Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 58. Mengadu ( Kejujuran Hati )


__ADS_3

Alina menyentuh layar pipihnya dan benar saja, ratusan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi isi ponselnya.


"Astaghfirullah! ponsel ku ternyata dalam mode silent, pantas saja hari ini tidak ada dering panggilan apa-apa yang ku dengar." Alina memijat kepalanya yang terasa pusing oleh segudang masalah yang menghinggapinya akhir-akhir ini.


"Kak An, dia ternyata masih terus memperdulikan ku!" Alina membaca setiap isi pesan yang dikirimkan oleh Muzzaki Ansori terhadapnya.


Tak lama kemudian, ponselnya ada sebuah panggilan masuk, panggilan yang sangat dinantikan dan rindukan olehnya.


"Assalamu'alaikum!" suara diseberang telfon membuat Alina Rindu setengah mati.


"Wa'alaikumsalam, Kak An, aku merindukan mu!" ucap Alina tiba-tiba dengan bulir air mata yang membasahi pipi mulusnya.


"Alina kau menangis? kau kemana saja seharian ini? sungguh, dirimu membuat ku gelisah sepanjang hari, mengapa kau ciptakan rindu di hati ku lalu kau pun menghilang? sungguh, akupun merasakan kerinduan yang teramat sangat pada mu!" ucap Ansori yang tak seperti biasanya. Ia pun blak-blakan mengutarakan perasaannya terhadap Alina.


Hari ini Ansori sudah seperti orang gila menanti kabar dari Alina Cahya Kirani, hingga tanpa sadar ia pun telah meluahkan perasaannya terhadap gadis malang yang sedang berduka itu.


"Kak An, benarkah yang kau ucapkan itu? kau pun menyelipkan rasa rindu terhadap ku?" tanya Alina dengan mode serius.

__ADS_1


"Iya, aku sangat merindukanmu Alina Cahya Kirani. Rindu yang bukan hanya sekedar biasa. Namun, rindu untuk seseorang yang memang di anggap sangat istimewa!" Ansori mengutarakan isi hatinya.


Ada semburat rasa bahagia yang terukir dari wajah Alina yang semula berselimut duka oleh sebab kedzoliman Bagaskara yang telah tega mengguna-gunainya.


"Hiks ... hiks ... hiks," Alina menangis pilu meratapi kedukaannya. Ia merasa dirinya tak pantas di cintai oleh seorang Muzzaki Ansori.


Ansori mengernyitkan dahinya, ketika mendengarkan suara tangis Alina yang memilukan dari seberang telfon.


"Alina, kenapa kau menangis? adakah ucapan ku yang tak berkenan di hatimu?" tanya Ansori yang kebingungan menafsirkan arti tangisan Alina.


"Setiap insan itu memiliki kelebihan dan kekurangan Alina, maka jadikanlah segala kekurangan kita tersebut sebagai pelengkap untuk kelebihan kita agar bisa saling menyempurnakan satu sama lain. Di dunia ini, tidak ada insan yang sempurna sebab kesempurnaan itu hanyalah milik Allah Subhana wa ta'ala semata, kita hanya makhluk yang senantiasa menghamba pada-Nya. Jangan pernah merasa tidak bermakna, karena bagi ku dirimu terlalu indah untuk dimiliki, artinya dalam pandangan ku, engkau dengan segala yang engkau miliki begitu sangat teristimewa. Jadi, jangan bersedih lagi, ya?" Ansori selalu memberikan motivasi untuk Alina agar terus bersemangat menjalani segala proses kehidupan yang kini sedang dilaluinya.


"Kak An, terimakasih atas segala nasehat dan motivasi kakak. Tapi, kakak harus mengetahui satu hal. Aku kini tidak sempurna lagi, aku mengidap penyakit non medis. Penyakit yang mungkin akan sampai mati menggerogoti tubuh ku. Seseorang dimasa lalu ku telah mengirimkan sihir dan guna-guna pada ku, agar tak ada satu pun orang yang mampu mendekati dan bertahan dengan ku, ketika ia mengetahui segala gangguan dan keanehan dalam diriku." Alina pun mulai menceritakan secara detail kronologis penyakitnya, sementara Ansori mendengar dengan seksama.


Ada rasa kesedihan yang menyergapi hati dan pikiran pria berusia 21 tahun itu. Ia tak sampai hati membayangkan ujian penyakit yang kini sedang menggerogoti tubuh Alina. Ansori sangat paham betul tentang ilmu sihir dan perdukunan dapat membunuh dan mematikan seseorang secara perlahan, jika tidak ditangani dengan cepat, tepat dan akurat.


Jika pun salah dalam pengobatan maka akan memicu gangguan yang lain yang lebih parah lagi. Dan terkadang seseorang bisa stress dan gila karenanya. Dan semua itu hanya akan bisa di atasi dengan pengobatan yang dituntunkan oleh syari'at Islam yang sering disebut Ruqyah Syar'iyyah. Selain dari itu, maka semua itu adalah bentuk penyimpangan, umpamanya berobat ke orang pintar dan sejenisnya tidak di benarkan dalam syari'at Islam.

__ADS_1


Alina merasa lebih plong setelah mengadu pada Ansori atas segala keluhan yang dialaminya. Ia merasakan kebahagiaan dihatinya setelah mengutarakan segala kejujuran hatinya, terlepas apakah Ansori menerima atau tidak akan kondisi yang di alaminya, setidaknya Alina telah berusaha untuk berkata jujur terhadap Muzzaki Ansori.


"Alina, kakak harap kamu sabar menghadapi segala ujian yang menimpa mu saat ini. Semua ini adalah ujian dari Allah Subhana wa ta'ala untuk mu. Sesungguhnya, ilmu sihir itu tidak akan mengenai seseorang kecuali atas izin Allah. Semoga sakit yang mendera mu saat ini dapat menjadi penggugur segala dosa-dosa yang mungkin pernah kita perbuat dimasa lalu. Semoga dengan adanya ujian ini, dirimu lebih mendekatkan diri pada Rabb semesta alam. Setelah sebelumnya kita lalai dari mengingat keagungan dan kebesaran-Nya."


"Mungkin dirimu pernah mendengar ujian penyakit kulit yang menimpa Nabi Ayyub selama 18 tahun lamanya. Iblis dan syetan telah menaburkan benih-benih penyakit didalam tubuh Nabi Ayyub, yang katanya hal tersebut adalah penyakit yang menular, sehingga para keluarga, handaitaulan, kerabat dan teman-temannya yang dulu pernah dekat dengannya menjauhinya, termasuk istri yang semula setia mendampinginya pun meninggalkannya seorang diri. Namun, Nabi Ayyub tetap sabar dan memiliki keteguhan iman yang tinggi sampai Allah Subhana wa ta'ala menyembuhkannya dan mengembalikan segala harta kekayaan dan apa yang dimilikinya sebelumnya, sehingga ia pun akhirnya kembali bahagia bersama anak istri dan keluarganya."


"Sejatinya, Nabi Ayyub menjadi teladan untuk kita agar tetap bersabar atas ujian yang diberikan oleh Allah Subhana wa ta'ala untuk kita para hamba-Nya!" terang Ansori, membuat hati Alina di liputi ketenangan.


"Kak An, terimakasih atas semua nasehatnya. Insya Allah, Alina akan belajar untuk bersabar, menerima segala cobaan yang di berikan oleh Allah Subhana wa ta'ala untuk Alina!" ucap Alina penuh semangat.


"Alhamdulillah, kakak senang mendengar dirimu kembali bersemangat Alina. Apa pun yang terjadi, tetaplah bersemangat dalam beribadah kepada-Nya. Lawan kekuatan energi yang bersemayam di tubuh mu, lewat sholat, dzikir dan do'a juga rutinkan membaca kitab suci Al-Qur'an, agar makhluk halus yang bernama jin, iblis, syaitan dan sejenisnya kepanasan dan tak mampu bersarang di tubuh kita. Dawamkan pula bacaan surah Al Baqarah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas sebagai penangkal kekuatan jin dan sihir yang sewaktu-waktu dapat menyerang diri kita."


"Tambahkan juga sholat Sunnah Tahajjud, Dhuha dan Sedekah sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Allah mengangkat kita pada derajat yang tinggi dan terpuji. Semoga dengan itu semua dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhana wa ta'ala!" Ansori menyampaikan tausyiahnya dengan penuh hikmah pada Alina Cahya Kirani. Membuat Alina semakin terkesima dan mengagumi sosok Muzzaki Ansori.


"Maa syaa Allah, kakak sangat luar biasa. Alina jadi ingat tausiyah para ustadz ternama itu! kakak cocok deh, jadi ustadz!" ujar Alina dengan senyuman manis yang terukir indah dari wajah ayunya.


"Insya Allah, aamiin!" Ansori tampak mengaamiin ucapan Alina dari seberang telfon. Keduanya tampak mengukir senyum kebahagiaan, benih-benih rasa pun kini bertumbuh dihati keduanya, berbalut iman dan ketaqwaan pada Rabb-Nya.

__ADS_1


__ADS_2