Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir

Cinta Yang Terluka Karena Gangguan Jin Dan Sihir
Bab 28. Jangan Melirik Nanti Tertarik!


__ADS_3

Dimas Sidqi Amrulloh, terus memperhatikan dan mendengarkan percakapan antara Alina dan Ansori di seberang telfon, entah mengapa ketika terus-menerus melihat ke arah Alina, dirinya merasakan ada aura yang berbeda terpancar dari calon adik iparnya tersebut.


"Aneh, kenapa dia terlihat begitu indah dan mempesona? sukma ku seolah terpanggil untuk terus menatapnya. Namun, anehnya seakan ada jarak yang menahan langkah ku? ia hanya bisa di lihat namun tak dapat untuk disentuh? apa yang sebenarnya terjadi pada ku, ia sangat berbeda dari wanita pada umumnya. Wajahnya memancarkan cahaya dan daya tarik yang luar biasa!" Dimas terus menatap dan melukiskan rona wajah Alina dalam pandangannya.


Menyadari, jika calon kakak iparnya memperhatikan dirinya dengan seksama, Alina memalingkan wajahnya. Ia merasa enggan di tatap oleh pemuda tersebut. Apalagi itu calon kakak iparnya.


"Kak An, sudah dulu ya? Alina ada kesibukan, hari ini ada acara keluarga, kakak ku akan segera melangsungkan pernikahan, rencananya insyaAllah dua bulan lagi pernikahannya akan segera di gelar!" ucap Alina penuh penekanan. Ia sengaja memperjelas volume suaranya agar bisa di dengar oleh Dimas. Alina merasa risih ditatap oleh calon kakak iparnya.


"Baiklah, jaga diri mu baik-baik Alina. Jangan lupa jaga kesehatan, jangan banyak pikiran dan jangan lupa sholat! Silahkan di matikan ponselnya! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, terima kasih atas perhatian kakak terhadap Alina!" ucap Alina dengan mengakhiri percakapannya.


Ansori selalu menghargai Alina, tak pernah sekalipun ia mematikan ponselnya, sebelum Alina menutup telfonnya, dan itu menjadi sesuatu yang sangat bermakna dalam hati Alina. Ia merasa sangat tersanjung atas perlakuan manis Ansori terhadapnya.


Alina menghembuskan nafasnya pelan, ia yang masih dalam pengaruh makhluk gaib pun tanpa sungkan-sungkannya menyapa Dimas yang masih menatapnya penuh arti.


"Apa kabar kak Dimas?" sapa Alina dengan gaya slowly-nya.


"Alhamdulillah, ka-kak baik." Dimas terlihat gelagapan, sebab ketahuan memperhatikan calon adik iparnya.


"Hemmm, apakah kak Dimas serius ingin menikahi kakak ku Andara?" tanya Alina dengan tatapan mengintimidasi.


"I-iya, kakak serius ingin menikahi kakak mu Andara!" ucap Dimas terlihat gemetaran ketika mendapatkan pertanyaan yang tak biasa dari Alina.


"Baiklah, jika begitu maaf sebaiknya jika kak Dimas memang sudah memilih kak Andara untuk menjadi calon istri kak Dimas baiknya jaga kebeningan hati, jiwa dan pikiran kakak. Ada baiknya pandangan mata lebih dijaga agar tidak melihat pada wanita lain, agar hati lebih terjaga. Dan satu lagi, jangan melirik nanti tertarik!" tegas Alina, hingga Dimas merasa tertohok mendengar ucapan calon adik iparnya.


Alina yang nampak beda dari biasanya pun terlihat santai dengan gaya anggun dan mempesona. Wajarlah jika para pemuda tertarik padanya. Rona wajahnya yang tiba-tiba terlihat cantik membuat siapapun yang memandangnya tiba-tiba terpikat karenanya, tanpa di sadari aura mistis dari dalam diri Alina pun semakin terlihat nyata.


"Astaghfirullah!" Dimas merasa merinding ketika ia tiba-tiba merasakan hawa mistis seolah berada di dekatnya menyergapi bulu kuduknya. Awal mula ia melihat Alina begitu cantik dan menarik. Namun, lama kelamaan ia merasakan ada sesuatu yang menganggu dirinya, ia merasa ingin mual perutnya terasa di aduk-aduk oleh sesuatu.


Menyadari gelagat aneh dari calon kakak iparnya, Alina pun kembali mendekatinya. "Ada apa kak? wajah kakak terlihat pucat?"


Dimas menekan perutnya yang tiba-tiba mual, "Jangan mendekat! kau cukup menunjukkan pada ku di mana toilet!" tegas Dimas dengan menahan pergerakan Alina yang hendak mendekatinya. Semakin Alina mengikis jarak dengannya, semakin Dimas merasakan keanehan dan kesakitan yang menyergapi tubuhnya.

__ADS_1


Dimas merasa ingin muntah dan mengeluarkan segala isi perutnya, perutnya benar-benar mual jika terus berdekatan dengan Alina.


Alina mendengar ucapan Dimas yang seolah-olah merendahkannya, membuat hatinya tiba-tiba dilanda kesedihan. Ia terlihat sedih dan murung, perasaannya tiba-tiba tertekan dan tersakiti.


"Sehina itu kah diri ku, sampai ia menyuruh ku menyingkir dari hadapannya? bukankah ia yang duluan menatap ku dari sejak tadi? dasar laki-laki aneh!" bathin Alina yang tidak menyadari jika semua itu adalah gangguan dan campur tangan makhluk tak kasat mata yang berada di dalam tubuhnya.


"Toiletnya di sana! kau berjalanlah menuju dapur!" ucap Alina mulai ketus. Ia pun segera beranjak pergi dari hadapan Dimas Sidqi Amrulloh.


"Lho, kak Dimas apa yang terjadi dengan mu!" tanya Andara ketika melihat calon suaminya berjalan menuju dapur.


"Kakak mau ke toilet dulu, Dek. Entah kenapa kakak tiba-tiba mual dan ingin muntah!" Dimas segera masuk ke dalam toilet.


"Astaghfirullah, Kak. Sebentar Andara ambilkan minyak angin dulu!" Andara nampak tergopoh-gopoh mengambil obat-obatan di kotak P3K.


"Ada apa, Nak? siapa yang sakit?" tanya Ibu Chintya yang baru menyambut kedatangan anaknya setelah selesai bergelut dengan rutinitas menjemur pakaian dibelakang rumahnya.


"Kak Dimas Bu, ia tiba-tiba mual. Mungkin masuk angin!" timpal Andara dengan mengambilkan minyak kayu putih untuk diberikan pada calon suaminya.


"Ya sudah, kamu antarkan minyak kayu putihnya biar ibu buatkan jahe hangat untuk calon suami mu!" Ibu Chintya nampak terburu-buru menyeduhkan jahe hangat untuk calon menantunya.


"Itu jahe hangat untuk siapa Bu?" tanya Ayah Farel dengan mengusap keringat yang membasahi dahinya.


"Ini untuk calon menantu kita, Yah. Ia tiba-tiba sakit, katanya mual."


"Jadi, Andara pulang kemari bersama calon suaminya?" tanya Ayah Farel dengan wajah serius. Dalam hatinya ia tidak ingin putrinya terlalu sering berdekatan dengan yang bukan mahramnya, kendati pun itu adalah calon suaminya sendiri.


Ibu Chintya mengangguk pelan, ia pun mengantarkan minuman jahe tersebut ke ruang tamu, agar nantinya calon menantunya Dimas lebih leluasa untuk meminumnya.


***


Hoek ... hoek ... hoekkk, Dimas hendak memuntahkan isi perutnya. Namun, anehnya yang keluar hanyalah desisan angin. Membuat Dimas semakin merasa merinding disekujur tubuhnya.


"Astaghfirullah, apa yang sebenarnya terjadi pada ku? kenapa semakin aku tertarik dengan Alina tubuh ku terasa sakit? Aku harus memusatkan perhatian ku dan melupakan bayangannya. Jangan melirik nanti tertarik!" ucap Dimas pelan.

__ADS_1


"Tertarik dengan siapa, Kak?" tanya Andara tiba-tiba dari depan pintu toilet, ia hendak memberikan minyak angin untuk calon suaminya itu.


"Tertarik pada mu, Dek!" sarkas Dimas yang merasa khawatir jika dirinya ketahuan memikirkan Alina.


Mendengar ucapan Dimas, Andara pun merasa berbunga-bunga. "Terima kasih, Kak!" ucap Andara dengan wajah bersemu merah.


"Maafkan kakak Andara, jika di hati ini terbesit rasa suka pada adikmu Alina. Akan tetapi percayalah, kakak hanya menjadikan dirimu satu-satunya wanita yang akan menjadi makmum kakak. Tiada yang lainnya!" bathin Dimas dengan sekilas menatap wajah calon istrinya.


"Bagaimana kak, apakah sudah lebih baik?" tanya Andara yang melihat Dimas sudah tidak meringis kesakitan lagi.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik Dek. Terima kasih minyak anginnya!"


"Sama-sama, Kak. Ayo kita ke ruang tamu! Ibu sudah menyiapkan jahe hangat untuk kakak, kalau-kalau kakak masuk angin." Andara berjalan duluan, di susul oleh Dimas yang nampak sedang berpikir keras, ia terus beristighfar di dalam hatinya.


"Aku tidak boleh lagi melirik ke arah Alina, aku merasakan gejala yang tak lazim jika sedikit saja terbesit rasa kagum pada Alina!" bathin Dimas yang merasakan bulu kuduknya merinding jika terus mengingat bayangan wajah Alina.


"Ia benar-benar mirip putri keraton, atau nyai Roro kidul yang terlihat cantik namun tidak bisa untuk disentuh!" bathin Dimas yang mulai melantur kemana-mana.


"Kak, kok malah bengong? Di minum jahenya nanti keburu dingin, itu ada singkong goreng dan kue pisang buatan ibu. Di cicipi ala kadarnya," ucap Andara dengan mempersilahkan calon suaminya untuk mencicipi hidangannya.


"Oh, iya Dek. Terimakasih!" Dimas pun mulai menyeruput jahe hangat dan juga mencicipi camilan yang sedang dihidangkan.


Andara merasa sangat bahagia, bisa mendapatkan calon suami seperti Dimas Sidqi Amrulloh. Akan tetapi ia sama sekali tidak mengetahui jika Dimas terus memikirkan Alina adiknya.


***


Di dalam kamar hello Kitty bernuansa pink.


"Berani-beraninya ia merendahkan ku! ia pikir dia siapa? ia yang duluan melirik ku, ia pikir aku tertarik padanya, oh no!" gerutu Alina dari dalam kamarnya. Ia merasa sakit hati mendengar Dimas yang menurutnya telah membentaknya dengan kata-kata pedas.


Alina yang masih dalam pengaruh sihir Bagaskara Ardhana Putra pun kini memandangi wajahnya di cermin. "Apakah wajah ku terlihat sangat menyeramkan sehingga kak Dimas tiba-tiba kasar pada ku?" bathin Alina.


Wajah Alina yang semula terlihat cantik dan bercahaya entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, tubuhnya pun tiba-tiba menggigil kedinginan seperti orang yang sedang mengalami sakit malaria. Ia pun tiba-tiba menangis dan terlihat murung.

__ADS_1


"Mas Bagas, Mas dimana?" racau Alina di selingi isak tangisnya. Ia seolah-olah merasakan sakit lahir batinnya.


__ADS_2