama Nur Syifa, sampai keadaan mu pulih betul?''


Ummi Zainab tampak khawatir dengan keadaan Alina yang bisa saja tiba-tiba hilang kesadaran lagi lantaran penyakit yang dideritanya.


''Tidak apa-apa Ummi, Alina sudah terbiasa mengalami keadaan seperti ini. Kadang ia terlihat baik kadang juga tiba-tiba drop total jika aku dalam keadaan lalai. Insya Allah, Allah Maha Menjaga Ummi.''


Alina tidak ingin merepotkan keluarga Nur Syifa, ia pun tidak ingin berlama-lama di sana sebab semua itu tidak baik untuk jantung hatinya. Mengingat Fajar Guntur Ramadhan yang sedikit telah mengganggu hati pikiran dan jiwanya.


''Ini benar-benar aneh, aku tidak mungkin memiliki rasa terhadap Fajar. Dia bukan tipe ku, yang aku dambakan untuk menjadi imamku adalah sosok pemuda yang sholeh dan juga lebih dewasa usianya dariku. Bukan Sang Fajar yang masih terlihat bronies atau seperti brondong manis. Namun, aku salut akan keberaniannya juga niatnya untuk berubah menjadi lebih baik. Meninggalkan secara perlahan dunia hitamnya yang penuh dengan gemerlap. Bad boy juga manusia, ia masih memiliki kesempatan untuk bertaubat. Sebab, Allah Maha Pengampun.''


Hati dan pikiran Alina sudah nyeleneh ke mana-mana, entah kenapa tiba-tiba saja ia berpikiran sejauh itu tentang Fajar. Dan anehnya, tidak ada kebencian dan gangguan sama sekali ketika dirinya berdekatan dengan Fajar. Berbeda dengan sosok pemuda-pemuda sebelumnya yang pernah mendekatinya pasti akan selalu membuat Alina merasakan keanehan pada dirinya sehingga membuatnya terkadang suka terkadang benci pada orang-orang yang berusaha untuk mendekatinya.


''Aku tidak mungkin jatuh hati padanya, dan aku pun tidak mungkin berjodoh dengannya. Dunia ini mungkin akan kiamat jika aku sampai berjodoh atau sampah jatuh hati pada bad boy sepertinya. Apalagi usianya lebih muda 2 tahun dariku, apa mungkin ia bisa membimbingku sedangkan ia pun sama-sama baru ingin belajar memahami ilmu syar'i. Aku sendiri mengidap penyakit gangguan seperti ini, akan tidak mungkin ia tidak akan bisa mengimbangiku ketika aku dalam keadaan tidak sadar atau kehilangan akal sehat.''


Alina terus bermonolog di dalam hatinya, memikirkan tentang sang Fajar yang tiba-tiba membuatnya gamang dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


''Alina, biar aku saja yang menemani mu menginap di paud penitipan, nanti biar Guntur yang mengantarkan kita, hari sudah larut malam.'' Nur Syifa menawarkan diri untuk menemani Alina di penginapan paud tempat Alina bekerja.


''Baiklah, terima kasih!'' Alina dan Nur Syifa pun berpamitan pada Ummi Zainab dan Abi Sofyan.


Fajar pun siap siaga mengantarkan dua sholiha itu ketempat paud penitipan anak di mana Alina bekerja sekarang.


Hening, itulah yang tercipta ketika Fajar merangkap sebagai bodyguard alias pengawal untuk kakaknya dan juga Alina.


Cuaca semakin terlihat gelap, rumah-rumah penduduk pun nampak tertutup rapat. Hanya ada bunyi binatang malam yang bersahut-sahutan di sertai angin malam yang begitu dingin menusuk kulit ari menemani langkah kaki ketiga anak manusia itu. Pandangan Fajar yang mengekori Alina dan kakaknya dari arah belakang tidak sengaja melihat Alina terlihat menggigil kedinginan oleh sebab sapuan angin malam yang begitu menusuk.


''Alina tunggu!'' pekik Fajar dengan setengah berlari menghampiri Alina yang terlihat kedinginan dengan melipat kedua tangannya untuk menetralisir kedinginannya.


Alina menoleh, dan sejenak menghentikan langkahnya diikuti pula oleh Nur Syifa, ''Ada apa?'' tanya Alina dengan sedikit mengernyitkan dahinya oleh panggilan Fajar yang terdengar serius ditelinganya begitu pun Nur Syifa yang merasa terkejut dengan pekikan adiknya.


Alina ingin menolak, akan tetapi Nur Syifa menyelanya.


''Terimalah niat baik adikku, kau terlihat kedinginan. Wajah mu masih terlihat pucat. Anggap ia seperti sahabat mu sendiri atau saudara,'' pinta Nur Syifa yang tidak ingin mengecewakan adiknya berulang kali.


''Baiklah, terimakasih!'' ucap Alina dengan mengambil alih jaket kulit yang ada di tangan Fajar dan mengenakannya.

__ADS_1


Dan benar saja Alina pun merasakan kenyamanan, ia tidak merasakan kedinginan. Mereka pun melakukan perjalanan yang tinggal beberapa langkah lagi.


Fajar tak henti mengembangkan senyumnya, ''Untung ada kak Syifa sebagai perantara, setidaknya aku bisa melihat dirimu lebih nyaman meskipun tak dapat menyentuh mu setidaknya lewat jaket tersebut aku bisa menjaga mu dari dinginnya malam yang menusuk kulit mu.'' Fajar bergumam di dalam hati.


''Sudah sampai, terimakasih sudah mengantarkan kami! mau mampir dulu?'' tanya Alina dengan sedikit basa-basi.


''Apa aku boleh masuk?'' Fajar balik bertanya.


Alina mengangguk, ia berpikir disana juga ada Nur Syifa menemani mereka. Selain itu, ia kasihan melihat Fajar yang telah bela-bela mengantarkannya pulang dengan cuaca malam yang begitu dingin mencekam.


''Terima kasih!'' Fajar mengikuti kedua wanita itu masuk ke dalam rumah penitipan anak Khansa Day Care tersebut.


Nur Syifa sedikit memberikan celah untuk Alina dan Fajar saling berucap. Iapun mencari cara agar keduanya bisa lebih leluasa menyampaikan niat masing-masing.


''Kalian, silahkan berkisah dulu! aku ke toilet dulu, sudah kebelet sekalian nanti aku buatkan teh hangat untuk kita,'' ucap Nur Syifa lalu meninggalkan Fajar dan Alina yang duduk lesehan di bawah beralaskan karpet mainan anak-anak.


Hening, itu itulah yang terjadi pada kedua muda-mudi itu setelah di tinggal sebentar oleh Nur Syifa.


''Aku akan tetap menjaga mu selama kau masih ada dalam ruang lingkup di sini. Jika kau menolak ku menjadi seseorang yang istimewa di hati mu. Anggap saja aku seorang sahabat, jangan membenciku atas niat yang terlanjur aku utarakan di hadapan kedua orang tua ku tadi. Maaf, untuk kata yang terlanjur terucap, sehingga membuatmu merasa tidak nyaman dengan bad boy seperti ku,'' pungkas Fajar dengan ekor mata sedikit melirik Alina yang terdiam tanpa kata.

__ADS_1


''Ti-tidak apa-apa, aku cukup salut dengan keberanian mu di usia muda yang terbilang masih sangat muda. Apa kau tidak takut dan merasakan keanehan dalam diri ku setelah kau mengetahui keadaan ku yang mengidap penyakit aneh?''


Pertanyaan Alina pun di jawab oleh Fajar dengan cepat, ''Bagiku kau begitu terlihat sempurna, penyakit itu terjadi atas izin Allah. Dan sepanjang hemat ku, penyakit apapun yang menimpa seorang muslim hakekatnya adalah penggugur dosa-dosa bagi yang merasakan nya. Aku yakin kau adalah wanita yang tegar dan kuat,'' sela Fajar dengan tetap menyanjung tinggi harkat dan martabat Alina sebagai sosok wanita yang sempurna dan sholiha dalam pandangannya.


__ADS_2